Hanya Bayanganmu

Hanya Bayanganmu
Hari Kelulusan


__ADS_3

Embun akan keluar dari rumah ketika dia melihat Raka berdiri menunggunya. Raka menatap Embun, tapi sayangnya Embun tidak membalas tatapan Raka dan berjalan melaluinya.


"Bisa kita bicara?" Tanya Raka.


"Apa ada hal penting yang perlu kita bicarakan?" Kata Embun santai dan mengulas senyum.


"Aku ingin minta maaf soal tadi malam? Aku tidak punya maksud untuk membentakmu." Sesal Raka, terlihat Raka sangat merasa bersalah. Baru pertama kali dia bertengkar hebat dengan Embun seperti tadi malam.


"Kamu gak perlu meminta maaf, karena kamu gak salah. Yang seharusnya minta maaf itu aku. Kalau dipikir - pikir aku tuh gak punya hak apa - apa untuk ngelarang kamu kuliah di luar negeri, apalagi soal perjodohan kamu. Bodoh bangetkan aku?" Embun tersenyum kaku.


Raka hanya menatap Embun sedih. Melihat Embun sekarang, ingin rasanya dia memeluk dan mencurahkan segala perasaannya. Tapi Raka hanya diam terpaku dan tidak mengatakan sepatah katapun.


Melihat Raka yang hanya diam, Embun memilih untuk pergi. Raka hanya menatap kepergian Embun.


"Kamu pasti kecewa dengan keputusanku." Ucap Raka dalam hatinya.


Embun duduk termenung di halte bus. Dia menghela nafasnya, dan memikirkan kejadian tadi.


"Bodoh.. Bodoh." Embun menepuk kepalanya pelan.


"Ngapain juga aku pakai ngomong kaya gitu segala. Gimana coba kalau Raka mikir macam - macam. Ini mulut memang gak ada remnya." Embun memukul mulutnya sendiri.


"Ngapain kamu ngomong sendiri? Tambah maju tuh bibir kalau dipukul - pukul kaya gitu."


Embun mengehentikan aksinya dan menoleh ke arah suara. Dia melihat Brian sedang duduk di sepeda motornya dan mengedipkan mata padanya. Embun bergidik melihat tingkah Brian yang dia rasa semakin aneh saja.


"Suka - suka aku dong. Ngapain kamu di sini?" Tanya Embun jutek.


"Aku mau jemput tuan puteri Embun dengan kuda besi ini." Brian turun dari motornya dan membungkuk di depan Embun. Tentu saja aksinya ini jadi perhatian orang - orang yang menunggu bus di halte.


Embun memukul punggung Brian karena malu menjadi pusat perhatian. Apalagi banyak yang berbisik - bisik memandang mereka.


"Ngapain sih, malu tahu." Embun menutup wajahnya dengan tas.


"Ayo berangkat." Ajak Brian.


"Siapa juga yang mau berangkat sama kamu." Bisik Embun masih menutup mukanya dengan tas.


"Ya sudah kita berangkat bareng naik bus saja." Brian duduk disamping Embun.


Embun menoleh sekitar, dan orang - orang masih melihat ke arah mereka.


"Kalau mau pacaran jangan di sini."


"Anak jaman sekarang memang gak punya malu lagi ya pacaran di tempat umum."

__ADS_1


Masih banyak lagi komentar yang Embun dengar. Embun benar - benar malu, dia langsung menggenggam tangan Brian dan menariknya ke motor.


"Ayo berangkat, mana helmnya."


Brian tersenyum dan menyerahkan helm pada Embun. Tak diduga Embun kesulitan mengunci helm, dan dengan sigap Brian membantunya. Melihat perlakuan Brian, banyak yang merasa iri terutama para gadis. Tapi tidak dengan Embun, dia langsung naik ke boncengan dan kembali menutup mukanya dengan tas.


"Malu - maluin." Embun memukul keras punggung Brian. Sedangkan Brian hanya menanggapinya dengan senyuman dan langsung menjalankan motornya menuju ke sekolah.


...*************...


Semua murid berkumpul karena hari ini adalah hari pengumuman kelulusan. Mereka semua tentu harap - harap cemas menunggu hasilnya.


Embun bersama dengan Dewi, Brian, dan Dion duduk di depan kelas. Dewi memegang tangan Embun erat dan sambil berdoa. Satu persatu wali murid keluar kelas, dan menunjukan hasil kelulusan pada anak mereka.


Pak Ardi keluar dan menghampiri anaknya. Beliau menatap Embun lama tanpa mengucapkan sepatah katapun. Embun yang memang tidak berharap banyak sudah menundukkan kepalanya. Dia sudah menitikkan air matanya.


"Ayah pulang dulu ya." Pak Ardi mengusap pucuk kepala Embun dan menyerahkan sebuah kertas.


Setelah ayahnya pergi, Embun masih terdiam tidak berani membuka kertas itu. Dewi yang penasaran langsung mengambil kertas itu dan membukanya. Dewi langsung memeluk Embun dan menangis keras. Melihat reaksi Dewi tentu saja membuat Embun ikut menangis. Melihat mereka berdua yang berpelukan sambil menangis, Brian merebut kertas dari tangan Dewi dan membacanya.


TOK


Brian menjitak kepala Dewi, yang membuat Dewi melepaskan pelukannya dari Embun. Brian membuka kertas itu lebar - lebar dan memperlihatkan pada Embun. Melihat tulisan yang tertera, Embun langsung tersenyum dan ikut menjitak kepala Dewi.


"Ngapain kamu nangis - nangis segala, puas sudah buat aku jantungan?" Embun melotot ke arah Dewi.


"Kan tadi aku nangis bahagia. Lagian ngapain juga kamu ikut - ikutan nangis."


"Aku tuh mikirnya aku gak lulus, makanya waktu kamu nangis aku juga ikut nangis." Embun membersihkan sisa air mata di wajahnya.


"Selamat ya." Dewi kembali memeluk Embun yang dibalas pelukan juga oleh Embun.


"Kalian gak pingin meluk aku juga." Dion merentangkan tangannya.


"Gak usah ya." Jawab Embun dan Dewi kompak.


Mendapat penolakan seperti itu, Dion menggaruk kepalanya. Brian menepuk pundaknya dan tersenyum mengejek.


"Selamat." Brian memberikan buket bunga pada Embun.


Embun dan Dewi terkejut akan ulah Brian itu. Teman - teman Embun yang melihat itu tentu saja langsung menggodanya. Embun dengan ragu mengambil bunga itu. Dewi yang sudah tersadar dari keterkejutannya menyenggol lengan Embun dan berbisik.


"Tu anak kenapa sih?"


"Gak tahu. Kayanya dia kesambet." Jawab Embun berbisik juga.

__ADS_1


"Buat aku mana?" Dewi menadahkan tangannya.


"Beli saja sendiri." Jawab Brian.


"Kamu mau hadiah apa?" Tanya Brian pada Embun.


"Em.. Em.. Gak usah. Kamu gak perlu repot - repot." Tolak Embun bingung.


"Gak apa - apa. Apapun akan aku kasih buat kamu."


Mendengar kata - kata Brian, Dewi mendekati Dion.


"Ternyata cinta bisa merubah kulkas 2 pintu jadi bucin akut ya." Kata Dewi.


"Lebih tepatnya jadi orang gak punya malu." Timpal Dion yang dibalas anggukan kepala oleh Dewi.


Mereka melihat kelakuan Brian yang benar - benar berubah. Dia terlihat sangat berusaha mendekati Embun. Dion mendekati Brian dan Embun, lalu mengajak mereka berkumpul bersama siswa yang lain di lapangan.


Di lapangan semua siswa kelas 3 sudah berkumpul. Mereka saling menyelamati satu sama lain karena semua siswa dinyatakan lulus. Sangat jelas rona kebahagian di wajah mereka, perjuangan selama 3 tahun terbayar lunas.


Embun dan teman - temannya ikut berbaur dengan yang lain. Embun menoleh ke sana ke mari mencari sosok Raka. Tapi sampai cukup lama mencari dia tidak menemukan Raka di manapun. Embun bertanya pada salah satu teman sekelas Raka. Dan dia mendapat informasi kalau Raka ada di parkiran. Embun langsung berlari ke parkiran, dan berharap Raka belum pergi. Brian yang melihat Embun pergi, mengikuti dari belakang tanpa sepengetahuan Embun.


Embun sampai di parkiran, dan dia melihat Raka yang hendak masuk mobil ayahnya. Melihat itu Embun berlari sambil berteriak memanggil Raka. Raka mengurungkan niatnya masuk mobil.


"RAKA.. Tunggu!!"


Raka menoleh ke arah suara, dan melihat Embun berlari ke arahnya.


"Ka.. Ka.. Kamu mau kemana?" Kata Embun terengah - engah.


Raka mengambil botol minuman di mobil dan memberikannya pada Embun. Embun menyerahkan botol itu pada Raka setelah menghabiskan isinya.


"Kamu mau kemana? Kamu luluskan? kamu gak ikut ngumpul sama anak - anak di lapangan?" Embun memberondong Raka dengan pertanyaan.


"Satu - satu kalau ngasih pertanyaan." Sentil Raka di dahi Embun.


Embun cemberut dan mengusap dahinya.


Raka menatap Embun intens dan berkata,


"Hari ini aku berangkat ke Inggris."


"APA??"


...*************...

__ADS_1


__ADS_2