Hanya Bayanganmu

Hanya Bayanganmu
Perang Pagi Hari


__ADS_3

Setelah makan malam, seperti biasa keluarga pak Ardi berkumpul di ruang tv. Embun nonton tv sambil berbaring di karpet. Dia terus saja mengganti chanel tv, yang tentu saja membuat Bima kakaknya kesal.


"Sebenarnya kamu mau nonton apa sih, dari tadi gonta ganti terus?" Tanya Bima kesal. Dia berusaha merebut remote dari tangan Embun, tapi Embun dengan sigap menyembunyikan di balik bajunya.


Tentu saja itu membuat Bima bertambah kesal. Dia mengambil bantal kursi, dan melemparkannya ke arah Embun namun tidak kena.


Embun menjulurkan lidah ke Bima, dan balik memukul Bima dengan bantal itu.


Kedua orang tua mereka cuma bisa menggelengkan kepalanya. Kedua kaka beradik itu memang kelakuannya tidak berubah dari dulu. Kalau bersama selalu saja bertengkar.


"Mbun, rencananya kamu mau nglanjutin kuliah di mana?" Pak Ardi memulai percakapan.


Mendengar pertanyaan ayahnya, Embun berhenti memukul kakaknya. Dia duduk disamping ibunya.


"Belum tahu yah, Embun masih bingung." Jawab Embun.


"Bukan bingung yah, lebih tepatnya gak ada kampus yang bisa nerima Embun. Ha ha ha." Setelah berkata seperti itu, sebuah bantal melayang ke muka Bima.


"Kuliah di tempat Bima saja." Usul bu Lastri.


"Gampang bu, Embun juga belum tahu mau ngambil jurusan apa." Kata Embun.


"Kamu harus mulai pikirin dari sekarang, karena itu nyangkut masa depan kamu." Kata pak Ardi.


"Pilih universitas yang sesuai dengan jurusan yang kamu inginkan. Gak harus kampus favorit, pilih sesuai dengan keinginan Embun. Ngertikan?" Tanya pak Ardi membelai rambut Embun.


"Iya yah, Embun ngerti." Embun tersenyum.


"Lagian Embun juga gak bakal diterima di universitas favorit yah. Pas pembagian otak diakan telat" Sahut Bima.


"Bima.." Bu Lastri melotot pada Bima.


Embun menatap tajam kakaknya. Sedangkan Bima menjulurkan lidahnya meledek Embun. Embun yang tidak terima menerjang Bima dan menggigit tangannya.


"Aahhhh!!" Bima teriak dan mendorong kepala Embun.


Bu Lastri berusaha melerai kedua anaknya, sedangkan pak Ardi hanya tersenyum dan melanjutkan menonton tv. Baginya hal ini akan menjadi cerita dan kenangannya kelak ketika sudah tidak bersama - dengan kedua anaknya.


...************...


"Bu, Embun berangkat dulu ya." Embun pamit untuk berangkat sekolah. Dia mencium tangan ibunya.


"Iya hati - hati. Belajar yang rajin sayang." Kata bu Lastri


"Iya bu. Assalamualaikum."


"Waalaikum salam." Jawab bu Lastri.


Saat keluar , Embun melihat Raka sudah berdiri di luar rumah. Raka berdiri memunggungi Embun, dan Embun yang jahil berjalan mengendap - endap mendekati Raka.

__ADS_1


"Dorrr!"


Raka kaget mengelus dadanya. Raka berbalik dan melihat Embun yang tertawa sampai memegang perutnya. Raka langsung mendekat dan mengunci leher serta mengacak - acak rambut Embun. Setelah puas Raka melepaskannya. Melihat penampilan Embun yang sekarang, tentu saja membuat Raka tidak bisa menahan tawa.


"Kamu kaya gembel." Kata Raka sambil tertawa.


Embun kesal sekali, dia langsung menyerang Raka dan menjambak rambutnya.


"Aakkhh. Lepasin!!" Teriak Raka.


"Gak!!!" Jawab Embun tetap menarik rambut Raka. Karena Embun tidak mau melepaskan rambutnya, akhirnya Raka juga menarik rambut Embun.


"Raka lepasin rambut aku gak?!!" Teriak Embun.


"Kamu lepasin rambut aku dulu!" Perintah Raka.


Tapi sayangnya mereka sama - sama keras kepala dan tidak mau mengalah.


Bu Lastri yang mendengar keributan langsung keluar rumah. Betapa kagetnya dia melihat pemandangan di depannya. Bu Lastri mendekat dan menyuruh mereka berdua untuk berhenti. Tapi Embun dan Raka tidak mendengarkan dan masih saja menarik rambut masing - masing. Karena perintahnya tidak didengar, akhirnya bu Lastri menarik telinga Embun dan Raka.


"A..Aakhhh." Teriak Embun dan Raka bersamaan.


"Ibu sakit." Rengek Embun.


Bu lastri melepaskan tangannya. Dia memandang kedua anak itu tajam. Raka benar - benar takut melihat kemarahan bu Lastri dan menundukkan kepalanya.


"Ini Raka mulai duluan." Tunjuk Embun pada Raka.


"Bukan tante, Embun yang mulai." Bela Raka.


"Sudah diam! Ibu gak mau tahu siapa yang mulai duluan. Sekarang kalian semua berangkat sekolah. Kalau ibu lihat kalian bertengkar lagi, ibu pastikan telinga kalian putus!" Ancam bu Lastri.


Embun dan Raka kompak berpamitan pada bu Lastri dan berlalu pergi. Tapi bu Lastri masih melihat mereka saling mendorong dengan lengan ketika berjalan menjauh.


"Dasar anak - anak." Bu Lastri menggelengkan kepalanya.


"Ada apa bu?" Tanya pak Ardi mengagetkan bu Lastri.


"Ayah, bikin ibu jantungan saja." Bu Lastri memukul lengan suaminya.


"Maaf bu.Tadi ayah dengar ada ribut - ribut?" Tanya pak Ardi.


"Biasa yah. Tikus sama kucing jambak - jambakan." Terang bu Lastri.


"Hahaha. Ada - ada saja kelakuan mereka berdua. Untung mereka cuma berteman, coba kalau pasangan bisa geger dunia persilatan." Kata pak Ardi bergurau.


Bu Lastri termenung mendengar perkataan suaminya. Tentu suaminya tidak akan berkata seperti itu bila tahu perasaan Embun yang sebenarnya.


"Bu kok nglamun. Ayah berangkat dulu." Pak Ardi menyadarkan bu Lastri dari lamunannya.

__ADS_1


"Eh iya yah. Semangat kerjanya ya, hati - hati di jalan." Bu Lastri mencium tangan suaminya.


Pak Ardi membelai kepala istrinya dan pamit pergi.


...************...


Embun masuk kelas dengan wajah ditekuk. Dia melempar tas ke meja dan langsung duduk di kursinya dengan kesal. Dewi yang sedang bermain ponsel tentu saja kaget akan ulah temannya ini.


"Kamu kenapa sih, pagi - pagi dah marah - marah." Tanya Dewi kesal.


"Rambut kamu kenapa?" Lanjut Dewi memegang rambut Embun.


"Sebel baget aku sama Raka. Pagi - pagi dah ngajakin ribut." Jelas Embun.


"Jangan bilang tadi kamu tarik - tarikan rambut sama Raka?" Dewi penasaran.


Embun tidak menjawab pertanyaan Dewi. Dan dari diamnya Embun, Dewi sudah tahu jawabannya.


"Terus habis jambak - jambakan kamu langsung berangkat gitu?" Tanya Dewi.


"Ya iyalah, terus mesti ngapain lagi? Gak langsung berangkat bisa - bisa telinga aku putus dijewer sama ibu." Keluh Embun.


"Kamu tuh lugu apa gimana sih. Apa gak bisa masuk rumah terus nyisir rambut dulu." Dewi mendorong kening Embun dengan telunjuknya.


"Memangnya kenapa?" Tanya Embun polos.


Dewi menepuk dahinya. Dia membuka tas dan mengambil cermin dan memberikannya pada Embun.


Embun bercermin dan kaget melihat penampilannya.


"Hahahaha, ternyata benar kata Raka. Aku kaya gembel." Embun tertawa sambil bercermin.


Dewi mencubit kedua pipi Embun karena gemas.


"Dah rapiin rambut kamu dulu." Dewi menyisir rambut Embun yang kusut.


"Mbun, kamu tahu Raka nikahnya kapan?" Tanya Dewi.


Embun mengangkat kedua bahunya tanda dia tidak tahu. Dan Embun juga memang tidak punya niat untuk mencari tahu.


"Tapi Mbun, kamu masih punya kesempatan untuk dapetin Raka loh. Kan janut kuning belum melengkung." Kata Dewi.


Selesai bicara, Dewi langsung mendapat jitakan di kepalanya.


"Apaan sih."


"Dengar ya Wi, sesuka sukanya aku sama Raka. Aku gak mau ya jadi pelakor."


" Siapa yang mau jadi pelakor?" Tanya suara di belakang Embun.

__ADS_1


__ADS_2