Hanya Bayanganmu

Hanya Bayanganmu
Melawan


__ADS_3

Pak Tedi memandang Embun dengan intens. Kemudian dia melewati Embun dan duduk di kursinya.


”Maaf pak tadi bapak tidak ada makanya saya langsung masuk." Ucap Embun sambil menunduk.


”Kalau sudah selesai, silakan keluar.” Usir pak Tedi. Embun tertegun sejenak, lalu melangkah keluar. Tapi sebelum Embun membuka pintu, pak Tedi bertanya padanya.


”Apa karena pria tadi kamu menolak tawaranku?”


Embun berpikir sejenak kemudian tersenyum dan menjawab.


”Walaupun saya tidak punya kekasih, saya akan tetap menolak tawaran bapak. Karena saya termasuk orang yang egois, jadi saya tidak akan mau membagi milik saya pada orang lain. Dan satu lagi saya juga tidak suka merebut milik orang lain.” Setelah berkata seperti itu, Embun segera keluar dari ruangan pak Tedi. Dia langsung berjalan ke meja kerjanya, dan mulai mengerjakan tugasnya.


Embun menghentikan pekerjaannya ketika Sinta memanggilnya. Sinta menunjuk ke arah ruangan pak Tedi dengan dagunya. Embun menoleh ke arah yang ditunjukkan Sinta dan melihat managernya itu berjalan ke arahnya. Embun terkejut saat pak Tedi membanting map ke mejanya. Dia mengambil map itu dan membukanya, ternyata itu adalah laporan yang semalam dia kerjakan.


”Apa ada yang salah pak?” Tanya Embun.


”Kamu bisa kerja tidak!!! Ulangi semua laporan ini. Sebelum makan siang harus sudah ada di meja saya.” Tanpa menunggu jawaban Embun, Pak Tedi pergi meninggalkan meja Embun.


Embun menghela nafasnya dan mulai mengerjakan ulang laporan itu. Setelah beberapa jam akhirnya semua laporan itu selesai, Embun segera beranjak dari duduknya dan berjalan ke ruangan pak Tedi. Embun masuk ke ruangan dan menyerahkan laporan. Tapi betapa kesalnya Embun, pak Tedi menyuruh mengecek ulang laporannya bahkan tanpa membuka mapnya sama sekali.


”Apa maksud bapak? Apa bapak cuma mau mengerjai saya?” Embun protes pada atasannya itu.


”Memangnya kenapa? Itu sudah tugas kamu untuk membuat dan merevisi laporan yang salah." Jawab pak Tedi santai.


"Di mana letak kesalahan laporan yang saya buat? Bahkan bapak tidak membukanya sama sekali? Saya minta bapak bisa bersikap profesional. Jangan campur adukkan masalah pekerjaan dan pribadi.” Terang Embun dengan menahan emosi.


Tapi tanggapan yang Embun dapat benar - benar menyulut emosinya.


”Saya atasan kamu, dan kamu sebagai bawahan punya kewajiban mematuhi perintah saya. Itulah mengapa seseorang harus mempunyai kekuasaan. Agar dia bisa mengendalikan seseorang sesuai dengan keinginannya.” Pak Tedi menyunggingkan senyum yang membuat Embun muak.


"Jadi itu keinginan bapak? Tapi maaf saya tidak punya keinginan untuk menuruti keinginan bapak itu." Embun meninggalkan ruangan dengan penuh amarah. Dia berjalan menuju meja kerja untuk mengambil tasnya lalu pergi. Embun sudah malas untuk melanjutkan pekerjaannya hari ini.


”Gak usah tanya. Aku mau pulang.” Kata Embun saat berpapasan dengan Sinta yang baru dari kamar mandi.

__ADS_1


”Hei tapi pekerjaan kamu masih banyak.” Teriak Sinta. Embun tidak menghiraukannya dan hanya melambaikan tangan meninggalkan kantor.


Di depan kantor Embun menyetop taksi dan menaikinya. Embun meminta sopir mengantarkannya ke taman hiburan. Setelah sampai di tempat yang dituju, Embun masuk dan menikmati beberapa wahana ekstrim. Tujuan Embun tentu saja agar suasana hatinya bisa lebih baik.


...*************...


Karena keasyikan bermain, Embun sampai lupa waktu dan hari sudah beranjak malam. Embun berjalan di kompleks rumahnya sambil memakan permen kapas. Embun melihat Dion sedang berdiri di depan mobilnya sambil menyilangkan tangan. Embun mendekat dan tersenyum, dia menawarkan permen kapas yang sedang dia makan pada Dion.


Dion merasa lega melihat Embun pulang dengan selamat. Tapi dia juga marah pada Embun yang kadang suka seenaknya sendiri.


"Dari mana saja kamu? Kenapa hp kamu gak aktif?" Tanya Dion.


”Baterai hp aku habis. Kamu hubungin aku?" Embun membuka tas dan melihat hpnya ternyata mati.


”Tadi aku jemput kamu. Tapi kata teman kamu, kamu pulang cepat. Kenapa tidak hubungin aku?" Tanya Dion. Embun bisa melihat kalau Dion sedang marah padanya.


”Tadi aku lagi malas kerja, terus main sebentar di taman bermain.” Embun melanjutkan memakan permen kapasnya.


”Dari siang sampai malam kamu sebut itu sebentar? Aku nyariin kamu kemana - mana tapi tidak ketemu. Aku khawatir terjadi sesuatu sama kamu. Dan ternyata kamu malah lagi senang - senang di taman bermain sampai lupa waktu." Papar Dion panjang lebar dengan menahan marahnya.


”Kamu sudah makan?” Tanya Dion melunak, dia tidak bisa terus marah pada Embun.


Embun mengangguk, dia tetap menunduk tidak berani menatap Dion.


”Sudah masuk sana? Ibu kamu pasti sudah nungguin kamu.”


”Kamu sudah gak marah?” Embun mengangkat wajahnya dan menatap Dion memastikan.


Embun lega ketika melihat senyum Dion.


”Makasih, kamu memang sahabat terbaik aku. Aku janji gak akan buat kamu khawatir lagi.” Embun menggandeng lengan Dion.


”Sudah masuk sana. Aku mau pulang."

__ADS_1


Embun mengangguk dan masuk rumah. Dion masuk ke mobilnya tapi dia tidak langsung pergi dari rumah Embun. Dia masih tenggelam dengan pikirannya.


”Kenapa denganku? Pasti ini salah, aku gak mungkin khianatin sahabat aku sendiri. Aku harap kamu cepat kembali Bri.” Kata Dion lirih, lalu menyalakan mobinya dan pergi dari rumah Embun.


Keesokan harinya, Dion datang menjemput Embun. Kali ini Dion menuruti keinginan Embun untuk diantarkan ke bengkel mengambil motornya.


”Kamu gak ingin cari pekerjaan di tempat lain?” Tanya Dion saat Embun akan turun dari mobil.


”Aku gak bisa keluar begitu saja. Bisa - bisa aku di blacklist perusahaan, dan tidak ada perusahaan lain yang mau nerima aku.”


”Tapi apa kamu yakin bisa bertahan di bawah tekanan manager kamu?” Dion terlihat khawatir.


”Tenang saja. Aku akan berusaha ngatasinnya. Makasih, kamu hati - hati bawa mobilnya.” Embun keluar dari Mobil.


Setelah Dion pergi, Embun mengambil mobilnya dan berangkat ke kantornya. Sesampai di kantor, semua temannya memandang Embun dengan tatapan prihatin. Embun bertanya - tanya dalam hati, dia kemudian menuju mejanya dan bertanya pada Sinta.


"Ada apa sih? Kok pada ngelihatin aku kaya gitu?”


”Kamu kemarin pergi kemana? Pak Tedi marah - marah kamu gak nyelesein kerjaan malah kabur. Karena itu, kabarnya kamu akan dipindah dibagian gudang." Jelas Sinta.


Embun tentu saja kaget mendengar kabar ini. Dia langsung beranjak dari duduknya dan menuju ruang manager. Tanpa mengetuk pintu, Embun langsung masuk ke dalam. Pak Tedi yang sedang memeriksa berkas, tidak menoleh sedikitpun ketika Embun masuk.


”Kamu sudah mendapat kabarnyakan? Silahkan beresi barang - barang kamu dan pindah ke ruangan baru kamu.” Usir pak Tedi.


”Apa begini cara kerja bapak?” Embun mengepalkan tangannya menahan emosi.


”Saya tidak suka bekerja bersama dengan orang yang suka meninggalkan pekerjaan seenaknya." Jawabnya santai.


Embun tidak mau berdebat dan memilih keluar. Saat Embun akan membuka pintu, pak Tedi bertanya.


”Kalau kamu mau menerima tawaranku, aku akan kembalikan posisi kamu.”


Mendengar itu Embun menyunggingkan senyum lalu berbalik dan mendekati pak Tedi. Setelah dekat, Embun menarik dasi pak Tedi sehingga wajah mereka cukup dekat.

__ADS_1


”Jangan harap.” Embun melepaskan dasi pak Tedi dan melenggang keluar.


”Si*l*n. Awas kamu Embun, sebentar lagi kamu akan menjadi milikku.”


__ADS_2