Hanya Bayanganmu

Hanya Bayanganmu
Teman Baru


__ADS_3

Embun dan Dion sedang menikmati makan malam di salah satu restoran seafood terkenal. Seperti biasa, Embun


memesan berbagai macam hidangan. Begitu pesanan datang, tanpa dikomandoni Embun segera menyantap makanan itu. Dion yang memang sudah mengenal Embun, hanya menatap Embun yang sedang makan.


“ Sudah berapa lama kamu tidak makan kaya gini?” Dion mengambil udang dan diletakkan di piring Embun.


“ Sudah lama banget. Apalagi sejak aku tinggal di rumah Dewi, udah kaya kambing saja tiap hari makan daun.”


Jawab Embun sambil menggigit udang yang diberikan oleh Dion.


“ Bagus dong biar kamu sehat banyak konsumsi sayur.” Dion menyeruput jus jeruk pesanannya.


“ Dewi juga kalau gak lagi menyusui, gak mau dia makan sayur.”


“ Nah kamu juga bisa kaya gitu.” Jawab Dion kocak.


“ Terus anak siapa yang harus aku susui, anak kucing gitu.” Embun menanggapi candaan Dion. Mereka berdua akhirnya tertawa, sudah lama sekali mereka tidak santai seperti sekarang.


“ Jadi mulai besok kamu dipindahkan ke kantor pusat? Apa kamu akan mencari tempat tinggal di sana? Karena


tidak mungkin kalau kamu harus bolak balik tiap harikan?” Tanya Dion.


“ Aku juga masih memikirkannya. Besok aku lihat situasinya gimana dulu, aku juga belum cerita sama orang tua aku.”


“ Tapi aku masih penasaran, bagaimana bisa kamu dipindahkan ke kantor pusat. Apa benar kamu gak punya orang


dalam?” Dion memajukan tubuhnya dan berkata pelan. Mendengar kata – kata Dion ini, tentu saja Embun kesal dan langsung memukul lengannya.


“ Orang dalam siapa? Boro – boro saudara, teman saja gak ada yang punya posisi penting. Tapi kalau di pusat gajinya besar, bisa cepat kaya aku?” Embun tersenyum – senyum sendiri.


“ Kalau mau cepat kaya, kamu nikah sama ceo-nya.” Kata Dion asal. Mata Embun langsung berbinar seperti


mendapat ide. Dia menjentikkan jarinya sambal tersenyum lebar.


“ Ide bagus. Tapi pelet aku mesti kuat buat gaet ceo-nya. Kamu punya kenalan dukun yang sakti gak?” Embun menaik turunkan alisnya. Dion menghela nafas dan menepuk dahi Embun dengan telapak tangannya.


“ Mana ada ceo yang mau sama kamu. Sudah aneh, banyak makan lagi. Rugi bandar.”


“ Tapi mana tahu ceo-nya lagi khilaf, suka barang antik kaya aku.” Embun tertawa diikuti Dion.


Mereka mengobrol cukup lama dan karena malam sudah larut, Dion mengajak Embun pulang. Mereka masih bercanda sampai masuk ke mobil. Dion menjalankan mobilnya dan meninggalkan restoran. Ternyata tanpa


Embun dan Dion sadari, ada yang memperhatikan interaksi mereka. Sepasang mata itu menatap dingin mereka selama di restoran, bahkan sampai mereka pergi.


“ Apa kita pergi sekarang pak?” Tanya Kris. Tanpa menjawab pertanyaan itu, Brian beranjak dari duduknya dan

__ADS_1


berjalan menuju mobil yang sudah menunggunya di depan pintu restoran. Setelah Brian masuk, Kris menjalankan mobilnya dan pergi meninggalkan restoran.


“ Apa agenda kita besok?” Tanya Brian menatap lurus ke depan. Kris membuka tablet dan melihat jadwal Brian.


“ Nanti jam 1 anda ada penerbangan ke Singapura karena pagi harus bertemu klien untuk membahas proyek.


Juga anda ada pertemuan dengan beberapa investor, bla bla bla.” Kris menjabarkan jadwal yang harus Brian jalani.


“ Apa mesti saya rubah jadwalnya pak?” Tanya Kris memastikan karena melihat Brian yang terdiam.


“ Tidak perlu. Lakukan sesuai jadwal.” Jawab Brian tanpa memandang Kris.


“ Baik pak. Semuanya sudah siap. Bapak bisa beristirahat dulu selama perjalanan ke bandara.”


Brian memejamkan matanya. Aktifitasnya yang sangat padat sebagai seorang pengusaha tentu membuatnya harus benar – benar bisa membagi waktu. Kadang dia hanya bisa tidur beberapa jam saja, karena banyaknya pekerjaan yang harus dia selesaikan.


*****


Embun sudah berada di depan kantor pusat. Dia berangkat diantar oleh Dion, walaupun Embun sudah menolak


tapi Dion memaksa untuk mengantarkannnya. Setelah Dion pergi, Embun segera masuk dan bertanya ke resepsionis di mana ruangan HRD. Setelah tahu, Embun segera bergegas menuju ruangan yang ditunjukkan. Sepanjang jalan, Embun melihat sekelilingnya. Dia dibuat kagum dengan besarnya kantor itu. Embun menemui


bagian HRD, dan dia mendapatkan penjelasan tentang pekerjaannya dan juga peraturan – peraturan yang mesti dia taati.


Embun diantar ke ruangannya. Dia melihat ruangan sudah cukup ramai karyawan, dia menghitung ada 7 orang yang nantinya akan menjadi rekannya. Embun segera memperkenalkan diri, setelah itu duduk di


Beberapa kali Embun bertanya pada rekan di sebelahnya tentang pekerjaan yang belum dia mengerti. Tapi mereka


hanya menjawab sekedarnya, walaupun sebenarnya Embun kesal tapi dia berusaha bersabar dan berusaha menyelesaikan pekerjaannya.


Saat masuk jam istirahat, Embun ditinggalkan begitu saja oleh rekan barunya. Ketika dia hendak berdiri ada yang


mendekatinya dan menyapa.


“ Kenalin nama aku Neni. Aku duduk di pojok sana, maaf tadi gak sempat kenalan.” Kata Neni memperkenalkan diri.


“Aku Embun. Gak apa – apa, aku maklum pasti kamu sibuk banget.”  jawab Embun.


“Ya gitu deh, gak usah dipikirin sikap teman – teman tadi ya. Di sini emang gitu masing – masing sudah sibuk


sama pekerjaannya sendiri, jadi gak ada waktu buat bantu yang lain. Tapi kamu bisa tanya sama aku kok, kalau ada yang gak kamu ngerti. Kamu mau ke kantinkan, yuk bareng.” Ajak Neni dan berjalan mendahului Embun.


Embun mengikuti Neni, dia senang akhirnya mendapatkan teman baru. Sepanjang jalan ke kantin mereka mengobrol banyak. Dari obrolan itu, Embun tahu kalau Neni orangnya baik dan asik diajak mengobrol. Ketika mereka sudah  masuk kantin banyak orang yang memandang mereka sambil berbisik – bisik.  Embun yang memang merasa, segera bertanya pada Neni.


“Apa ada yang salah dengan aku, kenapa mereka berbisik – bisik.’

__ADS_1


“Biarin saja. Mereka emang gitu kalau  ada orang baru, apalagi kamu yang pindahan dari kantor cabang.” Terang Neni.


“ Memangnya kenapa? Bukannya itu hal biasa?” Tanya Embun penasaran.


“ Memangnya kamu tidak tahu? Di sini tuh gak ada karyawan pindahan dari kantor cabang. Kalaupun ada, itu buat orang yang jabatannya tinggi. Bukan buat karyawan biasa kaya kita.” Jelas Neni. Embun menghela nafas panjang, dia merasa situasinya kali ini tidak akan mudah.


“ Kamu ada kenalan orang dalam?” Lanjut Neni, tapi tidak di jawab oleh Embun.


“ Maaf kalau pertanyaan aku buat kamu tersinggung.” Neni merasa bersalah.


“ Gak apa – apa. Aku tahu pasti banyak orang akan mikir kaya gitu. Tapi aku gak kenal sama orang di kantor ini


sama sekali, dan sama seperti yang lainnya aku juga bingung kenapa aku bisa dipindahkan ke sini.” Embun mencoba tersenyum.


“ Sudah gak usah dipikirin. Kamu bersyukur saja sudah dipindahkan ke sini, sekarang kamu tunjukkan saja kinerja


kamu. Oke.” Neni menggenggam tangan Embun dan mengulas senyum.


Mereka kembali ke ruangan setelah selesai makan. Mereka masih asik mengobrol sampai masuk ke ruangan.


“Embun, kamu tahu gak kalau ceo yang baru itu ganteng banget dah gitu tampangnya rada – rada bule gitu. Apalagi tatapannya itu, benar – benar bikin jantung berdebar gak karuan.” Neni memegang dadanya.


“Yang benar? Aku malah belum lihat sama sekali. Pasti jadi idola karyawan cewek.”


“Bukan idola lagi, benar – benar jadi pujaan. Siapa sih yang gak berharap punya pasangan seorang ceo yang tidak hanya ganteng tapi juga kaya banget.” Neni bercerita sambal tersenyum – senyum.


“ Salah satunya pasti kamu ya?” Tanya Embun menggoda. Neni langsung tersipu – sipu, dan menutup wajahnya dengan kedua tangan. Embun tertawa melihat tingkah laku Neni.


Obrolan mereka terhenti karena teman – teman mereka masuk. Embun pun kembali ke mejanya dan melanjutkan


pekerjaannya. Dia langsung melupakan pembicaraan soal ceo tadi karena sudah disibukkan dengan pekerjaannya yang menumpuk.


Pekerjaan Embun selesai tepat saat jam pulang. Dia segera membereskan mejanya dan beranjak keluar. Embun


berjalan terburu – buru, dan tidak sengaja menabrak seorang pria saat akan keluar dari lobi kantor.


“ Maaf saya tidak sengaja?” Kata Embun meminta maaf.


“ Tidak apa – apa, apa ada yang terluka?” Kata pria itu.


“ Saya baik – baik saja.” Jawab Embun. Pria itu terus menatap Embun, dan itu membuat Embun cukup risih.


“ Kamu karyawan baru? Aku belum pernah melihatmu. Kenalkan Aldo.” Kata pria yang bernama Aldo itu mengulurkan tangannya.


“ Nama saya Embun. Benar hari ini hari pertama saya bekerja.” Jawab Embun tanpa niat menjabat uluran tangan Aldo. Mendengar nama Embun, sontak Aldo meraik tangan Embun dan menjabat erat tangannya.

__ADS_1


“ Jadi kamu yang bernama Embun. Kita akan sering bertemu. Selamat datang di kantor ini, maaf aku harus pergi.” Aldo melepaskan tangan Embun dan berlalu pergi, tapi dia berbalik dan melambaikan tangannya ke arah Embun. Embun tentu saja bingung, karena dia merasa tidak kenal sama sekali dengan pria yang bernama Aldo tadi. Embun segera keluar dari kantor dan menuju ke tempat parkir. Di sana dia melihat Dion melambaikan tangan kepadanya, Embun tersenyum dan berjalan mendekat ke arah Dion


__ADS_2