Hanya Bayanganmu

Hanya Bayanganmu
Bertengkar


__ADS_3

Setelah mempersiapkan diri cukup lama, akhirnya tiba saatnya ujian nasional. Dan hari ini adalah hari terakhir ujian. Embun yang sudah selesai mengerjakan memilih keluar kelas dan menuju ke kantin. Dia memesan jus alpokat dan duduk di sudut kantin. Embun menelungkupkan wajahnya di meja, dia menghela nafas lega karena ujian sudah berakhir. Tak berapa lama, Embun mengangkat wajahnya karena merasa ada yang menarik rambutnya. Dia melihat Brian duduk di depannya. Embun menatap malas dan kembali menelungkupkan wajahnya. Tapi Brian menarik rambutnya lagi, Embun menatap Brian kesal.


"Apa sih, kalau gak ada yang penting mending pergi saja." Usir Embun.


"Jalan yuk." Kata Brian.


Embun menatap Brian dan mengerutkan alisnya.


"Kamu lagi gak kesambetkan?" Embun menatap intens Brian. Sedangkan Brian balas menatap Embun dan tersenyum.


"Kenapa, memangnya mesti kesambet dulu baru ngajak kamu jalan? Kamu mau pergi kemana? Pantai, taman hiburan, kebun binatang, apa mau nonton? Cepat mau kemana?" Brian memberondong Embun dengan banyak pertanyaan.


Baru kali ini Embun melihat Brian yang banyak bicara dan bisa berbicara santai dengannya. Mulut Embun sampai menganga karena terkejut. Embun tersadar ketika Brian menjentikkan jarinya di depan wajah Embun.


"Lalat bisa masuk kalau kamu terus buka mulut kamu kaya gitu." Kata Brian.


Embun menutup mulutnya dengan tangan dan kembali menatap Brian. Dia masih penasaran dengan perubahan sikap Brian.


"Kenapa natap aku kaya gitu? Sudah mulai jatuh cinta sama aku?" Kata - kata Brian ini tentu semakin membuat Embun shock.


Seorang Brian yang awalnya dingin dan irit bicara seperti kulkas 2 pintu, sekarang bisa berubah 180°. Embun sampai bergidik ngeri, dia sampai berpikiran kalau Brian kemasukan roh penunggu sekolah. Embun memegang dahi Brian untuk memastikan.


"Kamu lagi gak sakitkan? Apa perlu aku antar ke dokter?" Tanya Embun dengan nada khawatir.


"Aku sehat." Jawab Brian singkat.


"Kalau gak kita ke orang pintar saja, gimana?" Bujuk Embun.


"Kamu kira aku kerasukan?" Brian menyentil dahi Embun. Dia tidak menyangka Embun punya pikiran aneh seperti itu padanya.


"Terus kenapa kamu tiba - tiba berubah? Apa jangan - jangan kamu itu hantu yang menyamar jadi Brian?" Embun bergidik ngeri.


"Gak usah berpikirin aneh - aneh." Sekali lagi Brian menyentil dahi Embun.


"Aduh.. Terus kenapa kamu berubah?" Embun mengusap dahinya.


"Berubah bagaimana? Aku tetap Brian yang tampan dan cool."


"Nah kaya gini,, kalau Brian yang aku kenal gak akan ngomong narsis kaya sekarang. Brian itu kaya kulkas 2 pintu, dingin dan irit bicara." Jelas Embun.

__ADS_1


"Kamu suka yang mana?" Brian mendekatkan wajahnya ke wajah Embun.


Jarak mereka berdua sangat dekat, sampai Embun bisa merasakan nafas Brian di wajahnya. Embun refleks mendorong jauh wajah Brian.


"Ngapain sih deket - deket. Ntar pada mikir macam - macam lagi." Usir Embun.


"Bagus dong, biar mereka tahu kamu milik siapa." Jawab Brian santai.


"Maksud kamu apa? Aku gak mau ya, gara - gara ulah kamu aku jadi jomblo abadi. Tak sentil ginjal kamu." Ancam Embun.


"Hahaha, kamu gak mungkin jadi jomblo. Kan masih ada aku." Brian tertawa dan mengacak - acak rambut Embun.


"Kata siapa aku mau sama kamu? Gak usah kepedean ya." Embun merapikan rambutnya yang berantakan.


"Kamu tahu." Brian menatap Embun serius dan menjeda kalimatnya.


"Aku gak akan nahan diri lagi. Aku akan tunjukin kalau aku serius sama ucapan aku ke kamu waktu itu." Brian beranjak dari duduknya dan mengambil tas Embun.


"Ayo pergi."


Brian pergi mendahului Embun. Sedangkan Embun masih terpaku di tempat. Dia masih mencerna kata - kata Brian. Embun sadar ketika mendengar suara teriakan Brian memanggil namanya. Dan mau tidak mau Embun akhirnya pergi mengikuti langkah Brian.


...*************...


"Pengumuman kelulusan Embun kapan?" Tanya pak Ardi membelai kepala putri kesayangannya itu.


"Minggu depan yah. Ayah datangkan?"


"Insyallah ayah datang. Embun sudah putusin mau kuliah dimana?" Tanya pak Ardi.


"Sudah yah. Tapi kampus pilihan Embun bukan kampus favorit kaya kampus mas Bima. Gak apa - apa?" Tanya Embun was - was.


"Gak masalah buat ay ah, yang penting Embun nyaman kulia disitu dan serius kuliahnya." Terang pak Ardi.


"Makasih yah." Peluk Embun.


Pak Ardi bangkit dari duduknya dan akan beranjak pergi. Tapi beliau menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Embun.


"Apa Embun tahu kalau Raka akan melanjutkan kuliah di luar negeri?" Tanya pak Ardi.

__ADS_1


Embun menoleh ke arah ayahnya dan tanpa pikir panjang langsung berlari ke luar rumah.


"Ayah, Embun ke luar sebentar." Kata Embun.


"Jangan pulang malam - malam." Pak Ardi mengijinkan Embun keluar, karena beliau tahu kemana tujuan Embun.


Setelah keluar rumah, Embun langsung berlari ke rumah Raka. Dia memencet bel dan menunggu di depan gerbang. Tak berapa lama ada yang membuka gerbang, dan ternyata itu adalah Raka.


"Ada apa malam - malam kamu ke sini?" Tanya Raka.


"Apa benar kamu mau ngelanjutin kuliah di luar negeri?" Tanya Embun serius.


"Masuk." Raka menyuruh Embun masuk. Dia berjalan dan duduk di bangku taman, Embun mengikuti Raka dan duduk di sampingnya.


"Aku mau ngelanjutin kuliah di Inggris." Raka membuka percakapan karena selama beberapa saat mereka hanya diam saja.


"Kenapa gak kuliah di sini saja? Kampus di sini juga gak kalah dengan di sana?"


"Kakek yang urus semua." Jawab Raka.


"Jadi kamu lakuin itu semua karena keinginan kakek Danu? Apa kamu gak punya keinginan sendiri? Dari kuliah sampai jodoh juga itu semua sudah diatur kakek?!" Embun berkata dengan sedikit emosi.


"Memangnya kenapa? Apa salah kalau aku menuruti keinginan kakek aku!" Raka berkata dengan nada tinggi, dia tidak bisa mengontrol emosinya.


"Jelas salah. Kamu pasti punya rencana sendiri buat hidup kamu, gak mesti ikut keinginan kakek." Balas Embun.


"Kalau kamu datang cuma mau ngajak ribut sebaiknya kamu pulang saja!" Usir Raka.


Embun menatap Raka tajam. Dia benar - benar kesal pada sikap Raka. Embun pergi meninggalkan Raka tanpa mengucapkan sepatah katapun. Raka sendiri hanya menatap kepergian Embun dengan sorot mata yang memancarkan kesedihan.


"Aku gak maksud buat bentak kamu." Kata Raka lirih.


Cukup lama Raka berdiam diri di tempatnya. Dia merasa sangat bersalah pada Embun. Sebenarnya dia tidak ingin bertengkar dengan Embun. Dia marah pada dirinya sendiri kenapa tidak bisa mengendalikan emosinya. Raka beranjak dari duduknya dan akan melangkah ketika dia melihat mamanya sedang menatapnya.


Bu Intan menatap sedih putranya. Beliau tahu betul apa yang dirasakan Raka saat ini. Bu Intan berjalan mendekati Raka dan memeluknya.


"Mama dukung kalau kamu mau ubah keputusan kamu." Bu Intan menepuk - nepuk punggung Raka pelan.


"Gak Ma, Raka gak akan ubah keputusan Raka." Jawab Raka.

__ADS_1


"Maafin mama." Bu Intan menangis dipelukan Raka.


"Mama gak perlu minta maaf. Semua akan baik - baik saja." Raka memeluk mamanya erat dan menghapus air matanya tanpa sepengetahuan mamanya. Dia tidak mau mamanya sedih dan merasa bersalah karena melihat kerapuhannya.


__ADS_2