
“ Aku rindu kamu.”
Embun tertegun mendengar kata – kata yang diucapkan oleh Brian. Embun tersadar ketika lift sudah sampai di
lantai paling atas, kemudian Embun memencet kembali tombol lift agar turun di lantai bawah. Embun menarik nafas dalam dan berbalik menghadap ke arah Brian. Embun menatap Brian lekat, dan mengangkat tangannya ke arah Brian.
PLAK
Embun melayangkan tamparan ke wajah Brian. Brian yang mendapat tamparan tiba – tiba dari Embun, hanya terdiam tanpa melepaskan pandangannya dari Embun. Brian bisa melihat kemarahan dari sorot mata Embun. Brian ingin mengulurkan tangannya ke wajah Embun, namun sayang terhenti karena pintu lift yang terbuka. Embun menoleh ke arah pintu yang terbuka, dia melihat Aldo dan Kris sedang melihat dirinya. Tanpa menoleh ke arah Brian, Embun segera keluar dari lift berjalan melewati Aldo juga Kris. Aldo dan Kris kompak mengikuti arah Embun pergi, mereka bertanya – tanya sebenarnya apa yang terjadi.
Setelah Embun tidak terlihat, mereka segera masuk ke dalam lift dan menuju lantai paling atas. Di dalam lift Brian terus terdiam. Aldo yang melihat itu menyenggol lengan Kris, tapi tidak ada tanggapan dari temannya itu. Karena
sudah diselimuti rasa penasaran, akhirnya Aldo memberanikan diri untuk bertanya pada Brian.
“ Apa yang terjadi? Sepertinya Embun tadi marah sekali? Apa kamu ditampar olehnya?” Aldo menatap Brian
menunggu jawaban, tapi sayang Brian diam saja dan pandangannya lurus ke depan. Melihat tidak ada jawaban dari Brian, meledaklah tawa Aldo.
“ Hahahaha,, Jadi beneran dia nampar kamu?” Aldo menepuk bahu Brian tanpa menghentikan tawanya.
“ Apa kamu sudah bosan hidup!!” Tanya Brian kesal. Mendengar perkataan Brian, tentu membuat tawa Aldo semakin kencang. Dia sampai memegang perutnya karena terus tertawa. Sedangkan Kris hanya bisa menunduk dan menahan tawanya.
Brian segera keluar begitu sampai di lantai atas. Dia segera masuk ke ruangannya dan menghempaskan tubuhnya di kursi. Aldo dan Kris juga masuk dan duduk di depan Brian.
“ Salah kamu juga Bri, setelah sekian lama akhirnya bisa bertemu Embun tapi kamunya malah sok jual mahal. Berlagak gak kenal lagi, kalau aku jadi Embun bukan hanya tamparan tapi sudah aku kubur kamu hidup – hidup.” Kata Aldo. Brian tidak menanggapi perkataan Aldo, dia sudah tenggelam dengan pikirannya sendiri.
“ Aku gak mau kehadiranku merusak hubungannya dengan Dion.” Kata Brian pelan.
“ Jadi sikap kamu selama ini karena kamu cemburu?” Tanya Aldo yang tidak percaya dengan pernyataan Brian. Aldo bertepuk tangan dan menyunggingkan senyum pada Brian.
“ Puluhan orang saja bisa kamu kalahkan, kenapa melawan satu orang saja kamu sudah menyerah. Kamu bukan
seperti Brian yang aku kenal. Apa kamu akan menyerah sekarang?”
“ Diamlah. Biar aku selesaikan sendiri, kamu gak perlu ikut campur!” kata Brian tegas. Aldo mengangkat kedua
__ADS_1
tangannya tanda dia tidak akan ikut campur.
“ Bagaimana dengan informasi yang aku minta?” Brian bertanya pada Kris. Kris mengambil laporan dan
menyerahkannnya pada Brian. Terlihat wajah Brian yang serius saat membaca laporan itu. Melihat itu Aldo menjadi serius dan tak terlihat lagi kesan humoris dalam dirinya. Kini mereka bertiga terlibat dalam pembicaraan yang serius.
*****
Embun sudah menyelesaikan semua pekerjaannya dan bersiap uintuk pulang. Embun dan Neni keluar dari lift begitu sampai di lantai 1, rencananya mereka akan jalan bersama. Langkah Embun terhenti ketika melihat Brian berdiri di pintu masuk kantor. Dia segera menarik lengan Neni dan menyuruhnya untuk lewat pintu yang lain.
“ Ada apa sih? Kenapa lewat sini?” Tanya Neni yang bingung, tapi dia tetap menuruti kemana Embun membawanya.
“ Di depan tadi ada debt collector.” Jawab Embun asal. Neni menarik tangan Embun untuk berhenti, Embun menghentikan langkahnya dan menatap Neni.
“ Kamu punya hutang?” Tanya Neni dengan pandangan tidak percaya pada Embun.
“ Banyak banget. Sudah ayo jalan.” Embun kembali menarik tangan Neni dan menyuruhnya terus berjalan. Dan Embun bias bernafas lega ketika sudah sampai di pintu belakang.
Mereka kini harus berjalan cukup jauh untuk bisa sampai di jalan raya. Neni tidak berhenti mengomel karena harus
“ Hati – hati, jangan – jangan itu penculik.” Bisik Embun di telinga Neni.
“ Jangan ngaco, penculik itu biasanya pakai mobil jeep. Mana ada penculik pakai mobil mewah gini. Kalau penculiknya kaya gini, aku dengan suka rela mau diculik.” Jawab Neni takjub melihat mobil di depannya.
“ Iya. Siap – siap saja ginjal kamu diambil.” Embun bergidik ngeri.
“ Gak usah nakut – nakutin.” Kata Neni yang juga mulai khawatir mendengar kata – kata Embun.
Saat Embun dan Neni sedang sibuk berdebat, pemilik mobil itu menurunkan kaca mobilnya. Embun dan Neni kompak menoleh, dan mereka melihat sosok Aldo di kursi depan dan Kris di belakang kemudi. Melihat siapa yang ada di dalam mobil, Neni langsung menundukkan kepalanya dan memberi salam. Melihat Embun yang cuma diam, Neni segera menyuruh Embun untuk melakukannya juga. Embun hanya tersenyum dan melambaikan tangan ke
arah Aldo.
Neni tidak bisa menyembuyikan kebahagiaannya ketika Aldo turun dari mobil dan menyapanya.
“ Kalian kenapa di sini? Bukannya jalan keluar kantor di sana? Apa kalian lewat belakang?” Tanya Aldo menatap
__ADS_1
Embun dan Neni bergantian.
“ Oh tadi kata Embun di depan ada debt collector makanya kita lewat sini.” Jawab Neni polos, dia tidak melepaskan
pandangannya dari sosok Aldo yang ada di depannya. Embun langsung mencubit pinggang Neni keras, dia kesal pada temannya itu. Aldo tentu saja tidak bisa menahan tawanya melihat tingkah kedua gadis itu.
“ Embun, kamu punya hutang berapa banyak? Sampai dicari deb collector, kalau debt collector yang lain mungkin
ada.” Kata Aldo melirik kursi penumpang mobilnya. Embun dan Neni sontak menoleh ke arah mobil, tapi karena kaca mobil yang gelap mereka tidak tahu siapa yang ada di dalamnya.
“ Maaf pak Aldo, kami pergi dulu. Taksinya sudah datang.” Embun segera pergi dan menarik tangan Neni.
“ Mau aku antar?” Aldo menawarkan diri untuk mengantar mereka pulang.
“ Tidak usah pak, lain kali saja.” Tolak Neni halus.
“ Yang satu dimasukin bagasi gitu?” Kata Embun pelan tapi masih bisa didengar oleh Aldo dan Neni. Aldo tertawa
mendengar perkataan Embun, sedangkan Neni langsung menutup mukanya dengan tas karena malu. Dia langsung menarik tangan Embun untuk naik taksi.
Aldo tidak bisa berhenti tertawa sampai dia masuk kembali ke dalam mobil. Dia menoleh ke belakang, dan melihat
Brian yang masih menatap taksi yang membawa Embun pergi.
“ Selera kamu unik juga.” Kata Aldo dengan menahan senyum.
“ Jalan Kris!!!” Perintah Brian tanpa menjawab kata – kata Aldo. Kris segera menjalankan mobil, dan pergi membelah kemacetan sore hari ini.
Neni yang sedang berada di taksi bersama Embun, terus saja memarahi Embun. Dia tidak habis pikir pada ulah Embun tadi. Dia tentu saja merasa kehilangan kesempatan untuk mengobrol lebih lama dengan Aldo, karena dia tentu tidak akan mendapat kesempatan seperti itu lagi.
“ Ngomong – ngomong, nama ceo kita siapa?” Tanya Embun. Neni menghentikan omelannya dan menjawab pertanyaan Embun.
“ Kamu gak tahu? Namanya Fabrian Dominic Danendra. Biasanya dipanggil pak Brian.” Jelas Neni.
Embun terkejut mendengarnya. Dia tidak menyangka kalau Brian yang dia kenal adalah seorang ceo di perusahaan tempat dia bekerja. Embun mulai berpikir apakah Brian yang memindahkannya ke kantor pusat. Embun juga merasa kalau itu benar, kehidupannya mulai sekarang tidak akan berjalan dengan lancar dan tenang lagi.
__ADS_1