Hanya Bayanganmu

Hanya Bayanganmu
10. Puding


__ADS_3

Bima berjalan ke rumah Raka untuk mencari Embun. Dia melihat - lihat ke atas pohon jambu, mungkin saja Embun ada di situ. Tapi sayang dia tidak melihat keberadaan adiknya itu. Akhirnya dia memilih untuk bertanya kepada pemilik rumah.Bima berdiri di luar pagar dan memencet bel. Tak berapa lama bu Intan keluar rumah dan menghampiri Bima.


"Asalamualaikum , permisi tante. Saya mau mencari adik saya. Apakah dia datang ke sini?" Tanya Bima sopan.


"Waalaikum salam , oh kamu kakaknya Embun? Dia ada di dalam, ayo masuk." Bu Intan membuka pagar dan mempersilahkan Bima masuk.


"Baik tante." Jawab Bima.


Bima berjalan mengikuti bu Intan masuk ke dalam rumah. Di dalam dia melihat Embun sedang makan puding sambil menonton tv. Di situ juga ada Raka dengan wajah tidak sukanya pada Embun. Tapi Embun cuek saja dan terus memakan pudingnya.


Bima mendekati Embun dan menyuruhnya untuk pulang.


"Embun, ayo pulang ibu nyariin kamu." Ajak Bima pada Embun.


"Eh mas Bima, ayo sini makan puding mas. Enak lho pudingnya mas." Embun berkata dengan mulut yang penuh dengan puding. Membuat Embun terlihat lucu dengan pipinya yang terlihat semakin cubby.


Raka yang melihat itu tidak bisa menahan tawanya.


"Embun, kata ibu kalau makan gak boleh sambil bicara itu tidak sopan." Tegas Bima mengingatkan Embun.


"Lha kan yang ngajak ngomong aku tadi mas Bima, Raka gak usah tertawa terus." Jawab Embun, dia berkata dengan mulut penuh dan menatap tajam pada Raka. Setelah itu dia melanjutkan makannya tanpa menghiraukan kakaknya.


Raka menutup mulutnya agar tidak tertawa lagi. Baginya wajah Embun sangat lucu dan menggemaskan. Rasanya dia ingin sekali mencubit pipi Embun.


Bima menghembuskan nafasnya pelan. Dia tidak habis pikir melihat kelakuan adiknya itu.


"Maaf kalau adik saya merepotkan tante." Kata Bima pada bu Intan.


Bu Intan tersenyum dan menjawab,


"Embun gak ngrepotin tante kok, tante malah senang rumah tante jadi ramai. Oh ya nama kamu Bima kan, ayo sini makan puding buatan tante." Ajak bu Intan.


"Terima kasih tante." Bima lalu duduk disamping Embun dan memakan puding yang diberi bu Intan.


Saat Bima sedang menikmati puding, Embun menyikut siku Bima.


"Enakkan mas pudingnya, gimana kalau nanti minta bu Intan bungkusin buat bawa pulang." Embun berkata sambil menaik turunkan alisnya.


Bima langsung mengetukkan sendok puding ke kepala Embun. Dia tidak menyangka adiknya punya pikiran seperti itu.

__ADS_1


"Malu - maluin baget sih." Bima berkata dengan memelototkan matanya.


"Ya kan siapa tahu mas." Jawab Embun santai.


Bu Intan yang mendengar itu tidak bisa menyembunyikan senyumnya. Dia beranjak ke dapur dan memasukkan puding ke wadah. Kemudian dia menyerahkan puding itu pada Bima.


"Kalau nanti mau pulang, ini pudingnya dibawa ya. Ini sekalian ada kue kering, nanti kasih ke ibu kalian." Kata bu Intan.


Bima sangat malu menerima pemberian itu. Dia tahu pasti bu Intan mendengar perkataan Embun tadi.


"Makasih tante, tante gak usah repot - repot bawain kami puding sama kue segala." Tolak Bima halus.


"Gak papa, kebetulan tadi tante buat banyak. Sekalian sebagai tanda perkenalan, maaf tante belum bisa datang langsung ke rumah kalian. Masih banyak hal yang belum diberesin. Ayo diterima." Bu Intan berkata dengan lembut.


Bima ragu - ragu menerima itu, dia masih menundukkan kepala karena malu. Embun yang tahu itu langsung bangun dari duduknya dan menerima bingkisan itu.


"Terima kasih tante, nanti Embun sampein sama ibu. Kalau sudah gak repot, nanti tante main ke rumah Embun ya." Kata Embun.


"Iya, nanti tante sekeluarga datang ke rumah kamu." Bu Intan mengelus rambut Embun.


"Kalau begitu kami pamit dulu tante, terima kasih dan maaf sudah ngrepotin tante." Pamit Bima sopan.


"Iya sama - sama. Besok main ke sini lagi ya, biar Raka ada temannya."


Bima menyalami tangan bu Intan dan pamit pergi. Embun mengikuti kakaknya di belakang. Dia berjalan dengan riang, karena mendapat makanan kesukaannya.


...*************...


Keesokan harinya


Saat Embun sedang menunggu ayahnya di depan rumah, ada mobil yang berhenti di depannya. Terlihat di dalam mobil ada bu Intan dan Raka.


"Embun mau berangkat sekolah? Ayo sini bareng kita." Ajak bu Intan.


"Emang tante mau kemana?" Tanya Embun.


"Tante mau ke SD Pelita Harapan, hari ini hari pertama masuk sekolah." Jawab bu Intan.


"Wah kebetulan Embun juga sekolah disitu tante." Jawab Embun antusias.

__ADS_1


"Kebetulan sekali, ayo naik."


"Sebentar tante, Embun pamit sama ibu dulu." Jawab Embun.


Setelah itu Embun masuk ke dalam rumah untuk berpamitan pada ibunya.


Beberapa saat kemudian, Embun keluar bersama dengan ibunya.


Melihat kedatangan bu Lastri, bu Intan keluar dari mobil dan menyalami bu Lastri.


"Assalamualaikum bu, kenalkan Intan. Saya menantu pak Danu yang sekarang tinggal di sebelah." Bu Intan memperkenalkan diri.


"Waalaikum salam, nama saya Lastri. Oh ya Embun sudah cerita, terima kasih bu kemarin sudah bawain makanan segala. Maaf kalau anak saya ngrepotin." Jawab bu Lastri.


"Gak papa bu, saya malah senang. Ini bu Lastri, saya mau ngajak Embun berangkat bareng. Kebetulan sekolah Embun sama dengan anak saya Raka." jelas bu Intan.


"Iya bu Intan, berarti ini hari pertama nak Raka masuk sekolah? Maaf ya bu Embun ngrepotin lagi, ini Embun lagi nunggu ayahnya belum keluar - keluar?" Jawab bu Lastri.


"Iya, kalau begitu kami permisi dulu bu." Pamit bu Intan.


"Bu Embun berangkat dulu ya, assalamulaikum." Embun mencium tangan ibunya.


"Waalaikum salam, hati - hati di jalan. Belajar yang pintar ya." Bu Intan mengelus puncak kepala anaknya.


Embun masuk ke dalam mobil dan melambaikan tangan ke arah ibunya. Embun duduk di belakang bersama Raka. Mobil pun berjalan meninggalkan rumah Embun.


Diperjalanan Raka diam dan memandang ke luar jendela. Embun ingin memulai obrolan tapi langsung mendapat tatapan tajam dari Raka.


Tak berapa lama terdengar suara dari arah depan.


"Kamu yang namanya Embun ya, kenalkan nama om Leo. Kakek Raka sering cerita tentang kamu."


"Iya om saya Embun, bagaimana kabar kakek Danu om. Kapan beliau datang ke sini lagi?" Tanya Embun antusias.


"Kakek sekarang sedang di Inggris mengunjungi kakak om, kamu sering main sama kakek?" Tanya pak Leo.


"Embun sering main sama kakek om, kakek juga yang ngajarin Embun naik pohon jambu." Jawab Embun.


Mendengar jawaban Embun, pak Leo dan bu Intan berpandangan dan tertawa.

__ADS_1


"Papa papa, ada - ada saja. Masak anak perempuan diajari memanjat." Pak Leo menggeleng - gelengkan kepalanya.


"Maklum saja pa, cucu papa Danu kebanyakan perempuan yang laki - laki cuma Raka. Sedangkan papa sendiri tahu, Raka lebih memilih membaca buku dari pada memanjat pohon." Bu Intan tertawa mengingat papa mertuanya.


__ADS_2