Hanya Bayanganmu

Hanya Bayanganmu
Dia Kembali


__ADS_3

Dion benar – benar terkejut bisa bertemu dengan Brian di ruangan itu. Dion tidak bisa mengalihkan pandangannnya dari sosok yang ada di depannya sekarang. Penampilan Brian yang sekarang sangat berbeda dengan yang dia kenal dahulu. Tak ada lagi kesan cuek dalam penampilannya, Brian seperti bertransformasi menjadi orang yang berbeda.


“Brian, kenapa kamu ada di sini?” Tanya Dion tidak bisa menyembunyikan keterjutannya.


“Tentu saja urusan pekerjaan. Kamu masih tidak berubah, masih suka membuat keributan.”


“Aku mau membuat perhitungan dengan orang br*ng**k ini.” Dion memandang Tedi dengan tatapan membunuh. Brian memandang Tedi yang sudah babak belur karena pukulan Dion. Dia cukup penasaran kenapa Dion bisa memukul dengan membabi buta seperti itu\, karena bila tidak dihentikan tentu Tedi hanya tinggal nama.


“Ada masalah apa, karena Dion yang aku kenal tidak mungkin menghajar orang begitu saja. Kamu bisa saja membunuhnya tadi.” Tanya Brian.


“Dia sudah berani melukai Embun dan bahkan hamper saja memperkosanya.” Papar Dion, tersirat kemarahan dari nada bicaranya.


Dion menoleh ke arah Brian ingin melihat reaksinya mendengar hal yang dialami Embun. Tapi sungguh reaksi Brian membuat Dion terkejut. Dion melihat tak ada ekspresi apapun di wajah Brian. Jangankan marah, yang Dion lihat Brian terkesan dingin dan tidak terpengaruh sama sekali. Dion bertanya – Tanya dalam hatinya, apakah perasaan Brian sudah berubah pada Embun dan sudah menganggap Embun tidak penting lagi untuknya.


“Dion,sebaiknya kamu segera keluar dari ruangan ini. Jangan buat keributan di sini, selesaikan


urusan pribadi kalian di luar .Aku tidak akan ikut campur kalau bukan urusan


pekerjaan.” Kata Brian datar. Dion mengepalkan tangannya mendengar kata  - kata Brian. Sedangkan Tedi


menyunggingkan senyum mengejek ke arah Dion, dia merasa menang karena Brian seperti membelanya.


“Kalau begitu saya permisi. Maaf sudah membuat keributan Pak Brian yang terhormat.” Dion melangkah keluar, dan menoleh kea rah Brian.


“Aku tidak akan bilang pada Embun kalau kita sudah bertemu. Dia pasti akan kecewa melihat kamu yang seperti ini.” Dion membuka pintu dan pergi dengan perasaan kecewa dan juga kemarahan.


Brian menatap kepergiaan Dion dengan dingin, entah apa yang ada dipikirannya saat ini. Dia beranjak dari duduknya dan melangkah keluar diikuti 2 asistennya. Tedi yang melihat Brian akan keluar segera mengikutinya.


“Anda mau pergi kemana? Bagaimana dengan pembicaraan kita tadi?” Tanya Tedi.


Brian tidak menjawab pertanyaan itu dan segera berlalu pergi. Akhirnya salah satu asisten Brian yang menjawab pertanyaan Tedi.

__ADS_1


“Saya akan menjadwal ulang pertemuan anda dengan Pak Brian.”


“Baik saya tunggu kabar dari anda.” Jawab Tedi penuh harap.


“Baik saya permisi.” Pamit asisten Brian yang bernama Kris, lalu pergi menyusul Brian.


Tedi yang berada di kantornya melihat luka yang ada di wajahnya. Terlihat kemarahan dan dendam di matanya. Tedi sudah merencanakan akan membalas perlakuan Dion padanya tadi. Sedangkan Brian sudah duduk di mobilnya menunggu kedatangan Kris, dia menatap luar jendela dengan tatapan dinginnya. Kris masuk ke dalam mobil dan menatap Brian.


“Apa perlu saya bereskan segera?” Tanya Kris seakan tahu apa yang sedang Brian pikirkan.


“Kita lihat saja dulu apa yang akan dia lakukan. Aku ingin dia membayar berkali – kali lipat.” Kata Brian tanpa mengalihkan pandangannya. Kris mengangguk dan segera melajukan mobilnya meninggalkan perusahaan Tedi, diikuti 2 mobil di belakangnya.


*****


Sudah beberapa hari Embun tidak berangkat bekerja. Dan sudah berpuluh panggilan dari manager dan Sinta yang dia abaikan. Selama beberapa hari ini Embun benar – benar sedang ingin sendiri dan terbebas dari rutinitas pekerjaan yang melelahkan. Sore ini Embun sedang bersantai sambal membaca novel di teras rumah Dewi ketika dia melihat mobil Dion yang memasuki halaman. Dia meletakkan novelnya dan beranjak dari duduk untuk menyambut Dion. Begitu Dion keluar dari mobil, Embun langsung mendekat dan mengitari Dion. Embun kecewa melihat Dion datang dengan tangan kosong. Melihat wajah Embun yang kecewa, Dion segera membuka mobilnya dan mengambil bungkusan.


“Ini pesanan kamu.” Dion menyerahkan bungkusan pizza pada Embun. Embun sangat senang, segera dia membuka dan memakan pizza yang Dion bawa.


Dion menatap Embun cukup lama, dia sedang mempertimbangkan apakah akan menceritakan pertemuannya dengan Brian atau tidak. Embun yang seakan mengerti kegundahan Dion meletakkan pizza yang sedang dia makan dan memandang Dion serius.


“Ada yang ingin kamu katakan?” Tanya Embun.


“Gak ada yang ingin aku katakan.” Jawab Dion, dia mengambil pizza yang ada di meja dan memakannya.


“Kalau gak ada kembalikan pizza itu.” Embun menunjuk pizza yang sedang Dion makan. Dion tersedak mendengar perkataan Embun.


“Makanya, kalau sudah ngasih jangan diambil lagi.” Sindir Embun sambil menyerahkan minuman pada Dion. Dion menggaruk kepalanya, dan tersenyum. Embun menghela nafas dan melanjutkan makannya.


“Embun seandainya Brian kembali, apa yang akan kamu lakukan?” Tanya Dion serius.


“Kalau dia mau ketemu hayuk, kalau gak ya sudah.” Jawab Embun santai. Embun memperhatikan wajah Dion, dia lalu meletakkan pizzanya kembali dan menatap lekat Dion.

__ADS_1


“Kamu bertemu dia?” Tanya Embun dan dijawab anggukan oleh Dion.


“Kapan?”


“Sehari setelah kejadian itu di ruangan Tedi.”


“Ngapain kamu ke sana? Jangan bilang kamu hajar dia? Terus ngapain Brian bersama Tedi?” Tanya Embun penasaran.


Dion akhirnya memilih menceritakan semuanya pada Embun. Embun mengangguk – anggukan kepala mendengar cerita Dion. Begitu Dion selesai berceria, Embun mengambil pizza dan melanjutkan makannya. Dion tentu saja heran dengan reaksi Embun yang tak terduga itu.


“Kamu gak marah?” Tanya Dion.


“ Kenapa aku mesti marah? Karena Brian yang diam saja mengetahui yang aku alami?” Tanya Embun.


“ Itu hak dia buat bereaksi kaya gitu, dan aku juga gak minta buat dia bela aku. Jadi santai saja, gak usah terlalu dibikin pusing.” Embun dengan santai mengigit pizza terakhirnya.


“Kamu yakin?” Dion masih penasaran.


“ Gak yakin kenapa? Sudah ah gak usah bahas dia lagi. Besok aku mau mulai masuk kerja lagi.”


“ Kamu masih mau kerja di sana? Sebaiknya kamu resign dan cari kerja di tempat lain. Kalau gak daftar kerja di tempat aku saja.” Saran Dion, dia tentu khawatir bila Embun masih kera di sana. Entah apa yang akan Tedi lakukan pada Embun lagi.


“ Gak mau ah. Aku masih mau kerja di sana. Jangan khawatir soal Tedi, aku akan lebih hati – hati. Lagian enak saja dia masih santai – santai nikmatin hidupnya.” Tolak Embun.


“ Apa yang mau kamu lakuin? Jangan lakuin hal yang membahayakan diri kamu sendiri.”


“ Santai saja. Kan ada kamu yang bakal nolongin aku.” Embun menaik turunkan alisnya.


Mau tidak mau Dion menyetujui keinginan Embun. Karena walaupun dia larang, Embun tetap akan melakukan sesuatu sesuai dengan keinginannya.


****

__ADS_1


__ADS_2