
Embun meregangkan tubuhnya, dia merasakan pegal di sekujur
badannya. Seandainya tidak banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan hari ini, ingin rasanya dia tidak berangkat dan merebahkan tubuhnya seharian. Embun tidak membutuhkan banyak waktu untuk bersiap, dia segera keluar apartemen. Langkah Embun terhenti saat melihat Raka yang berdiri tidak jauh dari pintu apartementnya. Jantung Embun berdetak kencang saat melihat Raka berjalan mendekatinya.
“ Raka, ngapain kamu ke sini?” Tanya Embun sambil mengulas senyum
yang terlihat sangat canggung.
Raka menatap Embun yang terlihat gelisah di depannya, perasaannya saat ini campur aduk. Satu sisi dia merasa bersalah soal kejadian tempo hari, dan sisi lainnya dia merasakan kerinduan yang mendalam pada gadis yang ada di depannya.
Embun yang melihat Raka hanya terdiam, akan mengeluarkan pertanyaan lagi. Tapi detik itu juga, jantung Embun seakan mau melompat keluar saat Raka memeluknya. Embun merasakan pelukan Raka yang sangat erat, hati kecil
Embun ingin membalas pelukan itu. Tangan Embun terhenti di belakang punggung Raka, kedua tangannya terkepal dan akhirnya terjatuh di samping tubuhnya.
“ Maaf.” Ucap Raka dengan tubuh yang sedikit bergetar.
“ Maaf untuk apa?” Tanya Embun.
“ Soal kemarin, juga tentang tamparan Vania.”
Embun melepaskan pelukan Raka, dia menatap Raka dan tersenyum lembut padanya.
“ Gak usah dibahas lagi, itu juga bukan salah kamu. Soal Vania aku memakluminya, pasti dia marah dan juga kecewa atas keputusan kamu. Tapi apa kamu tidak bisa mempertimbangkan lagi keputusan kamu itu? Kalian sudah bertunangan cukup lama, kalian bisa membicarakan ini secara baik – baik.” Embun mengutarakan pendapatnya.
“ Aku sudah gak bisa mempertahankan hubungan ini. Aku tidak mau menjalani hubungan yang tidak sehat, dengan sifat Vania yang tidak pernah berubah bukan tidak mungkin dia akan melakukan hal yang lebih gila dari kemarin. Dan aku juga sudah bertekad akan memperjuangkan kebahagianku sendiri.”
Raka menatap mata Embun lekat.
Embun segera menundukkan wajahnya, entah apa maksud perkataan Raka. Tapi itu jelas membuat debaran yang dulu dia rasakan pada teman masa kecilnya itu kembali terasa.
“ Aku harap kamu mengambil keputusan yang tepat.” Ucap Embun.
Raka tersenyum dan mengusap lembut puncak kepala Embun. “ Kamu mau berangkat? Ayo aku antar.” Tawar Raka.
“ Gak usah. Aku dijemput Brian, kayanya dia juga sudah menunggu di bawah.” Tolak Embun halus.
__ADS_1
Mendengar perkataan Embun, senyum di wajah Raka perlahan memudar. Dia menghentikan langkahnya dan menatap nanar Embun yang perlahan berjalan menjauh.
“ Apakah aku sudah terlambat?” Tanya Raka pada dirinya sendiri.
Embun menoleh ke belakang, dan melihat Raka yang terdiam dengan sorot mata sendu.
“ Raka, ayo.” Embun melambaikan tangannya.
Raka tersadar, dan kembali melangkahkan kakinya. Dia berjalan di samping Embun dan melirik Embun yang tengah menceritakan masa lalu
mereka saat kecil dulu.
“ Kali ini aku tidak akan menyerah. Aku akan memperjuangkanmu Embun.” Tekad Raka dalam hati.
*****
Brian yang berdiri sambil menyandarkan tubuhnya di mobil, menatap dua orang yang berjalan mendekatinya. Dia memicingkan matanya melihat Embun yang terlihat sumringah tengah mengobrol dengan Raka. Terlihat Embun
melambaikan tangannya, dan berjalan cepat ke arah Brian.
“ Aku baru sampai. Hai Ka, gimana kabarnya?” Brian merangkul pundak Embun dan menyapa Raka.
“ Baik.” Jawab Raka singkat.
Raka bisa melihat kalau Brian sengaja merangkul Embun di depannya. Sebenarnya Raka kesal melihat tingkah Brian itu, tapi sebisa mungkin dia menutupinya.
“ Ada apa sepagi ini kamu sudah ke sini?” Tanya Brian.
“ Ada hal penting yang aku bicarakan dengan Embun.” Jawab Raka menatap Embun dan mengulas senyum.
Brian menatap Embun seakan meminta penjelasan. Embun menarik nafas dan menghembuskannya pelan. Dia segera menarik tangan Brian dan mendorongnya
agar masuk ke mobil. Setelah itu dia berbalik dan melambaikan tangannya pada Raka.
“ Aku pergi dulu. Dah.” Embun segera masuk ke mobil Brian. Dia melakukan untuk karena tidak mau melihat pertengkaran diantara mereka berdua.
__ADS_1
Raka menatap kepergian Embun sampai mobil yang membawa gadis itu hilang di ujung jalan. Setelah itu Raka berbalik, dan seketika wajahnya mengeras menatap Vania yang berdiri di depannya. Tanpa menyapa Raka segera berjalan melalui Vania yang masih berdiri mematung. Raka menghentikan
langkahnya saat merasakan cekalan kuat di pergelangan tangannya.
“ Jadi karena dia kamu memutuskan pertunangan kita?” Tanya Vania.
“ Lepaskan!!.” Perintah Raka tanpa menjawab pertayaan yang Vania lontarkan.
“ Jawab Raka!! Apa karena j*l*ng itu kamu memilih memutuskan pertunangan kita. Apa kekurangan aku Ka. Selama 5 tahun ini aku sudah lakukan apapun agar kamu mau membuka hati kamu. Tapi kamu dengan teganya lakuin ini sama aku. Apa kamu tidak memikirkan perasaan aku juga keluarga aku?” Ungkap Vania dengan emosi.
“ CUKUP VANIA!!!” Teriak Raka dan menyentak kasar genggaman Vania di tangannya.
Karena teriakan Raka ini, tentu saat ini mereka menjadi tontonan orang yang berada di sana. Raka mendengar beberapa orang yang berbisik
membicarakan perlakukannya pada Vania. Tapi Raka tidak ambil pusing, dia sudah tidak mau ambil pusing pada omongan orang lain.
“ Keputusanku sudah bulat. Aku sudah tidak bisa melanjutkan pertunangan kita. Sudah aku katakan keputusan aku tidak ada sangkut pautnya dengan Embun. Tapi aku sudah muak dengan sikap kamu yang seenak sendiri dan
tidak pernah berubah sama sekali.”
“ Satu lagi. Aku tidak akan memaafkan kamu sampai kamu berani menyakiti Embun walau sehelai rambut. Ingat itu!!” Ucap Raka serius.
Raka segera pergi meninggalkan tempat itu. Sedangkan Vania terlihat kesal, dia mengepalkan tangannya kuat dan menatap penuh kemarahan.
“ Lihat saja. Aku akan buat kamu menyesal sudah melakukan ini padaku Ka. Kalau kamu tidak mau meninggalkan dia, maka akan aku buat dia meninggalkan kamu selamanya.” Ucap Vania dengan seringaian iblisnya.
Di tempat lain. Brian yang sedang mengendarai mobilnya menuju kantor, lebih memilih diam selama perjalanan. Berkali – kali dia menghembuskan nafasnya kasar, itu semata – semata agar dia dapat meredam kekesalan yang saat ini dia rasakan. Dia tidak mau lagi melampiaskan rasa cemburunya pada Embun, yang tentu saja akan membuat gadis yang sangat diacintai itu semakin takut padanya.
“ Brian, kamu marah?” Tanya Embun memberanikan diri.
Tidak ada jawaban dari Brian. Pria itu terus menatap ke depan dan tidak menoleh sedikitun ke arah Embun. Embun yang tidak bisa didiamkan,
menyentuh pelan tangan Brian yang berada diatas kemudi. Karena sentuhan itu, akhirnya Brian menghentikan mobilnya di tempat yang sepi. Brian menatap mata Embun yang menyiratkan kekhawatiran. Tapi Brian tidak hanya melihat sorot kekhawatiran di mata itu, tapi dia juga melihat ketakutan yang terpancar jelas di mata Embun.
Brian mengulurkan tangannya dan membelai lembut pipi Embun.
__ADS_1
“ Apa kamu takut padaku?” Tanya Brian lirih. Dan hati Brian mendadak nyeri saat melihat Embun menundukkan kepalanya.