Hanya Bayanganmu

Hanya Bayanganmu
Rencana Weekend


__ADS_3

Tak terasa sudah memasuki ujian semester. Semua siswa tentu saja belajar untuk menghadapinya, tak terkecuali dengan Embun. Walaupun mempunyai otak yang pas - pasan, Embun tetap berusaha mendapat nilai yang bagus agar tidak mendapat peringkat terakhir di kelas.


Embun lega karena hari ini adalah hari terakhir ujian. Dia keluar kelas dengan langkah riang. Embun berjalan ke kantin dan menghampiri Dewi yang sudah menunggunya.


"Gimana Mbun, bisa ngerjain ujiannya?" Tanya Dewi.


"Bisa dong, Embun." Jawab Embun membanggakan dirinya sendiri.


"Tapi yakin jawaban kamu banyak benarnya?" Dewi penasaran.


"Dewi sayang, masalah benar apa gak itu masalah belakang. Yang penting dikerjain semua, benar gak?" Tanya Embun


"Iya bener, tapi dari soal 50 yang bener cuma 25." Jawab Dewi.


"Hahaha, yang pentingkan ada yang benar." Kilah Embun.


"Suka - suka kamulah." Jawab Dewi malas.


"Duh tambah cantik saja kalau ngambek." Embun mencubit pipi Dewi.


"Pasti ada maunya kalau muji - muji gini?" Todong Dewi.


"Tau aja. Weekend nanti jalan yuk, itung - itung refreshing habis ujian." Ajak Embun.


Dewi setuju dengan usul Embun. Karena dia juga ingin menyegarkan pikirannya.


"Mau kemana?"


Embun menjawab dengan antusias,


"Gimana kalau ke taman hiburan?"


"Boleh, nanti aku jemput kamu di rumah."


"Cakep." Jawab Embun menunjukan dua jempol pada Dewi.


Saat itu tiba - tiba ada yang merangkul pundak dua gadis itu.


"Boleh ikut gak?" Tanya orang itu.


"Eh boleh boleh boleh." Jawab Embun latah.


Terdengar suara tawa, dan ternyata membuat kaget mereka berdua adalah Dion. Dewi yang kesal langsung memukul keras tangan Dion. Embun juga tidak mau kalah, dia mencubit lengan Dion sekuat tenaga.


Dion yang mendapat serangan mendadak seperti itu tentu saja kalah.


"Ampun - ampun, Embun lepasin. Sakit tau." Dion berusaha melepaskan cubitan Embun.


"Biarin, ini hukuman buat orang yang jail kaya kamu. Nih aku tambahin." Embun semakin keras mencubit lengan Dion.


Setelah puas, Embun melepaskan cubitannya.


"Mau lagi." Tanya Embun.


"Cukup - cukup." Dion mengusap lengan bekas cubitan Embun.

__ADS_1


Dion duduk di depan mereka berdua dan bertanya.


"Besok aku ikut jalan kalian ya?" Pinta Dion.


"Ngapain? Gak gak gak." Dewi menolak dengan tegas.


"Ayolah, ntar aku yang jemput kalian berdua. Gimana? Kalian bisa irit uang bensin." Tawar Dion.


Mendengar itu, Embun membisikkan sesuatu pada Dewi. Dewi tersenyum dan mengacungkan jempolnya.


"Kamu boleh ikut, asalkan tiket masuk kita berdua kamu yang bayarin. Gimana, setuju?" Kata Embun mengajak Dion berjabat tangan.


"Oke, deal." Dion setuju dan menjabat tangan Embun.


Embun tersenyum dan mengedipkan matanya ke arah Dewi. Dewi pun membalas kedipan mata Embun.


"Kita berangkat jam 9 biar gak kejebak macet di jalan, ntar kamu jemput di rumah aku ya." Kata Embun.


"Ok, kalian dandan yang cantik ya. Biar di sana gak malu - maluin." Pinta Dion santai.


"Tenang saja, dandanan kita bakal cetar membahana." Jawab Dewi.


"Tapi jangan menor - menor, ntar kalah badut di sana." Dion tertawa terbahak - bahak puas menggoda teman - temannya.


"Enak aja. Yuk Wi kita pulang saja, bisa kena sawan lama - lama di sini." Embun memukul lengan Dion bekas cubitannya tadi.


"Aow! Pulang sana, hush hush hush." Usir Dion.


...*********...


Pukul 8.30 Dewi sudah sampai di rumah Embun. Dia memakai baju warna pink motif bunga kecil dan celana warna putih. Sedangkan Embun lebih memilih memakai kaos warna putih dan celana jeans biru.


Tak berapa lama Dion datang, tapi dia tidak datang sendiri. Ternyata Dion datang bersama dengan Brian.


"Assalamualaikum." Dion mengucapkan salam.


"Waalaikum salam. Ayo masuk dulu." Ajak Embun.


Brian dan Dion masuk ke rumah dan duduk di ruang tamu.


"Kok kamu ngajak dia." Tanya Dewi.


"Oh kebetulan pas aku mau berangkat Brian datang ke rumah, trus aku ajakin sekalian. Gak papakan Brian ikut? kasian udah jauh - jauh ke rumah aku." Dion memberi penjelasan.


Brian langsung menoleh ke arah Brian dan menatapnya tajam. Padahal dari kemarin, Dion yang terus memaksa Brian agar ikut dengannya.


Mendapat tatapan membunuh dari Brian, Dion hanya tersenyum pura - pura tidak tahu. Dia memang berencana mendekatkan hubungan Brian dan Embun.


"Gak papa, malah tambah ramai. Kita berangkat sekarang saja ya, aku pamit dulu ma ibu." Embun masuk ke dalam dan berpamitan dengan ibunya.


Setelah berpamitan, mereka berempat keluar rumah. Sebelum pergi, terdengar suara Raka memanggil Embun.


"Embun, mau kemana?" Tanya Raka.


"Aku mau ke taman hiburan, ada apa?" Tanya Embun balik.

__ADS_1


"Kalian pergi sama - sama?" Tatapan Raka tertuju pada Brian.


"Iya, kamu mau ikut juga?" Ajak Embun.


"Ayo Ka, ikut. Kamu ajak pacar kamu juga." Usul Dewi.


"Kalian pergi saja, hari ini aku juga ada acara." Tolak Raka.


" Oh ya udah. Tadi kamu kesini ada perlu ma aku?" Tanya Embun.


"Aku kesini ada perlu sama mas Bima." Jelas Raka.


"Mas Bima di dalam, kamu masuk aja. Kami pergi dulu ya." Embun pamit pergi.


" Hati - hati." Jawab Raka lesu.


Kemudian Embun masuk mobil dan melambaikan tangannya pada Raka.


Raka memandangi sampai mobil itu menjauh. Setelah itu Raka memutuskan untuk pulang ke rumah.


Bu Intan yang melihat Raka masuk dengan wajah yang murungpun bertanya.


"Katanya mau pergi sama Embun, kok malah pulang?" Tanya bu Intan.


" Gak jadi." Jawab Raka tanpa menoleh ke arah mamanya. Dia langsung masuk ke kamarnya sebelum mamanya bertanya lagi.


Bu Intan menghela nafas panjang. Dia tidak mau bertanya lebih jauh, karena melihat suasana hati Raka yang sedang buruk.


Setelah masuk kamar, Raka langsung berbaring di ranjang. Dia melihat ke langit - langit kamar. Pikirannya saat ini hanya tertuju ke Embun. Dia merasa sedikit kesal melihat Embun pergi bersama Brian. Sebenarnya hari ini Raka mau mengajak Embun ke toko buku, tapi rencananya gagal.


Hp Raka berbunyi, dan membuat Raka tersadar dari pikirannya tentang Embun. Terpampang nama Vania di hpnya. Untuk beberapa saat, Raka diam saja tanpa ada niat untuk mengangkat telefon dari Vania. Vania terus saja menghubungi Raka, dan pada panggilan ketiga Raka baru mengangkat telefonnya.


"Assalamualaikum." Jawab Raka


"Kamu kemana saja sih, aku telefon dari tadi gak diangkat - angkat." Terdengar suara Vania yang kesal dari seberang.


"Kalau ada yang mengucap salam itu dijawab." Kata Raka.


"Waalaikum salam." Vania menjawab salam dari Raka tadi.


"Ada apa?" Tanya Raka.


"Kamu kemana saja, dari tadi gak angkat telefon aku?" Tanya Vania lagi.


"Aku lagi di kamar mandi." Raka berbohong.


"Ka, kita nonton yuk. Udah lama kita gak nontonkan?" Ajak Vania antusias.


"Maaf Van, hari ini gak bisa. Aku mau anterin mama aku ke tempat saudara." Tolak Raka.


"Kalau nontonnya setelah kamu pulang gimana?" Usul Vania.


" Kita nontonnya lain kali saja. Aku gak bisa mastiin pulang jam berapa. Kalau kamu ingin baget nonton, kamu bisa ajak temen kamu." Raka memberi alasan. Dia sedang malas keluar rumah.


"Sudah dulu ya Van, mama aku udah manggil. Assalamualaikum." Sebelum Vania menjawab Raka sudah menutup telefonnya.

__ADS_1


Raka merasa bersalah sudah membohongi Vania. Tapi dia juga tidak bisa pergi dengan suasana hati yang buruk seperti sekarang.


__ADS_2