Hanya Bayanganmu

Hanya Bayanganmu
Jauhi Raka


__ADS_3

Dewi akhirnya bisa bernafas lega karena Brian mau membantunya. Tapi dia masih memikirkan syarat yang diajukan oleh Brian. Sebenarnya syarat yang diajukan oleh Brian cukup mudah, tapi apa dia akan berhasil kali ini.


"Biarin deh, pikirin nanti aja. Yang penting aku bisa dapat maaf dari Embun." Dewi memasukkan atm milik Brian ke dompetnya. Rencananya besok dia mau mengajak Embun belanja.


Keesokan harinya di sekolah, Dewi dengan langkah riang mencari Embun. Dia mendapati Embun sedang duduk di depan kelas. Dia langsung menarik Embun masuk kelas dan duduk di bangku mereka.


"Nanti sepulang sekolah kita ke mall yang kemarin." Kata Dewi semangat.


"Ngapain?" Embun bertanya malas.


"Ya belanjalah. Katanya kamu pengen barang yang kaya aku beli kemarin." Kata Dewi.


"Gak jadi, aku udah gak pingin lagi." Jawab Embun enteng.


Dewi terbengong - bengong. Dia tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Dewi meletakkan tangannya di dahi Embun.


"Kamu sehatkan?" Tanya Dewi, dia meletakkan tangan satunya di dahinya dan membandingkan suhunya dengan Embun.


"Kenapa sih?" Embun menarik tangan Dewi dari dahinya.


"Bukannya kemarin kamu minta dibeliin barang yang sama dengan yang aku beli kalau mau maafin aku. Kenapa sekarang berubah? Jangan bilang kalau kamu ganti permintaan yang aneh - aneh?" Dewi memicingkan matanya.


"Gak usah mikir aneh - aneh." Embun mengetuk pelan kepala Dewi dengan pulpen.


"Gak biasanya kamu kaya gini. Cepat katakan kamu pingin apa?" Dewi bertanya lagi.


"Sudah lupain permintaan aku yang kemarin." Embun menepuk punggung tangan Dewi.


"Gak bisa gitu dong. Aku sudah susah payah cari cara buat menuhin permintaan kamu, eh sekarang kamu mau batalin begitu saja." Ujar Dewi sewot. Rencananya bisa gagal kalau Embun batalin permintaannya.


"Bukannya kamu seharusnya senang kalau aku gak jadi minta belanjain kamu ya, ini kenapa jadi kamu yang marah." Tanya Embun menyelidik.


"Bukan gitu." Dewi salah tingkah.


"Pasti kamu punya rencana lainkan." Tebak Embun.


"Aku gak punya rencana apa - apa kok." Elak Embun.


"Tapi beneran kamu sudah maafin aku?" Lanjut Dewi.


"Tergantung."


"Tergantung apa?" Tanya Dewi.


"Kamu mau nurutin syarat dari aku." Embun tersenyum, dia sudah tahu pasti Dewi akan menyetujui syarat yang akan dia ajukan.


"Kamu sama Brian sama saja, pada ngasih syarat." Kata Dewi pelan.


"Kamu ngomong apa?" Tanya Embun.


"Gak kok, syarat kamu apa. Aku pasti bakal lakuin." Dewi berkata cepat, dia berharap Embun tidak mendengar kata - katanya barusan.

__ADS_1


"Kamu traktir aku makan selama sebulan." Jawab Embun.


"Cuma itu?" Dewi memastikan.


Embun mengangguk, dia memang hanya meminta itu. Sebenarnya Embun memang tidak suka memanfaatkan teman. Dia tidak serius meminta dibelikan barang yang sama dengan Dewi, karena dia tahu barang yang dibeli Dewi tentu harganya tidaklah murah.


"Tapi sebenarnya aku penasaran, kalau aku jadi minta belanja memang kamu punya uang? Setahu aku kartu kredit kamukan disita, kamu cuma dijatah uang bulanan. Kamu dapat uang darimana? Satu lagi, kemarin kamu juga belanja banyak banget. Pasti uang yang kamu keluarkan tidak sedikit." Embun memberondong Dewi dengan pertanyaan.


"Sudah kamu gak perlu tahu dan gak usah mikir macam - macam ya. Syarat kamu aku terima, dan kalau kamu punya syarat lain tinggal ngomong saja sama aku." Dewi tidak menjawab pertanyaan Embun, dia memilih mengalihkan pembicaraan daripada nanti urusannya semakin panjang.


Embun tersenyum dan mengangguk setuju. Dia juga tidak mau membahas lagi walaupun sebenarnya masih penasaran.


...*********...


Embun sedang berjalan keluar kelas ketika dia mendengar Raka memanggilnya. Dia menoleh dan melihat Raka berjalan menghampirinya.


"Sudah mau pulang. Bareng yuk?" Ajak Raka merangkul Embun.


"Raka lepasin, banyak yang lihat." Embun melepaskan tangan Raka dari pundaknya.


"Memangnya kenapa, ada yang salah?" Tanya Raka cuek.


Embun memukul lengan Raka. Dia tidak habis pikir, bagaimana Raka bisa begitu santai. Embun berjalan mendahului Raka, yang langsung dikejar oleh Raka.


"Kamu kenapa sih?" Raka mencekal tangan Embun.


"Lepasin Ka, aku tidak mau lagi berurusan sama Siska." Embun melepaskan tangan Raka dan melanjutkan langkahnya.


Mendengar kata - kata Raka, Embun menghentikan langkahnya dan berbalik. Dia berjalan mendekati Raka.


"Bukan cuma Siska Ka, sekarang ada hati yang mesti kamu jaga. Aku gak mau kedekatan kita disalah artikan. Kamu paham maksud akukan?" Tanya Embun lembut.


"Aku ngerti maksud kamu, tapi karena aku sudah tunangan terus kamu mau menghindari aku? Aku mau status aku tidak membatasi pertemanan kita." Kata Raka.


Kata - kata Raka memang benar, tapi bagi Embun tentu itu cukup sulit. Embun takut tidak bisa menghapus perasaannya pada Raka.


"Tidak semudah itu Ka. Aku pulang duluan ya." Embun melangkah meninggalkan Raka. Sedangkan Raka masih terdiam di tempatnya, dia tidak tahu kalau hubungannya dengan Embun akan menjadi seperti ini.


Sedangkan Embun berjalan gontai keluar sekolah. Dia mengingat kejadian beberapa hari yang lalu.


Flash Back On


Embun sedang istirahat di kamarnya sepulang sekolah. Matanya hampir terpejam ketika terdengar suara hpnya. Embun mengambil hp, dan melihat ada nomor baru yang menghubunginya. Embun tidak langsung mengangkat karena menganggap mungkin saja itu nomor iseng. Tapi nomor itu terus saja menghubunginya, setelah panggilan ketiga akhirnya Embun mengangkat telefon itu.


"Halo Assalamualaikum." Embun mengucap salam.


"Waalaikum salam, Embun ya? Aku Vania." Terdengar suara dari seberang.


"Oh Vania, kamu dapat nomor aku darimana?" Tanya Embun. Dia cukup kaget, ada apa sampai Vania menghubunginy.


"Aku dapat nomor kamu dari Raka. Kamu ada waktu tidak? ada hal yang mau aku omongin sama kamu." Kata Vania.

__ADS_1


"Bisa. Mau ketemu dimana?" Tanya Embun.


"Oke. Nanti aku share lokasinya. Ketemu jam 4 ya."


Setelah telefon ditutup, Embun masih penasaran apa yang mau dibicarakan Vania. Embun sampai mengingat - ingat, barangkali dia punya salah sama Vania. Tapi diingat berapa kalipun, dia tidak merasa punya salah sama Vania. Karena mereka juga baru bertemu beberapa kali.


"Ya sudahlah, nanti juga tahu. Sebaiknya aku siap - siap saja." Batin Embun.


Pukul 15.30, Embun langsung pergi ketempat dia janjian dengan Vania. Setelah sampai, dia mencari keberadaan Vania dan melihatnya duduk di sudut ruangan. Vania yang melihat Embun langsung melambaikan tangannya.


"Kamu sudah lama." Tanya Embun.


"Baru saja kok. Silakan duduk." Vania menyuruh Embun duduk.


"Kamu mau pesan apa?" Tanya Vania.


"Jus alpukat saja." Jawab Embun.


"Makannya apa?" Tanya Vania.


"Nanti saja."


Vania memanggil pelayan dan memesan makanan. Setelah memesan makanan, mereka diam satu sama lain. Suasana canggung jelas terlihat, karena ini untuk pertama kalinya mereka bertemu hanya berdua. Ketika pesanan datang, Embun langsung meminum jusnya.


"Apa yang mau kamu bicarakan?" Embun memulai percakapan.


"Aku mau kamu jauhin Raka." Kata Vania.


Embun langsung batuk demi mendengar permintaan Vania. Dia benar - benar kaget, karena tidak menyangka Vania akan memint hal itu.


"Maksud kamu apa?" Tanya Embun setelah sedikit tenang.


"Sebenarnya aku sedikit terganggu setiap sama Raka yang dia bicarain kamu terus. Aku tahu kamu sudah berteman sama Raka dari kecil, jadi tolong kamu jauhin dia. Kamu maukan?" Pinta Vania.


Embun tidak bisa berkata apa - apa, dia masih kaget dan tentu saja tidak percaya dengan permintaan Vania.


"Kenapa kamu tidak jawab? Kamu tidak bisa ya? Apa jangan - jangan kamu punya perasaan sama Raka?" Tanya Vania dengan tatapan tajam.


"Kenapa kamu ngomong gitu. Aku gak punya perasaan apa - apa sama Raka, aku cuma anggap dia teman." Jelas Embun menyangkal.


"Baguslah kalau begitu. Kalaupun kamu puny perasaan sama Raka, tolong kamu hapus perasaan kamu. Karena mau bagaimanapun kamu akan kalah, karena sekarang Raka tunangan aku." Kata Vania.


"Kamu tenang saja. Aku turutin permintaan kamu, aku akan jauhin Raka. " Jelas Embun.


"Aku pegang kata - kata kamu. Ayo dihabiskan minumnya, apa kamu mau pesan makanan?" Tawar Vania.


"Tidak usah. Terima kasih." Tolak Embun.


Embun menunduk dan menghabiskan minumannya. Sedangkan Vania memandang Embun dengan tatapan sinisnya.


Flash Back Off

__ADS_1


__ADS_2