
Hari ini Embun merasakan capek yang luar biasa. Dia harus
mengecek semua barang yang ada di gudang, dan itu tentu saja membutuhkan waktu
yang tidak sebentar. Karena pekerjaannya yang banyak, Embun sampai tidak sempat
untuk makan siang. Sinta datang menemui Embun dengan membawa makanan, dia
melihat Embun sedang duduk di mejanya. Embun menoleh ketika Sinta meletakkan
makanan di mejanya.
“Tahu saja kalau aku belum makan.” Embun membuka bungkusan
di mejanya, dan betapa senangnya dia ternyata isinya adalah nasi goreng kesukaannya.
Dalam hitungan menit, Embun sudah menghabiskan nasi gorengnya. Sinta tentu saja
sudah tidak terkejut dengan kebiasaan makan Embun yang cepat.
“Kamu sibuk banget ya sampai tidak sempat makan siang?”
Tanya Sinta prihatin. Embun menjawab pertanyaan Sinta dengan anggukan.
“Super sibuk lebih tepatnya. Ini hari pertama aku, jadi aku
belum tahu letak barang – barangnya di mana. Mesti adaptasi sama lingkungan
baru juga.” Jelas Embun.
“Apa tidak sebaiknya kamu terima tawaran pak Tedi? Aku tidak
tega lihat kamu kerja di sini?” Saran Sinta. Tapi tentu saja mendapat penolakan
keras dari Embun.
“Kamu mau menjerumuskan aku atau gimana? Aku lebih baik
kerja di sini dari pada nurutin keinginan pak Tedi. Kalau kamu mau, kamu saja
yang jadi selingkuhan dia.” Kata Embun dengan nada tinggi.
“Aku gak punya maksud kaya gitu, kerja dibagian gudang itu
berat dan gajinya juga gak terlalu besar. Aku takut kamu gak bisa bertahan dan
memilih resign dari perusahaan.” Terang Sinta.
“Tenang saja, aku tidak selemah itu dan aku juga tidak akan
menyerah begitu saja.” Embun berdiri dan menepuk - nepuk pundak Sinta
menenangkan.
“Kamu balik ke ruangan kamu sana, jam istirahat sudah mau
habis.” Usir Embun. Sinta menuruti kata – kata Embun dan beranjak dari
duduknya. Sebelum keluar dari ruangan Embun, dia berbalik dan tiba – tiba memeluk
Embun
“Maafin kata- kata aku tadi.” Sinta memeluk Embun erat.
Embun membalas pelukan Sinta dan menepuk pelan punggung Sinta.
“Sudah gak apa – apa. Kamu balik ke ruangan , kamu gak mau
dimarahin pak Tedikan?” Tanya Embun dan dijawab dengan anggukan.
Sinta akhirnya pergi meninggalkan ruangan Embun, banyak
pekerjaan juga yang harus dia selesaikan. Sedangkan Embun kembali ke tempat
duduknya, dia tidak menyangka akan berakhir bekerja di bagian gudang. Cukup
lama Embun termenung, sampai dia dikagetkan dengan bunyi telefon di mejanya.
Embun mengangkat telefon itu, dan ternyata itu telefon dari managernya yang
baru.
“Baik pak, akan saya selesaikan hari ini juga.” Jawab Embun
__ADS_1
dan menutup telefonnya.
Embun mengambil catatan stok barang dan memasukkan datanya
dikomputer. Begitu banyak data yang harus dia masukkan. Tidak hanya itu, Embun
juga harus mengecek jumlah barang yang ada di gudang apakah sama dengan yang
ada di data. Sudah jam 4 sore, dan pekerjaan Embun belum selesai. Embun melihat
satu – persatu staf bagian gudang pulang. Dan sepertinya hari ini dia harus
lembur untuk menyelesaikan laporan. Embun tenggelam dengan pekerjaannya sampai
tidak menyadari hpnya berbunyi karena hpnya dalam mode silent. Embun baru
menyelesaikan pekerjaannya ketika jam menunjukkan pukul 9 malam. Ketika sedang
merapikan mejanya, Embun melihat ada seseorang yang berdiri di pintu.
“Bagaimana hari pertama kerja di sini?” Tanya pak Tedi
menyunggingkan senyum jahat.
“Tidak perlu saya jelaskan, bapak pasti sudah tahu.” Jawab
Embun cuek. Dia berdiri dan berjalan melewati pak Tedi. Namun langkah Embun
terhenti karena pak Tedi menarik tangannya. Embun berusaha menarik tangannya,
namun sia – sia karena pak Tedi menggenggamnya dengan erat.
“Tolong lepaskan tangan saya!!!” Perintah Embun tapi tidak dihiraukan.
“Hari ini aku tidak akan melepaskan kamu. Cewek sombong kaya
kamu perlu dikasih pelajaran.” Setelah berkata seperti itu, tiba – tiba muncul
2 pria yang tidak Embun kenal. Dari penampilannya Embun bisa tahu kalau mereka
adalah preman. Embun panic ketika kedua orang itu dating mendekat
“Mau apa kalian?” Tanya Embun berteriak.
Kedua orang itu memandang Embun dari bawah ke atas.
Embun ke arah anak buahnya, dan dengan sigap mereka memegang kedua tangan
Embun.
“Kita apakan dia bos?” Tanya anak buahnya. Pak Tedi
mengambil sebatang rokok dan menyalakannya.
Dia memandang Embun lekat, dan berjalan mendekat.
“Bagaimana apa kamu mau menerima tawaranku atau kamu mau
melayani mereka?” Tanya pak Tedi.
“Br*ng**k kamu Tedi. Begini cara kamu memperlakukan orang
yang katanya kamu sukai?” Umpat Embun.
“Kamu tahu, semua yang aku inginkan akan aku dapatkan. Dan
aku tidak suka dengan penolakan. Kamu satu – satunya wanita yang sudah berani
nolak aku.” Pak Tedi tertawa dan membelai pipi Embun. Dia memajukan wajahnya
dan berniat ingin mencium Embun. Tapi Embun dengan cepat memalingkan wajahnya.
Pak Tedi marah dan menampar pipi Embun, tamparannya yang keras membuat pipi
Embun merah dan dari sudut bibirnya keluar darah. Embun menatap atasannya itu
dengan tatapan penuh dengan kebencian.
“Jadi itu jawaban kamu?” Tanpa disangka pak Tedi menarik
paksa baju Embun. Karena tarikan itu, baju Embun sobek dan memperlihatkan
bahunya. Melihat itu tentu kedua anak buah pak Tedi sangat bersemangat, mereka
__ADS_1
memandang Embun dengan pandangan yang sangat menjijikkan.
“Hentikan! Aku bunuh kamu Tedi!!!!” Teriak Embun. Mata Embun
melotot penuh kemarahan. Bukannya menghentikan, pak Tedi malah merobek baju
Embun hingga tersisa pakaian dalamnya saja. Embun tidak bisa menahan tangisnya.
“Aku mohon hentikan. Siapapun tolong.” Embun memohon dengan
pilu. Embun sudah hampir putus asa, dia memilih mati dari pada diperlakukan
seperti sekarang.
Pak Tedi sudah hampir menarik pakaian dalam Embun, namun
terhenti karena ada yang memukul wajahnya. Dia terhuyung mendapat pukulan keras
di wajahnya. Bukan hanya Embun yang terkejut tapi juga anak buah pak Tedi.
Mereka melepaskan Embun dan membantu pak Tedi bangun. Embun terduduk di lantai,
dia menoleh untuk melihat siapa orang yang menolongnya. Perasaan Embun campur
aduk ketika melihat orang yang menolongnya adalah Dion dan Embun melihat
kemurkaan di wajah Dion.
Dion mendekati Embun dan memakaikan jaket di tubuhnya.
Setelah itu dia berdiri bersiap memberi pelajaran pada mereka. Kedua anak buah
pak Tedi maju dan menyerang Dion. Walaupun harus melawan 2 orang, tetapi Dion bisa
membuat lawannya kewalahan. Sedangkan pak Tedi yang melihat anak buahnya hampir
kalah memilih pergi meninggalkan tempat itu.
Melihat temannya
sedang dihajar oleh Dion, salah satu anak buah Tedi mengeluarkan pisau dari
balik jaketnya. Dia mendekati Dion dan ingin menusuknya, Embun yang melihat itu
panik dan berteriak.
“Dion, awas.”
Dion berbalik dan berusaha menghindar, tapi sayang orang itu
bisa melukai lengan Dion. Dion langsung menendang tangan orang itu sampai pisau
itu terjatuh. Tak hanya sampai disitu, Dion menendangnya sampai tersungkur lalu
memukulnya dengan membabi buta. Embun melihat orang yang Dion pukul sudah tak
berdaya, darah mengalir dari hidung dan pelipisnya. Embun berlari dan mencekal
tangan Dion menyuruhnya berhenti.
“Sudah cukup. Kamu bisa membunuh dia.” Tapi Dion seperti
tidak mendengar kata – kata Embun. Dia terus saja memukul orang itu tanpa
henti.
PLAK
Dion berhenti memukul dan diam terpaku, dia merasakan
pipinya panas. Embun menampar keras pipi Dion berharap Dion sadar dan berhenti
memukul. Dion menoleh ke arah Embun, dan melihat Embun menangis. Dion bangun
dan memeluk Embun dengan erat, Embun menangis keras dipelukan Dion.
“Kamu gak apa – apa?” Tanya Dion tidak bisa menyembunyikan
kekhawatirannya. Embun menjawab dengan anggukan.
“Kita pulang.” Dion berjalan keluar dengan masih memeluk
Embun. Dion baru melepaskan pelukannya saat sudah di depan mobil. Setelah Embun
__ADS_1
masuk, Dion juga masuk mobil dan menjalankan mobilnya pergi meninggalkan kantor
Embun.