
“ Ibu… Embun pulang.” Teriak Embun ketika memasuki rumahnya.
Dia langsung masuk ke dapur mencari keberadaan ibunya. Bu Lastri yang sedang di dapur menoleh ke arah suara, dan kaget melihat kedatangan putri kesayangannya. Embun segera memeluk ibunya erat, dia sangat rindu dengan ibunya itu. Bu lastri juga balas memeluk Embun erat, dan mencium puncak kepala anaknya itu.
“ Kenapa kamu di sini, apa kamu gak bekerja?” Tanya Bu Lastri pada Embun. Karena tidak biasanya Embun di rumah pada jam kerja, apalagi kini dia di tempatkan di kantor pusat yang berada di luar kota.
“ Embun cuti bu. Embun kangen banget sama ibu.” Embun mempererat pelukannya.
Bu Lastri membelai rambut Embun,” Ibu juga kangen banget sama kamu. Sejak kost kamu belum pulang sama sekalikan? Apa kamu betah? Bagaimana makanan kamu di sana? Kamu makan sembarangan gak?”
“ Ibu tanyanya satu – satu dong, Embun mesti jawab yang mana dulu.” Embun mengerucutkan bibirnya. Bu Lastri yang gemas menarik bibir Embun.
“ Iya maaf maaf. Habis kamu jarang banget ngasih kabar sama ibu. Ibu yang mesti tiap hari Tanya sama Dion.”
“ Embun sibuk banget bu. Jadi ibu yang nyuruh Dion? Makanya dia rempong banget nanyain soal makan, aku pulang jam berapa, sampai mau tidur dan bangun tidur juga diabsen.”
“ Waduh sampai segitunya, sudah kaya pacar kamu saja ya? Apa jangan – jangan dia suka sama kamu?” Goda Bu Lastri.
“ Ibu apaan sih. Aku dan Dion kan Cuma teman, lagian diakan anaknya emang gitu.” Embun mencubit pinggang ibunya, sudah dua orang yang menanyakan hal yang sama padanya hari ini.
“ Tapi kalau kamu sama dia Ibu dukung kok. Dion anaknya baik, dan bertanggung jawab. Kamu sama Brian juga belum ada hubungan yang pastikan?. Brian jugakan gak ada kabar selama 2 tahun, kamu sama yang pasti – pasti saja.” Nasihat Bu Lastri.
“ Sudah ah bu, Embun lapar. Ibu masak apa?” Embun mengalihkan pembicaraan.
“ Ibu masak sayur asam sama ayam goreng. Kamu istirahat dulu, kalau sudah siap nanti ibu panggil.”
Embun tersenyum dan mencium pipi ibunya. Dia lalu pergi ke kamarnya untuk istirahat. Embun masuk ke kamar yang sudah di tinggalkannya selama 2 minggu. Kamar itu bersih, karena ibunya rajin membersihkannya.
Embun merebahkan tubuhnya di kasur, dia menatap langit – langit kamar dan memikirkan perkataan ibunya tadi.
“ Apa benar Dion suka sama aku? Tapi kayanya gak mungkin deh.” Sangkal Embun.
Embun merasakan matanya berat dan memilih untuk memejamkan matanya sebentar. Tak berapa lama terdengar dengkuran halus Embun, dia langsung tertidur karena lelah dalam perjalanan pulang. Embun membuka matanya ketika mendengar hpnya berbunyi. Dia melihat kalau Brian menelefonnya, Embun tidak mengangkat telefon Brian dan kembali melanjutkan tidurnya. Tapi sayang hp itu terus berdering, dan mau tidak mau Embun akhirnya mengangkat telefon dari Brian.
“ Halo Assalamualaikum.”
“ Waalaikum salam, dimana kamu!!?” Suara Brian dari ujung telefon.
__ADS_1
“ Di rumah, ada apa?” Tanya Embun santai.
“ Siapa yang menyuruhmu pulang kesitu?” Brian bertanya dengan kesal.
“ Tadi kamu menyuruh aku pulang, ya aku pulang dong. Apa aku salah?” Embun mendengar Brian menarik nafasnya seperti menahan kemarahan.
“ Aku menyuruhmu pulang ke apartemenku, bukan ke rumah orang tuamu. Apa seperti itu saja mesti aku jelaskan.”
“ Kamu gak bilang aku suruh pulang ke sana. Aku tutup telefonnya, aku mau mandi. Assalamualaikum..” Tanpa menunggu jawaban dari Brian, Embun menutup telefonnya.
Embun bisa membayangkan wajah kesal Brian. Tapi dia cuek dan berjalan masuk kamar mandi. Embun sudah berencana akan menginap dan kembali besok.
*****
Brian terlihat sangat kesal ketika Embun menutup panggilan secara sepihak. Dia membanting hpnya di kasur, dan menatap dengan tatapan membunuh ke arah Aldo. Sedangkan Aldo yang mendapatkan tatapan itu, tidak berani menatap Brian dan pura – pura sibuk dengan hpnya.
“ Kris!! Siapkan tiket pesawat ke Itali. Sepertinya Aldo sudah bosan di sini.” Seru Brian. Mendengar itu Aldo segera bangkit dari duduknya, dan tergesa – gesa mendekati Brian lalu memegang lengannya yang langsung ditepis oleh Brian.
“ Aku hanya menuruti keinginan Embun. Dia terus memaksaku mengantarkan pulang ke rumahnya.” Jelas Aldo.
“ Kenapa kamu tidak menolaknya?”
“ Aku mau besok Embun sudah kembali ke sini. Kalau tidak, detik itu juga Kris akan menyeretmu ke Itali.” Ancam Brian.
“ Baik. Aku pastikan besok Embun sudah kembali ke sini. Tapi Brian, bisakah kau tidak mengancamku akan mengirimku kembali. Membayangkannya saja sudah membuatku merinding, apakah kamu tidak tahu bagaimana usahaku membujuk kakekmu agar aku bisa ikut kamu ke sini?”
“ Apa aku perlu tahu?” Jawab Brian cuek. Dia segera mengambil laptopnya dan meneruskan pekerjaannya yang tertunda.
Aldo menghembuskan nafasnya. Melihat Brian yang kembali sibuk, aldo memilih meninggalkan ruangan itu dan kembali ke kantor. Karena untuk sementara dia menggantikan tugas Brian di kantor.
Keesokan harinya Embun bangundengan keadaan bugar. Dia sangat senang bisa menghabiskan malam bersama keluarganya. Pagi ini dia berencana untuk menemui Dion, karena sejak kemarin Dion tidak membalas pesannya sama sekali. Setelah sarapan, Embun segera mengeluarkan motornya. Embun menyalakan motornya, dan meninggalkan rumahnya menuju rumah Dion. Tak butuh waktu lama untuk sampai ke rumah Dion, Embun berharap Dion belum berangkat ke kantor. Dion urung masuk ke mobilnya ketika melihat kedatangan Embun. Embun menghentikan motornya tepat di samping mobil Dion. Dia segera turun dari motornya, dan menghampiri temannya itu.
“ Kenapa kamu ada di sini?” Tanya Dion. Terlihat Embun mengerucutkan bibirnya, dan langsung memukul lengan Dion kuat.
“ Aduh. Kamu kenapa sih datang – datang langsung main pukul saja.” Protes Dion.
“ Kamu yang kenapa. Dari kemarin gak balas pesan aku? Kamu juga tidak datang lagi ke rumah sakit. Kamu tahu
__ADS_1
Brian sudah sadar. Aku ingin kalian bertemu dan bisa meluruskan kesalah pahaman yang kemarin.”
“ Aku sibuk, banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan.” Jelas Dion. Dia memilih untuk tidak menceritakan pada Embun kalau dia sudah berbicara dengan Brian di rumah sakit. Dion menatap Embun intens, dari cara Dion memandangnya siapapun yang melihat bisa tahu kalau Dion menyukai Embun. Tapi mungkin Embun yang tidak peka dan tidak menyadari itu.
“ Apa kamu mau jalan – jalan?” Tanya Dion.
“ Bukannya kamu mau berangkat bekerja?” Tanya Embun balik.
“ Aku bisa ijin sehari.” Kata Dion. Embun senang mendengarnya, dan langsung mengajak Dion pergi ke taman hiburan.
Embun senang akhirnya bisa ke taman hiburan lagi. Karena bukan hari libur, tidak banyak pengunjungyang datang
ke taman itu. Embun dan Dion segera menikmati berbagai macam wahana, mereka terlihat tertawa bersama. Selama hampir 3 jam mereka di sana, dan hampir semua wahana mereka mainkan. Kini Embun dan Dion sedang duduk di kursi taman, mereka menikmati segelas jus sambil melepas lelah.
“ Hari ini aku senang banget? Kalau pas libur kita ke sini lagi. oke?” Ajak Embun.
“ Ini terakhir kita ke sini bersama.” Kata Dion tanpa memandang Embun.
Embun kaget sampai menjatuhkan minumannya. Dia menatap tidak percaya dengan apa yang barusan Dion katakan. Dia sampai meminta Dion mengulangi perkataannya tadi.
“ Tapi kenapa, apa aku membuat kesalahan sampai kamu tidak mau lagi ke sini sama aku?” Mata Embun terlihat
berkaca – kaca. Melihat itu, ingin rasanya Dion memeluk gadis di sampingnya. Dion hanya mampu mengepalkan tangannya, dia merasakan hatinya sakit melihat Embun yang terlihat sedih itu.
“ Kamu tidak salah. Hanya saja tugas aku untuk jaga kamu sudah selesai. Ada orang yang akan menjaga dan
lindungin kamu lebih dari aku. Dia akan lakuin apa saja buat kamu, aku ingin melihat kamu bahagia bersamanya.” Suara Dion terdengar bergetar.
Mendengar itu, Embun tidak bisa menahan tangisnya. Dion yang sudah tidak tahan segera menarik Embun ke dalam pelukannya, dan tangis Embun semakin menjadi dalam pelukan Dion.
“ Sudah jangan menangis.” Dion membelai lembut rambut Embun, terlihat dia juga menitikkan air mata. Dion menghapus air matanya dengan tangan, dan melepaskan pelukannya. Dia menatap Embun dan menghapus air mata di pipi gadis itu, dan mengulas senyum.
“ Berjanjilah jangan sampai terluka, jangan menangis, dan selalu bahagia. Kamu maukan?”
Embun tidak bisa berkata apapun mendengar kata – kata Dion. Dia langsung memeluk Dion dan kembali menangis
dalam pelukan pemuda itu. Entah mengapa dia merasa nyeri di hatinya, dan merasa sangat kehilangan seperti saat dulu dia akan berpisah dengan Raka. Dion memeluk Embun erat dan mencium puncak kepalanya.
__ADS_1
Saat itu di bandara terlihat seorang pemuda sedang berjalan menyeret sebuah koper. Dia berhenti dan membuka kacamata hitamnya.
“ Aku kembali.”