
Embun yang kaget mendengar kata - kata Raka hanya bisa diam dan pandangannya kosong. Raka yang melihat Embun diam mengguncang - guncangkan bahunya. Tak berapa lama Embun tersadar, dan menatap Raka dengan pandangan sedih.
"Kenapa mendadak sekali?" Tanya Embun. Dia menundukkan wajahnya agar Raka tidak melihat kesedihannya.
"Kakek nyuruh aku untuk berangkat setelah pengumuman kelulusan. Semua persiapan untuk kuliah juga sudah selesai, dan kebetulan aku juga sudah diterima di universitas terbaik di sana." Jelas Raka terus menatap Embun.
"Apa kamu gak bisa nolak keinginan kakek kamu?" Tanya Embun lirih, dia mencoba untuk menahan diri agar tidak menangis.
"Maaf." Hanya itu kata - kata yang keluar dari mulut Raka. Terlihat dia mengepalkan tangannya.
Embun mengusap matanya yang sedikit basah dengan punggung tangannya. Dia menatap Raka dan menunjukkan senyumnya.
"Kamu hati - hati di sana, sukses ya. Jangan lupain teman - teman di sini." Embun mengulurkan tangannya, dia berusaha untuk terlihat tegar.
Raka menatap tangan Embun cukup lama. Raka menyambut uluran tangan Embun dengan tangan yang bergetar. Embun tersenyum dan akan melepaskan jabatannya. Tetapi tanpa diduga, Raka menarik Embun kedalam pelukannya. Awalnya Embun berusaha untuk melepaskan pelukan Raka, tapi Embun merasakan tubuh Raka yang bergetar. Untuk pertama kalinya, Embun melihat Raka menangis.
Dengan sedikit ragu, Embun membalas pelukan Raka. Ditepuknya punggung Raka pelan. Dia berharap itu bisa memberi sedikit kekuatan untuk Raka.
"Itu pasti sulit untuk kamu. Maaf karena aku sudah berpikiran egois. Kamu tahu Ka..Kamu hebat sudah bisa mengambil keputusan yang besar untuk masa depan kamu."
Raka melepaskan pelukannya dan memandang Embun lekat. Terlihat gurat lelah dan kesedihan di wajahnya.
"Maaf."
"Mau berapa kali kamu minta maaf. Lebaran masih lama loh." Canda Embun.
Raka tersenyum dan mengacak - acak rambut Embun. Embun mengambil tisu dari tas dan menyerahkannya pada Raka.
"Lap tuh ingus kamu. Masak mau ke Inggris malah ingusan." Gurau Embun.
Raka membersihkan wajahnya dan mengembalikan tisu itu pada Embun.
"Ihh jorok banget sih." Embun melemparkan tisu itu, sedangkan Raka hanya tertawa.
"Aku di sana cuma 4 tahun. Jangan ganti nomor, aku akan sering hubungin kamu."
Embun menganggukkan kepalanya dan tersenyum. Embun menarik tangan Raka dan menautkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Raka. Raka melihat jarinya dan tersenyum, kemudian mereka meretkan jempol masing - masing.
"Sah." Kata mereka dan itu membuat mereka tertawa bersama - sama.
"Aku pergi dulu." Embun mengangguk. Setelah itu Raka meninggalkan Embun dan berjalan masuk ke mobil.
Mobil yang Raka tumpangi berjalan meninggalkan halaman sekolah. Embun hanya bisa menatap mobil itu sampai tidak terlihat. Embun menghembuskan nafasnya dan berbalik, Embun tertegun menatap Brian di depannya. Brian yang melihat semua kejadian tadi, menatap Embun dengan tatapan yang sulit diartikan. Embun menunduk dan berjalan melewati Brian, namun langkahnya terhenti karena mendengar kata - kata yang Brian ucapkan.
"Kenapa tidak kamu ungkapkan perasaan kamu?"
__ADS_1
"Buat apa? Itu tidak akan merubah apapun." Embun berbalik menghadap Brian. Brian melihat kesedihan di mata Embun.
"Tapi setidaknya Raka bisa tahu perasaan kamu selama ini. Kamu tidak ingin menyesalkan?"
"Kalau Raka tahu perasaan aku, apa dia akan membatalkan perjodohan dan kuliahnya di luar negeri? Tidak..tidak, apa dia juga punya perasaan yang sama?" Tanya Embun.
"Mungkin saja.." Belum selesai Brian menjawab, Embun sudah melanjutkan kata - katanya.
"Mungkin ya?"
"Aku tidak mau berharap dengan kata mungkin Bri, dan aku juga tidak mau menghancurkan hati dan harapan banyak orang. Kamu ngerti maksud akukan?" Terang Embun.
"Tapi apa kamu bahagia dengan semua ini?"
"Brian.. Apa benar kamu suka sama aku?" Pertanyaan Embun ini tentu saja membuat Brian terkejut. Tapi dia tanpa ragu menjawab pertanyaan itu.
"Tentu saja, apa kamu masih meragukannya?" Tanya Brian balik.
Embun menatap Brian dan tersenyum penuh arti. Brian tentu saja dibuat bingun oleh Embun.
"Lalu kenapa kamu dukung aku buat nyatain perasaan aku sama Raka. Bukannya itu malah akan ngerugiin kamu kalau seandainya Raka menerima perasaan aku."
"Tentu saja itu akan ngerugiin aku, bahkan aku akan sangat dirugikan. Aku tidak munafik, kalau aku senang Raka pergi. Tapi di sisi lain aku juga tidak mau lihat kamu sedih terus, aku ingin lihat kamu bahagia. Tentu kamu akan bahagia kalau lihat orang yang kamu sayangi bahagiakan?" Tanya Brian.
Embun mendekati Brian dan menepuk dahi Brian dengan telapak tangannya.
Brian terdiam dan merenungi kata - kata Embun.
"Masuk yuk, teman - teman pasti sudah menunggu." Embun berjalan meninggalkan Brian.
"EMBUN.. "
Embun menoleh karena mendengar teriakan Brian yang memanggil namanya.
"Aku gak akan menyerah, aku yang akan buat kamu bahagia dengan begitu aku juga akan bahagia." Embun tersenyum dan mengangguk, dia merasakan ketulusan dan tidak ada keraguan di kata - kata Raka.
...*************...
Hari wisuda pun tiba, semua siswa kelas 3 masuk dan duduk di kursi yang ada di gedung aula. Embun memakai kebaya warna ungu muda serta dengan riasan minimalis, tapi walau begitu Embun terlihat cantik dan anggun. Tak hentinya dia menebar senyum kepada teman - temannya.
Setelah serangkaian acara, akhirnya acara wisuda selesai. Raka yang mendapatkan nilai terbaik diujian nasional, hanya diwakilkan oleh ayahnya saat menerima penghargaan. Sedangkan Embun sudah berpuas diri bisa lulus walau dengan nilai yang pas - pasan.
Embun sedang berfoto bersama teman - temannya ketika Brian datang mendekatinya. Brian memberikan buket bunga dan boneka minion ukuran besar kepada Embun. Embun menerima hadiah itu dengan susah payah karena ukuran boneka yang besar dan hampir menutupi tubuhnya.
"Apa tidak ada yang lebih besar lagi?" Sarkas Embun.
__ADS_1
"Ada, kapan - kapan aku bawakan." Jawab Brian santai. Embun mencibirkan bibirnya ke arah Brian yang tidak peka.
Saat itu terlihat orang tua Embun datang mendekat. Mereka tersenyum melihat Embun yang terlihat kesulitan memegang buket dan boneka besar.
"Embun, boneka dari siapa itu? Kenapa ukurannya kecil sekali?" Goda bu Lastri. Embun cemberut dan menunjuk Brian dengan dagunya. Sedangkan Brian tersenyum dan menyapa orang tua Embun.
"Jadi ini calon mantu ayah?" Kata pak Ardi. Embun menyikut lengan ayahnya dan memelototinya.
"Jangan dengerin kata - kata ayah aku ya, Belia suka bercanda." Embun tersenyum kaku.
"Salam kenal om, saya Brian." Brian memperkenalkan diri.
"Jangan panggil om dong, panggil saja ayah mertua." Goda pak Ardi. Kata - kata ayahnya itu, sukses membuat Embun mati kutu.
Brian yang mengetahui sedang digoda ayahnya Embun cuma tersenyum. Dia baru tahu kalau keluarga Embun dekat satu sama lain tidak seperti keluarganya yang berantakan. Brian merasakan kehangatan dari keluarga Embun. Brian tersadar dari pikirannya ketika pak Ardi menepuk pundaknya.
"Kami mau makan di restoran merayakan kelulusan Embun, nak Brian mau ikut juga?" Tanya pak Ardi.
Brian sebenarnya ingin ikut, tapi dia urungkan karena melihat orang berjas hitam yang terus memperhatikannya.
"Maaf om, sepertinya saya tidak bisa. Saya ada acara lain."
"Oh ya sudah, kami pergi dulu." Pak Ardi dan istrinya meninggalkan Brian. Embun akan menyusul kedua orang tuanya ketika tangannya ditahan oleh Brian.
"Ada apa?" Tanya Embun.
Untuk sesaat Brian hanya terdiam. Tak berapa lama dia melepaskan tangan Embun.
"Gak apa - apa. Pergi sana, nanti aku hubungi." Kata Brian. Embun tersenyum dan pergi meninggalkan Brian menyusul orang tuanya.
Setelah Embun pergi, wajah Brian berubah datar dan dingin. Dia berjalan mendekati orang berjas hitam tadi dan masuk ke dalam mobil.
...*************...
Halo pembaca
Karya aku ini ikut lomba penulisan dari Noveltoon
Tolong dukung ya,
Aku tunggu like, komen, dan votenya.
Jangan lupa pencet tanda❤
Maaf kalau banyak penulisan yang salah
__ADS_1
**T**erima kasih