Hanya Bayanganmu

Hanya Bayanganmu
11. Satu Sekolah


__ADS_3

Setelah sampai di sekolah, Embun bergegas masuk ke kelas. Sedangkan Raka dan mamanya pergi ke ruang guru.


Tak berapa lama bel masuk berbunyi. Embun yang sedang duduk dibangkunya, melihat wali kelas masuk diikuti dengan Raka dibelakangnya.


Embun senang karena bisa satu kelas dengan Raka. Tapi lain halnya dengan Raka, dia merasa sekolahnya kali ini akan sulit.


Setelah mengenalkan diri, wali kelas menyuruh Raka duduk di depan Embun.


Saat jam pelajaran Embun terus saja memanggil Raka dengan menusuk - nusukkan jari telunjuknya ke punggung Raka. Tapi Raka pura - pura tidak mendengar, dan terus konsentrasi mengikuti pelajaran.


Begitu bel istirahat berbunyi, Embun langsung mendekati Raka dan berniat mengajaknya ke kantin.


"Raka udah jam istirahat, ayo ke kantin sama aku." Ajak Embun.


"Aku udah bawa bekal." Jawab Raka singkat.


"Yah, padahal jajanan di kantin enak - enak lho. Kalau kamu gak bawa uang juga bisa bon dulu." Jelas Embun sambil tersenyum.


Raka menghembuskan nafasnya, dia tidak menyangka kalau ada anak SD yang udah tahu bon di kantin.


"Memangnya uang jajan yang dikasih ibu kamu kurang sampai kamu bon di kantin?" Tanya Raka.


"Gak sih, tapi aku kadang jajannya yang kebanyakan hehehe." Embun tertawa.


"Jangan dibiasain kaya gitu. Kasihan ibu kamu, kalau tiba - tiba ditagih buat bayar bon kamu." Raka berkata dengan bijak.


"Wah Raka kamu kok tahu sih kalau ibu aku pernah ditagih buat bayar bon jajan aku? Tapi itu bon di warung sekitar rumah, ibu aku ditagih pas lagi belanja di warung." Embun bercerita sambil tertawa.


"Sudah sana pergi, aku mau makan bekal aku." Usir Raka. Dia tidak mau mendengar cerita kelakuan aneh Embun lagi.


"Aku ke kantin dulu ya, tapi boleh gak aku nyicipin sandwich kamu." Pinta Embun tanpa rasa malu.


Raka pun menyodorkan kotak bekal makannya yang berisi sandwich. Embun mengambil satu lalu memakannya sambil berlalu pergi ke kantin.


"Anak perempuan kok gak ada anggun - anggunnya sama sekali." Batin Raka.


...********...


Sepulang sekolah Raka lebih dulu keluar kelas. Dia menunggu mamanya menjemput di depan sekolah. Tapi sampai cukup lama mamanya belum datang juga. Raka menunggu sambil duduk di bangku yang ada disamping depan sekolah.


Tak berapa lama Embun keluar dari kelas. Dia melihat Raka yang sedang duduk sendiri. Embun mendekati Raka dan duduk disampingnya.


"Mama kamu belum jemput?" Tanya Embun sambil menoleh ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan mamanya Raka.


"Belum." Jawab Raka singkat sambil menggeser duduknya.

__ADS_1


"Aku temenin nunggu mama kamu ya." Tawar Embun lalu menggeser duduknya mendekati Raka.


Raka yang terganggu dengan keberadaan Embun didekatnya, lalu menggeser duduknya lagi.


Sedangkan Embun yang memang jail, malah ikut bergeser mendekati Raka.


Hal itu terus berulang, dan tanpa sadar Raka yang sudah duduk di ujung bangku akhirnya terjatuh karena tidak bisa geser lagi. Melihat itu Embun sampai tertawa terpingkal - pingkal, sambil memegangi perutnya.


"Hahahaha, sini - sini aku bantu." Embun mengulurkan tangannya.


Tapi Raka malah menepis tangan Embun. Dia bangun dan membersihkan celananya yang kotor.


"Kamu.." Perkataan Raka terpotong karena bunyi klakson mobil mamanya.


Tin tin tin


Bu Intan keluar dari mobil dan menghampiri Raka.


"Aduh maaf mama telat, tadi jalannya macet baget." Bu Intan memberi penjelasan.


Tanpa menjawab perkataan mamanya, Raka langsung masuk ke dalam mobil. Dia sedang kesal karena kejadian tadi.


Bu Intan yang melihat muka cemberut Raka, menoleh pada Embun dan bertanya.


"Lagi PMS tan." Jawab Embun asal.


"Hush kamu anak kecil kaya tahu arti PMS saja." Bu Intan tertawa mendengar perkataan Embun.


"Ibu Embun juga kadang di rumah tiba - tiba marah tanpa alasan tante kaya Raka, dan kata ayah ibu lagi PMS." Jawab Embun.


Bu Intan tidak bisa menahan tawanya. Dia tertawa terbahak - bahak. Bu Intan langsung menutup mulutnya, ketika mendapat tatapan tajam dari Raka.


"Kamu lucu baget sih." Bu Intan mencubit gemas pipi Embun.


"Embun pulang sama siapa, ayo bareng tante saja." Lanjut bu Intan


"Embun nunggu ibu tante, mau ikut ibu belanja." Kata Embun.


"Mama ayo pulang, Raka sudah capek baget." Ajak Raka.


"Ya udah tante duluan, Embun gak apa - apa nunggu sendiri. Apa tante temenin sampai ibu kamu datang?"


"Mama cepetan!" Raka memanggil mamanya lagi.


"Gak usah tante, sebentar lagi ibu juga datang. Ntar Embun nunggu di pos satpam saja." Embun menolak permintaan bu Intan.

__ADS_1


"Kalau begitu tante pergi dulu ya, Embun hati - hati." Bu Intan pamit, lalu masuk ke dalam mobil.


Embun melambaikan tangannya, Raka yang melihat itu membuang mukanya. Embun tersenyum mendapati perlakuan Raka padanya.


Beberapa menit kemudian ibu Embun datang. Embun menghampiri ibunya, lalu mencium tangannya.


"Embun sudah nunggu lama?" Tanya bu Lastri.


"Gak kok bu. Ibu mau belanja apa saja." Tanya Embun.


"Ibu mau belanja bulanan, tapi cuma sedikit." Bu Lastri memakaikan helm pada Embun.


"Nanti beliin Embun es krim ya bu." Pinta Embun.


"Iya, sudah sekarang naik. Keburu siang jalanannya tambah macet." Bu Intan menyuruh Embun naik ke motor.


Setelah Embun naik, bu Lastri menjalankan motornya menuju supermarket terdekat.


...**********...


Sekarang bu Intan merasa rumahnya sudah tidak sepi lagi sejak pindah ke rumah mertuanya. Itu karena hampir setiap hari Embun datang ke rumahnya.


Ada saja yang dilakukan Embun. Mulai dari membantu memasak, numpang nonton tv, sampai memanjat pohon untuk memetik buah jambu, tapi yang paling sering dilakukan tentu saja mengganggu Raka.


Tiap hari ada saja yang dikeluhkan Raka pada ibunya tentang Embun. Bu Intan menanggapi itu dengan senyuman. Dia senang setidaknya dengan adanya Embun, Raka sudah mulai banyak ngobrol dengannya. Dulu Raka lebih senang belajar atau membaca buku dari pada bercengkrama dengan mamanya. Walaupun sekarang yang menjadi topik obrolan hanya kelakuan Embun yang sering membuat Raka jengkel.


"Ma, ngapain sih Embun ke sini tiap hari? Raka jadi gak bisa konsentrasi belajar, dia berisik baget kalau datang." Protes Raka.


Bu Intan yang sedang membuat kue mematikan mixernya. Dia ingin mendengar keluhan apa lagi tentang Embun.


"Ya gapapa dong Ka. Mama senang rumah jadi ramai. Kamu seharusnya bersyukur, sekarang kamu jadi punya teman." Jawab bu Intan bijak.


"Tapi gak teman kaya tarzan juga ma. Masak anak perempuan hobinya manjat pohon." Cerita Raka tentang ulah Embun.


"Hahaha, kamu ada - ada saja. Kalau Embun gak boleh manjat pohon, sana kamu yang manjat." Bu Intan menggoda anak kesayangannya itu.


"Dari pada disuruh manjat pohon, Raka lebih milih ngerjain soal matematika yang sulit." Kata Raka.


"Sudah sana kerjain PR kamu, mama mau nyelesain bikin kue. Sebentar lagi Embun juga datang." Usir bu Intan.


Raka menurut dan pergi ke kamarnya. Dia tidak mau PRnya tidak selesai karena ada Embun.


Sebelum Raka sampai ke kamarnya, dia mendengar suara yang sangat dikenalnya. Raka buru - buru lari masuk ke kamar.


"Assalamualaikum. Tante Raka, Embun datang."

__ADS_1


__ADS_2