
Embun terlihat terengah – engah, dia menyeka keringat yang mengalir di dahinya. Dia tidak menyangka akan mengalami peristiwa yang menakutkan seperti tadi. Jika dia tidak memukul tengkuk Raka hingga pria itu pingsan, mungkin kini dia sudah kehilangkan mahkotanya. Walaupun Raka tidak sadarkan diri, Embun tidak mau mengambil
resiko. Embun memilih mengunci Raka di kamar sampai bantuan datang. Dia takut kalau nanti Raka sadar, pria itu akan menerkamnya lagi.
“ Sebenarnya apa yang terjadi pada Raka? Kalau mabuk sepertinya tidak mungkin, aku tidak mencium bau alkohol sama sekali.” Pikir Embun.
Saat Embun sedang berpikir keras, dia mendengar suara pintu terbuka. Embun yang masih ketakutan, langsung berdiri dan berlari ke dapur. Tanpa pikir panjang Embun mengambil sebuah teflon besar yang akan dia gunakan sebagai senjata. Embun berjalan pelan menuju ruang tamu, dia menduga – duga siapa orang yang bisa masuk apartement itu. Sebab seingat dia pintunya terkunci, dan kuncinya ada di atas meja sofa. Embun melihat seorang pria yang berdiri membelakanginya, Embun sekuat tenaga memegang gagang teflon.
Saat sudah berdiri di belakangnya, Embun menutup matanya dan dengan sekuat tenaga dia memukul
punggung pria itu dengan teflon yang dia pegang. Dua kali Embun melayangkan pukulan, tapi pada pukulan ketiga dia merasa ada yang memegang teflonnya. Embun berusaha menarik teflon itu, namun sia – sia. Embun membuka matanya, dan dia kaget begitu melihat siapa yang ada di depannya. Embun melepaskan teflon yang dia pegang, dan dia terduduk di lantai. Tangis Embun pecah, ketika dia merasa pelukan di tubuhnya.
“ Kamu tidak apa – apa?” Tanya Brian lembut sambil membelai rambut Embun. Tidak ada jawaban dari Embun, gadis itu membenamkan wajahnya di dada Brian dan tangisnya semakin keras.
Setelah tangisannya reda, Embun melepaskan pelukan Brian. Dia melihat baju Brian basah karena air matanya. Sedetik kemudian Embun sadar, dia segera berdiri dan melihat punggung Brian.
“ Bagaimana punggungmu, apakah sakit? Maaf tadi aku tidak tahu kalau itu kamu?” Ucap Embun pelan, Embun
menyentuh pelan pungggung Brian.
Brian berbalik dan memegang tangan Embun, “ Aku tidak apa – apa. Sebenarnya apa yang terjadi di sini?”
Brian melihat apartement yang acak – acakan, dan kini pandangannya berhenti pada Embun. Brian melepas jasnya, lalu memakaikannya pada Embun.
“ Terima kasih.” Embun mengeratkan jas di tubuhnya, karena ia sadar bajunya terbuka.
“ Sebaiknya kamu ganti baju, Aldo akan datang membawa makanan.” Kata Brian yang dibalas anggukan oleh Embun.
Setelah Embun pergi, Brian berjalan ke salah satu kamar. Dia membuka kamar itu, dan kaget melihat Raka yang
sedang berbaring di ranjang dengan keadaan yang juga berantakan.
“ Apa mereka berdua habis melakukan itu?” Pikir Brian.
Brian mengepalkan tangannya kuat, terlihat urat – urat menonjol dari dahinya. Saat itu Embun yang melihat Brian
yang berdiri di pintu kamar, segera menarik Brian dan menutup pintu kamar kemudian menguncinya kembali. Dia menarik Brian dan menyuruhnya untuk duduk di sofa. Embun memilih duduk di sofa depan Brian. Dia menunduk dan memainkan jari – jari tangannya.
“ Itu tidak seperti yang kamu pikirkan.” Ucap Embun tetap menunduk tidak berani menatap pria itu, Embun bisa melihat dengan jelas kemarahan di wajah Brian.
Saat itu pintu terbuka, dan Aldo masuk membawa paper bag berisi makanan. Aldo merasakan aura yang tidak mengenakan. Dia meletakkan makanan di meja makan lalu duduk di samping Embun.
“ Ada apa ini? Embun kenapa kamu menyuruhku datang kesini? Apa terjadi sesuatu” Tanya Aldo.
“ I…Itu.”
Ucapan Embun terpotong karena perkataan Brian, “ Dia menyuruh kamu kesini Cuma ingin pamer kalau dia habis
__ADS_1
bercinta dengan Raka.” Ucap Brian menahan marah. Mendengar perkataan Brian, Aldo terkejut dan menoleh ke arah Embun.
Embun mengepalkan kedua tangannya, “ BUKAN SEPERTI ITU!!!” Teriak Embun menatap marah pada Brian.
“ Embun kamu tenang dulu. Kita bicarakan ini baik – baik. Brian kita dengarkan dulu penjelasan dari Embun.” Aldo
berusaha menenangkan mereka berdua. Dia tahu Brian yang sedang cemburu bisa saja melakukan tindakan yang bodoh.
“Apa yang perlu dibicarakan? Kamu bisa lihat sendiri di kamar.” Ucap Brian.
“ Benar. Buat apa aku jelasin, kalau kamu tidak akan percaya.” Kata Embun dengan emosi.
Perdebatan mereka terhenti saat mendengar teriakan dari Raka. Embun segera berlari dan menuju kamar Raka
berada. Embun berdiri di depan pintu, dari bali pintu itu dia bisa mendengar teriakan pilu Raka.
“ Buka pintunya!! Embun tolong aku. Aku sudah tidak tahan, Cuma kamu yang bisa tolongin aku.” Teriak Raka.
Embun menggigit kuku tangannya, dia tidak tahu bagaimana cara menolong Raka. Aldo datang mendekat bersama Brian di belakangnya.
“ Sebenarnya apa yang terjadi?” Aldo menepuk pelan pundak Embun.
“ Aku tidak tahu? Tiba – tiba saja dia begitu.” Ucap Embun sedih. Embun menceritakan dari awal saat bertemu dengan Raka di lift sampai kejadian dia memukul Raka sampai pingsan tanpa dia tutup – tutupi.
“ Apa Raka minum obat perangsang?” Tanya Embun.
“ Aku sering baca novel, tanda orang yang minum obat perangsang seperti Raka.” Ucap Embun sambil menunduk
dengan wajah yang memerah.
“ Kalau memang benar, berarti hanya kamu di sini yang bisa menolongnya.” Goda Aldo.
Mendengar perkataan Aldo, Embun mengangkat wajahnya dan menatap Brian yang kini menatapnya dengan tatapan tajam.
“ Aku tidak mungkin melakukan itu. Aku hanya akan melakukan itu dengan suami aku. Sebaiknya kita bawa Raka ke dokter saja.” Embun memukul kuat lengan Aldo, dia tidak percaya pria itu akan memberikan ide gila seperti itu.
“ Hahaha, aku hanya bercanda. Aku tidak mungkin menyuruhmu melakukan hal bodoh seperti itu.” Aldo mengacak – acak rambut Embun.
“ Bri..” Aldo menatap Brian yang ada dibelakangnya. Setelah mendapat anggukan dari Brian, Aldo segera keluar
dari apartement.
Setelah kepergian Aldo, suasana canggung antara Brian dan Embun sangat terlihat. Mereka masih berdiri di depan
kamar Raka berada.
“ Maafkan perkataanku tadi. Melihat Raka membuatku cemburu dan menjadi kehilangan akal.” Sesal Brian.
__ADS_1
“ Sudahlah itu bukan kesalahan kamu. Siapapun yang melihat pasti akan berpikiran sama dengan kamu.” Ucap Embun menghela nafas berat.
“ Apa yang akan kita lakukan pada Raka?” Lanjut Embun.
Brian memutar kunci untuk membuka pintu, “ Ayo bantu aku.” Dia membuka pintu dan masuk ke kamar.
Brian bisa melihat keadaan Raka yang sangat memprihatinkan. Wajah Raka memerah dan dia terus menarik rambutnya. Raka menghentikan aksinya saat melihat Embun yang berdiri di depan pintu. Raka berjalan mendekati Embun, dan tiba – tiba memeluknya.
“ Tolong aku.” Ucap Raka lirih.
Embun berdiri mematung, dia menatap Brian dengan tatapan sendu. Brian yang melihat Raka memeluk Embun,
berusaha menahan kemarahannya. Dia berjalan mendekat dan menarik paksa Raka, dia menyeret Brian masuk ke kamar mandi. Embun yang masih berdiri mematung tersentak, ketika mendengar panggilan Brian.
“ EMBUN.” Teriak Brian dari kamar mandi.
Embun segera berlari ke kamar mandi, dan melihat Brian sedang mengikat tangan Raka dengan dasi yang dia
pakai. Setelah selesai dia segera mengambil shower dan menyemprotkan ke tubuh Raka.
“ Kita akan terus menyiram Raka, ini akan mengurangi efek dari obat itu sampai Aldo datang.” Kata Brian tanpa
memandang Embun.
Embun hanya bisa melihat Brian yang terus menyiram Raka, terlihat nafas Raka yang terengah – engah karena
terus disiram air. Untungnya tak berapa lama Aldo datang bersama dengan Kris. Brian mematikan shower, Aldo mendekat dan memasukkan sebuah pil ke mulut Raka. Setelah meminum pil pemberian Aldo, Raka terlihat tenang dan tak berapa lama dia tertidur. Kris segera mendekat, lalu membukus tubuh Raka dengan handuk dan mengangkatnya keluar dari kamar mandi.
“Sebaiknya kamu keluar dulu. Aku akan mengganti baju Raka yang basah.” Kata Aldo pada Embun.
Tanpa banyak bertanya, Embun segera keluar dan duduk di sofa. Embun menoleh ketika pintu terbuka, Brian keluar setelah mengganti pakaiannya yang basah.
“ Kamu gak apa – apa?” Tanya Brian mengulurkan minuman pada Embun.
Embun menerima minuman itu dan meminumnya. “ Terima kasih.” Ucap Embun tulus.
“ Kita akan bertanya kenapa Raka kenapa dia bisa minum obat itu setelah dia bangun.” Kata Brian sambil menyenderkan punggungnya di sofa.
“ Embun,, Soal kejadian kemarin aku benar – benar minta maaf. Aku salah tidak bisa mengontrol diri dengan baik
sehingga melukai kamu.”
“ Sudahlah jangan dibahas lagi. Aku sudah memaafkan kamu, aku ingin melupakan itu.” Embun tersenyum.
“ Terima kasih.” Jawan Brian membalas senyuman Embun.
Embun memang berusaha untuk berdamai dengan Brian. Karena dia juga tidak bisa terus marah pada pria itu. Embun berpikir semua sudah terjadi, dan berharap hal itu tidak akan terjadi lagi.
__ADS_1