Hanya Bayanganmu

Hanya Bayanganmu
Obsesi


__ADS_3

Embun berdiri memandang ke luar jendela dengan pikiran yang tidak menentu. Pertemuan tak terduga dengan Raka benar – benar membuat hati dan pikirannya seakan tak sejalan. Pikirannya mengatakan untuk  tidak memikirkan Raka lagi, tapi hatinya seakan berkhianat. Karena di sudut hatinya, masih terpatri nama Raka di dalamnya. Embun berjalan dan duduk di tempat tidur, dia mengacak rambutnya frustasi.


“ Bodoh.. bodoh.. bodoh. Ngapain sih aku mikirin dia lagi.” Ucap Embun frustasi.


Embun menarik nafas dan menghembuskannya perlahan. Dia lakukan itu berkali – kali untuk menenangkan pikirannya.


“ Oke.. Tenang Embun. Kamu bisa. Pertemuan tadi tidak akan menggoyahkan hati kamu dan itu tidak berarti apa – apa buat kamu.” Embun berkata pada dirinya sendiri. Setelah cukup lama berpikir, Embun memutuskan untuk tidur.


Keesokan harinya, Brian sudah berdiri di depan kamar Embun. Cukup lama dia berdiri di depan kamar gadis itu


dan beberapa kali mengetuk pintu tapi tak kunjung dibuka. Brian akan mengetuk lagi tapi urung ketika pintu kamar terbuka. Embun keluar dengan wajah yang kuyu, Brian menatap Embun dari atas ke bawah.


“ Apa kamu begadang semalaman?” Tanya Brian yang melihat lingkaran hitam di bawah mata Embun.


Embun tidak menjawab pertanyaan Brian, dia melangkah meninggalkan Brian sambil menguap. Embun berjalan menuju meja makan, dia melihat sudah ada Aldo dan juga Kris.


“ Pagi. Kris kamu pulang kapan?” Tanya Embun pada Kris namun tidak mendapat jawaban dari pria irit bicara itu. Embun santai dan memilih duduk di depan Aldo.


“ Pagi.. Kamu kenapa? Apa kamu tidak tidur semalaman?” Tanya Aldo.


“ Aku Cuma tidur satu jam. Kris, bisa tolong buatkan aku kopi.” Pinta Embun pada Kris.


Kris tidak menjawab, tapi melangkah ke dapur untuk membuatkan kopi Embun. Embun tidak bisa menahan


kantuknya, dia meletakkan kepala di meja dan memejamkan matanya. Brian datang dan duduk disamping Embun. Brian penasaran apa yang membuat sampai Embun tidak bisa tidur. Apa karena pertemuan kemarin dengan Raka.


Kris meletakkan kopi di meja untuk Brian dan juga Embun. Brian menepuk pelan bahu Embun untuk membangunkannya. Dengan setengah sadar Embun membuka matanya, dan langsung meminum kopi di depannya.


“ Panas.. panas.” Embun langsung menyemburkan kopi itu, dan mengipasi lidahnya. Brian dengan sigap mengambilkan air putih dan tisu. Sedangkan Aldo tentu saja tertawa terbahak – bahak melihat ulah Embun. Aldo menghentikan tawanya ketika mendapat tatapan tajam dari Brian.


“ Sorry.. sorry.” Aldo menggigit bibirnya agar tidak tertawa lagi.


“ Kamu tidak apa – apa?” Tanya Brian lembut.

__ADS_1


“ Gak apa – apa. Aku berangkat dulu.” Embun melangkah pergi masih dengan mengipasi lidahnya. Brian berdiri dan


segera menyusul Embun.


Setelah kedua orang itu pergi, pecahlah tawa Aldo. Dia tertawa sambil memegangi perutnya. Aldo mengaduh saat merasakan perutnya kram karena terlalu banyak tertawa. Kris yang melihat itu hanya menggelengkan kepala, lalu mengambil tas dan pergi menyusul Brian.


*****


“ Apa tidak sebaiknya kamu suruh Embun pulang saja? Kalau tidak kamu pindahkan ke kamarmu saja. Badannya akan sakit kalau tidur seperti itu.” Ucap Aldo yang melihat Embun tidur di meja kerjanya. Di ruangan Brian itu memang tersedia kamar khusus yang biasa Brian gunakan untuk istirahat saat dia lembur.


“ Biarkan saja. Embun pasti tidak mau kalau aku suruh pulang. Kalau aku pindahkan ke kamar, aku takut khilaf.” Kata Brian datar.


“ Kamu tidak mungkin melakukan itu. Jangankan melakukan itu, mungkin sampai sekarang bibir kamu juga masih


perjaka.” Seloroh Aldo yang mendapat tatapan membunuh dari Brian.


“ Jadi benar kamu belum pernah berciuman?” Tanya Aldo dengan tatapan menyelidik.


jawabannya. Dia menepuk bahu Brian sambil menahan tawa.


Brian segera menepis tangan Aldo dari pundaknya, “ Memangnya kenapa? Aku tidak seperti kamu yang suka celup sana sini.” Kata Brian sinis.


“ Kamu jangan salah. Walaupun aku suka gonta ganti cewek, aku tidak sembarangan menabur benih.” Jawab Aldo santai tidak tersinggung pada ucapan Brian.


“ Karena tidak ada yang mau menampung benih kecebong kamu.”


“ Enak saja.” Jawab Aldo kesal.


“ Sudah kembali ke ruanganmu!” Usir Brian. Aldo menurut dan keluar dengan wajah yang ditekuk.


Brian meletakkan berkas di mejanya dan berjalan mendekati meja Embun. Dia menarik kursi dan duduk di depan Embun. Brian merebahkan kepala di meja dengan alas tangannya dan menatap Embun yang sedang tertidur. Brian tersenyum lembut, merapikan rambut Embun yang berantakan.


“ Apa kamu masih menyimpan perasaan untuk dia?” Kata Brian pelan. Dia mengelus pipi Embun.

__ADS_1


“ Aku tidak akan menyerah, aku ingin kamu jadi satu – satunya wanita yang menua bersamaku.” Brian bangkit dan


membelai rambut Embun. Sedetik kemudian dia mengecup pelan kening Embun, lalu berjalan kembali ke mejanya. Tanpa Brian sadari, Embun membuka matanya. Embun sudah bangun cukup lama karena mendengar percakapan antara Brian dan Aldo. Dia malas untuk membuka matanya dan pura – pura tidur. Pikiran Embun tambah tidak karuan setelah mendengar perkataan Brian tadi. Embun menarik nafas berat dan kembali memejamkan matanya.


Di Tempat Lain


Raka sedang memeriksa laporan ketika pintu kantornya terbuka. Masuklah Vania dengan membawa paper bag berisimakan siang. Raka melirik sekilas dan kembali sibuk dengan pekerjaannya. Vania meletakkan paper bag di meja sofa dan berjalan mendekati Raka. Dia berdiri di samping Raka dan mengalungkan tangan di leher Raka.


“ Vania.. Kamu tidak lihat aku sedang sibuk.” Kata Raka.


“ Ini sudah jam makan siang sayang.. aku sudah bawain kamu makanan kesukaan kamu.” Kata Vania dengan suara yang manja. Vania mendekatkan wajahnya dan berusaha untuk mencium pipi Raka, tapi Raka segera menjauhkan wajahnya.


“ Tolong jaga kelakuan kamu.. Ini di kantor!!!” Bentak Raka yang tidak suka dengan kelakuan Vania.


Vania melepaskan rangkulannya dan menatap Raka kesal, “ Kamu kenapa sih Ka, sejak dulu selalu menolakku begitu. Apa salahnya aku menciummu? Bukannya kita sudah bertunangan?”


Raka meletakkan berkas di meja dan balas menatap Vania dengan tajam.


“ Karena sudah bertunangan bukan berarti kamu bebas menciumku? Aku laki – laki normal Van, bisa saja suatu saat aku khilaf. Dan aku tidak mau mengambil resiko itu.” Ucap Raka tegas.


“ Memangnya kenapa? Aku tahu kamu akan tanggung jawab.” Jawab Vania santai sambil menyentuh dada  bidang Raka dengan jari lentiknya.


Raka menggenggam erat tangan Vania yang bermain – main di dadanya.


“ Kalau kamu datang Cuma mau ganggu aku sebaiknya kamu pergi sekarang juga. Tapi kalau kamu mau makan siang bareng, kamu duduk di sofa tunggu kerjaan aku selesai.” Raka melepaskan tangan Vania kasar dan mengambil berkas di depannya.


Vania akhirnya mengalah, melihat kemarahan Raka. Dia berjalan ke sofa dan menghempaskan tubuhnya.


Vania mengambil gawainya dan sesekali melirik Raka yang sedang berkutat dengan pekerjaannya,” Aku harus mencari cara agar Raka bisa tunduk padaku.” Batin Vania.


Tak berapa lama terlihat senyuman jahat di sudut bibir Vania. Sepertinya dia sudah mendapatkan cara agar Raka


tidak berpaling darinya. Sepertinya keinginan untuk mendapatkan Raka bukan lagi karena rasa cinta, tapi sekarang sudah menjadi obsesi dalam hidupnya.

__ADS_1


__ADS_2