
Embun masih penasaran kenapa Brian memindahkannya ke ruangan itu. Karena bisa dibilang dia cuma pindah
ruangan kerja saja, pekerjaannya pun masih sama dengan yang dulu. Embun beranjak dari duduknya dan ingin bertanya pada Brian, tapi ia urungkan ketika melihat Brian yang sedang sibuk. Embun memilih kembali duduk dan mulai mengerjakan tugasnya seperti biasa. Brian mengulas senyum melihat Embun, dan dia kembali tenggelam dengan pekerjaannya.
Di sela – sela kesibukannya, Embun mengendus – enduskan hidungnya. Dia seperti mencium aroma makanan
kesukaannya. Sepertinya cacing di perut Embun juga kelaparan, itu terbukti dengan terdengar suara perut Embun yang keras.
KRUUYUUKK KRUUYUUKK
Embun memegangi perutnya, dia menoleh ke sekitar dan melihat Aldo yang menutup mulutnya seperti menahan tawa.
“ Sepertinya sudah jam istirahat.” Embun tersenyum menahan malu. Melihat tingkah Embun, meledaklah tawa Aldo. Dia mendekati Embun dan langsung mencubit kedua pipi Embun. Aldo segera melepaskan tangannya
dari pipi Embun ketika mendengar suara deheman dari belakangnya. Aldo dan Embun kompak menoleh ke belakang, dan mereka melihat Brian yang menyilangkan kedua tangannya menatap tajam ke arah Aldo.
“ Sorry bro kelepasan.” Aldo menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sebelum kembali ke tempatnya Aldo berbisik
pada Embun dan Embun langsung memukul lengan Aldo.
Brian melambaikan tangannya pada Embun, dan menyuruhnya duduk di meja makan. Embun menuruti Brian dan duduk di kursi itu. Embun kini tahu alasan cacing di perutnya sudah berdemo. Embun melihat meja di depannya sudah tersedia steak dan segelas jus jeruk. Embun sudah menelan ludahnya, dan terus menatap makanan di depannya. Brian mengambil garpu dan pisau lalu menaruhnya di tangan Embun.
“ Ayo makan.” Kata Brian. Tapi Embun tidak langsung makan dan hanya menatap makanan itu. Brian urung memasukkan steak ke mulutnya dan menatap Embun penasaran.
“ Kenapa tidak di makan, apa kamu tidak suka dengan makanannya?” Tanya Brian.
“ Apa kita hanya makan berdua saja? Bagaimana dengan Aldo dan Kris?” Embun melihat ke arah Aldo dan Kris yang masih sibuk dengan dokumen – dokumen.
“ Mereka bisa makan nanti.” Jawab Brian santai lalu memasukkan steak ke mulutnya.
“ Benar kamu makan saja, tidak perlu memikirkan kami. Anggap saja kami tidak ada. Iya kan Kris?” Kata Aldo yang dijawab anggukan oleh Kris.
Melihat Embun yang belum juga menyentuh makanannya, Brian meletakkan peralatan makannya dan menatap Embun.
__ADS_1
“ Kenapa?” Tanya Brian. Embun menoleh ke arah Aldo dan Kris lalu menyuruh Brian mendekat padanya. Brian mencodongkan badannya ke depan, lalu Embun berbisik di telinga Brian.
“ Sepertinya cacing di perut aku tidak akan kenyang hanya makan itu, bisa aku pesan makanan lain?”
Brian tersenyum mendengar kata – kata Embun dan mengacak – acak rambutnya gemas.
“ Kenapa tidak bilang dari tadi? Aldo pesan semua makanan terenak di restoran dan suruh antar ke sini!” Perintah Brian. Aldo kaget mendengar perintah Brian, dia menoleh ke arah Embun dan melihat Embun yang meringis padanya. Aldo yang tahu bagaimana kalau Embun makan pun paham, dia mengacungkan jempolnya pada Embun yang di balas juga acungan jempol oleh Embun. Aldo segera menelefon restoran dan memesan makanan yang banyak. Kris yang penasaranpun bertanya pada Aldo.
“ Kenapa pesan makanan banyak sekali? siapa yang akan menghabiskannya?” Aldo diam saja dan hanya menunjuk Embun dengan dagunya. Kris tentu saja tidak percaya, bagaimana gadis kecil seperti Embun bisa menghabiskan makanan sebanyak itu.
Embun dan Brian memilih makan di sofa, karena meja makan itu tentu tidak akan muat menampung semua makanan yang Brian pesan. Embun terlihat berbinar ketika makanan datang, dia sudah memegang sendok dan tidak sabar untuk menyantapnya. Kris mengucek matanya melihat makanan yang ada di meja, menurut dia itu adalah porsi makanan yang bisa dihabiskan oleh 7 orang.
Kris kehabisan kata – kata ketikamelihat Embun makan. Dia kini paham kenapa Brian menyuruh Aldo untuk memesan makanan lagi. Dia mendekati Aldo dan menyenggol lengannya.
“ Sudah berapa hari dia tidak makan? Melihatnya makan sudah membuat aku kenyang.” Tanya kris pelan. Aldo hanya tertawa mendengar kata – kata Kris.
“ Dulu aku juga berpikiran kaya kamu.” Jawab Aldo. Kris menganggukan kepalanya, dan kembali melihat Embun yang sedang makan. Terlihat kris tersenyum tipis, Aldo mengernyitkan alisnya karena jarang sekali dia melihat Kris yang tersenyum.
“ Tumben kamu tersenyum?” Tanya Aldo. Mendengar pertanyaan Aldo, Kris berdehem dan kembali memperlihatkan wajah datarnya. Aldo menggelengkan kepala melihat sikap sahabatnya itu.
Embun menghentikan makannya dan melihat ke arah Brian. Dia juga menoleh ke arah Aldo dan Kris bergantian.
“ Kenapa kalian tidak ikut makan?”Tanya Embun.
“ Kamu habiskan saja. Kalau mau nambah kamu bisa bilang sama Aldo.” Jawab Brian
“ Tapi apa kalian tidak lapar? Lebih enak kalau makan sama – sama.” Embun segera berdiri dan menarik Aldo serta Kris untuk duduk di sofa, dan kemudian duduk di samping Brian.
“ Nah kalau beginikan namanya makan siang bareng. Ayo kalian juga makan.” Ajak Embun. Namun Aldo dan Brian
hanya diam dan melirik Brian. Embun yang melihat tingkah kedua orang di depannya, langsung menyenggol lengan Brian dan memberi tatapan tajam.
“ Gak papakan kita makan bareng?” Embun memperlihatkan senyumnya. Brian berdehem dan menyuruh mereka untuk makan. Mendengar itu, Aldo tanpa ragu langsung mengambil makanan. Sedangkan Kris masih ragu, dan hanya mengambil sedikit makanan.
__ADS_1
Embun tersenyum senang, dia juga mengambil makanannya. Embun menyendok makanan dan menyuapkannya pada Brian. Brian langsung membuka mulutnya dan memakan makanan yang disuapkan oleh Embun. Aldo sampai tercengang melihat pemandangan di depannya. Sedangkan Kris sampai tersedak makanan yang sedang dia kunyah.
*****
Sudah menjelang sore dan Embun berniat untuk pulang. Embun mengambil tas dan berjalan mendekati Brian yang
sedang duduk di sofa bersama dengan Aldo dan juga Kris. Mereka bertiga terlihat begitu sibuk, nampak jelas dari banyaknya berkas yang menumpuk di meja. Brian melihat Embun yang berdiri di depannya, dia meletakkan berkas dan menatap Embun lembut.
“ Kamu sudah mau pulang? Ayo aku antar.” Brian akan berdiri dari duduknya tapi Embun segera mencegahnya.
“ Kamu gak perlu nganterin aku, aku bisa pulang sendiri. Lagian kost aku juga dekat, kamu selesain aja pekerjaan kamu.” Kata Embun.
“ Kamu yakin? Kalau gak biar Aldo atau Kris yang nganterin kamu pulang.”
“ Gak usah aku pulang sendiri saja. Dah.” Embun langsung kabur sebelum bisa dicegah oleh Brian. Brian
tersenyum, dan kembali melanjutkan pekerjaannya. Sebenarnya dia ingin mengantar Embun pulang, tapi banyak sekali dokumen yang harus dia periksa dan harus selesai hari ini juga.
Embun yang sudah keluar dari ruangan Brian segera menaiki lift dan turun ke lantai bawah. Setelah sampai di lobi, Embun memesan ojek online dan menunggu di depan kantor. Tak berapa lama ojek yang dia pesan datang. Setelah mengkonfirmasi Embun segera naik, dan ojek itupun pergi meninggalkan kantor menuju kost Embun.
Hanya butuh waktu 10 menit, Embun sudah sampai di kostnya. Embun segera turun dan membayar, setelah ojek pergi Embun segera berjalan masuk ke kostnya. Embun melihat kost itu masih tampak sepi, karena banyak penghuninya yang belum pulang kerja. Embun akan membuka pintu kostnya, ketika dia merasakan ada yang membekap mulutnya. Embun merasakan tiba – tiba pandangannya kabur dan semuanya menadi gelap , dan tidak lama kemudian Embun tidak sadarkan diri.
******
Bagaimana nasib Embun? Dan yang penasaran dengan Raka tunggu
saja ya.
Tetap dukung karya Author ini.
Jangan lupa untuk like, komen, vote, dan pencet favorit agar
teman – teman bisa update bab baru
__ADS_1
Terima Kasih