
Setelah mengetahui kalau Brian adalah pemilik perusahaan, Embun mulai berhati – hati agar tidak ada yang tahu
kalau dia mengenal Brian. Embun tidak mau orang –orang beranggapan dia masuk ke situ karena jalur dalam. Seperti hari ini, Neni mengajak Embun ke kantin. Begitu sampai di kantin, Embun segera memindai area kantin untuk memastikan tidak ada Aldo atau Kris di situ.
“ Kamu kenapa sih? Tiap kali masuk kantin kaya orang waspada gitu? Kamu lagi hindarin seseorang?” Tanya Neni
penasaran.
“ Eng…Enggak kok, kata siapa?” Jawab Embun gagap. Neni memicingkan matanya karena tidak percaya dengan jawaban Embun.
“ Gak usah bohong? Jujur deh sama aku, ada yang kamu rahasiainkan?” Tanya Neni lebih jauh.
“ Rahasia apa? Gak ada yang aku rahasiain. Sudah kamu mau pesan apa, hari ini aku traktir.” Embun mencoba
mengalihkan pembicaraan. Walaupun dia tidak puas dengan jawaban dari Embun, tapi Neni senang ditraktir makan.
Mereka segera makan begitu pesanan mereka datang. Embun begitu lahap menyantap makanannya, sampai tidak menyadari ada yang duduk di depannya. Embun kaget ketika sadar ada orang di depannya. Dia meletakkan
sendoknya berhenti menyuapkan makanan dan menatap orang itu. Terlihat Aldo yang sedang tersenyum melihat Embun.
“ Kenapa berhenti, ayo habiskan makanan kamu.” Aldo mengambil sendok di piring dan menaruhnya di tangan Embun. Embun kembali menyantap makanan sambil sesekali melirik Aldo yang masih menatapnya. Karena merasa risih terus diperhatikan, Embun menghentikan makannya dan bertanya pada Aldo.
“ Tidak bisakah anda duduk di tempat lain?” Tanya Embun sopan.
“ Memangnya kenapa? Aku suka duduk di sini. Aku senang lihat kamu makan.” Jawab Aldo santai.
“ Tapi saya yang merasa tidak nyaman. Ada banyak meja yang kosong, anda bisa duduk di mana saja.”
“ Tapi aku mau di sini, teman kamu saja tidak keberatan. Iyakan?” Aldo bertanya pada Neni yang duduk di
sebelahnya. Neni mengangguk dan tersipu menjawabnya. Sangat jelas kalau dia menyukai sosok Aldo.
“ Terserah anda saja.” Jawab Embun yang sedang malas untuk berdebat dan melanjutkan makannya.
“ Kenapa kamu bicara formal lagi?” Tanya Aldo.
“ Memangnya kenapa? Bukankah itu hal normal kalau berbicara dengan atasan?”
“ Jadi kamu sudah tahu? Kamu gak perlu begitu, bicara santai saja denganku. Bukannya kita teman?” Aldo
__ADS_1
mencondongkan badannya ke arah Embun. Embun mundur dan langsung menggetok kepala Aldo dengan sendok yang dia pegang. Aldo meringis dan memegang kepalanya, sedangkan Neni melotot ke arah Embun tidak percaya melihat yang apa dilakukan Embun tadi.
“ Kamu marah? Bukannya kita teman?” Tanya Embun santai dan beranjak dari duduknya. Neni juga beranjak menyusul Embun.
Aldo tersenyum melihat Embun yang pergi menjauh, dia masih memegang kepalanya. Dia berdiri dan merapikan
pakaiannya lalu pergi meninggalkan kantin. Aldo menaiki lift dan menuju lantai atas. Dia segera masuk ke ruangan Brian dan duduk di sofa. Brian dan Kris melihat ke arah Aldo yang tersenyum – senyum tidak jelas.
“ Baru kali ini ada yang menggetok kepalaku dengan sendok.” Kata Aldo tersenyum. Mendengar perkataan
Aldo, Brian dan Kris berpandangan. Mereka masih tidak paham apa yang sedang Aldo bicarakan., dan memilih melanjutkan memeriksa beberapa dokumen.
“ Bri. Kalau kamu ngelepas Embun, biarin aku deketin dia ya? Pasti seru kalau punya pasangan lucu kaya dia.” Aldo menatap Brian serius. Mendengar pernyataan Aldo, Brian mencengkeram dokumen yang dia pegang dan menatap tajam Aldo. Melihat reaksi Brian, Kris segera menahan lengan Brian.
“ Aldo kamu sadar apa yang kamu katakan?” Tanya Kris.
“ Aku sadar. Bukannya Brian sudah nyerah buat dapetin Embun. Jadi tidak salahkan kalau aku sekarang coba deketin dia. Kalau Brian hanya diam di tempat seperti sekarang, cepat atau lambat Embun akan jadi milik orang lain.”
Brian melemparkan dokumen yang dia pegang. Dia segera keluar dari ruangan dengan menahan amarah. Kris
mendekati Aldo dan memegang bahunya, Aldo yang melihat itu tersenyum dan mengajak Kris melakukan tos.
Brian berjalan dengan tatapan dingin menuju ruangan Embun. Sepanjang jalan karyawan yang berpapasan dengannya menunduk dan memberi salam tidak berani menatap. Sesampainya di ruangan Embun, Brian melihat sekeliling mencari sosok yang dia cari tapi sayang dia tidak melihat Embun di ruangan itu. Manager Embun yang mengetahui kedatangan Brian tergopoh – gopoh mendekatinya, namun Brian tidak memperdulikannya dan berjalan
keluar. Saat berjalan keluar, Brian melihat Embun yang baru keluar dari kamar mandi. Segera Brian berjalan mendekat, sebelum Embun kabur Brian segera menarik tangannya dan membawanya pergi. Embun tentu saja bingung dengan apa yang terjadi, dia juga tidak tahu kemana Brian akan membawanya pergi.
Sepanjang jalan Embun terus menundukkan kepalanya, dia malu ketika berpapasan dengan karyawan lain yang
menatapnya dengan tatapan penasaran. Karena baru pertama kali mereka melihat sang pemilik perusahaan menggandeng tangan seorang wanita. Brian membawa Embun ke parkiran dan menyuruhnya masuk ke mobil. Embun menolak unuk masuk ke dalam mobil, tapi Brian memaksanya dan mau tidak mau Embun akhirnya menurut.
“ Aku mau kamu bawa ke mana?” Tanya Embun. Tapi alih – alih menjawab, Brian malah mendekat ke arah Embun.
Jarak mereka sangat dekat, Embun sampai bisa merasakan hembusan nafas Brian. Embun sudah berpikiran macam – macam melihat posisi mereka sekarang, namun Brian segera kembali ke tempatnya ketika selesai memasangakan sabuk pengamanan pada Embun.
Embun segera menghembuskan nafasnya lega. Brian mengulas senyum melihat tingkah Embun itu. Dia segera
menjalankan mobilnya meninggalkan perusahaan. Di perjalanan mereka terdiam, Brian fokus mengemudi sedangkan Embun lebih memilih melihat keluar jendela. Tak berapa lama mobil Brian berhenti dan dia turun dari mobil. Embun penasaran dimana dia sekarang, karena dia belum pernah ke tempat itu. Melihat Embun yang tidak keluar, Brian segera membuka pintu mobil.
“ Apa kamu mau terus di situ?” Tanya Brian. Tapi Embun malah memegang sabuk pengaman dengan erat, dan menolak keluar.
__ADS_1
“ Apa perlu kamu aku gendong?” lanjut Brian. Embun menggelengkan kepalanya dan keluar dari mobil. Brian
berjalan masuk dan Embun mengikuti di belakangnya.
Begitu masuk mereka disambut oleh seorang karyawan. Embun berdecak kagum, baru kali ini dia masuk ke restoran yang begitu besar dan mewah. Embun di bawa ke lantai atas, dan kali ini Embun tidak bisa menyembunyikan kekagumannya.
Embun masuk ke sebuah rumah kaca yang dalamnya disulap menjadi sebuah taman bunga. Di tengahnya terdapat air mancur mini, serta meja dan kursi. Brian menarik kursi dan mempersilahkan Embun duduk. Embun mentap Brian dengan tatapan bingung, karena kelakuan Brian ini sangat bertolak belakang dengan sosok Brian yang dia kenal dulu.
Mereka sekarang duduk berhadapan. Tak berapa lama datang 2 orang pelayan yang meletakkan beberapa hidangan, Embun sampai menelan ludah karena semua hidangan itu adalah makanan kesukaannya.
“ Makanlah.” Kata Brian demi melihat Embun yang tidak melepaskan pandangan dari makanan di depannya. Embun menoleh ke arah Brian, dia masih ragu untuk memakannya.
“ Tenang saja. Ini gak ada racunnya.”
Tanpa menunggu lagi, Embun segera memakannya. Brian menopang dagunya melihat Embun yang sedang makan. Saat – saat seperti inilah yang selalu dia rindukan selama lebih dari 5 tahun.
“ Bagaimana hubunganmu dengan Dion?"
“ Memangnya kenapa? Kami baik – baik saja?” Jawab Embun memasukkan udang goreng ke mulutnya.
“ Sudah berapa lama kalian jadian?”
Mendengar pertanyaan Brian ini, Embun kaget sampai tersedak makanan yang sedang ia makan. Brian segera
mengambilkan air dan memberikannya pada Embun. Embun segera menghabiskan air itu dalam sekali teguk.
“ Jadi kamu ngira aku pacaran sama Dion?” Embun menatap Brian serius. Brian diam saja tidak menjawab
pertanyaan Embun, dan dari diamnya Brian sudah Embun anggap itu sebagai jawaban.
“ Apa sikap kamu selama ini karena kamu ngira Dion ada hubungan sama aku? Aku dan Dion itu hanya teman. Dia
orang yang selalu ada buat aku melebihi saudara aku sendiri. Dan hanya karena salah paham, kamu pura – pura gak kenal sama kami? Sebenarnya aku penasaran, kemana saja kamu selama 2 tahun ini?” Tanya Embun panjang lebar.
Brian terdiam layaknya patung, dan tentu saja itu membuat Embun kesal. Embun lalu beranjak dari duduknya dan
melangkah pergi. Namun langkahnya terhenti karena Brian memeluknya dari belakang.
“ Maaf.”
__ADS_1