
Sudah satu minggu Embun bekerja di kantornya yang baru. Walaupun awalnya dia kesulitan, namun dia tetap
berusaha untuk mengerjakan tugasnya dengan semaksimal mungkin. Tapi ada satu hal yang masih mengganjal di hati Embun, sampai saat ini dia masih merasa teman satu kantor masih menjaga jarak dengannya. Embun hanya dekat dengan Neni, karena hanya dia yang mau akrab dengan Embun.
Saat jam istirahat Embun mendekati meja Neni, dan duduk di depannya.
“ Ada apa?” Tanya Neni tanpa menatap Embun, dia masih fokus menatap komputer di depannya. Ada pekerjaan yang harus dia selesaikan hari ini juga.
“ Kamu tahu tempat kost yang kosong di sekitar sini gak?” Tanya Embun menyilangkan tangannya di meja. Neni
menghentikan pekerjaan dan menghadap ke arah Embun.
“ Bukannya kamu masih tinggal sama orang tua kamu?” Tanya Neni.
“ Iya, tapi kamu tahukan rumah aku jauh dari sini. Perlu waktu hampir 2 jam untuk sampai ke kantor, itu juga
kalau tidak kejebak macet. Aku juga tidak enak sama teman aku kalau mesti antar jemput setiap hari.”
“ Benar juga sih. Oke entar aku cari info kostan sekitar sini. Udah sana kalau mau ke kantin, kerjaan aku masih
banyak.” Usir Neni pada Embun.
“ Cariin yang bersih, murah, dan aman ya. Kamu mau dibeliin apa buat makan siang?” Tanya Embun.
“ Iya bawel. Beliin aku kaya yang biasa saja.” Kata Neni dan melanjutkan pekerjaannya kembali. Embun tersenyum
dan beranjak meninggalkan mejanya menuju ke kantin.
__ADS_1
Embun masuk ke kantin dan memesan makanan, lalu memilih duduk di sudut ruangan. Sebenarnya dia malas kalau mesti ke kantin seorang diri. Setelah makanannya datang, Embun segera menyantapnya. Dia begitu sibuk menikmati makanan di meja, hingga tidak menyadari ada yang duduk di depannya.
“ Kamu lahap juga makannya ya, sudah beberapa hari tidak makan?” Tanyanya.
Embun berhenti menyendokkan makanan ke mulutnya, dan menoleh ke arah suara. Embun mengernyitkan alisnya
melihat seorang pria yang tersenyum padanya.
“ Maaf anda siapa? Tidak sopan tahu mengomentari cara makan orang lain.” Tanya Embun memicingkan matanya.
“ Aku Aldo. Kamu lupa sama aku, kemarin kita bertemu di lobi kantor.” Aldo mengingatkan Embun saat pertama
mereka bertemu.
“ Oh maaf saya lupa. Anda juga karyawan di kantor ini?” Tanya Embun sopan. Aldo terkekeh mendengar Embun yang berbicara formal padanya.
Embun kembali melanjutkan makannya, sedangkan Aldo terus saja berbicara yang sesekali dijawab oleh Embun. Mereka cepat akrab karena pembawaan Embun yang memang sebenarnya mudah bergaul, dan juga Aldo yang memang banyak bicara dan juga termasuk orang yang humoris. Obrolan mereka terhenti ketika ada yang menepuk pundak Aldo. Aldo menoleh dan mendapati Kris menatap tajam padanya.
“ Sepertinya aku harus pergi. Lain kali kita ngobrol lagi ya.” Kata Aldo pada Embun yang dibalas anggukan oleh Embun. Setelah Aldo pergi, Embun menatap Kris yang ternyata juga menatapnya. Embun menganggukkan kepalanya dan tersenyum kaku pada Kris. Lalu dia beranjak dari duduknya dan langsung pergi meninggalkan kantin. Belum sampai keluar dari kantin, Embun kembali masuk. Dia lupa membeli makanan pesanan Neni. Saat menunggu pesanannya, Embun iseng menoleh ke mejanya tadi. Dan ternyata Kris duduk di sana dan melihat ke arahnya. Embun tersenyum dan langsung mengalihkan pandangannya ke tempat lain. Begitu pesanannya jadi, Embun segera membayar dan kembali ke ruangannya.
*****
Selang beberapa hari, Neni mengabari Embun kalau dia sudah mendapat kostan seperti permintaan Embun. Tentu
saja Embun senang mendengarnya, dia berencana untuk melihat kost itu sepulang kerja. Saat pulang kerja, Embun sedang menunggu Neni di lobi. Dia duduk di salah satu kursi sambil berkirim pesan dengan Dion. Rencananya Dion juga akan ikut melihat kost yang akan Embun tinggali. Cukup lama Embun menunggu, tapi baik Neni ataupun Dion belum ada satupun yang datang. Ketika Embun sedang melihat sekitar, pandangan Embun tertuju pada satu sosok yang sedang berdiri di luar lobi bersama dengan orang yang ia lihat di kantin waktu itu. Karena penasaran, Embun beranjak dari duduknya dan mendekati orang tersebut. Saat sudah dekat, dengan sedikit ragu Embun menepuk bahu orang tersebut.
“ Brian?” Brian menoleh, dan terkejut melihat Embun yang ada di depannya. Bukan hanya Brian yang menoleh, tetapi Kris juga ikut menoleh ke arah Embun.
__ADS_1
“ Kamu benar Briankan?” Tanya Embun memastikan. Brian membuka kacamata yang dia pakai. Embun tersenyum senang, dia tidak menyangka akan bertemu Brian di sini. Tapi senyum Embun langsung pudar ketika dia melihat Brian yang menatapnya dengan tatapan dingin seperti orang yang tidak saling kenal.
“ Maaf, sepertinya saya salah orang.” Embun minta maaf lalau langsung berbalik dan bermaksud pergi dari tempat itu. Tapi langkahnya terhenti karena mendengar suara Dion.
“ Maaf aku telat, tadi jalannya macet. Kita jadi lihat kostannya?” Tanya Dion pada Embun, dia tidak melihat Brian karena posisi Brian yang membelakanginya. Mendengar suara Dion, Brian berbalik. Dion tentu saja terkejut melihat Brian ada di situ.
“ Kalian sudah bertemu?” Tanya Dion memandang Embun dan Brian bergantian. Embun melihat ke arah Brian, tapi
Brian tidak menoleh sedikitpun ke arahnya.
“ Ayo kita pergi, teman aku sudah nunggu." Embun menarik tangan Dion dan berjalan mendekati Neni. Dion hanya bisa menuruti Embun, dia menoleh ke arah Brian yang juga sedang menatap mereka.
Embun segera mengajak Neni masuk ke mobil Dion. Dia ingin segera pergi dari tempat itu, karena melihat reaksi Brian tadi tentu membuatnya terkejut dan tidak nyaman. Di mobil pun Embun hanya terdiam, Neni yang tidak mengerti apa yang terjadi memilih untuk tidak ikut campur.
“ Kamu gak apa – apa?” Dion memulai percakapan.
“ Benar apa kata kamu. Dia bukan sosok yang aku kenal dulu.” Jawab Embun.
“ Mungkin dia punya alasan kenapa jadi seperti ini.” Bela Dion.
“ Sudahlah. Kita hargai keinginan dia, yang penting kita sudah tahu kalau dia baik – baik saja.”
Dion terdiam, dia setuju dengan kata – kata Embun. Tapi sebenarnya dia masih penasaran apa yang membuat Brian bisa berubah seperti sekarang. Selama diperjalanan mereka semua terdiam hingga sampai di tempat tujuan. Embun melihat kostan itu cukup besar dan terdiri dari beberapa kamar. Setelah melihat – lihat, akhirnya Embun memilih untuk menempati kost itu. Karena selain bersih, kostan itu juga tidak terlalu jauh dengan kantor Embun.
Karena sudah malam, mereka akhirnya pulang. Neni tidak mau diantar Dion, dan memilih naik taksi karena
berbeda arah pulang. Begitu Neni pergi, Embun segera mengajak Dion pulang karena dia harus mempersiapkan kepindahannya. Selama perjalanan pulang, Dion memilih tidak membicarakan tentang Brian. Dia memutuskan untuk mencari tahu sendiri tentang apa yang sebenarnya terjadi.
__ADS_1