Hanya Bayanganmu

Hanya Bayanganmu
Pindah Ruangan


__ADS_3

“ Brian, apa aku boleh kembali ke ruanganku?” Tanya Embun pada Brian.


 Sudah beberapa jam sejak insiden perkelahiannya dengan Dona, Embun terus berada di ruangan Brian. Dia sudah merasa bosan, karena tidak ada yang dia kerjakan sama sekali.


“ Mau apa kamu kembali ke ruanganmu?” Brian yang sedang memeriksa laporan menoleh ke arah Embun. Dia melihat Embun duduk di sofa dan menyilangkan kedua tangan di dada. Brian masih bisa melihat pipi Embun yang


berwarna merah.


“ Tentu saja bekerja. Banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan hari ini. Aku tidak mau makan gaji buta.” Jelas Embun. Dia sangat berharap Brian akan membiarkannnya kembali ke ruangannya. Tapi sayang harapannya sia – sia saja.


“ Kamu tidak makan gaji buta. Menemaniku sekarang juga termasuk bekerjakan?” Brian menjawab dengan santai.


“ Bekerja apa yang dari tadi cuma duduk – duduk saja?” Embun bangkit dari duduknya dan mendekati meja Brian.


“ Please,, Biarin aku kembali bekerja di ruanganku ya?” Embun menyatukan kedua tangannya.


Saat itu pintu terbuka dan terlihat Kris membawa laptop  serta beberapa map, dan meletakkan di meja sofa. Embun tidak menghiraukan kedatangan Kris. Dia memperlihatkan wajah termanisnya pada Brian, berharap Brian bisa luluh dan membiarkannya pergi dari ruangan itu.


“ Kalau mau menyelesaikan pekerjaan kamu silakan. Pekerjaan kamu sudah Kris bawa ke sini. Kamu gak perlu capek – capek kembali ke ruanganmu. Kris sudah menyalin pekerjaan kamu, kamu bisa gunakan laptop itu.” Brian menunjuk laptop di meja dengan dagunya dan tersenyum pada Embun.


Embun menghela nafas panjang dan kembali duduk di sofa. Dia memilih untuk menuruti Brian dan menyelesaikan pekerjannya di situ. Setidaknya kini dia bisa menyelesaikan pekerjaannya. Brian tersenyum melihat Embun yang menurutinya. Brian juga sudah tenggelam kembali dengan pekerjaannya.


Embun sudah menyelesaikan semua pekerjaan. Dia melihat jam dan ternyata sudah waktunya pulang. Embun merapikan meja dan melihat ke arah Brian yang masih terlihat sibuk memeriksa berkas yang menumpuk di mejanya. Dia mengambil tas dan berjalan mendekati Brian.


“ Pekerjaan kamu sudah selesai? Ayo aku antar pulang.” Brian berdiri, lalu mengambil jas di kursi kerjanya.


“ Kamu gak perlu nganterin aku pulang, aku bisa pulang sendiri. Aku lihat pekerjaan kamu juga masih banyak.” Tolak Embun.

__ADS_1


“ Bisa aku selesaikan besok. Ayo.” Brian berjalan mendahului Embun. Embun mengikuti Brian keluar dari ruangan itu. Mereka berjalan berdampingan menuju lift, Embun melirik Brian dan dia bisa melihat wajah Brian yang terlihat lelah.


Saat keluar dari lift, Brian langsung menggandeng tangan Embun. Tentu saja mereka kini menjadi pusat perhatian para karyawan yang hendak pulang. Embun terus menundukkan kepalanya sampai mereka keluar dari kantor. Cukup lama mereka menungu di depan kantor, sampai sebuah mobil sport berhenti di depan mereka. Embun tidak bisa menyembunyikan kekagumannya, karena baru kali ini dia melihat mobil sport mewah yang dia taksir harganya tentu saja sangat mahal itu. Embun melihat pintu mobil terbuka, dan keluarlah Aldo yang tersenyum padanya. Aldo berjalan mendekati Brian dan melemparkan kunci mobil yang langsung ditangkap oleh Brian.


Brian segera membukakan pintu mobil untuk Embun, tapi Embun tidak langsung masuk dan masih berdiri di tempatnya. Melihat Embun yang mematung, Aldo mendekatinya dan menepuk pundak Embun. Embun menoleh dan melihat Aldo menyuruhnya untuk masuk mobil. Embun lalu masuk mobil, kemudian Brian menutup pintunya dan segera berjalan ke arah kemudi. Brian segera melajukan mobilnya dan pergi meninggalkan perusahaan.


Brian tidak langsung membawa Embun pulang, dia mengajak Embun ke restoran dahulu untuk makan malam. Setelah makan baru dia mengantarkan Embun pulang. Tak butuh waktu lama, mobil Brian sudah sampai di depan kost Embun.


“ Apa kamu mau masuk dulu?” Tawar Embun.


“ Tidak usah ini sudah malam. Tapi kalau kamu menawarkan aku untuk menginap tentu aku tidak akan menolak.” Canda Brian. Embun langsung memukul lengan Brian. Pria itu hanya terkekah mendapat pukulan dari Embun.


“ Aku hanya bercanda. Cepat sana masuk lalu istirahat.”


“ Dasar. Gak lucukan kalau aku nikah karena digrebek warga. Kamu langsung pulangkan?” Tanya Embun.


“ BRIANN!!” Embun berteriak kesal. Brian tertawa dan mengacak – acak rambut Embun.


“ Sudah sana masuk. Ini sudah malam. Aku langsung pulang.” Jawab Brian.


“ Kamu hati – hati di jalan ya. Makasih sudah traktir sama nganterin aku pulang.” Brian tersenyum menanggapi perkataan Embun. Setelah memastikan Embun masuk ke kostnya, dia segera pergi meninggalkan tempat itu. Brian menjalankan mobilnya dan kembali lagi ke kantor karena banyak sekali pekerjaan yang harus dia selesaikan.


*****


Esok harinya Embun ke kantor dan langsung masuk ke ruangannya. Tapi dia dibuat kebingungan begitu melihat meja kerjanya yang sudah kosong. Dia lalu mendekati Neni untuk bertanya padanya. Tapi dia lebih bingung melihat sikap Neni yang berubah padanya.


“ Neni, apa yang terjadi dengan meja kerjaku? Kenapa mejaku kososng dan gak ada satupun pekerjaanku ada di sana?” Tanya Embun. Neni menoleh ke arah Embun dan menyunginggkan senyum meremehkan.

__ADS_1


“ Wah senang ya kalau kenal dengan atasan? Bisa dengan mudah masuk dan memilih posisi. Dan bisa semaunya juga memecat orang lain yang tidak disukai.” Kata Neni mengeraskan suaranya, yang membuat para karyawan lain memperhatikan Embun. Mereka melihat Embun dan berbisik – bisik sambil memandang dengan pandangan mencemooh.


“ Apa maksud kamu?” Tanya Embun yang tidak suka dengan kata – kata Neni.


“ Aduh maaf. Takut..Jangan pecat aku.” Kata Neni setengah berteriak, dia menyilangkan kedua tangannya dan menarik ujung bibirnya menatap Embun.


Embun tentu tidak percaya dengan perubahan sikap Neni padanya. Dia ingin bertanya alasan perubahan sikap Neni. Embun penasaran apa kebaikan Neni selama ini padanya hanya pura – pura saja.


“ Kamu kenapa Nen? Kenapa kamu jadi berubah seperti ini? Apa aku berbuat salah sama kamu? Kalau iya aku minta maaf.” Ucap Embun tulus.


“ Kamu gak salah. Aku saja yang sudah capek mesti pura – pura baik sama kamu.” Kata Neni, lalu pergi meninggalkan Embun yang diam terpaku. Embun tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Selama ini dia menganggap Neni adalah teman yang baik. Neni adalah satu – satunya yang mau berteman dengannya di kantor ini.


Embun tersadar dari pikirannya ketika manager mendekatinya dan menyuruhnya masuk ke ruangan manager. Setelah mendapat penjelasan dari manager, Embun segera keluar dan hendak pergi dari tempat dia bekerja sekarang. Saat akan keluar, Embun menoleh ke arah Neni tapi Neni mengacuhkannya dan tidak memandang Embun sama sekali. Walaupun berat akhirnya Embun meninggalkan ruang itu. Embun berjalan lesu ke arah lift, saat akan masuk dia merasa ada yang menarik tangannya. Dia menoleh dan melihat yang menarik tangannya adalah Aldo.


“ Kamu salah naik lift.” Aldo membawa Embun masuk ke lift khusus, dimana lift itu akan membawanya ke lantai paling atas.


Embun hanya bisa pasrah dan menuruti Aldo. Di lift Aldo melihat Embun yang terus terdiam, dia sebernarnya penasaran dan ingin bertanya pada Embun apa yang terjadi padanya. Tapi sayang lift sudah berhenti dan Embun


langsung keluar meninggalkannya. Aldo pun keluar dan berjalan di belakang Embun. Dia kaget dan hampir menabrak Embun yang tiba – tiba berhenti. Embun berbalik dan bertanya pada Aldo.


“ Dimana ruanganku? Sepertinya di lantai ini hanya ada 2 ruangan?” Tanya Embun lesu.


Aldo tersenyum dan berjalan melalui Embun. Dia membuka pintu ruangan dan mempersilahkan Embun masuk dengan tangannya. Embun menggeleng – gelengkan kepalanya karena tahu ruangan itu.


“ Kamu gak salah? Itu ruangan Brian kan?”


“ Ayo masuk? Ini sudah jam kerja? Kamu gak mau dipotong gajikan karena terlambat.” Kata Aldo.

__ADS_1


Mendengar perkataan Aldo, akhirnya Embun memasuki ruangan itu. Dia kaget melihat ruangan Brian yang sudah berubah. Di sudut ruangan terdapat meja kerja yang dia perkirakan adalah meja kerjanya. Dan terdapat juga meja makan kecil dengan hanya 2 kursi. Embun melihat Brian tersenyum dan mendekat ke arahnya. Brian mendorong bahu Embun pelan dan menyuruhnya duduk di meja yang telah dia siapkan. Embun duduk di mejanya tapi dia masih diam  saja. Embun masih memikirkan perubahan yang terjadi pada hidupnya selama ini.


__ADS_2