Hanya Bayanganmu

Hanya Bayanganmu
Dijemput Pulang


__ADS_3

DOR


”Eh dor dor dor.” Suara keras Embun menarik perhatian orang di sekitarnya. Embun tersenyum ke arah mereka untuk mengusir rasa malunya. Sedangkan Sinta yang sukses mengagetkan Embun tidak bisa menahan tawanya.


Sinta duduk di depan Embun dan langsung melongo melihat menu yang Embun pesan. Bagaimana dia tidak takjub di meja sudah tersaji nasi goreng, batagor, siomay, dan segelas jus alpokat. Sinta menelan ludah demi melihat semua makanan itu.


”Kamu yakin bisa habisin ini semua?” Sinta menunjuk semua makanan itu.


”Kenapa gak bisa? Ini saja baksonya belum datang.” Jawab Embun santai sambil memasukkan nasi goreng ke mulutnya.


”Waahh daebak.” Sinta bertepuk tangan. Tapi Embun tidak menghiraukanny dan terus makan. Sudah dua piring makanan yang Embun habiskan, dan ini dia sedang menyantap piring ketiganya.


”Mbun, aku kagum sama kamu. Tubuh kamu tuh kecil ya tapi nafsu makan kamu sudah kaya abang - abang proyek ujung jalan sana." Kata Sinta tanpa berkedip melihat Embun makan.


”Gak usah lebay deh. Aku kalau lagi marah memang gini, harus makan yang banyak."


”Soal pak Tedi?” Tanya Sinta yang dibalas anggukan oleh Embun.


”Aku tuh bingung ya? Kamu tuh gak cantik - cantik amat, tapi bisanya pak Tedi ngejar kamu kaya gitu sampai nekat mau jadiin kamu selingkuhan segala.” Setelah mengatakan itu, Sinta mengaduh karena Embun menginjak kakinya.


”Gak usah kenceng - kenceng kalau ngomong. Kamu mau semua orang dengar terus ngecap aku cewek gak bener yang menggoda atasannya gitu?” Sewot Embun.


”Sorry sorry,,terus apa yang mau kamu lakuin? Gimana kalau pak Tedi sampai berbuat nekat?" Tanya Sinta.


”Kayanya gak mungkin kalau dia sampai berbuat jauh, siapa aku coba? Gak da untungnya buat dia juga.”


”Tapi kamu tetap hati - hati, orang yang sakit hati tuh bisa nekat loh.” Saran Sinta.


" Tenang saja. Nanti aku minta saran teman aku mesti gimana.” Jawab Embun yang sebenarnya juga sedikit khawatir setelah mendengar kata - kata Sinta.


”Teman kamu Dion yang ganteng itu?” Tanya Sinta semangat.


"Semangat banget. Kamu naksir sama dia?” Tanya Embun menyelidik, sedangkan Sinta hanya senyum - senyum.


”Mau aku bantuin?” Embun menaik turunkan alisnya.


”Memang dia belum punya pacar?”


”Sejak aku kenal dari SMA, belum sekalipun aku lihat dia jalan sama cewek selain Dewi. Apa dia terong - terongan?” Embun kaget sendiri dengan pemikirannya itu.

__ADS_1


”Aishh gak mungkinlah, mungkin saja dia punya pacar tapi gak mau publish. Biar kaya artis - artis, privasi gitu.” Sangkal Sinta, tapi sebenarnya juga memikirkan perkataan Embun tadi.


”Nanti mesti aku tanyain.” Tekad Embun dan menghentikan makannya.


”Sudah makannya? Ini masih banyak loh, baksonya juga belum kamu makan.” Sinta bingung melihat Embun yang tidak menghabiskan makanannya.


”Habisin kamu saja, nanti aku bayar. Aku balik duluan ya.” Embun menghabiskan minumannya dan beranjak dari duduknya. Setelah membayar makanannya dia langsung pergi kembali ke ruangannya.


...*************...


Embun berdiri di depan kantor sendiri. Hari ini dia pulang terlambat karena banyak kerjaan yang harus dia selesaikan hari ini juga. Jam sudah menunjukkan angka 9 malam, tapi orang yang dia tunggu belum dataing juga. Berulangkali Embun melihat jam di tangannya dengan gelisah. Berulangkali juga dia menelefon dan mengirim pesan tapi tidak diangkat dan dibalas juga.


Tak berapa lama Embun melihat mobil datang mendekat. Ketika mobil itu berhenti, Embun langsung memasang wajah cemberutnya dan masuk ke mobil.


”Sorry, mendadak ada laporan yang harus aku selesain. Kamu sudah lama nunggunya?”


”Gak cuma 60 menit lebih 34 detik." Jawab Embun pedas.


”Kalau gak bisa jemput bilang, kan aku bisa pulang duluan.”Lanjut Embun kesal.


”Aku gak mau kamu pulang sendirian.” Jawabnya.


”Memangnya tadi aku gak sendirian. Kalau aku kenapa - kenapa gimana? Kamu mau tanggung jawab?”


”DION.” Teriak Embun dan memukul lengan Dion.


Dion tertawa dan mengacak -acak rambut Embun. Memang sekarang hubungan pertemanan mereka menjadi lebih dekat, bahkan banyak yang mengira kalau mereka adalah sepasang kekasih.


”Iya maaf maaf, sekarang kita pulang. Ibu kamu pasti sudah khawatir.” Dion menyalakan mobilnya.


”Nanti pokoknya kamu yang jelasin.” Kata Embun.


”Iya tuan putri, perintah tuan putri akan hamba laksanakan.” Canda Dion dan membuat Embun tertawa. Akhirnya mobil Dion berjalan dan pergi meninggalkan kantor.


Tapi tanpa Embun dan Dion sadari, ada yang melihat interaksi mereka. Terlihat sekali kemarahan di mata orang itu. Orang itu mengepalkan tangannya dan memukul kemudi sampai terdengar suara klakson. Orang itu akhirnya pergi meninggalkan perusahaan dan mengendarai mobilnya dengan kencang karena menahan amarah.


Sedangkan di mobil Dion, Embun sudah akan memejamkan matanya ketika Dion bertanya.


”Kamu sudah ngantuk? Tumben kamu kerja sampai malam?"

__ADS_1


”Capek dan ngantuk. Kayanya manager aku ngerjain aku deh.” Embun menguap dan mengucek matanya.


”Dia masih ngejar - ngejar kamu?” Tanya Dion tetap fokus mengemudi.


”Heem, bahkan tadi dia nawarin aku lagi buat jadi selingkuhannya. Kalau aku mau dia akan bantu karir aku di perusahaan.” Embun kembali menguap, dia ingin cepat sampai rumah dan tidur di kasurnya.


”Terus kamu mau?” Tanya Dion asal.


Embun membuka matanya dan memukul lengan Dion keras. Untung saja Dion tidak terganggu dan masih fokus menyetir.


”Gila apa? Tahu gak dia sampai ngancam aku gara - gara aku nolak.”


Dion mengerem mobilnya mendadak, dan membuat Embun kaget. Untung Embun memakai sabuk pengaman dan jalanan juga sedang sepi, sehingga tidak membahayakan pengendara lain.


”Dia sudah berani mengancam kamu? Perlu aku kasih pelajaran!!" Dion mencengkram kemudi dengan marah.


”Gak usah diladenin orang kaya gitu. Cepat jalan, kalau sudah sampai bangunin aku ya.” Jawab Embun enteng dan kembali memejamkan matanya. Karena sudah tidak bisa menahan kantuk, Embun langsung tertidur.


Brian menatap Embun cukup lama dan kembali menjalankan mobilnya. Setelah beberapa menit berlalu, akhirnya mereka sampai di depan rumah Embun. Dion mengguncang bahu Embun untuk membangunkannya. Embun membuka mata dan merenggangkan tubuhnya. Dia keluar mobil diikuti Dion di belakangnya.


Terlihat bu Lastri sudah menunggu mereka di teras rumah. Beliau tersenyum lega melihat Embun pulang dengan selamat.


”Assalamu'alaikum maaf tante, Embun jadi pulang telat.” Dion mencium punggung tangam bu Lastri.


”Waalaikum salam, gapapa. Tante yang terima kasih kamu sudah mau jemput Embun.”


”Kalau begitu saya pamit tante.”


”Gak masuk dulu, ada Bima juga.” Tawar bu Lastri.


”Terima kasih tante, sudah malam. Salam buat om sama Bima. Assalamualaikum." Dion pamit, setelah mendapat jawaban dari Embun dan ibunya dia masuk mobilnya dan pergi meninggalkan rumah Embun.


Setelah mobil Dion jauh, bu Lastri mengajak Embun masuk. Embun bergelayut manja di lengan ibunya.


”Kamu sudah makan?” Bu Lastri membelai lembut tangan Embun.


”Embun gak lapar bu. Mau langsung tidur saja.”


”Ya sudah, temuin masmu dulu lalu istirahat.” Kata Bu Lastri. Embun setuju dan keduanya masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


Sedangkan Dion yang masih dalam perjalanan, terlihat mengambil ponsel dan melakukan panggilan.


”Cari semua informasi orang bernama Tedi. Aku minta secepatnya!” Dion menutup telefonnya. Pandangannya lurus ke depan dan menyiratkan kemarahan.


__ADS_2