
Mobil Dion berhenti di depan rumah Embun. Baik Embun maupun Dion, masing – masing tidak ada yang berniat untuk keluar dari mobil. Mereka sama – sama terdiam, dan larut dalam pikiran masing – masing. Dion menarik nafasnya berat, kemudian keluar dari mobil. Dia berjalan mengitari mobil, dan membukakan pintu mobil untuk Embun.
Embun tersenyum ke arah Dion, dan keluar dari mobil. Mereka berdiri berhadapan, dan saling menatap.
“ Apa benar nanti tidak perlu aku antar?” Tanya Dion.
Embun menggelengkan kepalanya,” Tidak perlu, nanti Aldo akan jemput aku.” Terlihat kecanggungan diantara mereka.
“ Motor kamu besok biar aku antar ke sini. Kalau begitu aku pulang dulu. Kamu hati – hati di sana, jaga kesehatan
kamu. Kalau Brian berani nyakitin kamu, dia akan berurusan denganku.” Kata Dion. Yang dijawab anggukan oleh Embun.
Dion mengulurkan tangannya mengajak Embun berjabat tangan. Embun melihat tangan Dion. Terlihat tangan Embun bergetar ketika membalas jabatan tangan Dion. Embun mencoba untuk tersenyum di depan Dion, walau senyum itu terlihat sangat dipaksakan.
“ Selamat tinggal.” Pamit Dion lalu masuk ke mobilnya. Sebelum pergi, Dion melambaikan tangannya dan tersenyum hangat pada Embun.
Embun terdiam dan terpaku menatap mobil Dion yang mulai menjauh, “ Terima kasih.” Kata Embun lirih. Cuma itu kata yang bisa Embun ucapkan, tapi sayang tidak dia ucapkan langsung pada Dion.
Embun merasakan ada sesuatu yang hilang. Cukup lama Embun berdiri di depan rumahnya, dia Cuma terdiam dan pikirannya entah kemana. Embun sampai tidak menyadari kalau Aldo sudah menunggunya di teras rumah, dan tentu saja Aldo melihat semuanya.
Embun berbalik dan melihat Aldo yang menatapnya dengan senyuman tersungging di bibirnya. Dia melangkah dan
duduk di kursi samping Aldo.
“ Sudah dari tadi?” Tanya Embun.
“ Lumayan, cukup untuk melihat semuanya.” Jawab Aldo.
“Ohh, kalau aku kembali besok bagaimana?”
Aldo langsung mencondongkan badannya ke arah Embun, dia menatap Embun tanpa berkedip.” Jangan berpikir macam – macam. Kamu harus kembali hari ini juga, aku akan melakukan apapun untuk membawamu kembali. Masa depanku dipertaruhkan kali ini.”
“ Apa maksud kamu? Apa hubungannya kalau aku tidak kembali hari ini dengan masa depanmu?” Embun mengernyitkan dahinya, dia tidak mengerti maksud dari perkataan Aldo itu.
__ADS_1
“ Pokoknya kamu harus kembali hari ini. Kalau perlu sekarang juga kita berangkat.” Aldo memaksa Embun, dia tidak mau Brian melaksanakan ancamannya.
“ Kenapa kamu maksa banget sih?” Tanya Embun, lalu dia terdiam dan berpikir.
Embun menatap tajam pada Aldo danbertanya, “ Apa Brian mengancammu?”. Pertanyaan Embun ini tidak mendapat jawaban dari Aldo, tapi diamnya Aldo menjawab kalau tebakan Embun benar.
“ Apa kamu tidak bisa menolak perintahnya? Aku masih ingin menghabiskan waktu bersama dengan keluargaku.”
“ Sepertinya itu ide yang buruk. Kamu tidak tahu Brian seperti apa. Dia paling tidak suka ada yang menolak
perintahnya. Dan kamu tahu, dia akan melakukan apa saja agar keinginannya bisa terpenuhi. Dan kali ini dia ingin kamu kembali hari ini juga. Aku mohon kamu bekerja sama ya?” Pinta Aldo.
Embun mengetuk – ketuk meja dengan jarinya, dia sepertinya sedang berpikir.” Dengan apa Brian mengancammu?” Tanya Embun.
Aldo menghembuskan nafas berat,” Kalau aku tidak membawamu hari ini, dia akan mengirimku kembali ke Itali. Dan itu tempat yang paling tidak ingin aku datangi. Jadi tolong kamu kembali sekarang sama aku ya? Aku janji akan turutin semua kemauan kamu.” Kata Aldo dengan wajah memelas. Saat Aldo berkata seperti itu, dia melihat kilat di mata Embun dan dia merasakan firasat yang buruk.
“ Benar kamu akan nurutin semua kemauan aku, apapun itu?” Tanya Embun memastikan. Aldo mengangguk, melihat itu Embun langsung menarik tangan Aldo lalu menautkan jari kelingking dan jempol mereka.
“ Deal. Kita pergi, aku siap – siap dulu.” Embun tersenyum lebar dan masuk ke dalam rumah.
“ Yang penting aku tidak perlu kembali ke Itali. Soal janji dengan Embun aku pikirkan nanti saja, sepertinya Embun akan mudah ditangani.” Pikir Aldo. Jika Aldo tahu tentu dia tidak akan berjanji seperti itu pada Embun. Karena janjinya dengan Embun itu akan merepotkannya di kemudian hari.
*****
Di ruangan rawatnya Brian terus saja memarahi Kris, ada saja hal yang membuat Brian kesal. Kris yang sudah tahu sifat Brian, hanya dapat menghela nafas dan melakukan perintah bos sekaligus temannya itu. Seperti kali ini, Brian menyuruh Kris untuk membuat ulang laporan yang menurut Kris tidak ada kesalahan pada laporan itu. Tapi dasar Brian yang memang moodnya sedang buruk, dia tetap menyuruh Kris untuk mengulangnya.
Brian dan Aldo menoleh ketika pintu ruangan terbuka. Mereka melihat Aldo masuk dengan wajah lesu. Brian yang
melihat itu, sudah siap memarahi Aldo tapi dia urungkan ketika melihat kepala Embun yang menyembul dari balik pintu. Embun tersenyum ke arah Brian dan berjalan mendekatinya.
“ Untuk apa ke sini? Bukannya kamu masih betah di rumah orang tuamu?” Brian langsung memasang wajah datar.
“ Jadi aku gak boleh ke sini? Ya sudah aku pulang lagi saja.” Embun berbalik dan akan melangkah keluar.
__ADS_1
“ Siapa yang menyuruhmu pergi. Sini!!” Perintah Brian.
Embun mendekat dan duduk di tepi ranjang. “ Tadi katanya gak boleh ke sini. Giliran mau pergi gak boleh. Kaya
ABG labil saja.” Gerutu Embun dengan mengerucutkan bibirnya. Embun mengaduh merasakan sentilan di dahinya, dia mengusap dahinya dan menatap Brian kesal.
“ Aldo kamu siapkan borgol.” Brian menoleh ke arah Aldo.
“ Buat apa?” Tanya Aldo bingung dengan perintah dari Brian.
“ Buat memborgol gadis yang suka pergi seenaknya.”
Embun melotot pada Brian, sedangkanBrian cuek lalu mengambil berkas yang ada di atas nakas. Embun kali ini benar – benar kesal pada Brian, dia mengepalkan tangan dan menatap Brian dengan tatapan membunuh. Tanpa aba – aba, Embun langsung menarik rambut Brian. Brian berteriak dan berusaha melepaskan tangan Embun dari rambutnya. Tapi Embun yang sedang kesal, semakin kuat menarik rambut Brian. Brian menatap kedua temannya sebagai isyarat meminta tolong, namun Aldo dan Kris yang melihat itu juga tidak berusaha untuk membantu Brian. Mereka hanya melihat, karena bagi mereka itu adalah tontonan yang menarik.
“ Wanita yang sedang marah lebih menakutkan daripada melawan musuh.” Kata Aldo pada Kris. Kris setuju dengan
kata – kata Aldo. Melihat yang dialami Brian sekarang, Kris jadi semakin tidak tertarik untuk menjalin hubungan dengan perempuan.
Kris akhirnya memilih menarik Embun karena kasihan melihat keadaan Brian. Brian mengusap – usap rambutnya
yang sudah acak – acakan, dia menatap kesal pada Aldo dan Kris yang tidak segera membantunya. Aldo yang mendapat tatapan dari Brian, pura – pura menoleh ke samping menghindari tatapan membunuh Brian.
Embun duduk di sofa dengan nafas terengah – engah. Aldo mendekat dan memberikan minuman yang langsung dihabiskan oleh Embun.
“ Kapan kamu boleh pulang?” Tanya Embun.
“ Besok Brian boleh pulang.” Aldo menjawab pertanyaan Embun karena Brian hanya diam saja.
“ Memang keadaannya sudah membaik?”
“ Banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan. Memangnya kalau aku lama di sini, kamu mau menemaniku?”
“ Gak!! Di sini gak enak. Makanannya juga gak enak, dan aku juga harus masuk kerja. Aku gak mau makan gaji buta.” Tolak Embun mentah – mentah. Aldo menutup mulutnya menahan tawa, yang langsung mendapat tatapan tajam dari Brian.
__ADS_1
“ Ya sudah sana pulang, aku juga gak minta kamu buat nemenin aku.” Saat itu ada sebuah bantal melayang yang
tepat mengenai wajah Brian. Brian kesal dan mengambil bantal itu berniat membalas melempar. Brian menurunkan tangannya begitu tahu siapa yang melempar bantal itu, kemudian meletakkan bantal di pangkuan dan menepuk - nepuknya.