
Tuk
Embun menggetok kepala Brian dengan pulpen. Brian sempat kaget lalu menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Udah ah bercandanya." Kata Embun membalikkan tubuhnya menghadap ke depan.
Dion menyenggol lengan Brian kemudian tersenyum. Dia penasaran pada perkataan temannya itu dan ingin bertanya. Tapi sebelum Dion bertanya, Brian sudah berkata terlebih dulu.
"Tidak usah bertanya." Kata Brian tanpa menatap Dion.
Dion akhirnya mengurungkan niatnya. Dia hanya menepuk pundak Brian. Dia merasa kalau Brian serius saat mengatakannya. Karena selama mengenalnya, Dion tahu kalau Brian adalah tipe orang yang serius dengan kata - kata yang dia ucapkan. Tapi dia tidak menyangka kalau Brian akan melamar Embun seperti itu.
Selama jam pelajaran, Brian terus saja memperhatikan Embun di depannya. Embun yang merasa ada yang memperhatikannya tentu saja menjadi tidak konsentrasi mengikuti pelajaran.
"Apa?" Embun menoleh ke belakang dan bertanya pada Brian.
Brian hanya menjawab pertanyaan Embun dengan gelengan kepala.
"Gak jelas banget. Dasar kulkas 2 pintu." Kata Embun pelan.
Akhirnya jam istirahat berbunyi. Dewi yang hendak mengajak Embun ke kantin mengurungkan niatnya. Dia melihat Embun menghadap ke belakang dan memperhatikan Brian dengan serius.
"Aku duluan ke kantin ya." Dewi berjalan keluar, dia tidak mau mengganggu Embun.
Embun mengangguk dan kembali memperhatikan Brian.
"Ada apa?" Tanya Brian.
"Kamu ngapain pas pelajaran merhatiin aku terus?" Tanya Embun tanpa mengalihkan pandangannya dari Brian.
"Pede banget." Brian mendorong pelan dahi Embun dengan jarinya.
"Siapa yang kepedean. Aku ngrasa kok." Elak Embun.
"Terus kalau aku memang merhatiin kamu kenapa?" Tanya Brian langsung.
"Aku gak nyaman tahu. Tengkuk aku sampai merinding." Embun mengelus tengkuknya.
"Kamu kira aku hantu?" Kata Brian.
"Kan kamu kulkas 2 pintu." Jawab Embun.
__ADS_1
"Aduh."
Embun mengaduh setelah mendapat sentilan didahinya. Brian sendiri langsung bangun dari duduknya. Dia mengelus puncak kepala Embun dan berkata.
"Aku traktir makan."
Embun tentu saja sumringah mendengarnya. Dia langsung berdiri dan menggandeng lengan Brian. Brian sedikit gugup mendapat perlakuan Embun itu.
"Kamu mau traktir aku apa?" Tanya Embun semangat.
Brian berdehem untuk mengusir kegugupannha.
"Terserah kamu mau makan apa." Jawab Brian lembut.
Embun dengan semangat menyebutkan beberapa makanan. Brian yang mendengarnya hanya tersenyum kecil. Saat mereka akan keluar kelas, mereka berpapasan dengan Raka yang akan masuk ke kelas Embun. Pandangan Raka langsung tertuju pada lengan Brian yang digandeng Embun. Dia menatap tidak suka pada Brian, sedangkan Brian sendiri terlihat cuek.
"Kamu mau kemana?" Tanya Raka pada Embun.
"Aku mau ke kantin. Brian mau nraktir aku. Kamu sendiri mau kemana?" Tanya Embun balik.
"Aku juga mau ke kantin." Jawab Raka.
"Kalau gitu bareng saja." Ajak Embun.
Setelah Raka pergi, Embun dan Brian langsung berjalan ke kantin. Sedangkan Raka menghentikan langkahnya dan berbalik memperhatikan Embun. Raka terlihat muram, entah apa yang dia pikirkan.
...*************...
Saat jam pulang sekolah, Raka sedang menunggu Embun di parkiran. Dia melambaikan tangannya ketika melihat Embun yang berjalan menghampirinya.
"Ayo pulang bareng." Raka menyerahkan helm pada Embun.
Embun mengurungkan niatnya menerima helm dari Raka. Karena dia melihat seorang gadis yang mendekat ke arah mereka. Raka melihat ke arah pandangan Embun. Dia melihat Vania berjalan mendekat dan melambaikan tangan ke arahnya.
"Kamu ngapain ke sini?" Tanya Raka.
"Mama aku minta kamu ke rumah, makanya aku nyamperin kamu ke sini." Kata Vania.
" Kenapa gak telefon aku dulu kalau mau ke sini?" Tanya Raka lagi.
"Aku mau ngasih kejutan kamu Ka." Tanpa menunggu jawaban, Vania mengambil helm ditangan Raka dan memakainya.
__ADS_1
"Yuk Ka, mama pasti dah nungguin." Ajak Vania.
"Aku pergi dulu ya." Raka berpamitan pada Embun.
Embun hanya mengangguk dan tersenyum. Dia berusaha menyembunyikan gurat kesedihan di wajahnya.
"Embun, kami duluan ya." Kata Vania. Dia naik ke motor Raka dan melingkarkan tangannya di perut Raka.
Sebelum menjalankan motornya, Raka sempat menoleh ke arah Embun. Dia merasa tidak enak pada Embun. Tapi dia juga tidak bisa menolak ajakan Vania. Raka melajukan motornya meninggalkan Embun. Embun memandangi motor Raka yang menjauh sampai tak terlihat. Embun masih berdiri mematung di tempatnya. Dia menundukkan kepala, dan tanpa terasa air matanya menetes.
Embun terlarut dalam kesedihannya, sampai tidak menyadari ada motor yang berhenti di depannya. Embun baru sadar ketika ada yang menyodorkan helm padanya. Embun tidak menerima helm itu karena dia tidak mengenal orang tersebut.
Orang itu membuka kaca helmnya, dan Embun akhirnya tahu kalau itu adalah Brian. Embun menerima helm dan memakainya, kemudian naik ke motor Brian. Brian melajukan motornya dengan cukup cepat. Embun yang berada diboncengan berpegangan pada jaket Brian.
Mereka berhenti di lampu merah. Embun dan Brian tidak menyadari, kalau mereka berhenti tepat disamping motor Raka. Raka sendiri cukup terkejut melihat Embun dan Brian. Raka terus terdiam sampai tidak menyadari kalau lampu sudah berwarna hijau. Raka terus melihat motor Brian berjalan menjauh. Raka tersadar ketika Vania menepuk pundaknya, kemudian menjalankan motornya.
Selama diperjalanan Raka terus diam sampai mereka tiba di rumah Vania.
"Raka, kok diam saja ayo masuk." Ajak Vania, karena Raka hanya diam saja di atas motornya.
Raka turun dari motornya dan mengikuti Vania masuk ke dalam rumah. Raka mengikuti Vania sampai ke taman. Di kursi taman, terlihat mama Vania yang sedang duduk membaca majalah. Vania memeluk mamanya dari belakang dan mencium pipinya.
"Mama, ini Raka udah datang." Kata Vania dan duduk di samping mamanya.
Mama Vania yang bernama Vina menoleh ke arah Raka dan tersenyum.
"Asslamualaikum tante." Raka memberi salam dan mencium tangan tante Vina.
"Waalaikum salam. Ayo duduk." Tante Vina menyuruh Raka duduk.
Raka dengan sopan duduk di depan tante Vina. Dia penasaran ada perlu apa sampai mamanya Vania itu memintanya datang. Tak berapa lama, ada seorang pembantu datang membawa minuman untuk Raka. Setelah meletakkan minuman pembantu itu pun pergi.
"Ayo diminum minumannya." Kata tante Vina.
"Makasih tante." Kata Raka. Kemudian dia meminum minumannya sedikit.
"Maaf tante, ada perlu apa tante memanggil saya ke sini?" Tanya Raka sopan.
Tante Vania meletakkan minumannya dan tersenyum ke arah Raka.
"Raka, tante dan om sudah bicara sama orang tua kamu. Kami ingin kamu dan Vania tunangan secepatnya. Bagaimana menurut kamu?" Kata tante Vina.
__ADS_1
Raka benar - benar kaget mendengar perkataan itu. Dia tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya, dan itu terlihat jelas di wajahnya. Dia menatap Vania seakan meminta penjelasan.