
Raka membuka matanya perlahan. Dia menyipitkan matanya melihat cahaya yang masuk melalui jendela kamar. Dia mengedarkan pandangan ke penjuru kamar, dia tentu merasa asing dengan kamar itu. Raka mencoba mengingat kejadian kemarin, tapi dia malah merasakan pusing di kepalanya. Raka bangun dari ranjang, dia berjalan mendekati pintu walau sedikit tertatih sambil memegangi kepalanya yang masih pusing. Setelah keluar dari kamar, hal yang pertama Raka lihat adalah Embun yang sedang berada di dapur. Raka yang memang
masih setengah sadar, mendekati Embun dan tanpa diduga dia langsung memeluk gadis itu dari belakang.
Sedangkan Embun yang sedang membuat sarapan sangat terkejut karena pelukan dari Raka. Embun berusaha melepas pelukan itu, tapi sayangnya Raka malah semakin mengeratkan pelukannya.
“ Biarkan seperti ini sebentar.” Ucap Raka lirih.
Embun hanya bisa terdiam terpaku, dia hanya bisa menunduk dan mengepalkan kedua tangannya.
“ Ka, tolong lepas. Nanti ada orang yang lihat.” Pinta Embun agar Raka melepaskan pelukannya.
“ Aku rindu kamu.” Raka semakin mengeratkan pelukan dan tanpa sungkan mencium puncak kepala Embun.
Ucapan Raka ini sontak membuat Embun tercekat. Dia merasakan jantungnya berdetak cepat. Ingin rasanya dia juga mengatakan kalau dia juga sangat merindukan pria itu. Tapi itu hanya bisa Embun ucapkan dalam hatinya, karena dia langsung melepaskan pelukan Raka.
Raka yang tidak menduga Embun akan melepaskan pelukannya, hanya bisa menatap Embun dengan tatapan sedih dan juga kecewa. Embun tentu sadar akan arti dari tatapan Raka itu, tapi dia sadar posisi dan statusnya.
Embun menghembuskan nafasnya pelan dan tersenyum di depan Raka, “ Bagaimana keadaanmu, masih pusing?” Tanya Embun mencoba mengalihkan pembicaraan.
Raka tersenyum dan menjawab, “ Masih cukup pusing, maaf soal tadi.”
“ Gak apa – apa, sebaiknya lupakan. Anggap gak pernah terjadi, tapi awas kalau kamu lakuin lagi. Aku jadiin kamu perkedel.” Ancam Embun.
“ Hahaha, iya bawel.” Raka menarik kepala Embun di bawah lengannya lalu mengacak – acak rambut Embun.
“ RAKA!!! Lepasin.” Teriak Embun yang kesal pada ulah Raka. Tapi Raka malah semakin jail, bukan hanya mengacak – acak rambut Embun tetapi juga menggelitik pinggang gadis itu.
Embun tertawa sampai perutnya sakit karena dia memang tidak tahan bila tubuhnya digelitik. Tentu saja Raka tahu kelemahan Embun ini, sehingga dia semakin semangat mengerjai Embun. Tapi Raka menghentikan ulahnya
ketika terdengar suara deheman dari belakangnya. Raka menoleh kebelakang, dan dia melihat Brian sedang menatap tajam ke arahnya dengan menyilangkan tangan di dada.
Raka dengan cepat melepaskan Embun, dan balas menatap Brian dengan tatapan yang tidak kalah tajam. Sedangkan Embun yang tidak tahu apa yang tidak terjadi sudah merosot ke lantai, dia merasa tenaganya habis karena terlalu banyak tertawa.
“ Aduhh, tenagaku habis. Perutku juga kram karena kebanyakan tertawa. Ini gara – gara kamu Ka, awas tunggu pembalasanku.” Ucap Embun lalu berdiri dan berbalik menghadap Raka. Tapi Embun segera mematung begitu melihat pemandangan di depannya. Bukan pemandangan yang memanjakan mata, tetapi pemandangan yang bikin bulu kuduknya berdiri.
__ADS_1
Bisa Embun lihat dengan jelas, aura permusuhan dari dua orang pria di depannya. Walau tidak ada sepatah katapun yang terucap, tapi tatapan mereka berdua seakan akan saling membunuh lawannya.
Embun segera berjalan mendekati Brian dan menggandeng lengannya, “ Bagaimana kalau kita sarapan, kebetulan sarapannya sudah siap.” Embun menggandeng Brian dan membawanya ke meja makan.
Embun menarik kursi dan memaksa Brian untuk duduk. Setelah itu dia duduk di samping Brian, dia melihat ke arah Raka yang masih diam di posisinya. Embun beranjak dari duduknya dan berjalan menghampiri Raka.
“ Ka, kamu sarapan juga ya.” Embun menarik lengan Raka.
Raka hanya pasrah mengikuti Embun ke meja makan. Mereka duduk bersama di meja makan dan makan dalam keadaan diam. Setelah selesai, Embun segera memberesakan meja makan. Sedangkan Brian dan Raka tidak beranjak dari duduknya. Brian menyilangkan tangannya di dada, dan tidak mengalihkan tatapannya dari Raka yang duduk di depannya.
“ Ada yang mau kamu jelaskan?” Tanya Brian tanpa basa – basi.
“ Apa yang harus aku jelaskan? Kalau soal semalam, aku juga tidak tahu kenapa aku bisa seperti itu.” Jawab Raka. Karena Raka memang tidak tahu apa yang membuat dia bisa melakukan hal yang dia anggap sangat menjijikkan
itu.
“ Apa kamu yakin kalau kamu tidak tahu penyebabnya? Bukannya kamu sengaja minum obat perangsang sebagai kedok agar kamu bisa leluasa melakukan aksi bejatmu itu?” Tanya Brian sengaja memprovokasi Raka.
“ Apa maksud kamu!!! Untuk apa aku melakukan itu?” Tanya Raka dengan emosi, tentu dia tidak terima dituduh seperti itu oleh Brian.
BRAKK
Raka menggebrak meja karena terpancing emosi mendengar kata – kata Brian. Dia beranjak dan menarik kerah baju Brian.
“ Tutup mulut kamu!!! Aku gak sepicik itu sampai melakukan cara kotor seperti itu. Dan asal kamu tahu, aku tidak akan merusak Embun dengan melakukan hal bejat seperti yang kamu tuduhkan.”
“ Lalu bisa kamu jelaskan, bagaimana kamu bisa dalam pengaruh obat itu?” Tanya Brian santai.
Raka semakin kencang menarik kerah baju Brian, “ Dengar ya, aku baru saja makan malam dengan Vania. Dan dia meminta aku mengantarkan dia pulang ke apartemennya. Aku juga tidak tahu kalau akan bertemu dengan Embun di sini.”
“ Apa maksud kamu, Vania yang memasukkan obat itu di makanan atau minuman yang kamu makan?” Cibir Brian.
Raka terkejut mendengar pertanyaan Brian. Dia melepaskan kerah baju Brian, dan duduk kembali dengan wajah yang terlihat syok. Kini Raka sedang merangkai ingatannya tentang kejadian kemarin, dari awal dia makan malam
dengan Vania sampai kejadian dia apartement ini.
__ADS_1
“ Apa benar itu ulah Vania?” Batin Raka.
Brian yang melihat Raka terlihat syok, merapikan kerah bajunya dan duduk kembali dengan santai.
“ Untuk apa Vania melakukan itu? Bukannya dia juga akan rugi kalau aku sampai mengambil kehormatannya?” Tanya Raka lirih tapi masih bisa didengar oleh Brian.
“ Entahlah. Tapi Vania yang aku kenal, akan melakukan apa saja untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Mungkin dengan membuat kamu mau bertanggung jawab dan segera menikahinya. Bukankah kalian sudah lama
bertunangan, dan yang aku dengar kamu selalu menunda pernikahan.” Jelas Brian panjang lebar.
Raka mengepalkan tangannya menahan emosi. Jika semua itu benar, dia tidak menyangka Vania akan melakukan sampai sejauh ini. Karena Vania yang dia kenal adalah gadis yang baik dan lemah lembut.
“ Kenapa kamu memberitahuku semua ini? Bukankah dia sepupumu?” Tanya Raka menatap Brian.
“ Aku tidak suka dengan caranya ini. Terlebih karena ulahnya ini, hamper saja mencelakai orang yang aku sayangi.” Jawab Brian sambil tersenyum ke arah Embun yang ternyata sedari tadi mendengarkan pembicaraan mereka.
Raka mengikuti arah pandangan Brian. Dia melihat Embun yang sedang berdiri tidak jauh dari mereka. Raka beranjak dari duduknya dan berjalan mendekati Embun.
“ Aku minta maaf soal semalam.” Kata Raka sambil menundukkan kepalanya. Dia benar – benar malu pada Embun.
“ Tidak apa – apa. Itu bukan salah kamu.” Jawab Embun dengan tersenyum.
“ Terima kasih. Aku pergi dulu.” Pamit Raka tanpa menatap Embun. Tanpa menoleh lagi Raka segera keluar dari apartement itu.
Embun segera menghembuskan nafasnya setelah Raka pergi. Embun menyandarkan punggungnya di tembok karena merasa lemas. Brian menuntun Embun dan mendudukkannya di kursi.
“ Apa semua itu benar?” Tanya Embun.
“ Melihat sifat Vania, bisa saja itu terjadi.”
“ Itu sudah bukan cinta, tapi sudah menjadi obsesi.” Embun bergidik ngeri.
“ Kamu tidak perlu khawatir.” Kata Brian lembut memegang tangan Embun.
Raka yang sudah keluar dari apartement, segera masuk ke mobilnya. Dia memukul kemudi untuk melampiaskan amarahnya.
__ADS_1
“ Brengsek! Brengsek!! Vania kamu harus membayar semua ini!!!” Raka melajukan kendaraanya dan pergi meninggalkan tempat itu.