Hanya Bayanganmu

Hanya Bayanganmu
Mutasi


__ADS_3

Mobil yang Dion kendarai sampaidi depan kantor Embun. Dion menoleh ke arah Embun yang sejak tadi terdiam. Dia masih mempertanyakan keputusan Embun ini.


“Embun..” Dion memanggil Embun yang seperti sedang melamun. Embun menoleh ke arah Dion dan mengulas senyum.


“Sudah sampai ya.”


“Kamu gak akan merubah keputusan kamu?” Tanya Dion memastikan.


“Kalaupun aku harus keluar, ada hal yang harus aku selesaikan terlebih dahulu.” Jawab Embun.


“Baiklah. Kalau ada apa – apa segera hubungi aku.” Pinta Dion.


Embun keluar dari mobil Dion, dia masih berdiri di tempatnya sampai mobil Dion meninggalkan kantornya. Embun


memperhatikan perusahaan tempat dia bekerja selama 1,5 tahun ini. Walaupun cuma perusahaan cabang, tapi termasuk perusahaan yang besar. Sebelum masuk Embun membuka tas dan melihat isi di dalamnya. Selain peralatan yang bisaa dia bawa saat bekerja, atas saran Dewi kini dia juga membawa bubuk merica dan alat kejut


listrik untuk berjaga – jaga. Embun menarik nafas panjang lalu menghembuskannya, kemudian berjalan masuk ke kantornya.


Embun tidak langsung ke bagian gudang tempat kerjanya. Embun harus menemui bagian HRD karena sudah beberapa hari tidak bekerja tanpa keterangan. Setelah mengetuk pintu Embun masuk dan dipersilahkan duduk. Kepala HRD yang memanggil Embun melihat berkas dan menatap Embun.


“Saudara Embun Putri Anindya?” Tanya Kepala HRD


“Iya saya pak?” Jawab Embun.


“Anda tahu apa kesalahan anda?” Embun hanya menunduk dan terdiam.


“Sudah beberapa hari anda tidak masuk bekerja tanpa ada pemberitahuan. Bisa anda jelaskan alasan anda tidak


masuk?” Tanya kepala HRD lebih lanjut.

__ADS_1


“Maaf pak saya tidak bisa jelaskan.” Kata Embun.


Kepala HRD menatap Embun tajam, kemudian mengambil amplop surat dan meletakkannya di depan Embun. Embun menatap amplop itu tanpa keinginan untuk mengambilnya. Dia menduga kalau isi di dalam amplop itu adalah surat pemecatannya.


“Ini apa pak? Apa saya dipecat?”


“Silahkan buka dan baca.”


Embun mengambil amplop itu dan mengeluarkan isinya. Embun kaget mengetahui isi dari surat itu. Embun membaca isi surat itu berungkali untuk memastikan dia tidak salah baca. Embun menatap kepala HRD yang ada di depannya, dia benar – benar tidak mengerti situasi yang dia hadapi sekarang.


“Ini maksudnya apa pak?” Tanya Embun penasaran.


“Melihat kesalahan anda, seharusnya anda dikeluarkan atau setidaknya mendapat hukuman penalty dari perusahaan ini. Tapi saya tidak tahu kalau anda punya koneksi kuat di perusahaan ini.” Kata kepala HRD dengan nada merendahkan.


“Apa maksud bapak, saya tidak punya satu koneksipun di perusahaan ini. Soal kenapa saya dipindahkan ke pusat,


saya juga tidak tahu dan kalau bapak penasaran mungkin bapak bisa menanyakan langsung ke pusat.” Jawab Embun yang tersinggung dengan kata – kata kepala HRD itu.


“Silahkan. Anda bisa selesaikan pekerjaan yang tertunda sebelum pindah besok. Dan soal hak yang belum anda dapat selama  di sini, bisa anda tanyakan ke bagian HRD di depan.” Kata kepala HRD.


Embun segera keluar dan menuju ke ruangannya. Dia duduk di meja kerjanya dan kembali membuka amplop yang berisi surat mutasinya. Embun masih tidak percaya kalau dia akan dipindahkan ke kantor pusat. Embun mengingat – ingat, apa dia punya kenalan berpengaruh di perusahaan ini tetapi dia merasa tidak kenal satupun. Setelah cukup lama berpikir, akhirnya Embun memilih menyelesaikan semua pekerjaannya. Dia ingin tidak meninggalkan satu pekerjaanpun yang tersisa sebelum dia pindah ke kantor pusat.


*****


Embun sedang memeriksa beberapa laporan ketika Sinta masuk. Dia menoleh dan tersenyum, sedangkan Sinta langsung memeluk Embun erat.


“Kamu kemana saja sih, gak ada kabar sama sekali?” Protes Sinta.


“Aku habis cari pesugihan. Biar cepat kaya, bosan jadi orang miskin.” Canda Embun. Sinta memukul lengan Embun demi mendengar kata – katanya itu. Embun terkekeh dan kembali melanjutkan pekerjaannya.

__ADS_1


“Benar ya kalau kamu dipindahkan ke kantor pusat?” Sinta mengkonfirmasi berita yang dia dengar.


“Cepat sekali beritanya menyebar ya.” Jawab Embun tanpa menoleh ke arah Sinta.


“ Jadi benar? Kenapa kamu bisa dipindahkan? Padahal setahu aku sulit untuk masuk ke kantor pusat loh. Kamu gak..?” Sinta menggantung pertanyaannya.


“Aku gak tahu kenapa aku bisa dipindahkan ke sana, dan kalau kamu Tanya aku punya koneksi atau gak jawaban aku gak ada sama sekali. Kamu tahu sendirikan bagaimana usaha aku buat masuk perusahaan ini?” Jawab Embun panjang lebar. Dia merasa orang – orang pasti akan mengira dia punya koneksi untuk bisa dipindahkan ke kantor pusat.


“Aku percaya kamu gak seperti itu. Tapi orang lain pasti akan berpikiran seperti itu. Dan berita kepindahan kamu ini sedang jadi pembicaraan banyak orang di kantor.”


“ Kamu tahu, tangan aku cuma 2. Dan aku gak bisa menutup mulut mereka semua, jadi biarkan saja mereka mau ngomong dan berpikiran apapun tentang aku.” Terang Embun.


“Benar sih, tapi aku sedih kita gak bisa sama – sama lagi.” Wajah Sinta tampak murung.


“Gak usah lebay ih, kaya aku pindah kemana saja. Kitakan masih bisa bertemu di luar kantor.” Embun menggenggam tangan Sinta. Sinta mengangguk dan tersenyum, kemudian dia pergi karena harus menyelesaikan pekerjaannya.


Menjelang sore hari, Embun akhirnya bisa menyelesaikan pekerjaannya. Setelah menyerahkan laporan, Embun segera membereskan barang – barangnya. Embun juga mesti menyelesaikan urusan kepindahannya hari ini juga,


dan begitu semua selesai Embun pergi menuju lantai tempat Sinta bekerja untuk berpamitan. Setelah berpamitan Embun segera pergi, tapi disepanjang jalan keluar Embun mendapati beberapa orang yang menatapnya dengan tatapan tidak suka. Embun menanggapi itu dengan santai, dan membalas tatapan mereka dengan senyuman.


Embun berada di loby kantor ketika dia berpapasan dengan Tedi mantan managernya. Tedi menatap tajam Embun, kali ini Embun balas menatap tajam. Tersirat kemarahan di mata Embun, tentu dia tidak bisa melupakan kejadian kemarin. Tedi mendekati Embun dan menyunggingkan senyum mencemooh.


“Ternyata kamu hebat juga, bisa dengan mudah mendapat posisi di kantor pusat. Kamu tidak menerima tawaranku, karena sudah ada orang yang bisa menjamin posismu ya.”


Embun tidak menjawab pertanyaan itu dan memilih pergi. Tapi baru beberapa langkah, Embun berbalik dan berjalan mendekati Tedi.


“Ini untuk yang kemarin!!!” Tanpa diduga Embun memukul perut Tedi. Dan sebelum Tedi membalas, Embun melayangkan tendangan tepat di bagian sensitif pria itu. Tedi langsung terduduk dan mengerang kesakitan.


Melihat Tedi yang kesakitan, Embun segera berlalu pergi meninggalkan lobi kantor. Sedangkan Tedi hanya bisa mengumpat kasar pada Embun, dia tidak bisa mengejar Embun karena merasakan sakit yang luar bisaa. Apalagi dia tentu saja merasakan malu karena banyak orang yang melihat kejadian itu. Semua orang

__ADS_1


yang melihat tentu saja dibuat terkejut, tidak terkecuali dengan Kris yang kebetulan sedang ada disitu.


Dia yang kebetulan merekam kejadian itu, segera menelefon Brian dan mengirimkan rekaman video itu. Walaupun dia tidak tahu apa hubungan antara Embun dan Brian yang sebenarnya. Tapi dia merasa kalau gadis itu adalah orang yang penting untuk bosnya.


__ADS_2