
Keesokan harinya di sekolah, Raka mencari Embun di kelasnya. Raka mendekati Embun yang sedang duduk sambil membaca novel. Raka duduk di depan Embun dan mengambil novel yang sedang dia baca.
"Raka kembaliin, aku belum selesai bacanya." Kata Embun.
"Baca tuh buku pelajaran biar pintar." Raka membolak balik halaman novel milik Embun.
"Bosan tau Ka, seminggu kemarin dah belajar terus. Lihat wajah aku dah jerawatan gara - gara begadang tiap malam." Embun memajukan wajahnya ke depan Raka.
Raka terdiam memandang wajah Embun. Ada sesuatu yang dia rasakan, tapi dia tidak tahu itu apa. Raka tersadar dan mendorong dahi Embun dengan jari telunjuknya.
"Kamu saja yang malas cuci muka makanya jerawatan, pakai alasan belajar." Kata Raka.
Embun tertawa mendengar kata - kata Raka.
"Kemarin pulang jam berapa?" Tanya Raka.
"Jam 5." Jawab Embun.
"Seharusnya kemarin kamu ikut, rame banget di sana." Lanjut Embun.
Embun menceritakan semua hal yang dia lakukan di taman hiburan. Dia bercerita dengan antusias. Selama Embun bercerita, Raka tak melepaskan pandangannya dari Embun. Sesekali dia tertawa bila ada cerita Embun yang lucu.
Saat itu terlihat Brian yang hendak masuk kelas. Dia berhenti di depan pintu. Pemandangan di depannya membuatnya tidak nyaman. Dion yang berada di belakang Brian juga ikut berhenti. Dia melihat dari balik punggung Brian. Dion tersenyum dan masuk kelas mendahului Brian.
"Udah disini saja Ka?" Tanya Dion meletakkan tasnya dan duduk dibangku belakang Embun.
"Heem da perlu sama ini anak." Jawab Raka menunjuk Embun dengan dagunya.
"Keperluan kamu cuma gangguin aku." Cibir Embun.
Raka tertawa kemudian dia berdiri akan beranjak pergi.
"Aku balik kelas dulu. Yuk Yon." Pamit Raka sambil mengacak - acak rambut Embun.
Embun merapikan rambutnya yang berantakan sambil cemberut mendapat perlakuan Raka itu.
Raka keluar dari kelas dan berpapasan dengan Brian yang masih berdiri di depan pintu. Mereka saling berhadapan dan bertatapan sebentar. Raka pun keluar dari kelas tanpa menyapa Brian. Sepertinya akan tumbuh benih - benih permusuhan diantara mereka.
Setelah Raka keluar, Brian berjalan ke tempat duduknya.
"Liburan semester ini kamu mau kemana Brian?" Tanya Embun pada Brian.
Brian yang tiba - tiba mendapat pertanyaan mendadak Embun tentu kaget. Karena biasanya cuek satu sama lain dan jarang mengobrol.
"Aku belum ada rencana." Jawab Brian pendek.
"Sama, aku juga belum ada rencana." Jawab Embun lesu.
"Bukannya tiap liburan kamu selalu buat acara sama Raka?" Tanya Dion melirik Brian.
__ADS_1
Brian yang mendapat lirikan dari Dion membalas dengan tatapan tajamnya. Seakan tatapan itu menyiratkan pertanyaan Brian kenapa Dion meliriknya. Dan Dion hanya mengedipkan matanya dengan genit dari perkataannya tadi.
"Raka mungkin udah buat rencana liburan sama pacarnya." Jawab Embun lesu. Brian memandang Embun, dia seperti merasakan ada nada sedih dari perkataan Embun tadi.
"Raka udah punya pacar?" Tanya Dion memastikan.
Embun mengangguk. Wajahnya sedikit muram. Dia tidak bisa menyembunyikan kesedihannya.
"Ikut aku ke Bali." Kata Brian tiba - tiba.
Embun refleks memandang Brian karena kaget. Begitu juga dengan Dion. Dia tidak menyangka Brian akan mengajak Embun liburan bersama.
"Kamu ngajak aku?" Embun menunjuk dirinya sendiri memastikan. Dia takut kalau dia salah dengar.
Brian yang sadar, langsung meralat kata - katanya.
"Gak cuma kamu. Kamu juga ikut Dion." Kata Brian.
"Wah beneran nih?" Dion bersemangat. Walaupun dia tahu hanya akan jadi obat nyamuk, tapi dia senang membantu Brian sekaligus jalan - jalan gratis.
" Kalau gak mau ya udah." Jawab Brian santai.
"Siapa yang nolak. Tapi gratiskan?" Tanya Dion memastikan.
"Boleh kalau kamu mau bayar semua."
"Jadi gimana, mau ikut kan Mbun?" Dion menggantikan Brian bertanya.
Embun berpikir sejenak, kemudian menjawab.
"Aku tanya ibu aku dulu ya. Misalnya aku diijinin, boleh gak aku ajak Dewi juga." Embun memandang Brian meminta persetujuan.
Brian hanya menjawab dengan anggukan. Karena dia juga tidak mungkin hanya pergi bertiga dengan Embun dan Dion.
...*********...
Setibanya di rumah, Embun langsung mencari ibunya. Embun melihat ibunya sedang menonton tv.
"Ibu, liburan semester ini teman Embun ngajak ke Bali. Embun boleh ikut gak?" Tanya Embun.
"Teman kamu yang mana?" Bu Lastri balik bertanya.
"Yang kemarin pergi sama Embun ke taman hiburan itu loh?" Jelas Embun.
"Yang kaya bule itu?"
Embun mengangguk mengiyakan perkataan ibunya.
"Embun kamu itu anak perempuan. Ibu gak ngijinin kamu pergi berdua sama anak laki - laki. Ayah kamu juga pasti gak ngebolehin." Kata bu Lastri tegas.
__ADS_1
"Kita perginya gak berdua kok bu. Dewi sama Dion juga ikut. Boleh ya bu? Mumpung liburan, gratis lagi." Bujuk Embun.
Tapi bu Lastri tetap pada pendiriannya. Dia tidak mengijinkan Embun pergi dengan teman - temannya. Dia takut terjadi sesuatu pada anak perempuannya itu.
Tapi Embun tidak putus asa. Embun berencana akan meminta ijin ayahnya nanti. Sayangnya ayah Embun ternyata sebelas dua belas dengan istrinya. Pak Ardi juga tidak mengijinkan Embun liburan ke Bali. Embun hanya bisa pasrah menerima keputusan kedua orang tuanya.
Di Sekolah
Embun masuk ke kelas dengan langkah gontai. Dia menghampiri teman - temannya yang sedang mengobrol.
"Gimana Mbun, kamu ikut ke Bali?" Dewi bertanya langsung.
Embun duduk dibangkunya dengan lesu. Dia menjawab pertanyaan Dewi dengan gelengan kepala.
"Apa alasannya?" Tanya Dion.
"Aku tuh anak perempuan satu - satunya. Orang tua aku kuatir terjadi apa - apa sama aku di sana." Embun menjelaskan.
"Aku ngerti maksud orang tua kamu. Jadi mau gimana lagi, gagal deh liburan kita." Dion tersenyum menepuk bahu Brian.
"Tapi kata ayah aku, aku bisa ikut liburan ke Bali asalkan.." Embun tidak melanjutkan kata - katanya.
"Asalkan apa?" Tanya Dewi dan Dion bersamaan. Mereka memandang Embun dan penasaran menunggu jawabannya.
Embun memandang Brian dan menjawab.
"Kamu nikahin aku." Jawab Embun apa adanya.
Dewi dan Dion saling berpandangan. Mereka menatap Brian, kemudian tertawa terbahak - bahak.
Brian yang mendengar perkataan Embun juga kaget. Dia sampai terbatuk - batuk, apalagi melihat wajah Embun waktu mengatakannya yang tanpa beban.
"Kamu mau nikah sama aku?" Todong Embun.
Brian salah tingkah mendapat pertanyaan yang tak terduga itu. Dia berdehem untuk menenangkan diri.
"Kita ganti tujuan saja kalau begitu." Kata Brian sambil mengalihkan pandangannya keluar jendela. Jantungnya berdetak keras dari tadi.
Tiba - tiba Embun memukul lengannya dan tertawa terpingkal - pingkal.
"Kamu gak usah takut gitu kali, aku cuma bercanda." Jawab Embun setelah tawanya terhenti.
Brian memandang Embun dengan serius, itu malah membuat Embun jadi gugup. Dia menunduk sambil memainkan jari - jarinya.
"Aku gak bohong ayah aku benar nyuruh kamu nikahin aku kalau mau ngajak aku ke Bali." Kata Embun lirih.
"Baik. Ayo kita menikah." Brian berkata dengan serius.
"Hah!" Kaget Embun dan kedua temannya.
__ADS_1