
Embun segera mendekati Brian begitu melihat Brian membuka mata. Embun tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya. Dia segera memanggil dokter, tak berapa lama dokter masuk bersama dengan perawat. Setelah memeriksa Brian, dokter itu segera keluar. Perawat melepas alat bantu pernafasan, dan segera pamit pergi.
Embun duduk di kursi samping ranjang pasien. Dia menatap haru Brian dan terus menggenggam tangan Brian.
" Kenapa wajah kamu pucat sekali?" Tanya Brian.
" Benarkah?" Tanya Embun sambil menguap. Selama Brian dirawat di rumah sakit, Embun selalu berada di samping Brian. Dia meninggalkan ruangan itu hanya untuk pulang ke kost mengambil pakaian ganti.
" Naiklah. Ranjang ini muat untuk 2 orang." Brian menggeser tubuhnya memberi tempat untuk Embun.
" Tapi kalau ada yang masuk gimana?"
" Sudah naik saja. Kamu pasti kurang tidur selama jagain aku." Brian menarik tangan Embun.
Dengan perlahan, Embun naik ke ranjang dan memposisikan tubuhnya di samping Brian.
" Apa tidak apa - apa seperti ini? Bagaimana kalau aku tidak sengaja menyenggol lukamu?" Tanya Embun khawatir. Dia tidak berani terlalu dekat dengan Brian. Tapi Brian malah menyuruh Embun untuk meletakkan kepalanya di lengan Brian.
" Tidak usah khawatir, luka aku sudah sembuh. Bagaimana, nyamankan?" Tanya Brian dan dijawab anggukan oleh Embun.
" Sudah berapa hari kamu menjagaku?"
" Sejak kamu dibawa ke sini. Kenapa kamu tidur lama sekali? Kamu buat aku cemas, aku takut kamu gak bangun lagi." Ungkap Embun. Brian dapat merasakan suara Embun yang sedikit bergetar.
" Maaf sudah buat kamu khawatir." Brian membelai kepala Embun.
" Kenapa kamu selalu minta maaf? Seharusnya aku yang minta maaf. Kamu terluka karena kesalahanku."
" Bukankah wanita tidak pernah salah." Canda Brian yang dibalas Embun dengam memukul dadanya pelan. Brian tertawa dan membelai rambut Embun.
Embun bangun dan menatap Brian dengan serius.
" Apa kamu seorang mafia?" Tanya Embun. Brian terbatuk mendengar pertanyaan Embun yang tiba - tiba itu. Brian melihat mata Embun yang penasaran menunggu jawabannya. Dia tersenyum dan menarik Embun kembali berbaring.
" Kenapa kamu bisa berpikiran seperti itu?"
" Kamukan yang membunuh Tedi dengan menembaknya? Aku melihat kamu memegang pistol sebelum kamu pingsan. Dan sepertinya kamu menembak Tedi tanpa rasa takut sedikitpun." Embun menatap Brian serius, Brian menatap langit kamar mendengarkan cerita Embun.
" Kenapa kamu tidak menjawab? Kalau kamu bukan mafia, apa kamu seorang pembunuh bayaran?" Embun mengangkat kepalanya.
__ADS_1
" Kalau itu benar, apa sekarang kamu takut padaku?" Tanya Brian tanpa mengalihkan pandangannya.
Embun berpikir sejenak. Sebenarnya dia juga tidak tahu harus menjawab apa. Dia berpikir kenapa pertanyaannya malah jadi menyudutkannya. Brian menoleh dan terseyum melihat Embun yang mengerutkan alisnya tanda dia sedang berpikir keras.
" Sudah tak perlu banyak berpikir. Yang jelas siapapun aku, aku akan selalu melindungi dan menjagamu." Ucap Brian tulus. Embun tersenyum dan mengangguk. Dia meletakkan kembali kepalanya di lengan Brian.
" Sekarang tidurlah." Brian membelai lembut rambut Embun.
Tak berapa lama Embun sudah tertidur. Brian merasakan nafas Embun yang pelan dan teratur. Brian kembali menatap langit - langit kamar. Dia sedang berpikir, bagaimana reaksi Embun kalau tahu siapa dia sebenarnya. Brian memejamkan matanya, dan dia juga ikut tertidur seperti Embun.
Saat itu pintu kamar terbuka. Dion yang tadinya akan masuk mengurungkan niatnya, dan kembali menutup pintu. Pemandangan yang tadi dia lihat membuat dia senang sekaligus sakit. Di satu sisi dia senang akhirnya Brian bisa bersama dengan Embun. Tapi di sisi lain dia juga merasakan nyeri di hatinya melihat kebersamaan mereka.
" Seharusnya dari awal rasa ini memang tidak pernah ada." Batin Dion.
*****
Embun membuka matanya. Dia kaget dan langsung bangun. Dia menoleh ke samping, tapi tidak ada Brian. Embun melihat sekeliling, tapi tidak melihat Brian di manapun. Embun akan turun dari ranjang ketika terdengar suara pintu terbuka.
Embun menoleh ke arah suara. Dia melihat Aldo keluar dari kamar mandi memegang infus diikuti Brian di belakangnya. Embun menghembuskan nafas lega dan segera berjalan menghampiri mereka.
" Kamu sudah bangun?" Tanya Brian lembut. Embun mengangguk dan segera memegang lengan Brian membantunya berjalan kembali ke ranjang.
Brian duduk dan menyuruh Embun duduk disampingnya.
" Kenapa aku harus bangunin kamu? Memangnya kamu mau bantuin aku ke kamar mandi?" Goda Brian.
" Bu..bukan begitu." Embun gugup dan wajahnya memerah. Brian tersenyum dan mencubit hidung Embun gemas.
" Tadi tidur kamu nyenyak sekali. Aku tidak tega bangunin kamu. Kebetulan tadi Aldo datang, jadi aku minta dia buat bantu aku ke kamar mandi." Jelas Brian.
" Aldo datang kapan? Apa dia melihat kita." Embun tidak menyelesaikan kalimatnya, dia segera menutup wajah dengan tangannya.
" Cukup lama sampai aku merasa kalau dunia hanya milik kalian, dan aku hanya ngontrak." Sindir Aldo. Tentu saja perkataan Aldo semakin membuat Embun malu. Melihat itu meledaklah tawa Aldo, dia tidak tahu kalau menggoda Embun bisa sangat menyenangkan.
" Aldo. Mau aku kirim kamu kembali ke Itali?" Ancam Brian. Seketika Aldo langsung menghentikan tawanya. Dia menatap Brian dengan wajah cemberut.
" Embun sebaiknya kamu pulang dulu. Biar Aldo yang mengantarkanmu."
" Tapi siapa yang menemanimu?" Tanya Embun.
__ADS_1
" Sebentar lagi Kris datang. Kamu ambil barang - barang kamu di kost, untuk sementara kamu tinggal di apartemenku."
" Aku tinggal di kost saja." Embun menolak permintaa Brian.
" Tinggalah di sana dulu. Setidaknya sampai aku keluar dari sini. Kamu maukan?" Brian menggenggam tangan Embun.
Embun akhirnya menyetujui keinginan Brian. Dia segera pergi ke kost bersama dengan Aldo. Setelah Embun pergi, Brian kembali berbaring di ranjang. Dia merasakan sakit dibagian lukanya. Brian menoleh ketika pintu kamar terbuka, mengira kalau yang datang adalah Kris.
Brian mengulas senyum ketika tahu itu adalah Dion.
Dion membalas senyuman Brian, kemudian berjalan mendekat dan duduk di kursi samping ranjang.
" Bagaimana lukamu?" Tanya Dion.
" Sudah membaik. Apakah Embun yang memberitahumu?" Tanya Brian balik.
" Dia menelefonku sambil menangis. Tidak kusangka Tedi bisa melakukan sampai sejauh ini. Seharusnya aku sudah menghabisinya dari dulu." Dion mengepalkan tangannya. Brian memperhatikan ekspresi Dion saat ini, kemudian terlihat mengulas senyum.
" Terima kasih sudah menjaga Embun selama ini." Kata Brian menatap lurus ke depan.
Dion terkejut mendengar kata - kata Brian. Tak lama dia menatap Brian dan tersenyum.
" Tugasku sudah selesai. Sekarang kewajiban kamu untuk menjaganya. Jangan biarkan orang - orang seperti Tedi mendekatinya lagi."
" Tentu, aku akan menjaga dan juga melindungi Embun." Jawab Brian.
" Oh ya jangan lupa, kamu jangan biarin Embun makan terlalu banyak dan juga makan sembarangan. Dia pernah dilarikan ke rumah sakit karena itu. Kamu juga mesti terus mengawasi Embun kalau sedang ada konser musik, kamu tahu kebiasaan Embun yang tiba - tiba maju berjoget dan ikut menyanyi di panggungkan?" Mereka tertawa bersama.
Brian mendengarkan dengan seksama cerita Dion tentang Embun. Walaupun Dion kadang tertawa, tapi Brian bisa mendengar kegetiran dalam suaranya. Brian juga melihat mata Dion yang berkaca - kaca. Brian memilih untuk tidak bertanya tentang perasaan Dion pada Embun, karena itu pasti akan menyakitkan bukan hanya untuknya tapi juga untuk Dion.
Ketika Kris datang, Dion pamit untuk pulang.
" Aku pulang dulu. Semoga kamu lekas sembuh. Mungkin kapan - kapan kita bisa jalan bareng lagi." Dion menjabat tangan Brian erat.
" Tentu saja. Kamu hati - hati di jalan. Salam buat keluarga kamu." Brian memeluk Dion, Dion membalas pelukan Brian sambil menepuk - nepuk punggungnya.
" Oke. Aku pergi dulu." Dion melangkah keluar. Tapi saat Dion akan membuka pintu, dia menghentikan langkahnya karena mendengar kata - kata Brian.
" Dion. Terima kasih.. Dan maaf."
__ADS_1
Dion tersenyum, dan membuka pintu lalu melangkah pergi meninggalkan rumah sakit.
" Cinta yang benar - benar tulus, melepaskan orang yang disayangi untuk melihatnya bahagia dengan orang lain." Kata Brian pelan.