Hanya Bayanganmu

Hanya Bayanganmu
Kemarahan Dion


__ADS_3

Diperjalanan mengantarkan Embun pulang, Dion hanya diam dan fokus mengemudikan mobilnya. Dia tidak menoleh ataupun berbicara pada Embun sama sekali. Embun ingin sekali berbicara pada Dion, tapi ia urungkan karena melihat ekspresi wajah Dion yang seperti menahan marah. Embun memberanikan diri menatap Dion, tapi pandangannya langsung tertuju ke lengan Dion yang terluka.


“Dion, lengan kamu terluka.” Embun ingin memegang lengan Dion yang terluka tapi dicegah oleh Dion.


“Biarkan saja.”


“Kamu marah sama aku? Maaf sudah buat kamu khawatir.” Kata Embun pelan. Selama 8 tahun berteman baru kali  ini dia melihat Dion yang begitu marah padanya.


“Menurut kamu gimana? Sudah berpuluh kali aku menghubungi kamu tapi tidak ada satupun panggilan aku yang


kamu jawab. Dan apakah aku juga tidak boleh khawatir melihat kondisi kamu yang seperti itu.” Dion berkata dengan intonasi tinggi.


“Maaf.” Hanya itu kata yang bisa Embun katakan.  Embun menunduk dalam, dia benar – benar menyadari kalau itu sepenuhnya kesalahannya.


Dion melirik kearah Embun, dia melihat wajah Embun yang sedih dan juga penuh penyesalan. Terlihat juga bahu


Embun yang bergetar seperti menahan tangis.


“Kamu gak apa – apa?” Tanya Dion dengan nada lembut. Embun segera mengusap air matanya dan tersenyum.


“Aku baik – baik saja. Aku minta tolong kamu jangan cerita soal kejadian tadi sama orang tua aku.” Pinta Embun


dengan tatapan memohon.


“Memang kamu bisa menyembunyikan luka di wajah kamu?” Dion melihat luka disudut bibir Embun.


“Antarkan aku ke rumah Dewi. Untuk sementara aku akan tinggal di sana. Aku sudah minta ijin sama ibu.”Pinta


Embun.


“Bagaimana dengan Bima?” Dion bertanya. Karena dia sangat tahu, walaupun Embun dan Bima tidak akrab dan


sering bertengkar namun Bima sangat menyayangi adiknya itu. Tentu dia tidak


akan tinggal diam melihat adiknya yang  mendapatkan pelecehan.


“Mas Bima sedang di luar kota selama 1 minggu. Jadi aku akan aman di sana.”


“Baiklah. Tapi aku minta mulai sekarang kamu selalu angkat telefon dan balas pesan aku. Aku gak mau kejadian


seperti tadi terulang lagi. Kamu mengerti.” Tegas Dion.


Embun menyetujui permintaan Dion. Karena bagaimanapun itu yang terbaik untuknya, dan hanya Dionlah orang yang bisa dia andalkan. Dion mengendarai mobilnya menuju rumah Dewi, tapi sebelum sampai


Embun minta untuk mampir ke apotik. Dia ingin membeli obat untuk mengobati luka


di lengan Dion. Setelah mengobati luka Dion, mereka melanjutkan perjalanan. Tak


berapa lama mereka sampai di depan rumah Dewi, Embun akan keluar dari mobil


namun ditahan oleh Dion.


“Sebaiknya kamu segera keluar dari perusahaan itu. Aku akan memberi pelajaran pada ba**ng*n itu!” Perintah Dion.


“Akan aku pertimbangkan. Sekarang aku ingin istirahat dan nglupain kejadian hari ini.” Kata Embun.


“Ngomong – ngomong darimana kamu tahu kalau aku sedang ada di gudang?” Lanjut Embun bertanya, karena seingatnya dia belum cerita kalau dia dipindahkan dibagian gudang.


“Aku bertanya pada temanmu.” Jawab Dion singkat.


“Oh Sinta? Dion, bagaimana pendapatmu tentang dia? Sepertinya dia ada rasa sama kamu?”

__ADS_1


“Gak usah bahas hal yang gak penting. Sekarang masuk dan istirahat. Besok istirahat saja di rumah, soal


motor kamu biar aku yang urus.” Jawab Dion seolah tahu apa yang dipikirkan Embun.


Embun mengangguk dan keluar dari mobil Dion. Dia segera masuk ke rumah Dewi, sedangkan Dion setelah memastikan Embun masuk segera menjalankan mobilnya dan pergi meninggalkan rumah Dewi.


                                                    *****


Dewi kaget melihat keadaan Embun yang cukup berantakan. Dia semakin shock begitu melihat luka di wajah Embun. Setelah membersihkan diri, Embun menceritakan semua kejadian yang dia alami


pada Dewi. Sumpah serapah keluar dari mulut Dewi yang tidak terima teman dan


adik iparnya itu mengalami kejadian naas seperti itu. Dewi akan menelofon Bima


untuk memberitahukan kejadian yang menimpa Embun, tapi Embun melarangnya.


Karena dia tahu betul apa yang akan Bima lakukan bila tahu apa yang Embun


alami.


“Sekarang kamu istirahat saja. Tinggalah di sini selama kamu mau. Aku akan rahasiain semua sama ibu dan ayah.” Kata Dewi yang menuruti keinginan Embun.


“Makasih. Kamu memang sahabat terbaik aku.” Embun memeluk Dewi. Lalu beranjak menuju kamar tamu untuk istirahat.


Dewi memandang Embun prihatin. Dia kasihan pada Embun yang harus mengalami hal yang menakutkan seperti itu. Jika itu dia, dia pasti sudah meminta orang tuanya untuk melapor polisi. Tapi Dewi yakin Embun punya pertimbangan sendiri sehingga lebih memilih merahasiakan masalah ini.


 *****


Pagi hari Embun malas untuk bangun. Dia merasakan sakit di seluruh tubuhnya. Embun melihat pintu kamarnya


terbuka, dan Dewi masuk membawa nampan berisi sarapan. Dewi menaruh nampan di


“Bagaimana tidur kamu?” Tanya Dewi, dia menyentuh dahi Embun karena melihat wajah Embun yang terlihat pucat.


“Aku gak bisa tidur, aku mimpi buruk. Sekarang badan aku malah sakit semua.”


“Aku panggilkan dokter ya, sepertinya kamu demam dan pipi kamu juga sedikit bengkak.” Kata Dewi khawatir.


“Maaf jadi ngrepotin kamu.”


“Ngomomg apasih kamu. Sudah sekarang kamu habisin sarapan kamu, aku akan telefon dokter langganan aku.”


Dewi lalu keluar dari kamar untuk menelefon dokter.


Embun duduk dan mengambil sarapan di meja. Dia makan dengan perlahan karena merasakan sakit di pipinya. Saat Embun sedang makan, terdengar ketukan di pintu. Embun melihat Dewi masuk


bersama Dion di belakangnya. Embun terseyum melihat kedatangan Dion, tapi tidak


dengan Dion. Dia merasa sedih melihat keadaan Embun saat ini. Dewi meninggalkan


Dion di kamar bersama Embun karena dia harus mengurus anaknya. Dion mendekat


dan duduk di tepi ranjang, dia mengambil piring yang Embun pegang lalu menyuapi


Embun.


“Kata Dewi kamu sakit?” Tanya Dion tanpa memandang Embun.


“Cuma demam. Dewi saja yang berlebihan memanggil dokter segala. Kamu gak ke kantor?” Tanya Embun sambil menerima suapan Dion.


“Aku masuk siang. Sebaiknya kamu periksa ke rumah sakit saja, ayo ganti baju biar aku antar.”

__ADS_1


“Gak usah, malu – maluin. Kamu gak lihat wajah aku gimana? Nih pipi aku besar sebelah kaya orang lagi sakit


gigi. Hahaha.” Embun mencoba bercanda dan memperlihatkan pipinya. Melihat itu


malah membuat Dion semakin sedih. Dion meletakkan piring dipangkuan Embun dan beranjak


keluar.


“Kamu mau kemana?” Tanya Embun.


“Ada hal yang harus aku lakuin. Kamu istirahat saja, nanti aku ke sini lagi.” Dion keluar tanpa menunggu jawaban


Embun. Embun terheran melihat sikap Dion, dia berharap Dion karena urusan


pekerjaan dan tidak melakukan hal yang aneh.


Setelah pergi dari rumah Dewi, Dion melajukan kendaraannya dengan kencang. Hanya butuh waktu beberapa menit


dia sudah sampai di depan kantor Embun. Dengan wajah penuh kemarahan, Dion segera


bergegas menaiki lift dan menuju ruangan pak Tedi. Begitu lift terbuka Dion


segera keluar dan menuju ruangan pak Tedi. Ketika akan masuk ruangan Dion


dicegah oleh Sinta, karena di ruangan itu sedang ada tamu penting. Tapi Dion


yang sedang diselimuti kemarahan, tidak menggubris larangan itu dan langsung


menerobos masuk. Begitu melihat pak Tedi yang sedang duduk, dia langsung


menarik kerah bajunya dan memukul wajahnya dengan keras. Semua orang yang ada


di ruangan itu kaget dan berusaha untuk menarik Dion yang masih terus saja


memukul pak Tedi.


“Ini pukulan karena kamu sudah berani melukai Embun. Seharusnya semalam aku bunuh kamu!!” Kata Dion Emosi dan memukul pak Tedi membabi buta.


Dion merasa ada beberapa orang yang menarik tubuhnya. Ada dua orang berbadan kekar yang memeganginya, yang sepertinya mereka adalah seorang bodyguard. Dion melihat pak Tedi wajahnya babak belur oleh pukulannya.


“Lepaskan dia!” Perintah seseorang yang sepertinya bos dari kedua orang itu.


Setelah terlepas Dion memperhatikan seseorang pria yang berdiri membelakanginya. Pria itu berbalik


dan menatap Dion dari balik kacamata hitamnya. Dion penasaran siapa pria itu, karena sosoknya seperti tidak  asing. Pria itu melepas kacamatanya dan menyunggingkan senyum ke arah Dion.


“BRIAN?”


***


 Dukung aku karya aku ini ya


Pastikan teman – teman untuk


like, komen, vote, dan klik favorit.


Maaf apabila masih banyak tulisan


aku yang typo.


Terima kasih atas dukunganya.

__ADS_1


__ADS_2