Hanya Bayanganmu

Hanya Bayanganmu
Tolong Aku


__ADS_3

Hari ini Embun merasakan capek yang luar biasa. Dia harus


mengecek semua barang yang ada di gudang, dan itu tentu saja membutuhkan waktu


yang tidak sebentar. Karena pekerjaannya yang banyak, Embun sampai tidak sempat


untuk makan siang. Sinta datang menemui Embun dengan membawa makanan, dia


melihat Embun sedang duduk di mejanya. Embun menoleh ketika Sinta meletakkan


makanan di mejanya.


“Tahu saja kalau aku belum makan.” Embun membuka bungkusan


di mejanya, dan betapa senangnya dia ternyata isinya adalah nasi goreng kesukaannya.


Dalam hitungan menit, Embun sudah menghabiskan nasi gorengnya. Sinta tentu saja


sudah tidak terkejut dengan kebiasaan makan Embun yang cepat.


“Kamu sibuk banget ya sampai tidak sempat makan siang?”


Tanya Sinta prihatin. Embun menjawab pertanyaan Sinta dengan anggukan.


“Super sibuk lebih tepatnya. Ini hari pertama aku, jadi aku


belum tahu letak barang – barangnya di mana. Mesti adaptasi sama lingkungan


baru juga.” Jelas Embun.


“Apa tidak sebaiknya kamu terima tawaran pak Tedi? Aku tidak


tega lihat kamu kerja di sini?” Saran Sinta. Tapi tentu saja mendapat penolakan


keras dari Embun.


“Kamu mau menjerumuskan aku atau gimana? Aku lebih baik


kerja di sini dari pada nurutin keinginan pak Tedi. Kalau kamu mau, kamu saja


yang jadi selingkuhan dia.” Kata Embun dengan nada tinggi.


“Aku gak punya maksud kaya gitu, kerja dibagian gudang itu


berat dan gajinya juga gak terlalu besar. Aku takut kamu gak bisa bertahan dan


memilih resign dari perusahaan.” Terang Sinta.


“Tenang saja, aku tidak selemah itu dan aku juga tidak akan


menyerah begitu saja.” Embun berdiri dan menepuk - nepuk pundak Sinta


menenangkan.


“Kamu balik ke ruangan kamu sana, jam istirahat sudah mau


habis.” Usir Embun. Sinta menuruti kata – kata Embun dan beranjak dari


duduknya. Sebelum keluar dari ruangan Embun, dia berbalik dan tiba – tiba memeluk


Embun


“Maafin kata- kata aku tadi.” Sinta memeluk Embun erat.


Embun membalas pelukan Sinta dan menepuk pelan punggung Sinta.


“Sudah gak apa – apa. Kamu balik ke ruangan , kamu gak mau


dimarahin pak Tedikan?” Tanya Embun dan dijawab dengan anggukan.


Sinta akhirnya pergi meninggalkan ruangan Embun, banyak


pekerjaan juga yang harus dia selesaikan. Sedangkan Embun kembali ke tempat


duduknya, dia tidak menyangka akan berakhir bekerja di bagian gudang. Cukup


lama Embun termenung, sampai dia dikagetkan dengan bunyi telefon di mejanya.


Embun mengangkat telefon itu, dan ternyata itu telefon dari managernya yang


baru.


“Baik pak, akan saya selesaikan hari ini juga.” Jawab Embun

__ADS_1


dan menutup telefonnya.


Embun mengambil catatan stok barang dan memasukkan datanya


dikomputer. Begitu banyak data yang harus dia masukkan. Tidak hanya itu, Embun


juga harus mengecek jumlah barang yang ada di gudang apakah sama dengan yang


ada di data. Sudah jam 4 sore, dan pekerjaan Embun belum selesai. Embun melihat


satu – persatu staf bagian gudang pulang. Dan sepertinya hari ini dia harus


lembur untuk menyelesaikan laporan. Embun tenggelam dengan pekerjaannya sampai


tidak menyadari hpnya berbunyi karena hpnya dalam mode silent. Embun baru


menyelesaikan pekerjaannya ketika jam menunjukkan pukul 9 malam. Ketika sedang


merapikan mejanya, Embun melihat ada seseorang yang berdiri di pintu.


“Bagaimana hari pertama kerja di sini?” Tanya pak Tedi


menyunggingkan senyum jahat.


“Tidak perlu saya jelaskan, bapak pasti sudah tahu.” Jawab


Embun cuek. Dia berdiri dan berjalan melewati pak Tedi. Namun langkah Embun


terhenti karena pak Tedi menarik tangannya. Embun berusaha menarik tangannya,


namun sia – sia karena pak Tedi menggenggamnya dengan erat.


“Tolong lepaskan tangan saya!!!” Perintah Embun tapi tidak dihiraukan.


“Hari ini aku tidak akan melepaskan kamu. Cewek sombong kaya


kamu perlu dikasih pelajaran.” Setelah berkata seperti itu, tiba – tiba muncul


2 pria yang tidak Embun kenal. Dari penampilannya Embun bisa tahu kalau mereka


adalah preman. Embun panic ketika kedua orang itu dating mendekat


“Mau apa kalian?” Tanya Embun berteriak.


Kedua orang itu memandang Embun dari bawah ke atas.


Embun ke arah anak buahnya, dan dengan sigap mereka memegang kedua tangan


Embun.


“Kita apakan dia bos?” Tanya anak buahnya. Pak Tedi


mengambil sebatang rokok dan  menyalakannya.


Dia memandang Embun lekat, dan berjalan mendekat.


“Bagaimana apa kamu mau menerima tawaranku atau kamu mau


melayani mereka?” Tanya pak Tedi.


“Br*ng**k kamu Tedi. Begini cara kamu memperlakukan orang


yang katanya kamu sukai?” Umpat Embun.


“Kamu tahu, semua yang aku inginkan akan aku dapatkan. Dan


aku tidak suka dengan penolakan. Kamu satu – satunya wanita yang sudah berani


nolak aku.” Pak Tedi tertawa dan membelai pipi Embun. Dia memajukan wajahnya


dan berniat ingin mencium Embun. Tapi Embun dengan cepat memalingkan wajahnya.


Pak Tedi marah dan menampar pipi Embun, tamparannya yang keras membuat pipi


Embun merah dan dari sudut bibirnya keluar darah. Embun menatap atasannya itu


dengan tatapan penuh dengan kebencian.


“Jadi itu jawaban kamu?” Tanpa disangka pak Tedi menarik


paksa baju Embun. Karena tarikan itu, baju Embun sobek dan memperlihatkan


bahunya. Melihat itu tentu kedua anak buah pak Tedi sangat bersemangat, mereka

__ADS_1


memandang Embun dengan pandangan yang sangat menjijikkan.


“Hentikan! Aku bunuh kamu Tedi!!!!” Teriak Embun. Mata Embun


melotot penuh kemarahan. Bukannya menghentikan, pak Tedi malah merobek baju


Embun hingga tersisa pakaian dalamnya saja. Embun tidak bisa menahan tangisnya.


“Aku mohon hentikan. Siapapun tolong.” Embun memohon dengan


pilu. Embun sudah hampir putus asa, dia memilih mati dari pada diperlakukan


seperti sekarang.


Pak Tedi sudah hampir menarik pakaian dalam Embun, namun


terhenti karena ada yang memukul wajahnya. Dia terhuyung mendapat pukulan keras


di wajahnya. Bukan hanya Embun yang terkejut tapi juga anak buah pak Tedi.


Mereka melepaskan Embun dan membantu pak Tedi bangun. Embun terduduk di lantai,


dia menoleh untuk melihat siapa orang yang menolongnya. Perasaan Embun campur


aduk ketika melihat orang yang menolongnya adalah Dion dan Embun melihat


kemurkaan di wajah Dion.


Dion mendekati Embun dan memakaikan jaket di tubuhnya.


Setelah itu dia berdiri bersiap memberi pelajaran pada mereka. Kedua anak buah


pak Tedi maju dan menyerang Dion. Walaupun harus melawan 2 orang, tetapi Dion bisa


membuat lawannya kewalahan. Sedangkan pak Tedi yang melihat anak buahnya hampir


kalah memilih pergi meninggalkan tempat itu.


Melihat  temannya


sedang dihajar oleh Dion, salah satu anak buah Tedi mengeluarkan pisau dari


balik jaketnya. Dia mendekati Dion dan ingin menusuknya, Embun yang melihat itu


panik dan berteriak.


“Dion, awas.”


Dion berbalik dan berusaha menghindar, tapi sayang orang itu


bisa melukai lengan Dion. Dion langsung menendang tangan orang itu sampai pisau


itu terjatuh. Tak hanya sampai disitu, Dion menendangnya sampai tersungkur lalu


memukulnya dengan membabi buta. Embun melihat orang yang Dion pukul sudah tak


berdaya, darah mengalir dari hidung dan pelipisnya. Embun berlari dan mencekal


tangan Dion menyuruhnya berhenti.


“Sudah cukup. Kamu bisa membunuh dia.” Tapi Dion seperti


tidak mendengar kata – kata Embun. Dia terus saja memukul orang itu tanpa


henti.


PLAK


Dion berhenti memukul dan diam terpaku, dia merasakan


pipinya panas. Embun menampar keras pipi Dion berharap Dion sadar dan berhenti


memukul. Dion menoleh ke arah Embun, dan melihat Embun menangis. Dion bangun


dan memeluk Embun dengan erat, Embun menangis keras dipelukan Dion.


“Kamu gak apa – apa?” Tanya Dion tidak bisa menyembunyikan


kekhawatirannya. Embun menjawab dengan anggukan.


“Kita pulang.” Dion berjalan keluar dengan masih memeluk


Embun. Dion baru melepaskan pelukannya saat sudah di depan mobil. Setelah Embun

__ADS_1


masuk, Dion juga masuk mobil dan menjalankan mobilnya pergi meninggalkan kantor


Embun.


__ADS_2