
Setelah sampai di bioskop, Dion langsung pergi membeli tiket sedangkan Brian membeli makanan. Embun dan Dewi menunggu tak jauh dari pintu masuk. Embun melihat Brian datang mendekat, tapi dia merasa aneh melihat jumlah makanan yang dibeli Brian.
"Kok makanannya dikit baget? Jumlah kita kan empat orang, masak kamu cuma beli dua minuman terus popcornnya cuma satu lagi. Pelit amat." Embun mengernyitkan alisnya.
"Terserah aku. Kalau gak mau, sana beli sendiri." Brian menjawab datar.
"Kalau emang gitu, tadi aku yang beli saja." Embun menghela nafas kesal.
Embun ingin melangkah pergi, tanpa tangannya ditahan oleh Dewi.
"Aku yang beli aja. Sekalian aku mau ke toilet." Kata Dewi.
"Jangan lama - lama." Jawab Embun.
"Iya. Nanti kalau aku kelamaan kamu masuk duluan, ntar aku nyusul. Oke?" Jelas Dewi.
Tanpa Embun sadari, Dewi mengedipkan matanya pada Brian yang dibalas anggukan. Kemudian dia pergi meninggalkan Embun dan Brian. Tak berapa lama Dion juga datang.
"Ini tiket kalian." Dion menyerahkan tiket pada mereka berdua.
"Dewi mana?" Lanjut Dion karena tidak melihat keberadaan Dewi.
"Dia beli makanan. Gara - gara dia nih, beli makanan dikit banget." Embun menatap tajam Brian, tapi Brian cuek saja dan pura - pura melihat jam ditangannya.
Terdengar suara pemberitahuan bahwa film akan dimulai. Embun tentu saja panik karena Dewi belum juga datang. Dia menoleh kesana kemari mencari keberadaan temannya. Dion yang paham langsung menawarkan diri mencari Dewi.
"Kalian masuk saja dulu. Biar aku cari Dewi." Kata Dion.
"Aku saja." Pinta Embun.
"Kalau kamu yang cari kelamaan. Sudah sana masuk, ntar aku nyusul sama Dewi." Dion memberi usul.
Embun diam, dia masih mempertimbangkan usul Dion. Sebenarnya dia canggung kalau harus masuk berdua saja dengan Brian. Melihat Embun yang diam saja, Brian langsung menggandeng tangan Embun dan mengajaknya masuk. Embun tentu saja kaget, dia berusaha melepaskan tangan Brian. Tapi sayangnya Brian malah semakit mempererat genggamannya.
"Aku masuk duluan." Kata Brian pada Dion. Dion tersenyum dan mengacungkan jempolnya.
"Kalian jangan lama - lama." Kata Embun sebelum masuk.
"Siap." Dion memberikan hormat.
Embun dan Brian akhirnya masuk ke bioskop. Setelah mereka masuk, Dion melangkah pergi. Dia masuk ke restoran, dan langsung duduk di depan seorang gadis.
"Mereka sudah masuk?" Tanya Dewi.
"Sudah. Misi kita berhasil." Dion dan Dewi adu tos, kemudian tertawa bersama.
__ADS_1
"Jadi kamu yang traktirkan?" Tanya Dewi memastikan.
"Tenang saja. Kamu bisa makan sepuasnya." Dion mengeluarkan kartu atm.
Dewi langsung merebut kartu itu dari tangan Dion.
"Kalau kita beli sesuatu gimana?" Dewi menaik turunkan alisnya.
"Ide bagus." Dion menyunggingkan senyum.
Di Bioskop
Embun duduk gelisah menunggu kedatangan Dewi dan Dion. Dia terus memperhatikan pintu masuk, tapi sampai lampu dipadamkan tidak ada tanda - tanda kedatangan kedua temannya itu. Embun mencoba menghubungi Dewi maupun Dion, tapi tidak ada satupun dari mereka yang mengangkat telefonnya. Embun akan berdiri dari duduknya, tapi Brian menahan tangan Embun.
"Duduk!!!" Kata Brian pelan namun tegas.
Mendengar kata - kata Brian, Embun sedikit merinding. Walaupun singkat, tapi sudah bisa membuat Embun merasa terintimidasi. Akhirnya Embun kembali duduk, dia tidak berani menoleh ke arah Brian.
"Kenapa auranya nyeremin kaya gini?" Batin Embun sambil memegang tengkuknya.
Embun mencoba mengirim pesan pada Dewi, tapi tidak ada satupun pesannya yang dibalas. Yang membuat Embun kesal, pesannya hanya dibaca oleh Dewi. Ditengah - tengah film yang sedang diputar, Embun mendapat pesan dari Dewi. Embun segera membuka pesan itu, tak berapa lama dia berteriak yang langsung mendapat tatapan tajam dari pengunjung bioskop.
"TIDDAAKKK." Teriak Embun.
Brian menutup mulut Embun dengan tangannya, dia melotot pada Embun. Embun menoleh pada Brian dan pandangan mereka bertemu. Sesaat mereka saling terdiam, Brian yang sadar segera melepaskan tangannya dan membenarkan letak duduknya. Embun juga merasa canggung dengan situasinya tadi. Dia menghembuskan nafasnya untuk mengusir kegugupannya. Embun memasukkan hpnya dan mencoba fokus kembali pada film.
Tapi dia tidak bisa fokus, dia mencoba melirik Brian yang ada disebelahnya. Embun salah tingkah ketika ternyata Brian juga sedang memperhatikannya. Brian menopang kepalanya dengan tangan dan tersenyum pada Embun. Embun tentu saja langsung menghadap kembali ke depan.
Sampai film hampir selesai, Embun tidak bisa menikmati film sama sekali. Setelah lampu dihidupkan dia buru - buru keluar. Dia baru bisa bernafas lega ketika sudah di luar ruangan. Dia mengambil hp dan menghubungi Dewi kembali, tapi malah dimatikan.
"Kenapa?" Tanya Brian.
"Nih." Embun memperlihatkan pesan daru Dewi, Brian hanya tersenyum melihatnya.
"Brian, apa kamu tidak marah?" Tanya Embun.
"Kenapa aku harus marah?" Tanya Brian balik.
"Kamu tanya kenapa? Kamu gak lihat? Mereka malah belanja dan ninggalin kita nonton. Awas saja kalau ketemu." Embun mengepalkan tangannya.
"Kamu mau belanja juga?" Brian memandang Embun lekat.
"Bukan begitu. Aku kesal saja." Ucap Embun masih kesal.
"Ayo kita makan. Aku traktir makanan Jepang." Tawar Brian.
__ADS_1
"Beneran?" Tanya Embun semangat.
Tanpa menjawab pertanyaan Embun, Brian melangkah pergi. Embun langsung mengejar Brian, dan berjalan disampingnya.
"Aku mau pesan ramen, takoyaki, sushi, hemm apalagi ya?" Embun bertanya, dia sudah melupakan rasa kesalnya tadi.
Brian tersenyum, dia terus berjalan ke arah salah satu restoran yang menjual makanan Jepang. Setelah masuk restoran, tidak sengaja Embun menabrak salah satu pengunjung. Embun langsung meminta maaf, betapa kagetnya dia ternyata orang itu adalah Vania.
"Embun, kamu juga mau makan di sini? Sama siapa kamu" Tanya Vania.
"Embun sama aku." Jawab Brian datar.
"Oh kamu Brian. Kita makan bareng saja, aku sama Raka. Tuh dia baru dari kamar mandi." Tunjuk Vania ke arah Raka.
Raka yang baru dari kamar mandi, terkejut melihat Vania sedang bersama Embun. Terlebih lagi dia juga melihat Brian.
"Ka, kita makannya bareng Brian sama Embun ya?" Tanya Vania sambil bergelayut manja di lengan Raka.
"Gak usah Van, kami makan sendiri saja." Tolak Embun.
"Kita makan bareng mereka." Kata Brian yang langsung menggandeng tangan Embun dan berjalan kesalah satu meja.
Raka memandang tangan Embun yang digenggam Brian. Raka tidak bisa menyembunyikan kekesalan di wajahnya. Vania tentu saja menyadari perubahan di wajah tunangannya itu. Vania mengajak Raka untuk duduk bersama. Sampai mereka duduk, pandangan Raka tidak lepas dari Embun yang duduk dihadapannya.
"Kamu mau pesan apa?" Tanya Vania.
"Terserah kamu saja." Jawab Raka datar.
Vania memesan beberapa menu untuknya dan Raka. Sedangkan Embun memesan menu kesukaannya.
"Kamu pesan banyak banget, memangnya kamu bisa menghabiskan semuanya?" Tanya Vania.
"Kamu gak usah khawatir, perutnya itu karet. Dia pasti bisa menghabiskan semua." Raka menjawab pertanyaan Vania.
Vania dan Brian menoleh ke arah Raka. Mereka tidak menyangka kalau Raka yang akan menjawab.
"Hahaha, Raka benar. Aku bisa menghabiskan semuanya, apalagi kalau ditraktir." Jawab Embun tanpa malu.
Setelah itu Vania dan Raka hanya diam. Sedangkan Embun terus saja bercerita tentang kekesalannya pada Dewi.
"Jadi kamu ditinggalin temanmu belanja?" Tanya Vania.
"Iya, nyebelin banget gak. Dia yang ngajakin aku nonton, malah aku ditinggal gitu aja. Pakai ngirim foto lagi belanja lagi." Embun meluapkan kekesalannya.
Setelah mendengar cerita Embun, Vania paham apa yang terjadi. Dia menoleh ke arah Brian dan tersenyum penuh arti. Brian sendiri lebih memilih memalingkan wajahnya.
__ADS_1