Hanya Bayanganmu

Hanya Bayanganmu
Ajakan Brian


__ADS_3

Sepulang dari taman bersama Brian, Embun terus berdiam diri di kamar. Embun berbaring menatap langit - langit kamar. Dia masih memikirkan semua perkataan Brian tadi.


Aku akan buat kamu lupain Raka."


"Aku juga akan buat kamu suka sama aku."


Kata - kata Brian itu, terus saja berputar - putar dalam pikirannya. Embun menutup wajahnya dengan bantal dan berteriak.


"Aaakkkhhhh."


"Bikin pusing saja. Ngapain sih pakai ngomong kaya gitu segala." Kata Embun duduk dan memukul - mukul bantalnya.


Dret dret


Terdengar pesan masuk dari handphone Embun. Dia membuka pesan dan mendapati pesan dari orang yang tidak dia duga.


Sabtu kita nonton (Brian)


Setelah membaca pesan itu Embun melempar hpnya ke kasur. Dia bingung harus membalas atau tidak. Saat Embun sedang berpikir, terdengar lagi bunyi pesan masuk. Embun mengambil membuka pesan dan membacanya.


Jangan berpikir untuk kabur!! (Brian)


Embun kembali meletakkan hpnya, dia tidak berniat membalas pesan dari Brian. Embun memilih keluar dari kamar dan berkumpul bersama keluarganya.


Sedangkan Brian terus saja menatap layar hpnya. Dia sedang menunggu balasan dari Embun. Brian menunggu lama, tapi tak jua mendapat pesan balasan. Tak berapa lama hp nya berbunyi, Brian dengan semangat membukanya. Brian melempar hpnya ke kasur, karena ternyata itu bukan pesan dari Embun.


"Kalau kamu menolak ajakanku, aku masih punya cara lain." Brian menyunggingkan senyum.


Dia mengambil hpnya dan menelfon seseorang.


"Aku butuh bantuan kamu." Kata Brian.


...************...


Hari sabtupun tiba. Embun yang memang libur sekolah, memilih untuk bermalas - malasan di kamar. Dia berbaring di kasur sambil membaca novel. Embun menghentikan membaca ketika ibunya masuk ke kamar.


"Ada apa bu?" Tanya Embun.


"Tu ada temen kamu datang." Jawab ibu Embun sambil membereskan buku Embun yang berantakan.


"Temen? Siapa bu?" Embun balik bertanya.


Seingatnya hari ini dia tidak punya janji dengan siapapun. Tapi kemudian dia ingat kalau hari ini Brian mengajaknya nonton.


"Gak mungkin kalau dia yang datang." Kata Embun pelan.


"Kenapa? Ayo cepat sana keluar?" Usir bu Lastri.


"Tapi siapa yang datang bu?" Embun masih penasaran. Dia masih berdiri di depan pintu.


"Sudah temuin sana." Bu Lastri mendorong Embun agar keluar dari kamar.

__ADS_1


Embun akhirnya menurut dan berjalan keluar tamu. Begitu sampai di ruang tamu, dia dikagetkan dengan suara teriakan.


"EMBUUUNNN!!!! Lama banget sih."


"Eh ayam - ayam." Embun mengelus dadanya.


"Bisa gak sih gak usah teriak - teriak? Kalau mau teriak sana pergi ke hutan." Embun memukul lengan Dewi.


Dia kesal dengan kebiasaan temannya ini. Tiap datang ke rumahnya selalu saja buat keributan.


"Hehehe, maaf - maaf. Habisnya dari tadi ditungguin gak keluar - keluar. Ngapain kamu di kamar?" Tanya Dewi.


"Habis ngepet." Jawab Embun asal.


"Jawabnya yang serius dong." Dewi melempar Embun dengan bantal kursi.


" Habisnya disuruh ngapain. Namanya hari libur ya dimanfaatin buat nyantai dong. Eh ngapain kamu kesini?" Tanya Embun menyelidik.


"Katanya kamu minta diajakin nonton, makanya aku jemput kamu." Jelas Dewi.


"Kata siapa?" Tanya Embun mengernyitkan dahinya.


"Tuh." Dewi menunjuk ke arah luar dengan dagunya.


Embun mengikuti arah yang ditunjukkan Dewi. Dia melihat Dion sedang duduk di teras rumahnya. Embun beralih memandang Dewi, dia bingung apa maksud temannya itu.


"Dion? Aku gak minta ajakin nonton dia." Kata Embun.


Karena penasaran, Embun beranjak dari duduknya dan keluar. Betapa kagetnya dia melihat orang yang bersama Dion. Sedangkan Dion mela mbaikan tangannya pada Embun.


Embun tidak memperdulikannya. Dia menatap Brian yang cuma menyunggingkan senyumnya. Embun memelototkan matanya ke arah Brian seakan minta penjelasan.


"Sesuai dengan kesepakatan." Kata Brian pendek.


"Tapi akukan gak mengiyakan ajakan kamu." Protes Embun kesal.


Dion yang memang sudah paham situasinya, berusaha menengahi agar mereka berdua tidak bertengkar.


"Sudah, kalau kamu gak nerima ajakan Brian gimana kalau aku yang ngajak. Kamu maukan?" Kata Dion meminta persetujuan.


Tapi Embun tidak menjawab pertanyaan Dion. Embun terus menatap Brian tajam, tapi Brian malah cuek pura - pura tidak tahu.


"Cepat kamu siap - siap. Jangan lupa mandi, hapus tuh ilernya." Dion mendorong bahu Embun agar masuk ke rumah.


"Siapa yang ileran." Refleks Embun mengusap bibirnya.


Kontan saja Dion tertawa melihat kelakuan Embun. Embun yang merasa dikerjain Dion, langsung menginjak kaki Dion dan masuk ke dalam rumah. Dion mengaduk dan memegang kaki yang diinjak Embun.


Sedangkan Brian menahan tawanya melihat Dion yang kesakitan.


"Gak usah tertawa!" Dion kesal pada Brian.

__ADS_1


Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya Dewi keluar bersama Embun. Mereka berpamitan pada ibunya Embun dan berangkat menggunakan mobil Brian


Selama diperjalanan, Embun asik bercerita dengan Dewi. Sedangkan Brian dan Dion yang berada di kursi depan hanya menjadi pendengar setia.


"Mbun,,tadi aku kok gak lihat mas Bima ya?" Tanya Dewi.


"Kenapa, kangen?" Tanya Embun balik.


"Iihh kata siapa?" Dewi tersipu malu.


"Kata aku barusan." Embun menjawab enteng pertanyaan Dewi.


"Embun." Dewi mencubit pinggang Embun.


"Kenapa sih? Kalau mau deketin kakak aku tuh saingannya banyak. Kamu juga mesti tahan banting." Embun memberi wejangan pada Dewi.


"Ih siapa juga yang mau deketin mas Bima? Aku tadi kan cuma tanya?" Elak Dewi. Dia tentu malu kalau ketahuan suka pada Bima kakaknya Embun.


"Gak usah pura - pura deh. Seisi rumah juga tahu kalau kamu suka sama mas Bima?" Jawab Embun.


"APA..TIDAKKK!!! Dewi berteriak kencang.


Brian yang kaget mendengar teriakan Dewi, refleks menginjak rem mobil. Dan itu membuat Embun dan yang lainnya terkejut. Untung keadaan jalan yang sepi sehingga tidak terjadi kecelakaan.


"Kamu mau bikin kita semua piknik ke alam baka ya?" Embun yang duduk di belakang Brian memukul kursi di depannya.


"Maaf aku kaget mendengar teriakan Dewi. Kamu gak apa - apakan?" Tanya Brian khawatir


"Aku gak apa - apa. Kamu sih ngapain teriak segala." Embun menatap Dewi kesal.


"Maaf - maaf." Dewi merasa bersalah.


"Sudah - sudah, yang penting gak ada yang terluka. Ayo Bri jalan lagi." Kata Dion.


Mereka melanjutkan perjalanan kembali. Kali ini selama perjalanan, keadaan menjadi sunyi. Embun memilih melihat pemandangan di luar jendela. Sedangkan Dewi tentu saja sedang memikirkan kata - kata Embun tadi.


"Aduh gimana nih kalau beneran seluruh keluarga Embun tahu kalau aku suka sama mas Bima. Mau ditaruh dimana mukaku kalau ketemu mereka?" Dewi berkata dalam hati. Memikirkan itu, membuat Dewi benar - benar malu dan membuat wajahnya memerah.


Embun yang melihat itu tersenyum. Dia tentu saja apa yang dipikirkan temannya itu. Timbul pikiran Embun untuk mengerjai Dewi. Dia menyunggingkan senyum jahil dan memandang ke arah Dewi.


"Mas Bima masih jomblo loh. Mau aku comblangin?" Dewi berbisik di telinga Dewi.


Wajah Dewi tambah memerah mendengar perkataan Embun. Kali ini bukan hanya wajahnya, tapi telinganya juga memerah. Embun yang melihat itu, tidak bisa menahan tawanya.


Dion yang mendengar Embun tertawa, melihat kebelakang. Dia juga ikutan tertawa melihat wajah dan telinga Dewi yang memerah.


"Embun, aku malu." Dewi menutup mukanya.


"Gak apa - apa. Aku dukung kamu jadi kakak ipar aku." Embun memeluk Dewi dari samping.


Mengetahui kalau dia dikerjain oleh Embun, Dewi membuka tangannya dan menatap Embun dengan tatapan membunuh. Dia langsung menghujani pinggang Embun dengan cubitan.

__ADS_1


__ADS_2