
Raka mengemudikan mobilnya dengan ugal – ugalan. Dia menyalip mobil di depannya layaknya seorang pembalap. Saat ini yang ada dipikirannya hanya satu, dia ingin secepatnya bertemu dengan Vania. Raka ingin
mengkonfirmasi, tentang kebenaran kalau Vania adalah orang yang membuat Raka mengkonsumsi obat perangsang. Raka yang sedang diliputi emosi tidak bisa berpikir jernih. Sebenarnya dia tidak perlu meninggalkan apartemen Brian bila ingin bertemu Vania, bukankah Vania juga tinggal di gedung apartemen itu?
Raka mengerem mobilnya mendadak. Hampir saja dia menabrak gerobak pedagang bakso di depannya. Setelah meminta maaf, dia segera menepikan mobilnya di pinggir jalan. Dia ingin menenangkan pikiran dan juga emosinya
sejenak. Ketika dirasa sudah cukup tenang, Raka segera mengambil hp dan melakukan panggilan.
“ Kamu dimana? Aku tunggu di tempat biasa!!.” Raka menutup panggilan sepihak tanpa menunggu jawaban dari si penerima. Tanpa berlama – lama, Raka melajukan mobilnya menuju tempat janjian.
Dan disinilah Raka sekarang. Duduk di sudut kafe dengan segelas kopi di depannya. Penampilannya yang cukup berantakan karena dia tidak berganti pakaian dulu, bisa menggambarkan suasana hatinya saat ini. Setelah satu
jam menunggu, akhirnya orang yang dia tunggu datang juga. Dari kejauhan Raka bisa melihat Vania yang datang dengan penampilan yang bisa dibilang sempurna. Gadis itu berjalan mendekat dengan senyuman di wajahnya. Vania mendekatkan wajahnya ingin mencium pipi Raka seperti kebiasaan saat bertemu tunangannya itu, tapi
Vania terkejut ketika Raka menjauhkan wajahnya agar tidak dicium oleh Vania.
Mendapat penolakan seperti itu, tentu saja Vania kesal. Dia mengepalkan tangannya kuat, tapi tetap pura – pura tersenyum di depan Raka. Vania duduk di depan Raka, dan memegang tangan Raka.
“ Sayang, semalam kamu kemana? Kenapa pergi tidak bilang aku sih? Telefon aku juga tidak kamu angkat. Penampilan kamu juga berantakan banget, tidak terjadi sesuatu sama kamukan? ” Tanya Vania pura – pura merajuk.
“ Bukannya kamu tahu yang terjadi sama aku?” Tanya Raka balik dengan nada sinis dan menepis tangan Vania. Dia meminum kopi sambil menatap tajam Vania yang duduk di depannya.
“ Ma.. Maksud kamu apa? Gimana aku tahu kalau aku tidak sama kamu.” Jawab Vania gugup dan tidak berani menatap Raka.
“ Oh ya benar, kamu tidak tahu ya. Sekarang aku kasih tahu, semalam aku sudah menghabiskan malam panas dengan seorang wanita. Entah apa yang terjadi sama aku, kenapa aku bisa seliar itu bercinta dengan wanita yang
kutemui asal di lobi apartemen kamu.” Ucap Raka santai, dia ingin tahu reaksi Vania mendengar itu. Dan ternyata reaksi Vania seperti yang Raka harapkan.
“ Apa maksud kamu menghabiskan malam dengan wanita yang tidak kamu kenal? Seharusnya kamu lakuin itu sama aku Ka.” Pekik Vania.
Raka menarik sudut bibirnya dan berkata, “ Kenapa harus sama kamu? Oh atau jangan – jangan kamu yang buat aku tidak bisa menahan hasrat karena pengaruh obat.” Vania terkejut mendengar perkataan Raka, duduknya terlihat gelisah.
__ADS_1
“ Kenapa kamu menuduh aku? Aku gak mungkin ngasih kamu obat perangsang.” Ucap Vania membela diri.
“ Aku gak pernah bilang kalau kamu ngasih obat perangsang.” Kata Raka tajam.
Vania benar – benar terkejut menyadari kesalahannya. Wajahnya seketika pucat, dan badannya bergetar saat tahu dia sudah membongkar ulahnya sendiri.
“ Raka, aku bisa jelasin itu.” Vania segera meraih tangan Raka dan menggenggamnya erat. Tapi Raka segera melepaskan genggaman Vania dengan kasar.
“ Apa yang mau kamu jelasin lagi. Aku gak nyangka kamu bisa lakuin hal sepicik itu. Ternyata kamu bisa lakuin apa saja agar keinginan kamu bisa tercapai, sekalipun dengan cara kotor dan menjijikkan seperti itu.”
“ Sepertinya pertunangan kita tidak bisa diteruskan Vania.” Lanjut Raka tegas.
“ Apa maksud kamu Ka? Kamu gak bisa memutuskan pertunangan ini begitu saja. Apa kata orang tua dan keluarga besar aku? Aku minta maaf Raka, kemarin aku khilaf.” Ucap Vania seraya memohon.
“ Kamu bilang khilaf? Menurut aku kesalahan kamu sudah sangat fatal dan tidak bisa aku tolerir. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi sama aku kalau aku tidak bertemu dengan Embun.” Kata Raka dengan emosi.
Vania menatap Raka tajam, “ Embun? Apa maksud kamu, semalam kamu menyalurkan hasrat kamu bersama Embun?”
Brian untuk menolong aku agar bebas dari pengaruh obat yang kamu kasih.” Ucap Raka sinis.
Vania diam saja tidak membalas kata – kata Raka. Tapi terlihat wajahnya memerah menahan amarah. Melihat itu Raka tidak ambil pusing, dia segera beranjak dari duduknya. Tapi sebelum pergi dia berkata pada Vania yang semakin menyulut emosi gadis itu.
“ Aku harap kamu tidak mengganggu kehidupanku lagi. Kamu tidak perlu khawatir, aku yang akan jelaskan pada keluarga kamu tentang pertunangan kita. Aku tidak akan cerita tentang kelakuan kamu ini pada keluargamu,
karena mereka akan sangat malu mengetahui ulah anak kesayangan mereka ini.” Setelah selesai berkata, Raka segera meninggalkan tempat itu tanpa menoleh lagi ke arah Vania.
Sedangkan Vania tentu tidak terima pada keputusan Raka. Vania yang memang keras kepala, tidak merasa bersalah dan malah menyalahkan Embun atas semua yang dia alami kali ini.
“ Embun, ini semua gara – gara kamu. Aku pastikan kamu akan menderita lebih dari apa yang aku alami.” Ucap Vania penuh dengan kebencian.
*****
__ADS_1
Beberapa hari setelah kejadian itu, Embun yang baru kembali dari makan siang kaget saat tahu bahwa pertunangan antara Raka dan Vania batal. Embun tidak sengaja mendengar kabar ini dari Aldo yang sedang berbicara dengan Brian. Setelah Aldo pergi, Embun segera mendekati Brian untuk menanyakan kabar ini.
“ Brian, apa benar kalau pertunangan Raka dan Vania batal?” Tanya Embun dengan wajah yang penasaran.
“ Jangan suka menguping pembicaraan orang.” Jawab Brian tanpa menatap Embun.
“ Siapa yang nguping, aku gak sengaja dengar kok. Kalau tidak mau ada yang dengar, bicaranya bisikin di telinga Aldo saja.“ Kata Embun sambll mengerucutkan bibirnya.
Brian tidak menjawab perkataan Embun, dan hanya menggelengkan kepalanya saja. Dia kembali fokus pada berkas yang sedang dia baca. Embun yang merasa diabaikan, tentu saja kesal.
“ BRIAN!!!” Panggil Embun dengan berteriak.
“ Apa?” Tanya Brian meletakkan berkas di meja.
“ Gak jadi.” Jawab Embun dengan kesal lalu kembali ke mejanya.
Brian menghela nafasnya, kemudian beranjak mendekati meja Embun. Brian memang harus bersabar menghadapi sikap Embun yang kadang masih seperti anak kecil, padahal mereka seumuran.
“ Iya benar, pertunangan mereka batal. Dan Raka yang membatalkan pertunangan itu tanpa alasan yang jelas.” Jawab Brian duduk di depan Embun.
“ Apa gara – gara masalah kemarin?” Tanya Embun sambil menopangkan dagu.
“ Entahlah. Menurut kamu, apa yang akan kamu lakukan kalau tunangan kamu lakuin hal kaya Vania?” Tanya Brian.
“ Kalau tunangan aku yang kaya gitu langsung aku cut.” Jawab Embun sambil memperagakan memotong leher dengan tangan.
Brian tersenyum lalu berdiri dan mengacak – acak rambut Embun, “ Sudah selesaikan kerjaan kamu.” Ucap Brian lembut dan kembali ke mejanya.
“ Kebiasaan.” Kata Embun merapikan rambutnya lagi.
Brian terkekeh. Dia mengambil berkas di meja, dan berusaha fokus kembali. Tapi sayang fokusnya sudah berubah. Kini dipikirannya bukan soal pekerjaan lagi. Tapi dia berpikir bagaimana hubungannya dengan Embun setelah pertunangan Raka batal. Apakah Embun akan tetap berada di sisinya, ataukah gadis itu akan mengejar cinta pertamanya lagi.
__ADS_1