Hanya Bayanganmu

Hanya Bayanganmu
Bucin


__ADS_3

Brian sedang duduk di kantin ketika Dewi mendekatinya. Dewi duduk di depan Brian dan langsung meminum minuman di depannya. Brian mendelik melihat Dewi meminum minuman yang belum dia minum.


"Sorry, haus banget." Cengir Dewi.


"Ada apa?" Tanya Brian.


Dewi merogoh sakunya. Dia mengambil atm dan menyerahkan pada Brian. Brian memandangi atm itu yang setahu dia itu miliknya. Brian mengambil dan membolak balikkan atm itu, dan meletakkan kembali ke meja. Dia memandang Dewi dengan intens meminta penjelasan.


"Atm ini aku kembaliin, aku gak jadi minjem." Kata Dewi pelan.


"Tapi aku akan tetap bantu kamu buat dekat sama Embun kok, suerr." Dewi menunjukkan dua jarinya tanda dia serius.


"Kamu pegang saja. Kalau suatu saat kamu ingin beliin Embun sesuatu, kamu bisa pakai ini." Brian menyodorkan atm ke arah Dewi.


"Kamu serius?" Tanya Dewi tidak percaya.


"Tentu saja. Aku gak mau dia cuma ngabisin waktu keliling toko tanpa beli sesuatu. Merepotkan." Ujar Brian. Dia tentu saja ingat kejadian di mall beberapa hari yang lalu.


"Hahaha, jadi kamu juga ikut kena imbas hobi Embun. Kasihan." Dewi menggeleng - gelengkan kepala sambil menepuk pundak Brian. Dia berusaha menahan tawa. Dia tidak tahu kalau Embun akan melakukan itu pada Brian. Dia yang sama - sama perempuan saja bisa kesal, apalagi seorang laki - laki kaya Brian.


"Berapa jam kamu diajak keliling?"


"2 jam." Jawab Brian datar.


"Haa!! 2 jam. Dan selama 2 jam itu dia cuma lihat - lihat, gak beli apa - apakan?"


Brian diam saja, tapi diamnya Brian sudah menjawab pertanyaan Dewi itu. Dewi menghela nafas, dia memandang Brian dengan intens.


"Gak usah lihat aku kaya gitu." Brian risih mendapat tatapan seperti itu.


"Beruntungnya Embun dibucinin sama kamu, kapan ya aku bisa kaya Embun?"


"Aku minta kamu rahasiain soal atm ini. Kalau dia ingin sesuatu kamu bisa pakai ini, berapapun harganya." Brian beranjak dari duduknya, dia ingin menyudahi obrolan dengan Dewi.


"Beneran berapapun harganya boleh dibeli?" Dewi tersenyum penuh arti.


"Tentu saja, tapi pasti aku tahu siapa yang pakai atm ini." Brian menarik ujung bibirnya. Sedangkan Dewi cemberut menatap Brian yang melangkah menjauh.


...*************...


Tidak terasa 2 bulan lagi ujian nasional. Semua anak kelas 3 sudah mulai mempersiapkan diri. Tentu mereka ingin mendapatkan nilai yang maksimal, agar bisa memilih universitas favorit mereka.

__ADS_1


Hari ini Dewi sedang belajar bersama di rumah Embun. Hampir 30 menit mereka membaca buku pelajaran. Embun menutup buku pelajaran yang sedang dia baca, dan langsung meletakkan kepala di atasnya. Dewi menoleh, kemudian memukul pelan Embun dengan bukunya.


"Belajar woy."


”Otak aku dah over, coba pegang."


Embun menarik tangan Dewi dan meletakkan di dahinya. Dewi meraba dahi Embun, dan tak berapa lama dia menepuknya.


"Alasan saja kamu, bilang saja malas." Dewi melanjutkan membacanya.


"Kamu tumben banget semangat belajar?" Tanya Embun, karena tidak biasanya Dewi ke rumahnya dan mengajak belajar bersama.


"Embun,, sebentar lagi kita mau ujian. Kita harus mempersiapkan dengan maksimal, supaya dapat nilai yang bagus. Iya gak?" Tanya Dewi.


"Gak tuh." Jawab Embun cuek.


"Kamu tuh ya, memangnya kamu gak pingin masuk universitas yang bagus?"


"Gak. Aku mau masuk universitas yang mau nerima aku saja." Embun tertawa.


"Dasar kamu. Kalau aku mau masuk universitas paling favorit di sini." Dewi menerawang dan tersenyum - senyum sendiri.


"Aku tahu tujuan kamu pengen masuk universitas itu." Embun menjeda kata - katanya dan melanjutkan kembali.


"Kamu pengen dekat sama mas Bimakan? Ngaku aja?" Embun menggoda Dewi.


"Ih apaan sih. Kata siapa? Aku milih masuk ke sana karena memang universitasnya bagus." Elak Dewi salah tingkah. Dia mengipasi wajahnya dengan tangan, dan itu semakin membuat Embun semangat untuk menggodanya.


"Ciiee,, yang punya cita - cita jadi nyonya Bima." Goda Embun.


Muka Dewi menjadi merah karena terus di goda oleh Embun. Saat itu tiba - tiba pintu kamar Embun terbuka dan masuklah Bima. Dewi yang melihat kedatangan Bima tidak bisa menyembunyikan kegugupannya. Dia menundukkan kepalanya sambil sesekali mencuri pandang ke arah Bima. Sedangkan Bima masuk dan langsung membuka lemari Embun.


"Nyari apa?" Tanya Embun jutek.


"Jaket mas mana?" Tanya Bima tanpa menoleh.


"Jaket apa?"


"Jaket yang warna biru, mas cari gak ada. Pasti kamu yang pakaikan?" Tuduh Bima.


"Lupa belum Embun cuci, masih dikeranjang pakaian kotor." Embun menunjuk keranjang pakaian di depan kamar mandinya.

__ADS_1


Bima menatap Embun kesal. Sudah beberapa kali adiknya itu meminjam barang - barangnya terutama baju tapi tidak langsung dikembalikan.


"Kamu tuh kebiasaan pinjam baju gak bilang dulu, dah gitu gak langsung dikembaliin." Kata Bima kesal.


"Mas Bima juga boleh minjam baju Embun, gak bilang dulu juga gak apa - apa kok." Embun tersenyum lebar memperlihatkan deretan giginya.


Dewi menutup mulutnya agar tidak tertawa mendengar kata - kata Embun. Sekali lagi Bima harus menahan kekesalannya. Kalau bisa ditukar dia ingin menukar adiknya itu.


"Kamu pikir mas Bima apaan, dikira mas mau mangkal di lampu merah apa?" Kata Bima.


"Ya mungkin saja mas Bim mau tampil beda." Ujar Embun tanpa dosa.


Bima mendekati Embun dan menjitak kepalanya. Embun mengaduh dan memegangi kepalanya.


"Sakit tahu." Embun cemberut.


"Lain kali kalau mau pinjam bilang dulu, jangan asal ambil." Perintah Bima


"Kalau bilang dulu paling juga gak boleh."


"Kamu ya, dibilangin selalu jawab. Dewi kamu jangan ikutin sifat jelek teman kamu ini ya." Bima menoleh ke arah Dewi. Dewi tentu saja gugup mendapat pertanyaan mendadak dari Bima.


"Tenang saja mas Bim, Dewi itu orangnya penurut. Cocok kalau dijadikan pasangan." Embun mengedipkan matanya ke arah Dewi.


Dewi dan Bima saling pandang, dan itu membuat mereka salah tingkah. Bima buru - buru keluar kamar, sebelum keluar dia berbalik dan berkata pada Embun.


"Cepat kamu cuci jaket mas, mau mas pakai."


"Iya, kalau Embun lupa nanti biar Dewi yang cuciin. Iyakan Wi?" Embun menyenggol lengan Dewi.


Ulah Embun itu tentu saja membuat Dewi semakin salah tingkah. Wajah Dewi semakin merah, dia memilih menunduk. Rasanya dia ingin lari dari tempat itu. Bima memperhatikan wajah Dewi yang memerah dan tersenyum. Bima memilih untuk cepat keluar dari kamar Embun. Dia merasa kasihan melihat dan juga lucu melihat Dewi yang selalu digoda oleh adiknya itu.


Setelah Bima keluar, Dewi bisa bernafas lega. Dia langsung menatap Embun dengan tatapan membunuh. Embun menelan ludahnya melihat tatapan Dewi. Dia sudah bersiap kabur ketika Dewi menghadangnya.


"Mau lari kemana kamu!!"


"Tadi aku cuma bercanda." Kata Embun dengan senyum kecut.


"Sekarang giliranku." Dewi mendekat Embun.


Embun yang melihat ada bahaya, berjalan mundur. Tapi sayang dia sudah terpojok karena sudah berada di sudut kamar. Dewi yang melihat itu tidak menyia - nyiakannya. Dia langsung menggelitik pinggang Embun sampai Embun kewalahan dan meminta ampun.

__ADS_1


__ADS_2