Hanya Bayanganmu

Hanya Bayanganmu
Pesan Dari Raka


__ADS_3

Setelah wisuda, kini Embun sedang sibuk mengurus ijasah. Walaupun tidak setiap hari, tapi dia mesti bolak balik datang ke sekolah untuk menandatangi berkas - berkas. Embun sedang mempersiapkan berkas -berkas untuk mendaftar kuliah, yang otomatis dia butuh surat kelulusan sebelum ijasahnya keluar.


Seperti hari ini, Embun juga datang ke sekolah. Setelah selesai dengan urusannya, dia memilih makan di kantin. Sembari menunggu pesanan datang, Embun membuka hpnya. Dia melihat ada pesan dari Raka.


Kamu sudah di sekolah? (Raka)


Iya, ini sudah selesai. Kamu sendiri gimana, gak ada kendalakan? (Embun)


Kamu tahukan aku orangnya gimana? (Raka)


Sekarang kamu tinggal di luar negeri, kamu harus cepat beradaptasi dengan orang baru. Gak lucu banget mesti nunggu lama baru kamu punya teman. Buku gak bisa diajak ngegosip loh (Embun)


Memangnya aku jauh - jauh ke sini cuma nyari teman buat ngegosip? (Raka)


Siapa tahu (Embun)


Sampai beberapa menit belum ada balasan pesan dari Raka. Embun masih terpaku dengan hpnya sampai tidak menyadari kalau Dewi duduk di depannya.


”Lagi ngapain sih, seriua amat?”


Embun menatap ke depan, dan mendapati Dewi sedang oenyantap makanan yang dia pesan.


”Lagi ngeliatin kucing nyolong makanan aku." Embun melototkan matanya.


Dewi yang merasa disindir, meletakkan sendok dan tersenyum tanpa merasa bersalah.


”Habisnya dari tadi bengong saja, keburu makanannya dingin.” Dewi kembali menyendokkan makanan ke mulutnya. Embun memutar bola matanya malas, dan kembali sibuk berkutat dengan hpnya.


Dewi yang penasaran merebut hp yang Embun pegang. Embun yang kaget berusaha merebut kembali hpnya.


”Nih.” Setelah melihat isinya Dewi mengembalikan hp itu. Embun sendiri langsung memukul lengan Dewi karena kesal akan ulah temannya itu.


”Kamu masih intens komunikasi sama Raka?" Tanya Dewi yang dibalas anggukan Embun.


”Kamu gak takut nantinya gak bisa ngelepas dia?”


”Maksud kamu apa?.” Embun meletakkan hpnya di meja dan menatap Dewi lekat.


”Ingat Mbun, semakin intens kamu komunikasi dengan Raka maka akan semakin sulit buat kamu nglepasin dia. Rasa di hati kamu akan semakin besar, mending kalau Raka masih single lha ini dia juga sudah punya tunangan. Mau makan ati kamu?” Beber Dewi panjang lebar, dia tentu ingin yang terbaik buat Embun.


”Kamu boleh komunikasi sama Raka, tapi gak perlu kali setiap hari. Kaya orang LDR saja, nanti kalau tunangannya tahu bagaimana? Bisa runyam urusannya.” Lanjut Dewi.


Embun tidak membantah ucapan Dewi, karena dia tahu semua yang Dewi ucapkan itu benar. Embun terus termenung memikirkan kata - kata Dewi tadi. Dia jadi ingat kata - kata Vania dulu yang menyuruhnya untuk menjauhi Raka.

__ADS_1


”Sudah gak usah terlalu dipikirkan.” Kata Dewi menepuk punggung tangan Embun yang dibalas senyuman oleh Embun.


”Mbun, ngomong - ngomong kamu tahu kabar Brian gak?”Tanya Dewi


”Gak tuh. Terakhir aku ketemu pas wisuda, katanya mau hubungin aku tapi sampai sekarang dia gak hubungin aku sama sekali.” Jawab Embun.


”Terus kamu gak hubungin dia duluan?" Tanya Dewi lagi.


”Gak. Lagian buat apa aku hubungin dia.” Mendengar jawaban Embun, Dewi langsung berdiri dan memukul lengan Embun dengan keras.


PLAK


"DEWI!! Apa - apaan sih? Sakit tahu.” Embun mengusap lengannya yang sakit.


"Itu hukuman untuk orang yang gak punya perasaan kaya kamu." Timpal Dewi sengit.


"Memang aku harus gimana?" Tanya Embun balik.


”Apa susahnya sih hubungin dia dulu. Memangnya kamu gak tahu apa yang sudah dia lakukan buat kamu?”


”Aku tahu Wi, tapi sampai sekarang aku gak punya perasaan apa - apa sama dia. Aku cuma anggap dia tqeman. Aku gak mau ngasih harapan palsu sama dia, dengan pura - pura suka sama dia."


” Tapi setidaknya kamu bisa mencoba dari sekarang. Kamu gak mungkin terus terjebak perasaan dengan Raka. Brian itu tulus sama kamu Mbun.”


"Sekarang kamu tenangin pikiran dan hati kamu dulu, dan pikirkan ucapan aku tadi." Kata Dewi dan dia melanjutkan makannya. Sedangkan Embun cuma terdiam memandang hpnya yang terdapat pesan masuk tanpa berniat membuka pesan itu.


...*************...


Setelah pulang dari sekolah, Embun langsung masuk ke kamar. Dia langsung merebahkan tubuhnya di kasur. Embun merasakan tubuhnya sangat lelah hari ini. Terdengar suara ketukan pintu, dan terlihat kepala bu Lastri menyembul dari balik pintu.


"Kamu mau makan sekarang?” Tanya bu Lastri.


"Nanti saja bu, Embun capek banget.” Jawab Embun.


"Ya sudah kamu istirahat dulu, kalau kamu lapar makanannya sudah ibu siapkan di meja ya.”


"Iya bu, nanti Embun makan."


Setelah itu terdengar pintu kamar ditutup. Embun bangun dari kasur dan mengambil hp di tasnya. Dia membuka kotak pesan. Ada beberapa pesan dari Raka yang belum dia buka, kemudian Embun membaca pesan itu satu persatu.


Maaf baru balas, tadi aku baru bantuin mama aku bersih - bersih kamar. Aku belum cerita sama kamu ya, hari ini Vania datang. Karena dia belum dapat tempat tinggal, mama minta dia tinggal di sini (Raka)


Kamu sudah pulang? Maaf aku gak bisa langsung balas pesan kamu. Aku lagi di jalan jemput Vania di bandara. Kalau pulang hati - hati, langsung pulang gak usah keluyuran terus sama Dewi. (Raka)

__ADS_1


EMBUN PUTRI ANINDYA (Raka)


Kenapa gak balas pesan aku? (Raka)


Embun merasakan hatinya sakit membaca pesan dari Raka. Apalagi setelah tahu kalau Vania di sana dan akan tinggal di rumah Raka. Embun meletakkan hpnya di meja dan kembali


berbaring di kasur. Dia menatap langit - langit kamarnya.


”Benar kata Dewi, aku memang harus benar - benar melepaskan Raka.” Batin Embun.


Embun mencoba memejamkan matanya. Tapi baru beberapa menit dia mendengar pintu kamarnya di ketuk. Dengan malas Embun beranjak bangun dan berjalan membuka pintu. Terlihat di depan pintu bu Lastri tersenyum ke arah Embun.


”Ada apa bu?” Embun mengucek matanya.


”Itu di depan ada teman kamu, temuin sana.” Bu Lastri mendorong Embun agar keluar.


Embun yang masih setengah sadar menuruti ibunya berjalan ke ruang tamu. Tapi sesampainya di sana, Embun tidak menemukan siapapun. Lalu Embun berjalan keluar, di teras dia melihat seorang pria berjas rapi yang berdiri membelakanginya. Embun mengira - ira siapa orang yang mengaku temannya itu.


”Permisi, anda mencari saya?” Tanya Embun sopan.


Mendengar suara Embun, pria itu berbalik. Betapa kagetnya Embun mengetahui siapa pria itu, yang ternyata adalah Brian. Embun mendekat dan memperhatikan penampilan Brian dari ujung kaki sampai rambut.


”Mau kemana kamu dengan penampilan kaya gini? Kalau yang tidak kenal kamu, pasti ngira kalau kamu itu seorang ceo perusahaan.” Goda Embun, dan itu membuat Brian tersenyum.


”Kamu suka?” Tanya Brian yang dibalas anggukan kepala. Begitu menyadari jawabannya, sontak Embun menggelengkan kepala dan melambaikan kedua tangannya.


”Bu..bukan itu maksud aku.”


Brian tersenyum dan mengacak - acak rambut Embun. Dia berjalan ke meja dan mengambil plastik yang berisi bungkusan lalu menyerahkannya pada Embun.


”Ini buat aku?" Tanya Embun dan dibalas anggukan Brian.


”Terima kasih. Sering - sering saja ya.” Senyum Embun lalu duduk di kursi diikuti oleh Brian.


”Kamu baru dari luar negeri?” Tanya Embun setelah melihat isi bungkusan itu ternyata coklat kesukaannya.


"Iya, kamu suka?”


”Tentu saja, kok kamu tahu kalau ini coklat kesukaan aku. Biasanya Dewi yang suka ngasih aku coklat ini.” Jawab Embun.


”Apa sih yang tidak aku tahu tentang kamu. Apapun akan aku kasih kalau kamu mau.”


”Brian, aku..” Embun belum menyelesaikan kata - katanya ketika Brian berkata.

__ADS_1


"Aku akan pindah ke luar negeri.” Kata Brian menatap lekat wajah Embun.


__ADS_2