
Rendra melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Dia baru saja pulang dari rumah sahabatnya, Ervin.
Dan sekarang dia sedang menuju kearah rumahnya.
kruyukk.. kruyuukkk....
"Duh, lo bunyi di waktu yg salah cing " ucap Rendra saat mendengar alarm diperutnya berbunyi.
Dia lalu melihat kearah kanan dan kiri jalan. Mencari sesuatu yg bisa dia beli untuk meredakan amarah cacing di perutnya yg berteriak kelaparan.
Saat Rendra sedang mencari penjual makanan, tiba-tiba dia melihat seorang gadis sedang berdiri mengenakan baju warna putih.
"Hihh, sial bener nasib gue. Magrib-magrib ketemu dedemit ".
Rendra tidak sengaja melihat gadis yg dia sebut dedemit tiba-tiba saja duduk berjongkok sambil memegangi perutnya.
" Kenapa tu dedemit. Masa iya dedemit bisa sakit perut " ucap Rendra heran.
Gadis dedemit itu tiba-tiba menyibakkan rambutnya yg tadi menutupi wajahnya. Rendra terbelalak saat tau siapa gadis dedemit itu.
"Astagaa, ini sih bukan dedemit lagi. Tapi ini neneknya dedemit " teriak Rendra heboh di dalam mobilnya.
"Tapi tu nenek lampir kenapa ya, kok jongkok di pinggir jalan " batin Rendra lalu menepikan mobilnya di depan dedemit tadi yg ternyata adalah musuh bebuyutannya, Maya.
"Ngapain lo jongkok disini, lagi boker lo " ejek Rendra setelah menurunkan kaca mobilnya.
Maya tidak menyahut. Dia diam saja sambil memegangi perutnya.
"Tumben ni anak diem aja. Biasanya langsung keluar tu suara bar-barnya kalo gue ejekin " batin Rendra.
Dia lalu turun dan berdiri disebelah Maya.
"May, kenapa lo ".
" Sakit " jawab Maya lirih.
"Halahh, lo pasti lagi ngerjain gue kan. Sorry ya, kali ini lo udah ketahuan" ucap Rendra yg sudah berkali-kali tertipu oleh drama Maya.
"Tolongin gue, perut gue sakit " jawab Maya melihat kearah Rendra.
Bola mata Rendra hampir melompat keluar karena kaget melihat Maya yg sangat pucat sedang menatapnya.
Wajahnya juga penuh dengan keringat.
"Astaga, lo kenapa May " teriak Rendra panik lalu segera berjongkok di sebelah Maya.
"Perut gue,,, euuggghhhh... " ucap Maya melenguh kesakitan.
Bibirnya bergetar menahan sakit.
"Ya ampun, gue kira lo cuma ngerjain gue doang, ternyata lo sakit beneran " ucap Rendra lalu memanggil seorang tukang becak untuk membantunya.
"Pak, tolongin saya sebentar. Si nenek lampir sakit " ucap Rendra.
Dia lalu menghampiri Maya yg masih berjongkok.
"Gue anterin lo ke dokter ya May ".
Maya hanya mengangguk. Keringat diwajahnya semakin banyak.
Tanpa pikir panjang lagi Rendra mengangkat tubuh Maya yg sedang kesakitan kearah mobilnya.
" Pak, tolong bukain pintu mobil saya " teriak Rendra pada tukang becak yg berdiri di belakangnya.
"Iya mas ".
__ADS_1
Rendra lalu mendudukkan Maya dikursi mobilnya. Dia segera berlari mengitari mobilnya setelah berterima kasih pada tukang becak itu.
" Tahan bentar May " ucap Rendra cemas melihat Maya yg masih kesakitan.
Dia dengan cepat melajukan mobilnya kerumah sakit terdekat.
"Ren, sakit banget " keluh Maya.
"Iya gue tau, bentar lagi sampe rumah sakit kok ".
Rendra lalu menambah kecepatan mobilnya melihat Maya yg semakin kesakitan.
Tak lama, akhirnya mereka sampai di rumah sakit.
Rendra memarkirkan mobilnya sembarangan. Dia lalu membuka pintu mobil dan kembali menggendong Maya untuk di bawa masuk kedalam rumah sakit.
" Dok, tolongin temen saya dok " teriak Rendra panik saat melihat dokter.
Seorang suster datang membawa kursi roda. Rendra segera mendudukkan Maya lalu mendorongnya keruangan UGD.
"Maaf mas, mas tunggu diluar saja " ucap seorang suster lalu menutup pintu UGD.
"Astaga, mimpi apa gue nolongin musuh bebuyutan gue sendiri " ucap Rendra pelan lalu duduk di depan ruang UGD.
Rendra diam menatap kearah ruangan itu.
Meskipun mereka selalu bertengkar, sebenarnya Rendra sudah menaruh hati pada Maya. Hanya saja dia gengsi jika harus menyatakan cinta pada gadis bar-bar itu.
"Huhft,, kenapa gue khawatir gini sih" celetuk Rendra.
"Moga aja tu anak gk kenapa -napa ".
Tak lama, dokter keluar dari ruangan itu. Rendra segera berdiri menghampirinya.
" Gimana keadaan temen saya dok "??.
" Teman kamu sudah tidak apa-apa. Dia sedang istirahat di dalam " jawab dokter.
" Teman kamu memiliki riwayat sakit maag sebelumnya. Dan sepertinya teman kamu baru saja menikmati makanan yg sangat pedas dalam keadaan perut kosong.
Karena itulah terjadi kejang didalam lambung yg membuatnya merasakan rasa perih di perutnya ".
" Astaga, lo cari penyakit aja si May " batin Rendra.
"Oh, terima kasih dokter ".
Rendra lalu masuk kedalam ruangan. Terlihat Maya sedang berbaring lemas. Wajahnya sudah tak sepucat tadi.
" Gimana keadaan lo May,??
Perut lo masih sakit gk "?? tanya Rendra lalu duduk dikursi samping ranjang pasien.
" Udah agak mendingan Ren.
Makasih ya udah nolongin gue tadi ".
" Iya May, santai aja.
Lagian lo ya, udah tau sakit maag, masih aja makan yg pedes-pedes. Punya nyawa dobel lo ya "!!.
" Untung gue lagi tepar gini Ren, kalo gk udah gue iket bibir lo itu. Sempet-sempetnya ngatain gue " omel Maya lirih.
"Hehe, ya maaf. Makanya lo jangan sok sehat. Untung gue yg nemuin lo, gimana coba kalo tadi penjahat yg dateng,??
Mau lo diapa-apain ma tu penjahat "??!!.
" Lo lagi nyumpahin gue ya Ren "??.
__ADS_1
" Siapa yg nyumpahin lo, orang gue lagi ngingetin elo biar ati-ati kok "!! jawab Rendra sewot.
Sebenarnya dihati dia ingin bilang kalau dia sangat khawatir, tapi yg keluar dari mulut berbeda dari hatinya.
" Iya-iya makasih udah ngingetin gue. Pulang yuk " ajak Maya.
"Lo yakin mau pulang sekarang "??.
" Iya, gue bisa istirahat dirumah aja nanti ".
Akhirnya Rendra menuruti keinginan Maya. Rendra lalu membantunya berjalan.
Dia lalu menuju kebagian administrasi setelah sebelumnya menebus obat untuk Maya.
" Makasih Ren " ucap Maya lagi setelah mereka masuk ke mobil.
"Iya May sama-sama".
Mereka lalu meninggalkan rumah sakit. Rendra memperhatikan Maya yg tertidur didalam mobilnya.
Rendra mengantarkan Maya pulang setelah sebelumnya menanyakan alamat rumahnya.
Orang tua Maya sangat terkejut begitu melihat Maya yg di gendong keluar dari dalam mobil.
Mereka segera membuka pintu rumah untuk Rendra dan Maya masuk.
"Maaf, kamu siapa ya,??
Dan kenapa anak saya seperti ini "?? tanya ibu Maya setelah Rendra membaringkan Maya di kamarnya.
" Saya Rendra Tante, teman sekolah Maya. Tadi saya nggak sengaja liat Maya lagi kesakitan di pinggir jalan lalu saya membawa Maya kerumah sakit. Kata dokter Maya sakit maag Tante " jelas Rendra.
"Ya ampun, makasih ya nak Rendra. Tadi Maya pamit ke Tante katanya mau makan bakso di luar.
Maya memang punya sakit maag dari SMP ".
" Oh gitu ya Tante.
Kalo gitu saya pamit dulu ya Tan, udah malem ".
" Kok buru-buru, gk mau nungguin Maya bangun dulu Ren,??
Sekalian aja makan malam disini " tawar ibu Maya.
"Nggak usah Tante, makasih. Rendra belum mandi juga. Abis pulang dari rumah temen tadi " tolak Rendra.
Padahal di dalam hatinya dia sangat ingin makan malam di sini karena perutnya sudah sangat kelaparan.
"Oh ya sudah kalau begitu. Lain kali kamu makan malam disini ya Ren.
Makasih banyak ya sudah nganterin Maya kerumah sakit ".
" Iya Tante, sama-sama.
Rendra pamit Tante, selamat malam ".
" Malam, hati-hati di jalan ".
Rendra tersenyum lalu masuk kedalam mobilnya.
Rendra segera mencari tempat makan karena perutnya sudah tidak bisa lagi menahan lapar.
Dia berhenti didepan sebuah restaurant padang.
Bergegas memarkirkan mobilnya lalu masuk dan memesan makanan.
Setelah pesanannya datang, Rendra segera menyantapnya dengan penuh suka cita.
__ADS_1
" Gara-gara ketemu neneknya dedemit, cacing dalam perut gue sampe pada kelaparan. Untung dedemitnya manis, jadi gue gk terlalu tekor juga " batin Rendra di sela-sela makannya.
Ternyata saat di dalam mobil, Rendra sempat mencium bibir Maya yg sedang tertidur pulas.