Hanya Bayanganmu

Hanya Bayanganmu
Embun Kesal


__ADS_3

Brian masuk ke apartementnya dengan perasaan lega. Karena satu minggu lebih dia harus tinggal di rumah sakit


menjalani perawatan. Embun langsung membawa Brian masuk ke kamarnya dan menyuruhnya untuk beristirahat.


“ Kamu istirahat saja, nanti aku buatkan bubur.” Ucap Embun.


Brian menatap lembut pada Embun dan mengangguk. Embun segera beranjak dan pergi keluar dari kamar Brian. Dia pergi ke dapur berniat untuk membuatkan Brian bubur. Selepas kepergian Embun, Brian masih terlihat senyum – senyum sendiri dan itu tak luput dari perhatian Aldo yang kebetulan masuk setelah Embun pergi.


“ Ternyata seekor singa bisa menjadi kucing anggora kalau sudah ada pawangnya?” Sindir Aldo yang melihat tingkah aneh Brian.


Brian yang merasa disindir oleh Aldo langsung memasang wajah datarnya. Dia beranjak dari tempat tidur dan duduk di sofa. “ Sudah bosan tinggal di sini?” Kata Brian dengan nada ancaman.


Mendengar kata – kata Brian, Aldo hanya terkekeh dan duduk di depannya. Aldo memandang intens pada Brian, tentu saja itu membuat Brian jengah dan melempar Aldo dengan bantal kursi. Aldo refleks menghindar dan bantal itu malah mengenai wajah Kris yang kebetulan baru masuk ke kamar Brian. Kris langsung mengambil bantal itu dan menatap tajam ke arah dua orang di depannya. Brian dengan cepatnya memasang wajah tidak bersalah dan


pura – pura sibuk dengan gawainya. Begitu juga dengan Aldo, yang langsung mengambil majalah dan sibuk membuka halamannya.


“ Kenapa kelakuan kalian tidak berubah, masih seperti anak kecil.” Kris memukulkan bantal di kepala Aldo dan


duduk di sebelahnya. Aldo yang mendapatkan pukulan dari Kris hanya meringis tak berniat untuk membalas.


“ Sampai kapan kamu mau main rumah – rumahan? Pekerjaan sudah menumpuk, harus segera kamu selesaikan.” Tanya Kris pada Brian.


“ Bukannya kamu dan Aldo bisa menyelesaikannya? Apa kamu tidak lihat kalau aku baru sembuh?” Jawab Brian santai.


“ Sejak kapan kamu jadi manja Bri? Waktu kamu kena luka tembak saja, kamu hanya meninggalkan pekerjaan satu hari. Sekarang Cuma kena luka tusuk kamu sampai koma dan dirawat di rumah sakit selama satu minggu. Menggelikan.” Cibir Aldo.


“ Apa kalian keberatan? Buat apa aku bayar kalian mahal kalau semua pekerjaan aku yang selesaikan. Atau kalian


mau ikut kakek saja? Aku tidak keberatan, aku bisa mengirim kalian sekarang juga dengan jet pribadi.” Kata Brian tanpa beban.


Aldo dan Kris saling berpandangan, dari tatapan mereka terlihat mereka saling menyalahkan.


“ Dasar bos yang tidak berperikemanusiaan, suka main ancam.” Batin Aldo.


“ Gak usah mengumpat.” Brian melirik Aldo. Aldo kaget dan mengusap tengkuknya, dia berpikir bagaimana Brian bisa tahu apa yang dia pikirkan.


“ Tapi kamu harus segera masuk kantor, ada sedikit masalah dengan proyek di Singapura.” Kata Kris.


Mendengar itu, Brian segera meletakkan gawainya dan menatap serius Kris. Kris segera menjelaskan dengan


detail mengenai kendala yang terjadi. Mereka bertiga terlihat sangat serius, sampai tidak menyadari kedatangan Embun. Embun yang masuk membawa bubur, meletakkan nampan berisi  di atas nakas dan berniat untuk keluar.

__ADS_1


“ Kamu mau kemana?” Tanya Brian yang melihat Embun akan keluar.


“ Aku mau ke bawah, kalian bisa lanjutin obrolannya. Oh ya jangan lupa nanti buburnya di makan, dan obatnya kamu minum.” Kata Embun yang dibalas anggukan Brian.


 Embun keluar sambil menutup pintu. Tapi tak berapa lama pintu kembali terbuka, dan Embun menyembulkan kepalanya“ Kalian berdua, jangan suruh Brian bekerja keras dulu. Dia masih butuh banyak


istirahat. Kalau sudah selesai kalian cepat keluar dari sini.” Perintah Embun pada Aldo dan Kris.


“ Kalian dengar itu.” Brian melirik kedua temannya, yang membuat kedua temannya saling pandang.


*****


Brian masuk ke ruangannya di ikuti Kris dan juga Aldo di belakangnya. Dia memutuskan untuk masuk kantor


karena banyak sekali pekerjaan yan harus dia selesaikan. Sebenarnya Brian akan pergi ke Singapura, tapi terpaksa dia serahkan pada Kris karena Embun melarangnya melakukan perjalanan jauh.


“ Apa kamu yakin akan menyerahkan masalah ini pada Kris, Bri?” Tanya Aldo.


“ Kalian dengar apa yang dikatakan Embunkan? Aku gak mau ambil resiko.” Jawab Brian tanpa menoleh pada Aldo. Dia sedang sibuk mempersiapkan berkas yang akan Kris bawa nanti.


“ Bucin detected.” Seru Aldo sambil tertawa.


Aldo segera menghentikan tawanya ketika mendapat tatapan membunuh dari Brian. Dia pura – pura membuka berkas yang ada di tangannya. Saat itu pintu terbuka, Embun masuk dan mendekati ketiga orang itu.


“ Iya.” Jawab Kris singkat. Kris memang terkenal irit bicara dibandingkan dengan Aldo.


Setelah semua beres, Kris segera pergi karena dia harus mengejar pesawat pagi. Aldo juga segera pamit pergi, dia


harus menemui klien menggantikan Brian. Kini di ruangan itu hanya tinggal Brian juga Embun. Mereka segera kembali ke mejanya dan terlihat sibuk dengan pekerjaannya masing – masing. Embun beranjak dari duduknya dan mendekati Brian.


“ Pak Brian. Saya mau ijin ke bawah menyerahkan laporan ini pada manager.” Kata Embun sopan. Selama di kantor Embun tetap bersikap professional pada Brian, dia memanggil Brian pak yang kadang membuat Brian jengah.


“ Tidak perlu. Biar managernya yang ambil kesini.” Kata Brian santai tanpa menoleh pada Embun.


Embun tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Apa kata karyawan lain kalau tahu manager yang mengambil


laporan yang dia buat. Tentu saja mereka akan semakin berpikiran negatif padanya. Dengan Embun pindah ke ruangan ini saja mereka sudah berpikiran macam – macam, apalagi kalau sekarang laporan yang dia buat harus managernya yang mengambil sendiri.


“ Gak bisa, aku harus nyerahin laporan ini sendiri. Ini sudah jadi bagian pekerjaan aku.” Ucap Embun.


“ Aku gak mau kamu capek kalau harus turun ke bawah. Aku akan telefon manager ambil laporan itu. Kamu duduk

__ADS_1


saja, ini sudah hampir waktu makan siang. Kamu mau makan apa?” Brian mengambil telefon dan berbicara dengan seseorang.


Embun menatap Brian kesal, dia menghentakkan kaki dan berjalan kembali ke mejanya. Embun duduk sambil menyilangkan tangan di dada, pandangannya tak pernah lepas dari sosok di depannya. Tak berapa lama terdengar suara ketukan, dan masuklah manager Embun.


“ Permisi pak. Apa bapak memanggil saya.” Tanya manager itu pada Brian.


“ Ambil laporan Embun. Lain kali laporan dari Embun kamu ambil sendiri.” Perintah Brian. Bukan hanya manager itu


yang kaget pada perintah Brian, tapi juga Embun.


“ Ba..baik pak.” Manager itu berjalan ke meja Embun. Embun menyerahkan laporan itu tanpa berani mengangkat


kepalanya. Dia benar – benar merasa malu atas ulah Brian ini.


Setelah manager itu pergi, Embun segera beranjak mendekati Brian. Terlihat wajahnya sudah memerah karena dari


tadi menahan kesal. Embun berdiri sambil mengepalkan tangannya. Rasanya dia ingin sekali mencabik – cabik makhluk yang ada di depannya sekarang.


“ Ada apa?” Tanya Brian yang melihat Embun berdiri di depannya.


“ Aku mau pindah ke ruanganku yang dulu.” Kata Embun tegas.


“ Aku gak ngijinin. Buat apa kamu pindah ke sana? Semua pekerjaan bisa kamu kerjakan di sini?” Jawab Brian.


Embun menarik nafasnya dan berkata,” Tapi aku gak suka cara kamu tadi nyuruh manager buat ambil laporan ke


sini. Apa kata karyawan lain kalau tahu, mereka pasti mengira diistimewakan. Sejak pindah ke sini juga aku jadi tidak punya teman.” Kata Embun panjang lebar.


Brian menghentikan pekerjaannya. Dia menopang dagu dengan tangannya dan menatap Embun dengan senyum.” Kamu memang istimewa. Kalau kamu pindah memang kamu yakin bisa punya teman?” Tanya Brian.


Embun tidak bisa menjawab pertanyaan Brian. Karena memang sejak pertama masuk, tidak ada yang mau


berteman dengannya kecuali Neni. Tapi sekarang hubungannya dengan Neni juga memburuk. Embun berjalan ke mejanya mengambil tas. Brian langsung berdiri ketika melihat Embun melangkah keluar.


“ Mau kemana?” Tanya Brian.


“ Makan orang.” Jawab Embun judes dan melangkah pergi.


Brian tersenyum dan melangkah mengikuti Embun. Di dalam lift, Brian berusaha mengajak Embun bicara tapi Embun yang masih kesal terus mencueki Brian. Ketika pintu lift terbuka, Brian tiba – tiba menggenggam tangan Embun. Embun melihat tangannya yang digenggam Brian, kemudian beralih menatap Brian. Pandangan mereka saling bertemu, dan Embun mendapat senyuman hangat dari Brian.


Brian tetap menggenggam tangan Embun ketika keluar dari lift, tapi senyuman di wajahnya langsung hilang

__ADS_1


berganti dengan wajah dinginnya. Sedangkan Embun terus menundukkan kepalanya. Tentu saja kini mereka menjadi pusat perhatian. Tak sedikit yang merasa iri pada Embun, yang bisa menarik perhatian Brian.


__ADS_2