
Sudah satu minggu lebih sejak Embun mendengar kabar batalnya pertunangan Raka dan Vania. Dan sampai saat ini, dia belum pernah bertemu dan mendengar kabar Raka sama sekali. Ponsel Embun berbunyi, dia melihat siapa gerangan yang menelefonnya. Senyum Embun merekah, dia segera menyentuh ikon warna hijau.
" DION!!" Teriak Embun.
" Gak usah teriak - teriak. Kamu mau bikin aku budek dengan suara cempreng kamu." Dion yang berada di seberang menjauhkan ponsel dari telinganya. Dia tersenyum setelah sekian lama tidak mendengar suara gadis yang diam - diam dia sukai.
Embun cekikikan mendapat omelan Dion. Rasanya dia kembali ke masa kuliah, yang sering kali mendapat omelan karena ulahnya yang kerap membuat Dion pusing sekaligus kesal.
" Habisnya kamu tiap aku telefon gak pernah diangkat, aku kirim pesan cuma dibaca doang. Aku kesal tahu." Embun mengerucutkan bibirnya. Terdengar kekehan dari Dion, walaupun tidak bisa melihat langsung Tapi Dion sudah bisa membayangkan wajah kesal Embun.
" Tolong kondisikan tu mulut. Sudah maju berapa senti? Kalau aku disitu pasti sudah aku ikat pake karet gelang." Ucap Dion yang membuat Embun refleks menutup mulutnya.
" Kamu tuh ya, emang nguncir bibir aku pake karet gelang jadi cita - cita kamu. Dari dulu ngancemnya mesti gitu." Ucap Embun dengan nada merajuk.
Dion tergelak, dia ingat itu adalah ancamannya setiap kali melihat bibir Embun yang mengerucut karena mendapat omelannya.
" Lusa aku mau ke Jakarta, mau ketemuan gak?" Tanya Dion.
" Mau.. Mau. Bawain aku kue buatan mama kamu ya. Aku kangen banget brownis sama donatnya." Kata Embun semangat. Membayangkan dua kue itu sudah membuat liur Embun mau menetes.
" Siap. Apa saja yang kamu minta pasti aku bawain." Jawab Dion.
Embun tertawa sumringah ketika panggilan sudah di matikan. Dia menatap layar ponsel, senyuman masih menghiasi wajahnya. Karena terlalu asik mengobrol, Embun tidak menyadari ada sepasang mata yang menatapnya dengan tajam. Embun beranjak dari duduknya dan akan melangkah keluar, tapi suara dengan nada yang teramat dingin mengurungkan langkahnya.
" Apa perusahaan ini menggajimu hanya itu bermesraan di telefon?!!"
Embun membalik tubuhnya, dan mendapati Brian tengah menatapnya tajam. Brian bangun dari duduknya, dan berjalan mendekati Embun.
__ADS_1
Embun merasakan aura yang berbeda dari sosok yang berjalan mendekatinya itu. Entah kenapa jantung Embun berdetak kencang. Tubuhnya seakan merasakan bahaya, dia perlahan mundur ke belakang tanpa melepaskan pandangannya dari Brian.
Sedangkan Brian, terus berjalan dengan perlahan mendekati Embun. Tak ada lagi senyuman di wajahnya, wajahnya mengeras dan urat terlihat di pelipisnya. Langkah Embun terhenti saat tubuhnya membentur pintu. Jantung Embun berdetak tidak menentu, dia melihat wajah Brian yang seperti menahan amarahnya.
Embun menutup matanya saat tangan kanan Brian memukul pintu yang ada dibelakangnya. Selama beberapa menit, dia tidak membuka matanya. Dia tidak hanya takut, tapi juga terkejut melihat sosok Brian saat ini. Embun yang masih menutup mata, dapat mendengar nafas Brian yang terengah - engah. Dan dengan sedikit keberanian, dia membuka matanya dengan perlahan.
Embun menatap lekat mata Brian. Dia merasakan kemarahan, kesedihan, dan rasa takut dalam mata Brian. Entah mengapa, Embun merasakan sakit di hatinya. Seakan dia bisa merasakan apa yang Brian rasakan sekarang. Tanpa sadar tangan Embun terulur dan menyentuh wajah Brian.
" Maaf." Hanya kata itu yang bisa Embun ucapkan. Dia mengabsen setiap inci wajah Brian dengan tangannya.
Embun tidak melepaskan pandangannya dari Brian, begitu juga Brian. Dia menikmati setiap sentuhan tangan Embun di wajahnya. Embun bernafas lega, saat melihat wajah Brian yang mulai melembut.
" Inilah Brian yang aku kenal." Ucap Embun dalam hati.
Brian memegang tangan Embun yang ada di wajahnya. Dia mendekatkan tangan itu di bibirnya dan mencium tangan Embun lembut.
" Maaf sudah membuatmu ketakutan." Ucap Brian merasa bersalah. " Maaf kamu jadi tahu sisi gelapku." Lanjut Brian kembali mencium punggung tangan Embun.
" Aku mau makan makanan Jepang. Kamu yang traktir ya." Embun membuka pintu dan mengajak Brian untuk keluar. Brian mengulas senyum dan mengikuti kemana Embun membawanya.
" Maafkan aku." Ucap Brian dalam hati.
...****************...
Embun dan Brian masuk ke restoran Jepang langganan mereka. Embun tersenyum pada Brian yang berjalan di sampingnya. Brian membuka pintu restoran dan mempersilahkan Embun masuk. Tapi sebelum Embun masuk, dia merasakan tangannya di tarik kasar oleh seseorang. Tubuh Embun sedikit oleng karena tarikan itu. Dia terkejut saat tahu siapa orang yang menarik tangannya. Tapi sebelum Embun membuka mulutnya, sebuah tamparan keras mendarat di pipinya.
PLAK!!!
__ADS_1
Embun memegang pipinya yang memerah. Dia menatap tajam ke arah orang yang ada di depannya kini. Sedangkan Brian terlambat menyadari hal itu. Dia segera menarik Embun ke dalam pelukannya.
" Apa yang kamu lakukan?!!!" Hardik Brian dengan sorot mata penuh kemarahan.
" Aku hanya memberi pelajaran pada wanita ja**l**ng ini. Karena dia, Raka memutuskan pertunangan kami. Seharusnya bukan hanya tamparan yang dia dapat. Aku malah ingin sekali membunuhnya." Ucapnya.
" Berani kamu menyentuh Embun, aku pastikan akan membunuhmu sampai keluargamu tidak akan mengenali mayatmu Vania." Ancam Brian.
Mendengar ancaman Brian, Vania tidak gentar sedikitpun. Dia bertepuk tangan dan tersenyum mengejak.
" Aku tidak menyangka kamu lebih membela dia daripada aku sepupumu sendiri. Bagaimana kalau Om sampai tahu kamu mengancamku seperti itu." Kata Vania santai.
Brian melepaskan pelukannya dari Embun. Dia berjalan mendekat ke arah Vania. Saat jarak mereka sudah sangat dekat, Brian mencodongkan tubuhnya dan berbisik di telinga Vania.
" Apa kamu lupa siapa keluarga mamaku. Apa perlu aku ingatkan?" Bisik Brian penuh penekanan.
Wajah Vania seketika pias. Dia menatap marah pada Brian yang menyunggingkan senyum meremehkan. Brian kembali berjalan mendekati Embun. Dia memeluk pinggang Embun, dan mengajaknya pergi dari tempat itu.
" Kita kembali ke kantor saja. Pipi kamu perlu di obati." Ucap Brian lembut. Embun setuju, karena tidak mungkin dia melanjutkan makan siangnya saat kondisinya seperti sekarang.
Mereka segera pergi meninggalkan restoran dan berjalan menuju parkiran. Sebelum masuk ke mobil, Embun menatap ke arah Vania yang masih berdiri di tempatnya semula. Embun bisa melihat tatapan kebencian Vania untuknya. Walaupun dia ingin menjelaskan pada Vania kalau dia tidak ada sangkut pautnya dengan keputusan Raka, tapi rasanya percuma sebab Embun tahu sejak dulu Vania tidak suka padanya.
" Ayo masuk." Ajak Brian yang melihat Embun masih berdiri.
Embun segera masuk ke mobil. Sebelum melajukan mobilnya, Brian duduk menghadap Embun dan memegang pipi Embun yang memerah.
" Apakah masih sakit?" Tanya Brian khawatir.
__ADS_1
" Sedikit." Jawab Embun tersenyum. " Brian, apakah kamu serius dengan perkataan kamu tadi pada Vania?" Tanya Embun.
Brian mengelus lembut pipi Embun. " Tentu saja, kalau dia berani macam - macam sama kamu. Kamu tidak perlu khawatir, aku berkata seperti itu karena aku sudah tahu benar sifat Vania. Dia akan melakukan apapun agar keinginannya terpenuhi. Dan dia juga akan melakukan apapun pada orang yang tidak dia sukai. Aku pasti akan melindungimu dari Vania." Ucap Brian serius.