
Sinar jingga sudah memancarkan pesonanya, dan ini adalah saat yang ditunggu oleh kebanyakan orang yang sudah seharian berjibaku dengan berbagai macam pekerjaan. Mereka tentu berlomba – lomba untuk cepat pulang dan sampai rumah, untuk sekedar melepaskan lelah dari rutinitas yang menguras tenaga serta pikiran. Tak terkecuali juga dengan Embun, sudah sedari tadi dia ingin pulang tapi Brian terus saja menahannya. Alasan Brian karena mereka satu tempat jadi harus pulang bersama, padahal pekerjaan Brian masihlah banyak. Otomatis Embun mesti menunggu Brian menyelesaikan semua pekerjaannya itu.
“ Brian,, Aku pulang duluan ya?” Tanya Embun untuk kesekian kalinya.
“ Sebentar lagi aku selesai.” Jawab Brian tanpa melepaskan pandangannya dari berkas yang sedang dia baca.
“ Kalau kamu masih banyak pekerjaan, bukannya lebih baik aku pulang duluan. Aku ingin cepat pulang dan berendam di air hangat.” Ucap Embun kesal.
“ Tunggu sebentar lagi. Kalau kamu capek, kamu bisa istirahat di kamar.”
Embun berdiri mengambil dompetnya. Tanpa menoleh ke arah Brian, dia berjalan keluar. “ Aku mau beli makanan di minimarket depan kantor.” Kata Embun sebelum Brian bertanya. Embun segera keluar tanpa menunggu jawaban dari Brian. Sedangkan Brian hanya menggelengkan kepalanya melihat kepergian Embun. Dia kembali berkutat dengan pekerjaannya, dan mencoba untuk menyelesaikannya secepat mungkin.
Embun yang sudah keluar dari kantor, segera berjalan ke minimarket yang letaknya di depan kantor. Dia segera
masuk dan memilih beberapa camilan serta es krim. Setelah membayar, Embun memilih untuk duduk di kursi yang ada di depan minimarket. Embun menikmati camilan sambil melihat lalu lalang kendaraan yang ada di depannya. Cukup lama Embun duduk di depan minimarket hingga dia menghambiskan semua camilan yang dia beli tadi. Embun menghembuskan nafasnya ketika menyadari dia lupa membeli minuman. Embun cukup kaget ketika ada yang meletakkan minuman di depannya. Embun melihat ada yang berdiri di sampingnya, dan betapa terkejutnya dia begitu tahu siapa yang meletakkan minuman di mejanya.
“ RAKA..?” Panggil Embun. Raka tidak menjawab, hanya memperlihatkan senyumnya pada Embun.
Mulut Embun sampai menganga saking terkejutnya. Embun seperti kehilangan kata – kata, dia tidak menyangka
akan kembali bertemu dengan Raka. Mereka berdua saling menatap seakan menyelami pikiran masing – masing.
“ Bukan hanya lalat tapi seekor gajah juga bisa masuk, kalau kamu membuka mulut selebar itu.” Raka mendorong
dagu Embun agar mulutnya tertutup. Embun yang sadar langsung memukul tangan Raka disertai dengan tatapan tajam.
Raka tertawa melihat kelakuan Embun. Dia menarik kursi dan duduk di depan gadis itu. Raka menyilangkan tangannya di meja, pandangannya tidak lepas menatap Embun yang ada di depannya. Embun membuka botol minuman itu lalu meminumnya. Dia meneguk minuman itu sambil melirik Raka yang terus menatapnya.
“ Aku tahu kalau aku cantik, tapi tidak perlu menatap aku sampai segitunya.” Ucap Embun lalu minum lagi.
“ Kamu memang cantik.” Jawab Raka tanpa melepaskan pandangannya.
“ Uhuk uhuk.” Embun terbatuk mendengar kata – kata Raka. Dia langsung menuangkan air di tangan dan menyipratkan air itu di wajah Raka.
“ Siapapun kamu. Cepat keluar dari tubuh Raka!!!.” Embun terus menyipratkan air sambil mengucapkan mantra yang aneh. Embun berhenti ketika merasakan dahinya disentil dengan cukup keras.
__ADS_1
Embun memegang dahinya sambil cengengesan,” Sudah keluar ternyata.”
Raka menggelengkan kepala lalu mengambil sapu tangan di sakunya. Dia segera mengelap wajahnya yang basah
karena kelakuan Embun. Dia tidak menyangka kelakuan Embun masih absurd dan tidak berubah selama 5 tahun.
“ Kamu ngapain di sini?” Tanya Embun.
Raka memasukkan sapu tangannya di saku, “ Kebetulan lewat sini saja, dan lihat orang yang lagi kalap makan camilan sebanyak itu.” Raka melirik bungkus camilan di meja.
Embun mengikuti arah lirikan Raka, dia melihat mejanya memang penuh dengan bungkus camilan. Embun tersenyum dan segera memasukkan bungkus camilan itu ke dalam plastik.
“ Alhamdulillah kabar aku baik baik. Dan sepertinya kamu juga baik.” Kata Embun.
“ Aku belum Tanya Embun.” Ucap Raka.
“ Sebelum kamu tanya sudah aku jawab dulu.” Jawab Embun santai.
Raka menyandarkan punggungnya ke kursi, dan menyilangkan tangannya di dada “ Memangnya kamu tahu aku akan bertanya kabar, bisa saja aku Tanya hal lain.”
“ Kenapa kamu tidak menghubungi aku sama sekali? Nomor kamu juga tidak aktif?” Tanya Raka menyelidik.
Embun yang tidak menyangka Raka akan bertanya itu, menjadi salah tingkah.
“ Hp aku hilang..Ya hilang.” Ucap Embun gugup. Dia segera mengambil minuman karena merasa tenggorokannya tiba – tiba kering.
Raka yang sudah lama mengenal Embun tahu kalau gadis itu sedang berbohong. Beberapa kali Raka melihat Embun membenarkan letak duduknya. Raka menghela nafasnya, dia tidak mau membahas alasan Embun kenapa berbohong karena itu pasti membuat gadis itu tidak nyaman.
“ Sudahlah.. Apa kamu bekerja di perusahaan itu?” Tanya Raka menujuk perusahaan Brian dengan dagunya.
“ Iya, kamu tahu Brian teman sekelas aku yang seperti kulkas 2 pintukan? Dia yang jadi ceonya.” Jelas Embun.
Embun bercerita tentang pekerjaan dan kehidupannya selama ini. Mereka terlibat obrolan yang seru, dan sesekali
terlibat pertengkaran kecil. Mereka juga tertawa bersama bila ada cerita yang lucu. Dan keakraban mereka tentu tidak lepas dari tatapan Brian yang ada di seberang jalan. Embun yang pergi terlalu lama membuat Brian khawatir, dan memutuskan untuk menyusul gadis itu. Tapi apa yang dia lihat sekarang tentu membuat hatinya seperti tercubit. Dia melihat Embun tertawa lepas, yang tidak pernah dia lihat saat bersamanya. Brian mengepalkan tangannya sampai telapak tangannya memerah. Brian yang sedang terbakar cemburu memilih untuk kembali ke
__ADS_1
kantornya.
Aldo dan Kris masuk ke ruangan Brian ketika mendengar teriakan Brian. Mereka berdua kaget melihat ruangan itu
yang sudah berantakan. Terlihat berkas – berkas berhamburan di lantai, pecahan vas dan guci juga berserakan. Mereka mencoba masuk dan mendekati Brian, tapi terhenti ketika mendengar teriakan dari Brian.
“ PERGI KALIAN.!!!” Bentak Brian dengan nafas yang terengah – engah. Mereka yang tidak tahu kenapa Brian sampai marah, memilih keluar karena percuma bicara dengan Brian yang masih dalam keadaan marah. Mereka menutup pintu dan berdiri di depan ruangan Brian.
Brian menoleh ketika pintu terbuka, saat itu dia melihat Embun yang berdiri depan pintu dengan wajah yang terkejut. Embun menutup pintu dan berjalan mendekati Brian. Embun berjalan dengan hati – hati karena banyaknya pecahan guci di lantai.
“ Brian, apa yang terjadi?” Embun menyentuh bahu Brian yang membelakanginya.
Brian berbalik dan menatap tajam Embun. Embun merinding mendapatkan tatapan intimidasi dari Brian. Dia mundur ketika Brian berjalan mendekat. Langkah Embun terhenti saat dia tersudut di tembok. Brian merentangkan kedua tangan di samping Embun yang membuat gadis itu tidak bisa bergerak.
“ Kenapa kamu lakukan itu?!!” Tanya Brian menatap Embun tajam, Embun bisa melihat kemarahan dan kesedihan di mata Brian.
“ AP..Apa maksud kamu?” Tanya Embun yang tidak mengerti maksud Brian.
“ KENAPA KAMU LAKUKAN ITU!!! Teriak Brian di depan wajah Embun. Embun sampai menutup matanya karena teriakan Brian. Embun memberanikan diri membuka matanya dan menatap Brian.
Tapi Embun benar – benar kaget ketika tiba – tiba Brian mencium bibirnya. Embun yang masih kaget hanya diam
mematung. Brian meraih tengkuk Embun dan semakin memperdalam ciumannya. Dia menyesap bibir bawah dan atas Embun bergantian. Embun yang sudah sadar segera mendorong Brian dan menampar keras pipi Brian.
Brian yang juga sadar dari tindakannya menatap Embun, “ Embun maaf, aku tidak bermaksud..” Perkataan Brian
terhenti.
Embun mengusap kasar air matanya,“ Dasar bodoh. Aku benci kamu.” Embun segera berlari meninggalkan ruangan itu dan tidak memperdulikan Aldo yang memanggil namanya.
Aldo segera masuk dan melihat keadaan Brian yang sangat berantakan.
“ Bri, apa yang terjadi?” Tanya Aldo.
Tapi bukannya menjawab, Brian berlari keluar untuk mengejar Embun. Tapi sayang Brian terlambat, dia melihat
__ADS_1
Embun sudah pergi dengan taksi. Brian mencengkram rambutnya kuat merutuki kebodohannya yang kehilangan kendali.