Hanya Bayanganmu

Hanya Bayanganmu
Pernyataan Brian


__ADS_3

Embun sedang duduk di teras rumahnya ketika Raka datang. Embun memperhatikan Raka sekilas dan kembali fokus pada buku yang dia baca. Tanpa dipersilahkan Raka duduk di depan Embun. Suasana hening karena tidak ada satupun dari mereka yang memulai percakapan.


"Kamu ke sini mau jadi patung?" Tanya Embun yang sudah tidak tahan melihat Raka yang diam saja. Tapi bukannya menjawab, Raka cuma menatap Embun datar.


Melihat itu, Embun meletakkan buku yang dia baca dan balik menatap Raka. Untuk beberapa saat mereka saling menatap. Ada debaran yang Raka rasakan, yang belum pernah Raka alami saat bersama Vania.


Jangan tanya apa yang Embun rasakan. Sejak tadi dia merasakan jantungnya berdetak sangat kencang. Embun mengambil kacang dan melemparnya ke arah Raka. Refleks Raka cukup cepat, dia langsung mengambil kacang di meja dan balas melemparnya ke arah Embun. Mereka berhenti saling lempar ketika kacang di meja telah habis. Mereka saling pandang dan akhirnya tertawa bersama.


"Cepat beresin nanti ibu marah." Embun beranjak dari duduknya dan membersihkan kacang yang berserakan di lantai.


"Kamu kenapa hindarin aku?" Tanya Raka.


"Kata siapa, perasaan kamu saja kali." Jawab Embun tetap melanjutkan aktifitasnya.


"Kamu gak usah nutup - nutupin. Jujur sama aku, apa ada yang nyuruh kamu buat jauhin aku?" Todong Raka.


"Gak usah mikir aneh - aneh. Kamu fokus saja belajar untuk ujian." Nasihat Embun, dia tidak mau Raka terus bertanya yang tentu saja nanti akan menyudutkannya.


"Kamu tuh yang mesti fokus belajar, gak usah pake sistem kebut semalam buat ujian. Aku gak belajarpun pasti lulus ujian dengan nilai terbaik." Kata Raka.


"Sombong amat." Embun melempar kacang lagi ke arah Raka.


"Mending aku ada yang bisa disombongin, emang kamu ada?" Raka bertanya dengan nada yang mengejek.


"Emang gak ada yang bisa aku sombongin, soalnya semua kesombongan aku udah kamu borong semua. Puas!" Embun memanyunkan bibirnya.


"Itu tahu." Jawab Raka cuek.


Embun benar - benar kesal pada Raka, dia meremas tangannya di depan wajah Raka. Sedangkan Raka cuma menyunggingkan senyum mengejek.


"Mau apa?" Tanya Raka.


"Menurut kamu?" Embun maju mendekati Raka, terlihat dia menyunggingkan senyum yang membuat Raka ngeri.


Raka mundur perlahan, dia tidak tahu apa yang akan Embun lakukan padanya.


"Mundur, jangan mendekat!!"


Embun menarik ujung bibirnya membentuk senyum jahat. Raka sudah akan berlari tapi tertahan karena Embun menarik rambutnya. Raka berteriak kencang dan berusaha melepaskan tangan Embun dari rambutnya. Karena Embun tidak melepaskan tarikannya, akhirnya Raka juga menarik rambut Embun. Adegan tarik menarik itu berlangsung cukup lama, karena tidak ada yang mau mengalah. Raka dan Embun sibuk berkelahi, sampai mereka tidak menyadari ada yang menyaksikan perkelahian mereka.


...***********...

__ADS_1


"Assalamualaikum." Terdengar suara memberikan salam.


"Waalaikum salam." Jawab Embun dan Raka bersamaan.


Mereka menoleh dan melihat Brian yang sedang menatap mereka. Embun dan Raka saling tatap dan langsung melepaskan jambakan mereka. Raka merapikan rambutnya dan duduk seolah tidak terjadi apa - apa. Sedangkan Embun langsung mendekat ke arah Brian.


"Eh Brian, tumben kemari. Ada perlu apa?" Tanya Embun.


"Kebetulan aku lewat sini, lalu mampir sekalian." Jawab Brian.


"Modus." Kata Raka pelan tapi masih bisa didengar oleh Embun dan Brian.


"Gak usah dengerin, ayo duduk." Embun menyuruh Brian duduk. Dia menoleh ke arah Raka dan memelototinya.


"Gak usah melotot segala, sana ambil minum." Perintah Raka.


Embun menurut tapi dia tetap menatap Raka tajam dan mulutnya komat kamit. Setelah Embun masuk, Raka kembali memasang wajah dinginnya dan menatap Brian.


"Apa kamu menyukai Embun?" Tanya Raka pada Brian.


"Tentu saja, siapa yang tidak menyukai Embun. Kamu jugakan?" Tanya Brian balik.


"Tentu saja aku menyukainya, kami sudah kenal dari kecil." Ungkap Raka.


"Apa maksud kamu, tentu saja hanya sebagai teman dan sahabat. Tidak lebih, kamu juga tahu kalau aku sudah bertunangan dengan sepupumu." Jelas Raka dengan sedikit emosi.


"Santai bro, gak perlu emosi kaya gitu." Kata Brian.


"Kalau kamu cuma menganggapnya sebagai teman, berarti aku bisa bebas mendekati Embun." Lanjut Brian.


"Maksud kamu apa?"


"Aku suka sama Embun. Karena kamu teman Embun dari kecil, aku mau kamu dukung hubungan aku dengan Embun." Brian menyunggingkan senyumnya.


Raka mengepalkan tangannya. Entah kenapa dia muak melihat senyum Brian. Terlebih mendengar pernyataan Brian tadi. Tidak ada lagi kata - kata yang terlontar dari mereka berdua. Mereka cuma saling menatap dengan tatapan permusuhan.


Mereka mengalihkan pandangan ketika Embun keluar membawa nampan berisi minuman. Dia meletakkan minuman di meja, dan memandang bingung ke arah Brian dan Raka.


"Apa ada yang terjadi? Kenapa suasananya mencekam gini? Kaya di kuburan saja?" Tanya Embun bergantian menatap Brian dan Raka meminta jawaban.


"Gak apa - apa." Jawab Brian dan Raka bersamaan.

__ADS_1


"Ciieee, kompak banget. Bisa jawab bersamaan kaya gitu. Jangan - jangan kalian berjodoh." Goda Embun.


Raka dan Brian saling menatap dan kompak membuang muka. Embun yang melihat kelakuan kedua temannya itu tidak bisa menahan tawanya.


"Sudah, ayo diminum." Kata Embun.


...************...


Raka duduk termenung di kamarnya. Dia memikirkan kata - kata Brian tadi. Sebenarnya Raka merasakan hatinya perih mendengar pernyataan Brian. Dari lubuk hatinya, Raka belum bisa melepaskan Embun. Tapi dia juga tidak boleh egois, karena mau bagaimanapun kini dia sudah mempunyai tunangan.


"Semoga dia bisa bahagiain kamu Mbun." Kata Raka pelan.


Raka mengambil ponselnya, dia menekan nomor dan melakukan panggilan.


"Halo, Assalamualaikum kek."


"Raka terima tawaran kakek, tapi kakek rahasiain dari mama dan papa dulu."


"Baik kek, Raka tutup telefonnya. Assalamualaikum."


Raka mematikan telefonnya dan meletakkan ponselnya di meja.


"Semoga keputusanku ini tepat." Raka memandang sedih foto di meja belajarnya.


Dia mengambil foto itu dan mengusapnya. Terlihat jelas kesedihan di wajahnya. Foto itu adalah fotonya berdua dengan Embun. Raka ingat jelas foto itu diambil ketika mereka lulus SMP. Tanpa sadar Raka menitikkan air mata. Begitu banyak cerita yang sudah dia lalui bersama Embun, dan tentu itu akan menjadi kenangan indah yang tidak akan pernah dia lupakan. Ditengah tangisnya Raka juga sesekali tertawa mengingat hal lucu yang terjadi saat bersama Embun.


Di sisi lain, terlihat Embun juga duduk termenung menatap keluar jendela. Terdengar helaan nafasnya, dia mengingat kejadian sore tadi. Ternyata tanpa Raka dan Brian sadari, Embun mendengar semua percakapan mereka.


"Apa maksud kamu, tentu saja hanya sebagai teman dan sahabat. Tidak lebih, kamu juga tahu kalau aku sudah bertunangan dengan sepupumu."


Kata - kata Raka itu terus saja terngiang - ngiang di telinganya. Hati Embun terasa ditusuk, rasanya sakit sekali.


"Walaupun aku sudah tahu kenyataannya, tapi kenapa rasanya bisa sesakit ini. Kenapa rasa ini belum hilang juga, seandainya aku gak punya perasaan sama Raka." Embun meletakkan kepalanya di meja.


Embun menoleh kesamping ketika merasakan ada yang membelai kepalanya. Embun melihat ibunya tersenyum penuh sayang kepadanya.


"Kenapa anak ibu, kok sedih?" Tanya bu Lastri.


"Gak apa - apa kok bu." Jawab Embun.


"Mbun, yang namanya perasaan itu gak bisa dipaksakan. Jangan memaksa buat hapus perasaan kamu, pelan - pelan saja ya. Mungkin sekarang kamu belum bisa menghapus perasaan kamu sama Raka, tapi percayalah seiring berjalannya waktu kamu pasti bisa. Apalagi kalau kamu sudah menemukan orang baru yang bisa menggantikan nama Raka. Sekarang ibu minta kamu fokus buat ujian ya." Kata - kata bu Lastri itu tentu saja menenangkan hati Embun.

__ADS_1


Embun memeluk ibunya erat seakan meminta kekuatan. Bu lastri membalas pelukan Embun dan mencium puncak kepalanya. Dia tidak tahu kalau kisah asmara putri kesayangannya itu bisa serumit sekarang. Tapi bagi bu Lastri, inilah lika - liku kisah asmara anak muda.


__ADS_2