
Embun bangun ketika mendengar suara alarm di hpnya. Setelah melaksanakan ibadah, dia segera masuk ke kamar mandi. Ritual mandi kali ini Embun lakukan dengan santai, dia tidak perlu terburu – buru karena masih pagi. Embun memakai setelan kerja yang Aldo berikan. Semalam Aldo memang meletakkan banyak paper bag yang berisi pakaian di depan pintu apartement. Dia juga membawakan tas Embun yang tertinggal di kantor. Sebenarnya hari ini Embun malas ke kantor karena pasti akan bertemu Brian. Tapi dia merasa itu tidak professional. Embun berusaha sebisa mungkin untuk memisahkan urusan pribadi dan pekerjaan.
Setelah selesai bersiap – siap, Embun segera melangkah keluar. Ketika membuka pintu, dia kaget ternyata sudah
Aldo yang menunggunya di depan apartement. Aldo memasang senyum terbaiknya ketika melihat Embun.
“ Pagi,, Bagaimana tidurmu semalam? Nyenyakkan?” Tanya Aldo.
“ Pagi,, lumayan. Kamu sudah sarapan?” Tanya Embun balik. Aldo tidak menjawab hanya menunjukkan paper bag yang berisi sandwich dan juga kopi.
Embun tersenyum dan mengacungkan jempolnya, “ Terbaik.” Ucapnya.
Mereka berjalan beriringan menuju tempat parkir. Setelah Embun masuk mobil, Aldo segera menjalankan mobilnya
menuju ke kantor. Selama perjalanan, Embun memilih untuk menikmati roti dan kopi yang Aldo berikan. Aldo melirik gadis yang ada di sampingnya yang menikmati sarapannya dengan lahap.
“ Apa perlu aku belikan lagi, sepertinya itu masih kurang?” Tawar Aldo.
“ Boleh, tapi belikan aku nasi saja.” Jawab Embun dengan mulut yang masih penuh dengan roti.
“ Apa tidak apa – apa masih jam segini makan nasi?” Tanya Aldo heran.
Embun menoleh ke arah Aldo dan menatapnya dengan serius, “ Kamu tahu, kalau orang Indonesia belum makan nasi itu namanya belum makan.” Embun meminum kopinya sampai habis.
“ Benarkah? Tapi selama ini aku lihat kamu sarapan selalu sama roti bakar.” Aldo mengernyitkan dahi.
“ Di apartement Brian Cuma ada itu. Cacing di perut aku selalu demo karena tiap hari Cuma aku kasih roti bakar.” Embun mengelus – elus perutnya.
Aldo tertawa melihat tingkah Embun yang seperti ibu hamil mengelus bayi di perut. Dia mengacak – acak rambut
Embun karena gemas. Embun yang kesal karena rambutnya berantakan, melotot lalu memukul tangan Aldo. Tak berapa lama, mereka sudah sampai di kantor. Embun tidak langsung masuk, karena dia akan membeli nasi uduk di warung yang letaknya tidak jauh dari kantor. Setelah membeli nasi uduk, Embun segera berjalan ke kantor. Embun sedang menunggu lift, ketika dia melihat Brian dan Kris berjalan mendekat. Embun langsung memasang wajah cuek, dan tidak menoleh ketika Brian berdiri di sebelahnya.
“ Embun ak..?” Perkataan Brian terpotong karena lift yang terbuka.
Melihat lift terbuka Embun segera masuk. Brian pun segera masuk lift diikuti Kris di belakangnya. Setelah lift tertutup, Embun segera bergeser dan berdiri di sebelah Kris. Kris yang berada di tengah antara Brian dan Embun, memilih untuk mundur tapi sayangnya Embun juga ikut mundur. Sehingga posisi mereka sejajar, dengan Brian yang ada di depan mereka. Selama di dalam lift, hanya ada keheningan. Embun segera keluar begitu lift terbuka. Dia segera berjalan masuk ke ruangan Brian. Saat masuk dia melihat ruangan itu sudah bersih dan rapi, tidak berantakan seperti saat kemarin dia tinggalkan. Embun segera duduk di meja kerjanya. Brian yang masuk bersama Kris, menoleh ke arah Embun yang sedang membuka bungkus makanan.
“ Sarapan Kris.” Tawar Embun hanya pada Kris.
__ADS_1
“ Silakan.” Jawab Kris lalu menoleh ke arah Brian, dia melihat Brian yang meliriknya dengan tatapan tajam.
Sedangkan Embun tentu saja tidak ambil pusing. Dia sudah sibuk dengan makanan yang ada di depannya. Tak butuh waktu lama untuk Embun menghabiskan nasi uduknya. Setelah selesai sarapan, dia segera memulai pekerjaannya. Cukup banyak pekerjaan yang harus Embun selesaikan, untungnya sekarang laporan yang sudah dia selesaikan tidak perlu di ambil oleh managernya karena dia cukup memberikannya pada Kris.
Saat sedang sibuk dengan laptop di depannya, sesekali Embun melirik ke arah Brian. Dia langsung kembali menatap laptop, ketika ternyata Brian sedang menatapnya sambil memainkan pulpen dengan tangannya.
“ Ngapain sih dia, apa tidak ada kerjaan.” Pikir Embun yang kembali sibuk.
Embun terkejut ketika tiba – tiba Brian sudah duduk di depannya.
“ Apa?” Tanya Embun dengan wajah juteknya.
“ Aku ingin minta maaf soal kemarin. Aku benar – benar menyesal.” Kata Embun dengan wajah menyesal.
“ Hemm.” Jawab Embun singkat.
Brian terus mencoba berbicara dan meminta maaf pada Embun. Namun Embun hanya menjawab dengan anggukan atau hanya deheman. Itu tentu saja membuat Brian kesal, tapi dia tentu saja tidak bisa menunjukkan
kekesalannya pada Embun. Dia tentu tidak mau kalau Embun semakin marah padanya. Brian yang frustasi karena Embun terus mengabaikannya memilih keluar dan masuk ke ruangan Aldo dan Kris. Begitu masuk dia duduk di sofa dan menyenderkan punggungnya sambil melihat ke atas.
*****
Di sebuah restoran yang mewah, terlihat Raka dan Vania sedang duduk bersama. Sudah beberapa kali Vania mengajaknya untuk makan malam bersama tapi Raka terus menolak dengan alasan banyak pekerjaan. Tapi malam ini Raka tidak bisa menolak lagi, karena ini perintak kakeknya yang tentu saja itu permintaan dari Vania. Vania tahu benar kalau Raka pasti akan menuruti perintah dari kakeknya, dan itu sering kali dimanfaatkan oleh Vania.
“ Aku ke toilet dulu.” Kata Raka yang langsung pergi tanpa menunggu jawaban dari Vania.
Vania terlihat santai sambil memainkan gawainya. Di meletakkan gawainya ketika pelayan datang dan meletakkan pesanan di meja.
“ Selamat menikmati Nona.” Ucap pelayan dengan sopan dan meninggalkan meja, yang dibalas dengan senyuman oleh Vania.
Begitu pelayan pergi, Vania segera menoleh ke sekitar. Setelah dia merasa aman, dia segera membuka tasnya
dan mengambil sebuah plastik kecil. Dengan cepat Vania memasukkan isi di dalam plastik itu ke dalam minuman Raka. Setelah mengaduk minuman Raka, Vania langsung pura – pura memegang gawainya karena melihat Raka yang datang mendekat. Raka yang melihat makanan di meja segera duduk, dan menyantap makanan itu tanpa
mengucapkan sepatah katapun pada Vania. Tapi tanpa Raka sadari, dari bibir Vania terbit senyuman yang penuh arti. Vania makan dengan santai tanpa melepaskan pandangannya dari Raka. Vania menarik ujung bibirnya ketika melihat Raka meminum minumannya.
“ Aku antar kamu pulang.” kata Raka yang melihat Vania sudah selesai makan.
__ADS_1
Setelah membayar, Raka segera keluar dari restoran. Selama berjalan ke tempat parkir, Raka merasa ada yang
aneh dengan tubuhnya. Dia merasa gerah dan memilih untuk melepas jas dan melonggarkan dasinya. Begitu masuk ke dalam mobil, Raka langsung menghidupkan ac mobil.
“ Kamu kenapa Ka?” Tanya Vania.
“ Gak apa – apa, aku Cuma merasa udaranya panas.” Kali ini Raka membuka kancing atas kemeja dan juga lengannya.
Raka segera menjalankan mobilnya. Raka merasa badannya semakin panas, tapi dia mencoba untuk tetap berkonsentrasi saat mengemudi. Sedangkan Vania hanya tersenyum melihat keadaan Raka. Vania melihat tubuh Raka berkeringat dan wajahnya juga memerah seperti menahan sesuatu. Mobil Raka berhenti di sebuah parkiran gedung apartement mewah Vania. Vania segera turun dan membuka pintu bagian kemudi. Raka yang kini sudah setengah sadar hanya menuruti kemana Vania membawanya. Vania memapah Raka sampai masuk ke loby apartement. Vania mendudukkan Raka di kursi yang ada di loby dan meninggalkannya untuk mengambil tas yang tertinggal di mobil Raka, karena kunci apartement ada di dalam tasnya itu.
Raka menegakkan duduknya, dan memukul – mukul kepalanya agar terjaga. Saat itu dia seperti melihat seseorang
yang dia kenal masuk ke dalam lift. Raka segera bangun dari duduknya dan berjalan sempoyongan menuju lift. Raka menahan pintu lift dengan tangannya sebelum tertutup.
“ Embun.” Panggil Raka berusaha membuka matanya.
“ Raka? Kamu ngapain di sini?”
Ternyata itu adalah apartement yang Embun tinggali sejak semalam. Embun cukup terkejut bisa bertemu Raka
kembali di sana, apalagi dengan keadaan Raka yang berantakan. Raka masuk ke dalam lift, tapi dia hampir jatuh jika saja Embun tidak menangkapnya. Embun kesusahan menahan tubuh Raka yang besar dengan tubuhnya yang kecil itu. Ketika lift terbuka Embun membawa Raka keluar. Sekarang dia yang kebingungan sendiri karena
tidak tahu harus membawa Raka kemana, apalagi dari tadi dia terus mendengar Raka yang merintih kalau kepanasan.
Tanpa pikir panjang, Embun membawa Raka ke apartement yang dia tinggali. Embun masuk ke apartement dengan
susah payah, dia segera membaringkan Raka di sofa. Lalu Embun berjalan ke dapur untuk mengambil minuman, dia kaget karena tiba – tiba ada yang memeluknya dari belakang. Embun menoleh dan sangat terkejut karena yang memeluknya adalah Raka.
“ Raka, apa yang kamu lakukan. Cepat lepaskan!!” Embun berusaha melepaskan pelukan Raka, tapi Raka malah semakin mempererat pelukannya dan menciumi leher Embun.
Embun merasakan tubuhnya seperti tersengat listrik karena ulah Raka ini. Tapi yang lebih membuat Embun syok, dia merasakan benda keras menyentuh pinggangnya. Embun yang panik, menggigit tangan Raka sampai pelukan Raka terlepas. Begitu bebas, Embun segera menjauh.
“ Embun tolong aku, Panas.” Ucap Raka menatap Embun seperti kesakitan.
Saat ini Embun bingung harus melakukan apa. Embun mencari hpnya, berpikir untuk meminta bantuan. Tapi sialnya hp itu ada di tas yang dia letakkan di sofa. Embun segera berlari ke sofa dan mengambil tasnya, namun sayang Raka berhasil menangkapnya. Raka yang dalam keadaan tidak sadar menjatuhkan Embun di sofa dan mengungkung Embun dengan tubuhnya. Embun terkejut ketika tiba – tiba Raka menarik bajunya sampai beberapa kancing bajunya terlepas. Tak hanya itu, Raka juga berusaha untuk mencium bibir Embun. Embun sekuat tenaga menahan wajah Raka dengan tangannya, tapi Raka mencengkram tangan Embun dan menaruhnya di atas kepala Embun. Raka membenamkan wajahnya di leher Embun, dan menciuminya dengan brutal. Embun tentu tidak tinggal diam, dia menoleh ke samping. Tangan satunya yang bebas berusaha mengambil sebuah vas.
“ Raka maaf!!” Ucap Embun lalu memukulkan vas ke belakang leher Raka.
__ADS_1