
Sheril, Mentari, Lisa dan Maya duduk disebuah meja.
Mereka sedang memilih menu makanan yg ingin mereka pesan.
"Hai.. ".
Mereka semua terkejut saat melihat cowok yg terkenal cuek disekolah tiba2 duduk didepan mereka.
Entah angin apa yg membawanya ke sini.
Sementara Mentari tersenyum melihat cowok didepannya.
" Lo kesambet apaan Daf duduk disini. Bukannya lo anti ma ciwik2 ya "?? tanya Maya heran.
Daffa diam saja mendengar pertanyaan Maya. Matanya sibuk melihat kearah gadis yg masih tersenyum didepannya.
" Lisa, gue dicuekin. Hati gue berdarah " rengek Maya sambil memasang wajah terluka.
"Gk usah pasang wajah kayak gitu didepan gue. Gelik gue, mau lo gue sirem kuah bakso " ancam Lisa saat melihat Maya terus menunjukkan ekpresi terluka.
"Jahat banget lo Lis " jawab Maya sebal.
Ervina mengamati Daffa dan Mentari yg hanya diam sambil tersenyum.
"Mereka bicara lewat mata batin kali ya" pikir Ervina.
Ervina kaget saat ada seseorang yg tiba2 mengambil minuman yg ada di tangannya.
Semakin kesal saat melihat orang yg merebut minumannya tersenyum tanpa dosa.
"Ngapain lo senyum2, minggir sana " kesal Ervina sambil mendorong Ervin agar menjauh darinya.
"Idiihh,calon bini gue makin cakep deh kalo marah2 " jawab Ervin sambil menarik hidung mancung Ervina.
"Ahh, rese lo " omel Ervina sambil memegang hidungnya yg memerah.
"Sakit tau ".
" Mana sini gue obatin " jawab Ervin sambil memegang kedua pipi Ervina.
Ervina terpaku saat Ervin menyentuh wajahnya.
"Modus lo Vin2, tau aja ada kesempatan "
Rian yg baru saja datang menatap geli kearah Ervin. Sementara Ervina tertunduk malu mendengar perkataan Rian.
"Lo ngerusak moment aja si Yan. Liat tu muka calon bini gue jadi merah kaya kepiting rebus " jawab Ervin sambil terkekeh.
"Mereka berdua kenapa?? Kok pada diem-dieman "?? tanya Rian sambil duduk disebelah Lisa.
Nggak ada yg tau kalau sekarang Lisa gugup setengah mati duduk disamping Rian.
Ervin melemparkan sendok kearah Rendra saat dia ingin duduk disamping Mentari.
" Awwww... sakit ****.
Lo pikir kepala gue bikin dari beton apa. Main lempar2 aja lo Vin " teriak Rendra sambil mengusap kepalanya yg terkena lemparan Ervin.
"Lo jangan ganggu mereka. Ini pertama kalinya Daffa bersikap normal kayak manusia. Gue cuma cegah lo biar gk ngrusak suasana " jawab Ervin santai.
"Tapi gk pake nglempar sendok juga, dono. Benjol ni pala " gerutunya sambil terus memegang kepalanya.
" Berisik banget sih lo berdua. Pergi aja sana " usir Ervina.
"Tau nih, udah kayak emak2 kompleks aja " tambah Maya.
__ADS_1
Rendra duduk disebelah Maya lalu meminum habis jus milik Maya.
"Eh, eh, punya gue tu. Main minum aja lo.
Iihh, gantiin gk " teriak Maya sambil mencubit lengan Rendra.
"Aww,, aww.. iya2 gue gantiin.
Sepuluh gelas gue juga mampu gantiin minuman lo " Rendra meringis mendapat serangan dari Maya. Tadi kepalanya, sekarang lengannya yg harus mendapatkan kekerasan.
"Trus ngapain lo minum punya gue?? Udah jatoh miskin lo " ucap Maya yg masih kesal dengan kelakuan Rendra. Maya segera memesan minuman kembali.
"Awas aja kalo lo gk bayarin minuman gue".
"Ya kali cowok seganteng gue jatuh miskin.
Sorry ya, duit ortu gue gk bakal habis kalo cuman buat beliin lo segentong minuman " sombong Rendra.
"Songong bener ni anak. Duit orangtua lo banggain " sewot Maya.
Sementara Rian dan Lisa hanya diam mendengar pertengkaran Maya dan Rendra.
Rian melirik gadis yg sejak tadi cuma diam.
"Lo kenapa?? Sariawan ya "?? tanya Rian.
Lisa menatap Rian lalu menggeleng.
" Astaga, muka lo kenapa merah banget?? Lo malu ya duduk ma gue " goda Rian saat melihat wajah Lisa merah.
Lisa semakin malu mendengar perkataan Rian.
"Kira2 lo Yan kalo godain anak orang " ucap Ervin yg sedang memainkan rambut Ervina.
"Aku belum tau nama kamu siapa " tanya Daffa yg sejak tadi hanya menatap mata Mentari.
"Mentari " jawabnya sambil tersenyum.
Ervin yg sedang minum jus tersedak mendengar Daffa bicara.
"Sejak kapan Daffa bicara aku kamu, sama cewek lagi " pikir Ervin melihat aneh kearah Daffa.
"Cantik, sama seperti mata kamu".
Sekarang bukan cuma Ervin yg tersedak, semua yg ada dimeja ini seperti terkena serangan jantung mendengar kata2 Daffa.
Cowok cuek ini sedang merayu seorang cewek didepan mereka.
Sepertinya besok matahari benar2 akan terbit dari barat.
" Makasih, Daffa " jawab Mentari sambil meminum jusnya.
Tanpa rasa canggung, Daffa mengambil jus Mentari lalu meminumnya tepat dibekas Mentari minum.
Jika tadi mereka seperti kena serangan jantung, sekarang mereka langsung terkena stroke melihat Daffa meminum jus dari bekas bibir yg sama.
"Vin, jantung gue hampir keluar dari mulut ngeliat tu anak. Aneh banget " bisik Rendra sambil melihat Ervin.
"Sama Ren, gue ngerasa kayak lagi hidup didunia lain. Kaget banget gue, sumpah" jawab Ervin.
"Temen lo kayaknya mulai gk waras tu " bisik Ervina sambil memakan nasi goreng pesanannya.
Mereka semua akhirnya makan dimeja yg sama. Sambil beberapa kali melirik kearah Daffa Dan Mentari.
Bel sekolah berbunyi tanda istirahat telah usai.
__ADS_1
Mereka semua segera meninggalkan kantin.
"Aku ke kelas dulu ya Daf. Udah bunyi belnya " pamit Mentari.
Daffa ikut berdiri lalu menggandeng tangan Mentari. Terlihat tatapan sinis dari siswi2 yg selama ini mengidolakan Daffa.
"Ya ampun tu anak gk liat tempat apa. Main gandeng2 aja " bisik Rendra.
"Bilang aja lo ngiri " ejek Maya.
Mereka berjalan bersama dibelakang Daffa dan Mentari.
Saat Ervina akan masuk kedalam kelas, Ervin menarik ikatan rambut Ervina sampai lepas.
"Elo...
" Gue gk suka rambut lo diiket. Leher putih lo bikin cowok2 disini nafsu. Inget Er, lo cuma milik gue " bisik Ervin ditelinga Ervina.
Ervina merinding mendengar Ervin yg bicara pelan ditelinganya.
Menatap kearah Ervin yg tersenyum lalu masuk kedalam kelasnya.
"Kampret" maki Ervina.
****
"Mentari, lo pulang bareng siapa " tanya Maya.
"Aku dijemput ayah aku May " jawab Mentari yg saat ini duduk dibawah pohon.
"Oh, kalau gitu kita duluan ya. Bye Mentari " pamit Maya,Lisa juga Ervina.
Mentari melambaikan tangan kearah teman2nya. Dia masih menunggu ayahnya datang.
Tiba2 Daffa datang lalu duduk disamping nya.
"Kamu belum pulang Daf "?? tanya Mentari.
Daffa menggelengkan kepalanya lalu diam menatap kearahnya.
" Aku perhatiin kamu ngliatin aku terus, dikantin juga gitu. Kenapa "?? tanya Mentari sambil mengelus tangan Daffa.
Entah kenapa, naluri keibuannya selalu keluar tiap melihat wajah Daffa yg menurutnya menyimpan kesedihan.
" Aku suka mata kamu. Indah " jawab Daffa sambil menggenggam erat tangannya.
"Matamu juga sangat indah " bisik Mentari.
"Mentari, mau pulang bersamaku "?? tanya Daffa saat teman2nya memanggilnya.
" Tidak Daf, ayahku sebentar lagi sampai " tolakku halus.
Terlihat kekecewaan dimatanya. Tapi Daffa tidak mengucapkan kata apapun.
"Tidak apa2. Kamu pulang duluan aja " ucapku saat menangkap raut khawatir dimatanya.
Aku tersenyum saat dia seperti tidak mau meninggalkanku. Dia masih saja duduk disampingku.
Tak lama kemudian, aku melihat mobil ayah didepan gerbang sekolah.
"Daffa, kamu hati2 dijalan. Ayahku udah dateng, aku pulang dulu ya " pamitku.
Daffa mengangguk lalu melepaskan tanganku.
Aku segera berlari ke mobil ayahku. Lalu meninggalkan sekolah dan Daffa yg masih terus menatapku.
__ADS_1