
"Bi, mommy sama daddy kemana,??
Kok gk ada di rumah "?? tanya Ervin pada Bi Minah.
Saat dia pulang sekolah, dia tidak melihat kedua orangtuanya di rumah. Kamar orangtuanya juga kosong.
"Tuan dan nyonya sedang keluar den. Katanya ada pekerjaan tadi ".
" Oh gitu. Ya udah makasih ya bi ".
" Den, aden udah makan malam belum,??
Mau bibi masakin nggak "??.
" Nggak usah bi. Ervin mau keluar lagi abis ini. Mau nengokin Daffa " jawab Ervin.
"Lho, emang den Daffa kenapa den "?? tanya bi Minah.
" Daffa gk papa kok bi. Tapi pacarnya yg lagi sakit. Kemaren pacarnya di sekolah di bully sampe pingsan. Makanya Ervin mau kesana nemenin Daffa. Kasian dia bi ".
" Astagfirulloh, kok bisa sampe kayak gitu den. Aden ati-ati kalo di sekolah ya den. Di lawan aja kalo ada yg jahatin aden " ucap bi Minah khawatir.
Ervin tersenyum lalu memeluk bi Minah yg menatapnya cemas. Meskipun dia hanya seorang pelayan, tapi di hati Ervin bi Minah memiliki tempat tersendiri.
Saat kedua orangtuanya berada di luar negeri, bi Minah lah yg Ervin anggap sebagai orangtuanya disini.
"Bibi tenang aja, gk bakalan ada yg gangguin Ervin. Orang ganteng kayak gini gk bakalan punya musuh bi " hibur Ervin membuat bi Minah tertawa.
"Aden ni bisa aja. Ya sudah aden buruan siap-siap ke rumah pacarnya den Daffa. Nanti keburu malam ".
" Iya bi. Ya udah Ervin ke kamar dulu ya "?? ucap Ervin lalu meninggalkan bi Minah yg menatapnya sambil tersenyum.
******
Ervina menatap bayangan wajahnya di cermin kamarnya. Dia baru saja selesai mandi.
Ervina tersenyum mengingat apa yg terjadi hari ini.
Wajahnya lagi-lagi memerah saat mengingat Ervin.
" Iiihhh, apaan sih gue senyum senyum sendiri inget tu anak " ucap Ervina yg masih tersenyum di depan cermin.
Dia lalu berdiri dan duduk di pinggir ranjangnya. Dia melihat hanphonenya. Ada satu pesan dari Ervin.
"Dandan yg manis ya Er, I Love U".
Ervina tersenyum lalu berbaring. Tangannya masih memegang handphonenya lalu dia berguling-guling di kasurnya. Dia lalu kembali membaca pesan dari Ervin. Hatinya sangat berbunga-bunga.
"Ervin, gue juga sebenarnya cinta sama elo " ucap Ervina lalu kembali berguling dikasurnya. Ingin rasanya dia mengatakan perasaannya pada Ervin. Tapi entah kenapa dia masih ragu untuk mengakuinya.
__ADS_1
Saat Ervina masih berguling-guling dikamarnya, tiba-tiba bel rumahnya berbunyi.
Ervina bingung karena ada orang yg datang kerumahnya di jam seperti ini.
"Apa bibi ya yg dateng, tapi ngapain bibi dateng malem-malem begini.
Atau jangan-jangan itu Ervin. Tapi tu anak kan gk tau rumah gue. Siapa ya "??? ucap Ervina sambil berjalan keluar menuju pintu.
Sebelum membuka pintu, Ervina mengambil stik golf milik ayahnya yg berada di belakang pintu. Dia takut kalau yg datang adalah orang jahat. Ibarat kata pepatah, sedia payung sebelum hujan.
Dengan takut-takut, Ervina membuka pintu rumahnya.
cekleek..
" Halo sayang ".
Ervina berjengit kaget saat mendengar sapaan itu. Hampir saja dia memukul kepala orang yg sedang tersenyum tanpa dosa di depan pintu rumahnya.
" Lo ngapain disini. Tau dari mana lo rumah gue"!!!
Ervina menatap kesal pada Ervin yg membuatnya takut tadi. Untung saja tadi dia mendengar Ervin memanggilnya sayang. Kalau tidak, pasti sekarang kepala Ervin sudah benjol terkena pukulan stik golf yg di bawanya.
"Mana mungkin gue gk tau dimana rumah calon bini gue.
Minggir gue mau masuk " ucap Ervin lalu masuk kedalam rumah tanpa menunggu Ervina yg menyuruhnya masuk.
Dengan jengkel Ervina menutup pintu lalu berdiri didepan Ervin sambil berkacak pinggang.
"Rumah lo bagus juga. Kayaknya gue bakalan betah tinggal di sini " ucap Ervin membuat mata Ervina melotot.
"Siapa juga yg ngijinin lo tinggal di sini " ketus Ervina.
"Gue mau liat-liat kedalam ahh. Sekalian ngecek kamar calon bini " ucap Ervin lagi lalu berjalan masuk kedalam.
"Lo gk usah seenaknya ya Vin di rumah gue "!! teriak Ervina yg melihat Ervin sudah berjalan masuk ke dalam tanpa mempedulikan teriakan pemilik rumah.
Ervina mengikuti Ervin yg terus berkeliling di dalam rumahnya. Sampai akhirnya Ervin berhenti di ruang tengah rumahnya. Dia memperhatikan sebuah piano berwarna putih yg biasa dia mainkan.
" Er, sini. Kita main piano yuk " panggil Ervin sambil menggerakkan tangan memanggil Ervina.
Meskipun jengkel, akhirnya Ervina mendekat kearah Ervin. Dia lalu menatap jengah kearah Ervin yg tersenyum.
"Kayaknya lo udah biasa banget ya masuk-masuk ke rumah orang,??
Berasa rumah sendiri ya Vin "?? sindir Ervina.
" Hehe,sorry Er. Namanya juga dirumah calon ibu dari anak-anak gue " jawab Ervin.
"Ngaco aja lo ".
__ADS_1
"Udah gk usah marah-marah. Bibir lo tambah sexy tau gk kalo manyun gitu " goda Ervin lalu menarik Ervina duduk bersamanya.
"Mau lagu apa Er "?? tanya Ervin sambil menyelipkan rambut Ervina yg masih basah ke belakang telinganya.
Membuat Ervina sedikit salah tingkah.
" Lagu Vierra aja. Judulnya Rasa Ini " jawab Ervina sambil menekan tuts piano. Wajahnya memerah.
(para reader's nyanyiin sendiri ya lagunya. Asli bikin baper).
Mereka lalu mulai memainkan piano itu. Ervin membiarkan Ervina menyanyikan lagu itu sendiri. Suara lembut Ervina mempu menghipnotis Ervin saat ini.
"Er, gue cinta banget ke elo " ucap Ervin saat mereka selesai memainkan piano.
"Vin, lo tau kan. Gue gk mau pacaran dulu, gue mau fokus sekolah ".
"Iya gue tau kok. Gue cuma mau bilang aja kalo gue cinta ma elo tadi. Gue tetep bakalan nunggu sampe lo siap nerima gue Er " ucap Ervin sambil menggenggam tangan lembut Ervina.
"Sorry Vin, gue bukannya gk mau ngehargain perasaan elo ke gue. Tolong lo ngerti ya " pinta Ervina.
Matanya menatap lembut kearah Ervin. Jika seandainya Ervin bisa mendengar hatinya bicara, dia pasti akan tau perasaan Ervina yg sebenarnya.
"Gue ngerti kok Er. Gue bakalan nunggu sampe elo siap " jawab Ervin lalu mendekatkan wajahnya ke Ervina.
Ervin menatap Ervina yg memejamkan matanya lalu mencium bibirnya lembut. Membiarkan piano menjadi saksi bagaimana mereka saling menyimpan perasaan.
Ervin melepaskan bibirnya saat pasokan udara di paru-paru mereka hampir habis. Dia menahan tawa melihat wajah Ervina yg merah merona.
"Lo semangat banget nyium gue Er, gue jadi laper sekarang " goda Ervin sambil mengusap bibir Ervina yg sedikit membengkak.
"Alesan aja lo Vin, bilang aja lo mau minta makan di rumah gue " sungut Ervina tidak terima di fitnah Ervin.
"Hehe, lo emang pengertian banget jadi calon istri " kekeh Ervin.
"Yeee,, mimpi aja gue mau jadi istri lo " omel Ervina lalu berjalan kearah dapur.
"Gue bikinin nasi goreng aja ya "??.
Ervin mengangguk. Dia lalu duduk sambil memperhatikan Ervina yg mulai memasak. Perasaannya semakin bertambah besar melihat Ervina yg begitu cekatan membuatkan makanan untuknya.
Ervin lalu menghampiri Ervina dan memeluknya dari belakang. Ervina yg sedang menumis bumbu membiarkan saja Ervin yg bergelayut padanya. Hatinya terasa nyaman berada dalam posisi ini.
Tak lama, nasi goreng pun jadi. Ervina segera meminta Ervin duduk di meja makan setelah sebelumnya dia menata nasi goreng di piring lalu menambahkan tomat dan telur dadar diatasnya.
" Masakan lo enak banget Er. Makin sayang deh gue ke elo " puji Ervin.
Ervina hanya tersenyum sambil terus melihat Ervin yg memakan nasi goreng buatannya dengan lahap.
Setelah Ervin selesai makan, Ervina segera berganti pakaian karena Rian dan Rendra sedang menuju kerumahnya. Mereka akan pergi bersama kerumah Mentari untuk menjenguknya.
__ADS_1