
Embun dibuat kagum melihat apartemen Brian. Baru kali ini dia melihat apartemen yang lebih terlihat seperti rumah itu. Apartemen Brian sendiri terdiri dari dua lantai, yang mengusung perpaduan klasik dan modern. Aldo menunjukkan kamar yang akan Embun tempati selama tinggal di sana.
" Ini kamar kamu." Aldo membuka pintu kamar.
" Apa ini tidak berlebihan? Sepertinya ini terlalu besar untukku." Embun melihat kamar yang akan dia tempati.
Aldo tersenyum dan masuk membawa tas Embun.
" Menurutku ini kecil. Seharusnya kamu menempati kamar di lantai dua yang lebih besar." Kata Aldo. Dia meletakkan tas Embun di atas ranjang.
" Sekarang kamu mandi dulu, aku akan memesankan makanan untukmu." Aldo berjalan keluar kamar.
Embun meletakkan pakaiannya di lemari, lalu pergi untuk mandi. Setelah selesai dan berganti baju, Embun keluar menuju ruang makan. Di meja makan Embun melihat Aldo yang sedang duduk menunggunya. Di meja makan itu sudah tersedia beberapa macam hidangan. Perut Embun langsung berbunyi melihat semua makanan di hadapannya.
" Sepertinya cacing di perut kamu sudah kelaparan. Ayo duduk dan makan." Kata Aldo. Embun segera duduk dan mengambil makanan. Aldo menopang dagunya dengan tangan dan tersenyum melihat Embun yang makan dengan lahap.
" Makanlah perlahan. Kalau kurang aku akan memesankan lagi."
" Apa selama di rumah sakit kamu tidak makan dengan benar?" Lanjut Aldo.
" Selama di rumah sakit aku gak enak makan. Aku merasa gak tenang melihat keadaan Brian yang belum sadar." Jawab Embun.
" Apakah kamu begitu mengkhawatirkannya?" Tanya Aldo penasaran.
" Tentu saja. Bagaimana aku tidak khawatir, Brian sampai terluka begitu karena menyelamatkanku." Embun menghentikan makannya. Aldo melihat sendok Embun yang bergetar bergetar. Dia segera berdiri dari kursi dan pindah duduk di samping Embun.
" Menangislah, kalau itu bisa buat kamu tenang." Aldo mengambil sendok yang Embun pegang dan meletakkannya di meja.
Embun menundukkan kepalanya, dan Aldo melihat bahu Embun bergetar diikuti suara isakan. Aldo meraih kepala Embun dan meletakkan di pundaknya. Kini bukan hanya isakan yang didengar Aldo, tapi kini Aldo mendengar suara tangisan Embun yang cukup kencang.
" Itu bukan salah kamu. Walau kamu tidak mau, Brian pasti tetap akan menyelamatkanmu walau nyawa taruhannya." Aldo membelai rambut Embun. Mendengar itu, semakin keraslah tangis Embun.
" Dasar Brian bodoh." Ucap Embun disela tangisnya. Aldo tersenyum mendengar kata - kata Embun.
Aldo menegakkan kepala Embun dan menghapus air mata di pipinya.
" Sudah, sekarang kamu lanjutin lagi makannya. Aku gak mau disalahkan Brian kalau kamu sampai kelaparan." Kata Aldo. Embun mengangguk dan mengambil sendoknya kembali.
__ADS_1
" Bolehkah aku pesan martabak telur." Pinta Embun sambil menggigit sendoknya. Aldo tidak bisa menahan tawanya. Makanan di meja saja belum habis, tapi Embun sudah meminta dipesankan martabak.
" Baik aku pesankan. Tunggu sebentar." Aldo mengacak - acak rambut Embun lalu berdiri untuk pesan martabak.
Embun tersenyum senang. Dia kembali melanjutkan makannya. Embun melihat hpnya, dia penasaran kenapa seharian ini tidak ada kabar dari Dion. Padahal kemarin Dion berjanji akan datang ke rumah sakit untuk menjenguk Brian.
*****
Keesokan harinya, Embun datang ke rumah sakit bersama Aldo. Dia membuka pintu kamar dan melihat Brian sedang duduk di ranjang sambil membaca.
Embun mendekati Brian lalu mengintip apa yang Brian baca. Embun menggelengkan kepalanya setelah tahu kalau yang dibaca Brian adalah berkas untuk proyek perusahaan.
" Kamu sudah makan?" Tanya Brian tanpa melepaskan pandangannya dari berkas yang dia baca.
" Seharusnya aku yang tanya kamu sudah makan apa belum." Embun duduk di sisi ranjang. Brian meletakkan berkas itu dan tersenyum pada Embun.
" Aku sudah makan tadi. Apa kamu betah tinggal di apartemenku? Bagaimana kalau kamu pindah saja ke sana? Sepertinya lingkungan di kostmu tidak aman." Saran Brian.
" Apa kata orang kantor kalau tahu aku tinggal di apartemenmu. Aku juga tidak tahu bagaimana menjelaskannya pada orang tuaku nanti. Sebaiknya aku cari kost lain." Embun menolak saran Brian.
" Tidak akan ada yang tahu kalau kamu tinggal di sana. Orang tuamu juga pasti setuju kalau kamu tinggal di apartemenku. Kalau tidak kamu bisa tinggal di apartemenku yang lain." Jawab Brian.
" Tentu saja, akukan calon menantu mereka." Briane menjawab dengan santai pertanyaan Embun.
Bukan hanya Embun yang terkejut mendengat pernyataan Brian, tetapi Aldo dan Kris juga. Aldo bahkan sampai menjatuhkan makanan yang dia pegang.
" Kenapa kalian bertiga malah bengong?" Tanya Brian. Aldo dan Kris saling pandang, mereka berdua bingung dengan apa yang ada dipikirkan Brian sekarang.
" Siapa yang mau jadi calon istrimu?" Tanya Embun.
" Apa kamu lupa? Waktu di gudang tempo hari, kamu sudah menerima lamaranku." Brian mencondongkan badannya ke depan Embun.
" Itu..itu..waktu itukan aku sedang panik karena kamu terluka, makanya aku iyain saja pertanyaan kamu." Embun mengipasi wajahnya dengan tangan.
" Jadi kamu terima karena takut aku meninggal? Oke, kalau begitu lain kali aku akan melamar kamu lagi. Kamu tunggu saja ya." Kata Brian santai dan kembali membaca berkas yang tadi.
" Bukan begitu." Kata Embun.
__ADS_1
" Bukan apa? Sudah kamu pulang sana, aku mau istirahat." Usir Brian.
Embun kesal dan berdiri dari duduknya. Dia menatap tajam pada Brian. Sedangkan Brian cuek dan tidak memandang Embun sama sekali. Embun benar - benar kesal, dia menghentakkan kakinya lalu berlalu pergi meninggalkan ruangan itu. Brian menahan tawanya melihat tingkah Embun sampai lukanya terasa berdenyut.
" Aldo kejar dia." Perintah Brian setelah tawanya berhenti. Dia memegang lukanya yang terasa sakit lagi.
Aldo menghela nafas dan keluar untuk mengejar Embun. Dia mencari Embun sepanjang lorong rumah sakit tapi tidak juga menemukannya. Aldo berjalan keluar rumah sakit, dan akhirnya menemukan Embun sedang duduk di kursi bawah pohon. Aldo langsung duduk di samping Embun, dan mengatur nafasnya kembali.
" Panas - panas kaya gini, enaknya makan es krim." Embun menyodorkan sebungkus es krim pada Aldo. Aldo menerima es krim itu lalu membukanya, dia segera menggigit es krim sampai tersisa setengahnya.
" Aku kira kamu pergi karena kesal sama Brian?" Tanya Aldo, dia menggigit esnya sampai habis dan membuang stiknya.
" Memang, tapi dia sudah biasa buat aku kesal. Mungkin itu sudah jadi hobinya." Jawab Embun santai. Dia membuka bungkus es krim dan memberikannya pada Aldo.
" Berapa es krim yang kamu beli?" Tanya Aldo yang melihat Embun sedang membuka bungkus es krim lagi. Embun memperlihatkan satu plastik berisi es krim.
" Apa tidak apa - apa kamu makan sebanyak itu?"
" Gak apa - apa, asal Dion tidak tahu. Kalau dia tahu, bisa habis aku diceramahi." Jawab Embun.
" Kalian sepertinya dekat sekali."
Embun memandang langit dan tersenyum.
" Bisa dibilang begitu. Kami sudah berteman sejak SMA, lalu masuk di kampus yang sama walaupun beda jurusan. Kamu tahu, padahal dengan otaknya dia bisa dengan mudah masuk kampus favorit di kotaku. Tapi dia malah memilih masuk yang sama denganku." Embun tertawa.
" Apa kamu pernah berpikir, kalau Dion punya perasaan sama kamu?" Tanya Aldo. Embun terdiam sejenak, dia meletakkan es krim yang sedang dia makan.
" Entahlah, Dion tidak pernah mengatakannya." Embun menggedikkan bahunya.
" Bagaimana kalau ternyata benar dia menyukaimu, apa yang akan kamu lakukan?"
" Hei,, Aku tidak secantik itu sampai disukai banyak orang." Embun terkekeh geli mendengar perkataan Aldo.
" Buktinya Tedi dan Brian. Dan sekarang mungkin aku juga suka sama kamu." Kata Aldo menatap Embun.
" Itu mata kalian saja yang siwer. Kamu perlu periksa mata kalau benar suka sama aku. Sudah ah, aku mau pulang." Embun berdiri dan melangkah pergi.
__ADS_1
Aldo nyengir kuda dan menggaruk kepalanya. Dia lalu berdiri dan mengejar Embun. Dia berniat mengantar Embun kembali ke apartemen Brian. Tapi Embun menolak, rencananya hari ini dia akan pulang ke rumah orang tuanya.