
Embun membuka matanya perlahan, dia merasakan pusing di kepalanya. Embun mengamati sekitarnya, dan merasa asing akan keberadaannya sekarang. Tapi hal yang lebih membuat Embun panik adalah keadaannya sekarang yang terikat. Embun yang dalam posisi berbaring, berusaha untuk bangun. Walau dengan susah payah, akhirnya Embun bisa duduk.
Embun tahu kalau sekarang dia berada di sebuah gudang kosong.
" Uhuk uhuk,, di mana ini? Kenapa aku bisa sampai di sini?" Kata Embun pelan. Dia terbatuk karena menghirup debu di gudang itu. Embun terdiam mendengar suara langkah kaki yang mendekat, dia segera menggeser duduknya waspada.
Keadaan gudang yang minim pencahayaan, membuat Embun kesulitan melihat siapa yang mendekat. Embun merasakan jantungnya berdegup kencang. Dia merasa kalau sekarang dia dalam bahaya.
TAP TAP TAP
Suara langkah itu semakin dekat. Keringat juga mulai menetes dari dahi Embun. Karena gudang yang sunyi, Embun sampai bisa mendengar suara nafasnya sendiri. Dan tiba - tiba, semua lampu gudang menyala. Embun menyipitkan matanya karena sorot lampu, kini dia bisa melihat sosok pria yang duduk di kursi dengan posisi membelakanginya.
" Si..Siapa kamu?" Tanya Embun gagap, dia tidak bisa menyembunyikan ketakutannya.
Betapa terkejutnya Embun ketika pria itu memutar tubuhnya dan menghadap Embun.
" Pak Tedi?" Embun benar - benar tidak percaya melihat sosok di depannya.
" Apa kabar Embun, lama tidak berjumpa? Sepertinya hidupmu baik - baik saja setelah menjadi simpanan pemilik perusahaan." Kata Tedi menyunggingkan senyum.
" Apa maksud semua ini? Kenapa kamu menculikku? Dan asal kamu tahu, aku bukan simpanan pemilik perusahaan." Bantah Embun.
Embun bergeser ketika melihat Tedi yang berjalan mendekat. Tedi berjongkok di depan Embun dan memegang dagu Embun.
” Kalau bukan simpanan, kenapa kamu mendapat perlakuan istimewa. Kamu bisa dengan mudah di tempatkan di kantor pusat. Dan sekarang aku dengar, kamu juga satu ruangan dengan Pak Brian."
" Itu bukan urusan mu!!" Kata Embun dan memalingkan wajahnya. Tedi menarik ujung bibirnya, lalu berdiri dan berjalan kembali ke kursi. Dia duduk sambil menyilangkan kakinya.
” Kamu tahu apa yang dilakukan Pak Brian? Oh aku tidak perlu memanggilnya pak lagi karena dia bukan lagi atasanku."
Embun memandang Tedi, dia terkejut dan tidak paham maksud ucapannya.
" Kamu tidak perlu pura - pura terkejut begitu. Bukannya kamu yang minta dia untuk memecatku?" Tuduh Tedi. Embun menggelengkan kepalanya, dia benar - benar tidak melakukan apa yang dituduhkan Tedi.
Tedi berjalan mendekati Embun lagi. Dia menarik Embun dan mendudukkannya di kursi. Embun bisa melihat sorot kemarahan dan dendam di mata Tedi.
" Kamu tahu apa yang dilakukan Brian? Pacarku memutuskan pertunangan kami gara - gara tahu kalau aku dipecat dari perusahaan. Dan tidak ada perusahaan lain yang mau menerima aku bekerja. Yang lebih membuat aku marah, dia menarik semua aset yang aku miliki. Memang apa salahnya aku sedikit menyisihkan uang perusahaan, bukannya aku juga sudah bekerja keras untuk membesarkan perusahaan itu." Kata Tedi panjang lebar.
Embun tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Selain telah melecehkannya, ternyata Tedi juga telah menggelapkan uang perusahaan.
” Kamu memang pantas mendapatkannya." Ujar Embun marah.
__ADS_1
Kemarahan Tedi tersulut mendengar kata - kata Embun, dia langsung menampar pipi Embun keras. Embun merasakan kepalanya pusing setelah mendapatkan tamparan dari Tedi. Sudut bibir Embun juga mengeluarkan darah.
" Kita lihat saja, apa kamu masih bisa berkata sombong seperti itu." Tedi berjalan mengambil tas Embun yang tergeletak di lantai. Dia membuka tas dan mengambil hp di dalamnya.
Setelah bisa membuka hp dengan sidik jari Embun, Tedi segera melakukan panggilan.
" Halo Pak Brian, apa kabar?"
*****
Brian sedang memeriksa berkas dengan Kris ketika hpnya berbunyi. Karena sedang sibuk, Brian tidak menghiraukannya. Tapi dia merasa terganggu ketika hpnya terus saja berbunyi. Brian mengambil hpnya dan tersenyum saat tahu kalau Embun yang menelefon. Brian mengangkat telefon itu dengan wajah yang berbinar, tapi wajah Brian langsung berubah saat itu siapa si penelefon.
Kris yang melihat perubahan di wajah Brian, segera menghentikan pekerjaannya. Begitu Brian mematikan telefon, Kris segera mendekatinya dan bertanya.
" Ada apa?"
" Ada yang menculik Embun. Cepat telefon Aldo. Dan suruh anak buah kita untuk melacak keberadaan Embun. Akan aku bunuh orang itu!!" Kata Brian murka.
Kris segera menjalankan perintah Brian. Dia penasaran siapa orang yang berani membangunkan singa yang tidur. Kini dia tidak yakin apa bisa menahan kemarahan Brian. Dia berharap Brian tidak akan benar membunuh orang yang menculik Embun.
Brian berdiri dan memandang luar jendela. Dia mengepalkan tangan kuat, hingga terlihat urat - urat ditangannya. Tak berapa lama ada pesan masuk dihpnya. Dia membaca pesan itu, dan segera membuka laci mejanya.
" Aku akan pergi, kamu tetap waspada dan tunggu kabar dariku." Brian melangkah pergi. Kris yang paham segera menelefon Aldo dan memberi tahu kondisi sekarang.
Brian segera masuk, dan mencari keberadaan Embun. Dia berjalan sampai masuk ke bagian dalam gudang. Brian menghentikan langkahnya, ketika melihat Embun yang duduk di kursi dalam keadaan terikat dan mulut yang ditutup kain.
Embun senang melihat kedatangan Brian. Brian berjalan mendekat, tapi langkahnya terhenti ketika melihat ada seorang pria yang keluar dari sebuah ruangan.
" Selamat datang Pak Brian, apa perjalanan anda lancar?" Tedi berdiri di belakang Embun dan meletakkan tangannya di pundak Embun.
Brian menoleh ke arah suara, dan tidak bisa menyembunyikan kemarahannya mengetahui siapa penculik Embun.
" Tedi. Cepat lepaskan Embun!!" Kata Brian tegas.
" Tidak semudah itu. Lakukan perintahku kalau kamu ingin aku melepaskan Embun."
Embun kaget dan menatap Tedi. Dia tahu pasti Tedi tidak akan begitu saja melepaskannya, dia pasti punya rencana licik.
" Apa maumu?" Tanya Brian.
" Mudah saja. Aku ingin kamu kembalikan semua asetku yang kamu sita."
__ADS_1
" Baik, akan aku lakukan. Sekarang cepat lepaskan Embun." Kata Brian menyetujui permintaan Tedi. Baginya tidak sulit untuk mengembalikan aset Tedi yang tidak seberapa itu.
Tedi menyunggingkan senyum. Dia tahu pasti sangat mudah bagi Brian untuk mengembalikan asetnya. Tapi bukan itu sebenarnya hal yang diinginkan oleh Tedi. Tiba - tiba Tedi tertawa terbahak - bahak.
" Hahahaha...Itu pasti sangat mudah untukmu, tapi sayang sekali bukan itu yang aku inginkan."
" Kamu tahu, aku sangat menginginkan Embun jadi kekasihku tapi dengan bodohnya dia menolak tawaranku." Lanjut Tedi, lalu membelai pipi Embun.
Embun berusaha menjauhkan pipinya, dan itu membuat Tedi kesal. Dia langsung menjambak rambut Embun. Kepala Embun sampai mendongak dan dia meringis kesakitan karena tarikan di rambutnya. Brian benar - benar marah melihat perlakuan Tedi pada Embun. Dia akan mendekat, tapi dia urungkan saat melihat Tedi mengeluarkan sebuah pisau.
" Jangan berani mendekat!! Kamu lihat sendiri, dalam keadaan seperti inipun dia masih dengan sombongnya menolakku. Aku tahu kalau kamu juga menyukai Embunkan?" Tanya Tedi. Tapi Brian tidak menjawab pertanyaan itu. Dia menatap Embun dan juga pisau yang dipegang oleh Tedi.
" Buang pisau itu. Kalau kamu benar menyukai Embun, kamu pasti tidak akan melukainyakan?" Brian berusaha membujuk Tedi.
" Hahaha..Memang benar aku menyukai Embun. Tapi apa kamu tahu? Aku paling tidak suka kalau apa yang aku sukai juga disukai oleh orang lain, apalagi sampai disentuh." Tedi melepaskan tarikan di rambut Embun. Dia berjongkok di samping Embun.
" Jangan menangis sayang. Bagian tubuh mana yang sudah dia sentuh?" Tedi mengusap air mata di ujung mata Embun. Dia juga ingin menyentuh tubuh Embun, tapi terhenti karena teriakan Brian.
" Jangan sentuh Embun. Kalau kamu berani menyentuhnya, akan aku patahkan tanganmu!!" Teriak Brian. Tedi menarik ujung bibirnya, dan menoleh ke Brian. Dia berdiri dan mengarahkan pisau ke leher Embun.
" Kalau Embun tidak bisa jadi milikku, aku ingin dia juga tidak jadi milikmu. Bagaimana kalau kamu ucapkan kata - kata terakhirmu." Tedi menekan pisaunya di leher Embun, dan membuat leher Embun mengeluarkan darah. Embun menahan nafasnya dan meringis kesakitan. Tedi menjauhkan pisaunya dan melihat leher Embun yang berdarah.
Saat Tedi sedang lengah, Brian segera menendang Tedi yang membuat Tedi terlempar cukup jauh. Melihat itu, Brian segera mendekati Embun. Setelah melihat luka di leher Embun tidak berbahaya, Brian segera melepaskan ikatan di mulut dan tubuh Embun.
" Maaf." Brian memeluk Embun erat. Mendengar kata - kata Brian, pecahlah tangis Embun. Brian melepaskan pelukannya dan menghapus air mata Embun.
Saat itu Embun melihat Tedi yang berlari mendekat ke arah mereka.
" Brian awas!!!"
Brian menoleh ke belakang, tapi dia kalah cepat. Tedi sudah tepat di depannya dan menancapkan pisau disamping pinggangnya. Brian langsung menendang perut Tedi keras, sampai Tedi berlutut memegangi perutnya.
Embun kaget melihat kejadian itu, tapi yang lebih membuatnya kaget ketika melihat Brian dengan santainya mencabut pisau yang menancap di pinggangnya. Embun mendekati Brian, dia memegang luka Brian agar tidak mengeluarkan banyak darah.
Saat itu Tedi bangun, dan kembali mengacungkan pisau ke arah Brian. Melihat itu, Brian segera menarik Embun ke pelukannya.
" Tutup mata kamu." Perintah Brian. Embun segera menutup matanya. Saat itu, Brian segera mengeluarkan pistol berperedam suara dari sakunya dan menembak Tedi tepat di dadanya. Tedi langsung tersungkur, dan mengeluarkan banyak darah.
Embun membuka matanya dan syok melihat Tedi yang sudah berlumuran darah. Dia tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya. Saat Embun sedang bingung, tiba - tiba Brian terjatuh. Embun kaget, tapi dia segera meletakkan kepala Brian dipangkuannya.
" Brian, bangun. Brian!!" Embun menepuk nepuk pipi Brian. Embun lega ketika Brian membuka matanya.
__ADS_1
" Maukah kamu menikah denganku?" Kata Brian sebelum kehilangan kesadarannya.
Tanpa banyak berpikir, Embun langsung mengangguk. Brian tersenyum dan langsung kehilangan kesadarannya karena kehilangan banyak darah. Embun menangis sejadi jadinya, melihat Brian yang menutup matanya.