
Daffa, Tante Lena dan juga kedua orangtua Mentari sekarang berada diruang tamu.
Mereka semua terdiam setelah keluar dari kamar.
"Tante, kita harus bagaimana "?? tanya Daffa memecah keheningan.
"Daf, Tante agak kaget mendengar perkataan Mentari tadi. Ternyata kejadian dulu masih sangat membekas dihatinya. Tante fikir dia akan menceritakan tentang kejadian disekolah kalian " jawab tante Lena.
"Sekarang kita harus membuatnya merasa aman. Itu yg Mentari butuhkan sekarang ".
"Kalau begitu aku mencari orang untuk berjaga dirumah ini " ucap Daffa lalu mengambil handphonenya.
"Bukan begitu Daf. Kamu dengarkan tante dulu " cegah tante Lena saat melihat Daffa akan menghubungi seseorang.
"Apa ada masalah " ucap Daffa datar.
Daffa menatap tidak suka kearah tante Lena dan tatapan itu dilihat oleh orangtua Mentari.
"Jangan gegabah Daffa. Yg kamu lakukan bisa membuat Mentari semakin ketakutan " jawab ayah Mentari yg melihat Daffa berkata dingin pada adiknya.
Dia tau niat baik Daffa, tapi itu belum tentu baik untuk Mentari.
"Maksud om "?? tanya Daffa masih dengan tatapan tidak sukanya.
" Daf, keamanan yg tante maksud bukan dengan mendatangkan penjaga kerumah ini. Tapi lebih ke kenyamanan Mentari. Yg Mentari butuhkan bukan penjaga rumah, tapi sebuah keyakinan yg bisa membuatnya percaya kalau dia tidak akan mendapatkan perlakuan seperti yg dia alami dulu. Kamu paham tidak "??? .
Tante Lena menyadari sikap Daffa yg posesif pada keponakannya. Bahkan Daffa berani berkata dingin padanya karena Daffa menganggapnya menghalangi dia untuk melindungi keponakannya.
" Sepertinya Mentari merasa nyaman dengan keberadaanmu disampingnya. Jadi....
Belum selesai perkataan tente Lena, Daffa langsung melesat masuk ke kamar Mentari. Dia tidak mau mendengar lagi penjelasan tante Lena begitu tante Lena mengatakan jika Mentari nyaman bersamanya.
Hal itu membuat mereka bertiga terbengang melihat Daffa yg secepat kilat berlari masuk ke kamar Mentari.
"Len "??? panggil bunda Mentari yg melihat adik iparnya masih begitu syok melihat kelakuan Daffa.
" Ya kak " jawab Lena tanpa melihat kearah kakaknya. Dirinya masih belum percaya dengan apa yg dia lihat barusan.
"Kenapa anak itu selalu membuatku terkejut kak ".
"Kakak juga kaget melihatnya. Dia bahkan belum mendengarkan semua penjelasanmu ".
" Kak, sepertinya kakak akan mengalami masalah besar jika melarang mereka bersama. Matanya memiliki emosi aneh saat aku mencoba melarangnya mencari penjaga. Kakak lihat tidak, anak itu menatapku seperti musuhnya " ucap Lena sambil melihat kearah kakaknya.
"Kakak tau Len, dimatanya ada kilat kemarahan tadi ".
" Kak, lebih baik kakak izinkan saja jika mereka bersama. Entah kenapa aku merasa kalau mereka berdua bisa saling melengkapi. Terlebih lagi Mentari terlihat nyaman saat menceritakan masa lalunya. Aku rasa, anak itu bisa membantu kita menyembuhkan kondisi mental Mentari ".
" Kalau itu yg terbaik untuk Mentari, kakak pasti akan mengizinkan Len. Tapi kakak masih tidak suka dengan kelakuannya " jawab ayah Mentari.
Lena lalu mengajak kakaknya ke kamar Mentari. Dia lalu memberikan penjelasan pada kedua kakaknya saat melihat Daffa sedang berbaring sambil memeluk Mentari.
*********
"Vin, kayaknya kita lebih baik dateng kerumahnya Mentari deh. Gue kasian ma Daffa " ucap Rendra saat mereka sedang latihan.
"Sama Ren, gue juga kasian liat Daffa tadi. Selain kita, tu anak cuma deket ke Mentari doang " jawab Ervin.
"Makanya, malem ini kita kesana aja yok ".
__ADS_1
" Emang lo tau rumahnya Mentari dimana "?? tanya Rian.
" Tinggal tanya ke Daffa lah. Gampang kan "??.
Rian menoyor kepala Rendra. Baru aja dia merasa Rendra bisa berfikir bener, sekarang malah udah ngeluarin lagi pikiran erornya.
" Lo gimana si Ren, lo lupa tadi Daffa bilang apa "??.
" Dia ngomong banyak Yan. Yg mana yg lo maksud "??? tanya Rendra lagi membuat kedua sahabatnya menarik telinganya sampai memerah.
" Ya ampun, ganteng-ganteng pikun lo Ren. Dia kan ngelarang kita dateng kerumah Mentari kunyuk.
Lo pikir Daffa bakalan kasih tau dimana rumah Mentari "?? jawab Ervin sebal.
" Oh iya, sorry lah gue lupa " ucap Rendra cengengesan.
"Huuuuuu ".
Rian melihat Lisa sedang duduk sambil meminum air. Dia kemudian berpikir untuk bertanya pada kekasihnya itu. Lalu berjalan menghampiri Lisa.
" Lis, haus banget kayaknya "?? tanya Rian melihat Lisa menghabiskan satu botol air minumnya.
" Eh,elo Yan. Iya, tenggorokan gue rasanya kering banget. Kebanyakan nyanyi kali ya " jawab Lisa sambil menyeka bibirnya yg terkena air.
"Lis, gue mau nanya ke elo. Lo tau gk rumahnya Mentari "??.
" Gue gk tau Yan. Kenapa emang "?? tanya Lisa.
" Kita bertiga mau nemenin Daffa rencananya. Kasian dia sendirian. Tapi kita gk ada yg tau dimana rumah Mentari. Makanya gue nanya ke elo Lis. Kalo langsung nanya ke Daffa, dia pasti gk bakalan mau kasih tau dimana rumah Mentari " jawab Rian sambil merapihkan poni rambut Lisa.
"Bentar Yan, kayaknya Ervina tau deh dimana rumah Mentari. Soalnya pas Daffa pulang dari rumah sakit kan dia yg nganterin Mentari pulang. Apa mau gue tanyain ke Ervina "??.
" Jangan, biar Ervin aja yg nanya. Dia pasti seneng banget tu akhirnya punya kesempatan deketin bini nya. Dari tadi dia bete banget tuh gara-gara dicuekin Ervina " jawab Rian sambil tertawa.
Rian menghampiri Ervin yg sedang menatap Ervina. Dia menggelengkan kepala melihat sahabatnya yg terlihat cemburu melihat Ervina bercanda dengan siswa putra.
"Lo mau gk gue kasih ide biar bisa deket-deket ke bini lo Vin " ucap Rian lalu duduk di sebelah Ervin.
"Awas gk usah ngledekin gue lo. Ati gue lagi kebakaran ini ".
" Bener ni gk mau,?? Padahal ide gue keren banget lho " ledek Rian.
"Apaan emang,?? Awas aja kalo lo cuma ngerjain gue " sungut Ervin sambil meneliti wajah Rian.
"Gini amat lo ngeliatin gue-nya. Gue tau kok gue ganteng " ucap Rian sambil tertawa melihat Ervin semakin bertambah kesal.
"Sini gue bisikin ".
Ervin lalu mendekatkan telinganya ke mulut Rian. Matanya berbinar saat mendengar ide Rian.
" Kenapa gk bilang dari tadi lo "?? tanya Ervin lalu meninggalkan Rian.
Dia berjalan kearah Ervina yg masih bercanda dengan siswa yg lainnya.
" Ervina, gue mau ngomong penting ke elo " ucap Ervin sambil merangkul pundak Ervina.
Membuat siswa yg tadi sedang bersama Ervina pergi melarikan diri.
"Ngomong tinggal ngomong aja, gk usah pake peluk-peluk segala " omel Ervina sebal karena Ervin membuat temannya pergi meninggalkannya.
__ADS_1
"Peluk pacar sendiri ini ".
"Gue bukan pacar lo ya Vin. Jadi gk usah ngaku-ngaku ".
" Diihh, cepet bener lo berubahnya Er kayak bunglon. Tadi di UKS katanya mau " goda Ervin sambil mencolek dagu Ervina.
Ervina tersipu mendengar godaan Ervin. Dia lalu menundukkan kepalanya saat mengingat Ervin yg begitu lembut mencium keningnya saat di UKS tadi.
"Lo mau ngomong apa tadi Vin "??.
"Oh, itu gue mau nanya dimana rumah Mentari. Lo tau kan "??.
"Iya gue tau. Lo pada mau kesana ya,??
Gue ikut dong Vin. Pingin nengokin Mentari gue " jawab Ervina.
"Ayookk lah. Gue mah seneng banget kalo lo ikut. Tapi ada syaratnya ".
"Apaan lagi pake syarat-syarat segala. Ribet lo Vin " sungut Ervina.
"Lo mau ikut gk "??.
" Mau lah. Ya udah apa syaratnya,!!!
Gk aneh-aneh ya, awas aja ".
" Lo gue yg jemput. Dan lo gk boleh nolak " ucap Ervin cepat lalu segera berlari meninggalkan Ervina setelah mengecup pipinya.
"Dasar omes " ucap Ervina lalu mengelus pipinya yg dikecup Ervin.
Bibir Ervina tersenyum sambil melihat teman-temannya.
"Untung gk ada yg liat" bisik Ervina.
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
Haaaiiii Reader's.....
Jangan lupa buat Vote.... Vote.... dan Voteeee novel ini ya.
Jangan lupa juga like dan comment-nya.
__ADS_1
Terima kasih....
Amicuuuuuuu......