
Brian melepaskan pelukannya dan memutar tubuh Embun agar menghadapnya. Kini mereka sudah saling berhadapan, dan Brian menatap mata Embun dalam. Cukup lama mereka dalam posisi itu, hingga Embun mengeluarkan kata – kata yang membuat Brian tidak bisa menahan senyumnya.
“ Sampai kapan aku harus kaya gini? Leher aku pegal mesti menghadap atas terus.” Kata Embun. Jelas Embun merasakan lehernya pegal, perbedaan tinggi mereka yang membuat Embun harus melihat ke atas bila mereka sedang berhadapan.
“ Kenapa kamu tambah lucu dan imut saja?” Brian mencubit kedua pipi Embun karena gemas. Embun kesal dan
menepis tangan Brian dari wajahnya.
“ Gak usah ngalihin pembicaraan, aku masih marah sama kamu. Embun memasang wajah galak. Melihat wajah Embun, malah membuat Brian semakin gemas dan mencubit hidung Embun.
“ Sudah. Aku mau pergi saja.” Embun berbalik dan akan pergi namun Brian menahan tangannya. Dia menarik tangan Embun dan menyuruhnya duduk. Brian juga ikut duduk dan menggenggam tangan Embun.
“ Aku benar – benar minta maaf untuk 2 tahun lalu dan untuk kali ini. Aku gak punya niat untuk pergi tanpa kabar dan pura – pura tidak kenal kamu.” Jelas Brian.
“ Sebenarnya kemana saja kamu selama 2 tahun ini?” Tanya Embun yang memang sangat penasaran, kenapa Brian menghilang selama 2 tahun tanpa kabar sama sekali.
Brian melepaskan genggamannya lalu menatap Embun dan berkata,
“ Aku tinggal dengan keluarga mamaku. Maaf aku gak bisa jelasin kenapa gak hubungin kamu.” Papar Brian. Embun mendengarkan dengan seksama dan mencoba untuk mengerti. Dia tidak mau mendesak Brian untuk menceritakan yang sebenarnya, karena itu masalah pribadinya.
“ Oke aku bisa mengerti, tapi yang aku tidak habis pikir kenapa kamu mesti pura – pura tidak kenal aku sama Dion?” protes Embun dan meminta penjelasan.
Brian menggaruk kepalanya dan tersenyum kecut. Dia sebenarnya malu untuk mengungkapkan alasan sebenarnya, karena itu murni kesalahannya.
“ Bisakah kamu lupakan saja masalah itu?” Pinta Brian. Tapi Embun menolak dan tetap minta penjelasan dari Brian. Brian menarik nafas dan mulai menjelaskan.
“ Aku mengira kalian mengkhianati aku dan menjalin hubungan.” Kata Brian tanpa memandang Embun. Mendengar
perkataan Brian, Embun tidak bisa menahan tawanya. Tak berapa lama tawa Embun berhenti, dan dia menatap Brian serius.
“ Tapi bukan salah akukan, kalau aku menjalin hubungan dengan Dion? Dia yang selalu bersama aku selama ini, dan selalu ada buat aku saat kamu gak ada. Lagian kalau dipikir – pikir selama ini kita belum ada kata jadian, jadi aku masih bebas untuk dekat dengan siapapunkan?” Kata Embun.
BRAK
Brian menggebrak meja dan menatap tajam ke arah Embun. Embun tentu saja kaget melihat reaksi Brian yang tidak dia duga. Embun mengelus dadanya, dan dia juga sedikit takut melihat tatapan Brian yang seperti seekor singa yang marah.
“ Sampai kapanpun kamu milikku, dan gak akan kubiarin siapapun deketin kamu walau itu sahabat aku sendiri.”
__ADS_1
Brian menyatakan kepemilikannya atas Embun. Dan Embun bisa merasakan keseriusan dalam kata – kata Brian itu.
“ Tapi kenapa kamu diam saja saat atasan aku dulu berbuat jahat sama aku?” Tanya Embun marah bila ingat kejadian itu.
“ Bukannya kamu sudah memberi pelajaran pada aset berharganya? Atau perlu aku buat dia tinggal nama saja?” Tanya Brian santai. Embun bergidik ngeri mendengar itu, dan berharap itu cuma candaan Brian saja.
“ Bercanda kamu tidak lucu.” Kata Embun tersenyum kaku. Tapi jawaban Brian malah membuat Embun ketakutan, dan membuat wajahnya berubah pucat.
“ Kalau kamu mau bisa aku lakukan dengan mudah.”
“ Hahaha sepertinya aku harus kembali ke kantor. Banyak pekerjaan yang mesti aku selesaikan hari ini.” Embun
langsung beranjak dari duduknya dan akan melangkah pergi.
Brian berusaha menahan senyum melihat Embun yang sepertinya ketakutan mendengar perkataannya. Dia beranjak dari duduknya dan menggandeng tangan Embun keluar dari tempat itu. Brian akhirnya memilih mengantarkan Embun kembali ke kantor.
****
Setelah kejadian Embun yang digandeng pergi oleh Brian, kini banyak karyawan yang memandang Embun dengan
pandangan yang berbeda. Ada yang menjadi baik pada Embun, dan lebih banyak yang menunjukkan rasa tidak sukanya. Itu sangat Embun rasakan ketika masuk kantor, ada yang menyapanya dengan ramah dan ada juga menatapnya seperti seorang musuh.
“ Kenapa?” Tanya Embun sambil menyalakan komputernya.
“ Benar kamu punya hubungan sama pak Brian?”
“ Ya punya, kan dia atasan aku.” Jawab Embun cuek. Dia sibuk membuka file di komputernya.
“ Bukan hubungan pekerjaan, tapi hubungan yang lebih gitu.” Neni mengerlingkan sebelah matanya.
“ Tanya sendiri sama orangnya. Kembali ke meja kamu sana, pekerjaan aku banyak banget.” Usir Embun. Neni
cemberut tapi tetap kembali ke mejanya. Dia bertekad untuk mendapat jawaban tentang hubungan yang sebenarnya antara Embun dengan sang pemilik perusahaan.
Saat jam istirahat, Embun berniat untuk pergi ke kantin. Seperti biasa dia akan mengajak Neni, tapi kali ini
teman – temannya langsung mendekatinya dan mengajak ke kantin bersama. Embun yang belum terbiasa, berusaha menolak tapi mereka terus membujuk untuk makan siang bersama. Kerumunan itu bubar ketika Aldo masuk ke ruangan itu. Mereka kaget karena tidak biasanya tangan kanan pemilik perusahaan itu datang.
__ADS_1
“ Maaf ya, Embun harus pergi.” Aldo menarik tangan Embun dan mengajaknya pergi dari situ. Embun hanya bisa
menurut dan mengikuti kemana Aldo membawanya.
Teman – teman Embun tentu menatap dengan pandangan iri. Mereka juga pergi dan terus membicarakan kejadian tadi. Mereka semakin percaya kalau Embun punya hubungan dengan pemilik perusahaan, dan memanfaatkan itu untuk bisa masuk ke perusahaan itu.
Embun dibawa Aldo menaiki lift dan menuju lantai atas. Embun keluar ketika sudah sampai di lantai paling atas
gedung itu. Embun tidak bisa menyembunyikan kekagumannya, baru kali ini dia bisa masuk ke lantai itu. Embun juga penasaran kenapa lantai itu sangat sepi, dan sepertinya hanya ada 2 ruangan saja. Embun masuk ke salah satu ruangan, dan begitu masuk dia melihat Brian sedang duduk di sofa menunggunya. Embun juga melihat berbagai macam hidangan ada di meja. Brian segera menyuruh Embun duduk, yang dituruti oleh Embun.
“ Apa ini?” Tanya Embun.
Brian mengambil piring dan mengisi dengan beberapa makanan kesukaan Embun lalu menyerahkannya pada Embun.
“ Pekerjaan aku banyak banget, dan aku gak bisa ninggalin kantor. Jadi kita makan siang disini saja, gak apa – apakan?” Tanya Brian.
“ Kalau sibuk, kamu gak perlu ngajak aku makan siang bareng. Aku bisa makan di kantin, lagian ini makanannya
banyak banget. Siapa yang mau habisin?” Jawab Embun.
“ Aku gak mau kamu makan sembarangan dan sakit. Kalau gak habis, biar Aldo atau Kris yang habisin.” Brian melirik ke arah Aldo dan Kris. Dan tentu saja mendapat senyuman dari Aldo.
“ Ternyata Singa kalau sedang jatuh cinta bisa berubah jadi kucing angora ya.” Aldo mendekati Kris dan
menyenggol lengannya. Perkataan Aldo mendapat anggukan dari Kris. Mereka melihat Brian tidak melepaskan pandangannya sedetikpun dari Embun. Brian menatap Embun dengan pandangan penuh sayang, hal yang cuma bisa mereka lihat saat Brian sedang bersama mamanya.
Saat Embun sedang makan, terdengar suara panggilan dari hpnya. Embun melihat hpnya dan segera mengangkat
panggilan itu.
“ Assalamualaikum. Iya ini aku lagi makan siang.”
Embun kaget tiba – tiba Brian merebut hpnya. Brian melihat nama siapa yang menelefon Embun, lalu mendekatkan hp itu ke telinganya.
“ Halo Dion, Embun sedang makan siang sama aku. Nanti kita ketemu, ada yang mau aku omongin.” Brian langsung mematikan telefon dan meletakkan hp Embun di meja.
Embun melongo melihat tingkah Brian yang dia rasa aneh dan kekanakan itu. Sedangkan Aldo dan Kris cuma bisa
__ADS_1
menahan tawa meraka. Mereka merasa Brian sudah menjadi sosok singa yang bucin akut.