Hanya Bayanganmu

Hanya Bayanganmu
Perpisahan..Lagi


__ADS_3

Embun kaget mendengar kata - kata Brian. Dia tidak tahu rencana Brian yang akan pindah ke luar negeri. Embun menatap mata Brian mencari keseriusan dari kata - katanya tadi.


"Kamu gak lagi bercandakan?" Tanya Embun.


"Aku serius. 2 jam lagi aku berangkat.” Kata Brian.


”Apa alasan kamu pindah?”


Untuk beberapa saat Brian terdiam. Pandangannya tidak pernah lepas dari Embun. Terlihat gurat kel


kelelahan dan kesedihan di wajahnya. Setelah beberapa menit, akhirnya Brian menjawab pertanyaan Embun.


”Papa ingin aku belajar bisnis agar aku nantinya bisa mengurus perusahaan.”


”Begitu ya. Apa itu juga keinginan kamu?" Tanya Embun lagi, dari nada bicara Embun terlukis kekecewaan atas keputusan Brian.


”Tidak." Jawab Brian tegas.


Jawaban Brian sebenarnya sudah Embun duga. Karena Embun kenal betul sifat Brian yang tidak mau diatur dan menuruti keinginan orang lain yang tidak sesuai keinginannya.


”Tapi..” Brian menatap Embun serius.


”Tapi kenapa?” Tanya Embun penasaran.


”Aku harus lakuin ini, karena aku ingin memantaskan diri agar bisa buat kamu bahagia. Kalau aku terus hidup seperti sekarang, aku takut gak bisa buat kamu bahagia. Karena kebahagiaan juga butuh materikan? Jadi aku akan belajar dengan giat buat kamu.” Jelas Brian.


Embun menatap Brian lekat. Entah kenapa dia tidak rela kalau Brian pergi meninggalkannya.nya


”Ke..Ken..Kenapa orang yang di sisi aku semua pergi ninggalin aku?” Embun berkata terbata - bata, dan menundukkan kepalanya.


Brian melihat tubuh Embun bergetar seperti menahan tangis. Brian langsung beranjak dari duduknya dan berjongkok di depan Embun. Brian menggenggam tangan Embun lembut berusaha menenangkannya.


”Kalau kamu mau aku akan batalkan kepergianku.”


Embun mengangkat wajahnya dan memandang Brian di depannya. Brian bisa melihat kesedihan di wajah Embun. Brian memberanikan diri mengusap air mata di sudut mata Embun dengan jarinya.


Embun menggelengkan kepalanya dan berusaha tersenyum. Dia balas menggenggam tangan Brian dan berkata.


”Ayo bangun. Bukannya 2 jam lagi kamu harus berangkat?" Embun bangun dari duduknya dan menyuruh Brian bangun.


”Kamu belum jawab pertanyaan aku.” Kata Brian setelah berdiri.

__ADS_1


”Aku ingin kamu tetap pergi. Belajarlah yang rajin, lalu kuasailah perusahaan keluarga kamu. Aku ingin kamu jadi milyader, agar nanti aku bisa habisin uang kamu.” Canda Embun.


Tanpa disangka tiba - tiba Brian memeluk Embun. Hal ini tentu membuat Embun kaget dan berusaha melepaskan pelukan Brian.


”Sebentar saja.” Pinta Brian.


Embun menghentikan gerakannya dan membiarkan Brian memeluknya. Embun merasa canggung dalam posisi itu, dia juga tidak berusaha membalas pelukan Brian. Setelah beberapa saat akhirnya Brian melepaskan pelukannya.


”Aku akan kembali secepatnya. Aku berharap kamu akan menunggu aku pulang, dan saat aku pulang nanti kamu bisa habisin semua uang aku.” Kata Brian membalas kata - kata Embun tadi.


Mendengar kata - kata Brian, Embun langsung memukul lengan Brian. Dia tidak menyangka kalau Brian akan menganggap serius perkataannya tadi.


"Aku pergi dulu. Jaga diri kamu." Pamit Brian.


” Kamu juga hati. Baik - baik di sana dan jaga kesehatan." Jawab Embun.


Brian beranjak pergi meninggalkan rumah Embun dan menuju mobil yang sudah menunggunya. Sebelum masuk mobil, Brian berbalik dan menatap Embun. Terlihat Embun tersenyum dan melambaikan tangannya. Brian membalas senyuman Embun lalu masuk ke mobil, lalu mobil itu melaju meninggalkan rumah Embun.


Setelah mobil yang membawa Brian pergi, Embun masih terdiam di tempatnya. Embun menoleh ketika bu Lastri merangkul pundaknya. Bu Lastri tidak mengatakan apa - apa, dan hanya memberikan senyuman untuk menguatkan Embun.


...**************...


Embun berlari memasuki lobi kantor. Dia terburu - buru masuk ke lift. Dia berdoa agar manager belum datang. Gara - gara ban motornya bocor, dia harus mendorongnya sampai ke bengkel dan berangkat naik taksi. Ternyata doanya kali ini tidak terkabul. Begitu masuk ruangan, dia melihat sang manager sedang menatapnya dengan muka galaknya.


”Pagi pak, maaf saya terlambat.” Embun meminta maaf dan memasang wajah memelas.


”Sudah tahu terlambat masih berani kamu berangkat!!" Bentak pak Tedi manager Embun yang terkenal galak.


”Memang boleh saya tidak berangkat pak?" Tanya Embun.


"Silahkan kalau kamu mau saya pecat."


"Tadi katanya disuruh tidak berangkat." Kata Embun lirih.


"Kamu bilang apa?!!" Tanya pak Tedi.


" Gak apa - apa pak."


"Kali ini kamu saya maafkan. Kalau besok terlambat lagi, silahkan kamu cari perusahaan lain. Cepat kamu bawa laporan yang saya minta kemarin ke ruangan saya!" Setelah memberi perintah pak Tedi pergi dan masuk ke ruangannya.


Embun langsung duduk di mejanya dan mencari laporan yang diminta pak Tedi. Embun menoleh ketika Sinta teman kantornya mengetuk mejanya dan bertanya.

__ADS_1


”Kamu sudah tahu pak Tedi lagi sensitif sama kamu, eh kamu pakai acara telat lagi." Kata Sinta.


”Ban motor aku bocor, aku mesti dorong sampai ke bengkel.” Jelas Embun.


” Kenapa gak di tinggal saja. Motor sudah butut saja masih kamu pakai.”


” Enak saja main suruh tinggal saja, tu motor sudah berjasa banget sama aku tahu.” Embun menjawab dengan cemberut.


”Iya iya..Sudah sana. Bawa laporan ke ruangan pak Tedi. Tuh lihat orangnya sudah lihatin terus dari jendela.”


Embun menoleh ke ruangan managernya. Dan benar saja pak Tedi sedang menatapnya dengan tatapan membunuh. Embun bergidik ngeri dan segera mengambil laporan dan berjalan ke ruangan manager. Tapi dia berhenti ketika Sinta berbisik padanya.


”Hati - hati Mbun, jangan sampai kena rayuannya.” Bisik Sinta, Embun akan membalas perkataan Sinta namun terhenti karena suara deheman dari managernya yang sudah berdiri di depan pintu.


Embun segera berjalan ke ruangan manager. Dia menoleh dan memelototkan matanya ke arah Sinta yang menahan tawa melihat penderitaan Embun.


Setelah mengetuk pintu, Embun masuk ke ruangan managernya. Pak Tedi menyuruh Embun duduk dan meminta laporan yang dia minta. Dia mendiamkan Embun dan membaca laporan. Embun sudah duduk selama lima belas menit, dan pak Tedi malah sibuk dengan pekerjaannya sendiri. Karena sudah tidak tahan, akhirnya Embun memberanikan diri untuk bertanya.


”Maaf pak, kalau tidak ada yang bapak butuhkan saya mohon ijin kembali ke meja saya.” Kata Embun.


”Kamu sudah pikirkan kembali tawaran saya?” Tanya pak Tedi tanpa menoleh ke arah Embun.


”Tawaran yang mana ya pak?” Tanya Embun polos.


Pak Tedi meletakkan map di meja dan menatap Embun.


”Apa kamu lupa? Saya menawari kamu untuk jadi kekasih saya." Pak Tedi menatap tajam Embun.


”Maaf pak, bukannya bapak sudah punya kekasih dan sebentar lagi akan bertunangan? Kenapa bapak meminta saya menjadi kekasih bapak?” Tanya Embun menahan emosi.


”Kita bisa menjalin hubungan tanpa sepengetahuannya. Kalau kamu mau, saya bisa memuluskan karir kamu di perusahaan ini.” Rayu pak Tedi.


Mendengar itu, Embun berdiri dari duduknya dan menggebrak meja.


”Maaf pak Tedi yang terhormat, saya gak serendah itu mau jadi selingkuhan bapak. Silahkan bapak cari orang lain saja yang mau. Permisi saya masih banyak pekerjaan. Satu lagi, kalau bapak mau memecat saya silahkan. Saya akan laporkan bapak ke direktur karena menyalah gunakan kekuasan!! ” Tegas Embun lalu pergi meninggalkan ruangan pak Tedi.


Setelah Embun keluar, pak Tedi meremas kertas dan melemparkannya. Dia benar - benar marah karena penolakan Embun yang tentu melukai harga dirinya.


”Lihat saja, kamu akan bertekuk lutut dan mengemis dihadapanku.” Kata pak Tedi penuh amarah.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2