
Hari ini Embun mulai pindah ke kostannya. Barang yang Embun bawa cuma sedikit, tapi yang banyak malah orang yang mengantar dia pindahan. Mulai dari orang tuanya, Bima, Dewi, Dion, dan tentu saja Chika keponakannya.
Dramapun terjadi ketika orang tua Embun akan pulang, Bu Lastri tidak berhenti menangis karena harus pergi meninggalkan Embun.
“ Apa tidak sebaiknya kamu tetap tinggal di rumah saja? Atau kalau tidak kamu minta dipindahkan lagi ke kantor yang dulu.” Kata Bu Lastri sambal menyeka air matanya. Bu Lastri benar – benar sedih dan juga khawatir,
karena selama 23 tahun lebih dia tidak pernah berpisah dengan Embun seperti sekarang.
“ Embun capek bu, kalau mesti bolak balik dari rumah tiap hari. Kalau mesti minta pindah terus disetujui. Iya itu kalau dipindah ke kantor yang dulu, kalau malah dipindah lebih jauh lagi bagaimana?” Embun memeluk ibunya erat, sambal mencoba memberi pengertian.
“ Benar kata Embun bu. Ibu gak usah khawatir, doakan saja Embun selalu sehat. Anggap saja ini salah satu cara agar Embun bisa mandiri. Bapak lihat lingkungan di sini juga cukup aman untuk Embun.” Pak Ardi membelai punggung istrinya.
“ Tante tenang saja, aku akan sering mengunjungi Embun." Kata Dion.
“ Tolong ya Dion. Tante masih khawatir kalau Embun sendiri, kamu tahu sendirikan Embun anaknya gimana? Tante takut Embun sakit karena suka jajan sembarangan.” Bu Lastri tersenyum dan memegang tangan Dion.
“ Ibu,, Memangnya Embun anak kecil.” Embun cemberut mendengar perkataan ibunya. Dia menyilangkan kedua tangannya dan menatap ibunya kesal. Semua orang tertawa melihat tingkah Embun yang malah seperti anak kecil
yang sedang merajuk.
Akhirnya semua keluarga Embun pulang, dan tinggal Dion yang masih disitu. Mereka duduk di kursi depan pintu kost Embun. Karena ini adalah hari minggu, kost itu cukup ramai sebab penghuninya sebagian besar libur kerja.
“ Ini sudah mau sore, apa kamu tidak akan pulang?” Tanya Embun.
“ Apa kamu ngusir aku?” Tanya Dion balik. Dia menyesap minumannya dan melirik Embun.
“ Bukan gitu, besokkan kamu juga kerja. Aku gak mau kamu sampai terlambat.”
“ Santai saja. Aku gak akan terlambat, aku masih ingin di sini nemenin kamu. Perjalanan pulang cuma 2 jam, sampai rumah aku masih bisa tidur lama.” Jawab Dion santai.
__ADS_1
“ Terserah kamu saja.” Kata Embun akhirnya.
Mereka mengobrol sampai menjelang maghrib, dan setelah melakukan ibadah bersama Dion memilih pulang karena Embun sudah memasang wajah galaknya. Embun mengantar Dion sampai dia masuk mobil, dan pergi meninggalkan kostnya. Embun akan masuk ke kostnya ketika dia merasa ada yang sedang
memperhatikannya. Embun melihat ke sekelilingnya, tapi dia tidak melihat ada yang mencurigakan.
“ Mungkin perasaanku saja.” Kata Embun dan memutuskan untuk masuk kost.
Setelah Embun masuk, terlihat ada seseorang yang keluar dari balik pohon. Dia mengamati pintu kost Embun beberapa saat, lalu melangkah pergi masuk ke mobil yang terparkir tidak jauh dari tempat dia bersembunyi tadi.
******
Embun berjalan santai masuk ke dalam kantor. Walaupun masih pagi, tapi kantor sudah terlihat ramai, itu bisa dilihat dari lift yang selalu penuh. Sebenarnya ada 3 lift yang ada di kantor itu, tapi hanya 2 lift yang bisa
digunakan oleh karyawan. Sedangkan lift yang satunya, adalah lift khusus untuk ceo. Embun masih menunggu antrian naik lift, ketika dia merasa ada yang menarik tangannya. Embun menoleh dan melihat Aldo mengerlingkan matanya. Embun berusaha melepaskan tangannya, tetapi Aldo memegang erat dan membawanya masuk menaiki lift khusus ceo. Di dalam lift Aldo masih tetap menggenggam tangan Embun.
“ Santai saja, gak bakal ada yang marah.” Jawab Aldo santai.
“ Aku mau tanya sebenarnya jabatan kamu di kantor ini apa sih? Kayanya kamu bukan karyawan biasa.” Tanya Embun menyelididk. Dia terus menatap Aldo meminta jawaban. Tapi bukannya menjawab, Aldo malah senyum – senyum menatap wajah Embun yang tepat di depannya.
Saat itu tiba – tiba pintu lift terbuka, dan masuklah Kris. Melihat Kris yang masuk, Embun segera bergeser dan menjauh dari Aldo. Kris melirik ke arah Embun dan Aldo bergantian.
“ Bukannya ini lift khusus, dan tidak sembarangan orang bisa menaikinya.” Kata kris datar. Embun yang merasa kata – kata itu ditujukan untuknya, merasa tidak enak dan segera minta maaf.
“ Maaf pak, sepertinya saya tadi salah masuk. Saya akan turun di lantai selanjutnya.” Jawab Embun, Embun segera memencet tombol lift agar bisa berhenti di lantai selanjutnya.
Begitu lift berhenti, Embun segera keluar dengan terlebih dahulu membungkuk dan kembali meminta maaf. Embun segera berjalan menuju lift karyawan, dia mesti naik lift untuk sampai di lantai ruangannya. Sebenarnya Embun bisa menaiki tangga, tapi pasti akan membutuhkan waktu lama karena dia mesti melewati 3 lantai untuk sampai dan tentu saja itu akan sangat melelahkan untuknya.
Embun akhirnya sampai di ruangannya dan segera duduk di meja kerjanya. Melihat Embun yang sudah datang, Neni segera mendekatinya dan duduk di depannya.
__ADS_1
“ Kamu kenal dengan pak Aldo?” Tanya Neni.
“ Memangnya kenapa?” Embun balik bertanya.
“ Gak apa – apa, aku penasaran aja. Kayanya aku tadi lihat kamu naik lift sama dia.” Jelas Neni. Embun menatap Neni, dan menceritakan awal pertemuannya denga Aldo.
“ Apa benar kamu tidak tahu siapa itu pak Aldo?” Neni yang mendengar cerita Embun kini menjadi penasaran dengan sosok Embun yang sebenarnya.
“ Sebenarnya aku juga penasaran, sepertinya dia bukan karyawan biasa seperti kita. Buktinya tadi dia dengan santainya ngajak aku naik lift khusus.”
“ Aku kasih tahu ya, pak Aldo itu salah satu orang kepercayaan ceo perusahaan ini selain pak Kris.” jelas Neni.
Embun tentu saja terkejut mengetahuinya. Dia tidak menyangka kalau orang yang dia anggap aneh itu adalah orang yang berpengaruh di perusahaan ini. Embun juga berpikir kalau orang yang tadi bertemu dengannya di lift adalah orang yang bernama Kris.
“ Terus aku mesti gimana?” Tanya Embun meminta saran Neni.
“ Sebaiknya kamu mulai menjaga jarak dengan pak Aldo. Kamu gak maukan orang – orang berpikiran negatif tentang kamu. Mereka nanti mengira kamu bisa di posisi sekarang karena bantuan pak Aldo, atau lebih buruknya kamu dikira merayu pak Aldo lagi.”
Embun termenung dan memikirkan kata – kata Neni. Dia berpikir kalau perkataan Neni ada benarnya. Dia tidak mau teman – teman kantor salah paham padanya. Embun akhirnya menyetujui saran Neni itu, dan akan menghindar bila bertemu dengan Aldo. Neni kembali ke mejanya karena sudah masuk jam kerja, begitu juga Embun yang juga mulai sibuk dengan pekerjaan.
Embun dan Neni sedang berjalan bersama menuju kantin. Tapi Embun menyuruh Neni jalan duluan karena akan menjawab telefon dari Dion. Neni langsung menggoda Embun, karena dia mengira kalau Dion adalah pacar Embun. Embun hanya tersenyum dan menyuruh Neni pergi. Setelah Neni pergi, Embun mengangkat telefon dari Dion.
“ Assalamualaikum. Iya ini aku lagi jalan ke kantin. Kamu sudah makan siang?” Tanya Embun pada Dion.
“ Iya iya, aku gak makan sembarangan. Kamu juga makan yang banyak. Udah dulu ya, nanti aku telefon kalau sudah pulang. Assalamualaikum.” Embun menutup telefon dari Dion, lalu memasukkan hp ke saku celananya. Ketika Embun berbalik dia tidak sengaja menabrak seseorang. Embun segera meminta maaf, tapi Embun segera terdiam ketika tahu kalau orang yang dia tabrak adalah Brian.
Untuk beberapa saat mereka saling menatap, tapi Embun segera menunduk dan berjalan melalui Brian. Brian mengepalkan tangannya lalu berbalik dan menggenggam tangan Embun. Embun terkejut karena Brian menarik tangannya dan membawanya masuk menaiki lift khusus ceo. Kris yang tadi sedang bersama Brian, hanya menatap kepergian mereka. Saat sudah di dalam lift Embun langsung menghempaskan tangan Brian, dan menatapnya kesal. Embun memencet tombol lift agar terbuka, tapi Brian menahan tangannya dan memencet tombol untuk menutup lift itu kembali.
“ Aku rindu kamu.”
__ADS_1