Hanya Bayanganmu

Hanya Bayanganmu
Pertemuan Tidak Terduga


__ADS_3

Terlihat sebuah mobil mewah memasuki parkiran salah satu restoran masakan Jepang. Ketika pintu mobil terbuka, keluarlah seorang pria dengan setelan jas rapi dan berkacamata hitam. Dan dari pintu satunya, keluarlah seorang gadis cantik dengan tubuh bak seorang model dan mengunakan pakaian yang cukup seksi. Gadis itu berjalan mendekati sang pria dan segera merangkul lengannya dengan mesra. Mereka langsung menjadi pusat perhatian begitu memasuki restoran. Banyak yang memuji pasangan itu sebagai pasangan serasi. Sang gadis tak hentinya melempar senyuman ketika berpapasan dengan orang, sedangkan sang pria memasang wajah datar dan cenderung tanpa ekspresi.


Mereka segera masuk ke ruangan VIP. Gadis itu duduk disamping pria dan bergelayut manja sambal menyenderkan kepala di lengan pria itu.


“ Kamu mau pesan apa?” Tanya si pria


“ Aku pesan yang biasa saja.”


Pria itu menyebutkan pesanan, yang langsung dicatat oleh pelayan. Begitu pelayan pergi, pria itu segera mengeluarkan gawainya.


“ Sayang.. Papa terus nanyain, kapan pernikahan kita akan dilaksanakan?”


“ Untuk waktu dekat ini aku gak bisa. Kamu tahukan kalau aku sedang melebarkan perusahaanku ke Prancis. Aku sedang sibuk banget Vania.” Jawab Raka tetap sibuk dengan gawainya.


Kedua pasangan itu adalah Raka dan Vania. Setelah 5 tahun, akhirnya mereka kembali ke Indonesia. Sudah lama


orang tua Vania mendesak Raka untuk segera melangsungkan pernikahan, tapi Raka terus menundanya dengan alasan masih sibuk dengan pekerjaan. Raka memang belum terpikir untuk menikahi Vania secepatnya, karena selain sedang mengembangkan perusahaan hatinya juga belum sepenuhnya bisa menerima gadis itu.


Vania melepaskan lengan Raka, dia menyilangkan tangan di dada dan menatap Raka kesal.” Selalu itu yang jadi


alasan kamu. Aku capek tahu selalu ditanyaian sama orang tua aku kapan kita nikah. Kita sudah bertunangan 5 tahun Raka, apa memang kamu tidak mau nikahin aku?” Tanya Vania.


“ Vania dengar.. Kamu tahukan cita – cita aku? Aku akan menikah kalau aku sudah bisa berdiri sendiri. Aku gak mau hidup ngandelin perusahaan keluarga aku. Aku ingin menghidupi keluarga aku nantinya dengan jerih payah  aku sendiri. Aku berjuang buat perusahaan aku ini dari nol, dan aku ingin perusahaan ini besar dan bisa aku berikan untuk anakkukelak. Selama ini aku juga gak maksa kamu buat nunggu aku.” Jelas Raka dengan nada tinggi.


Sebenarnya Raka sudah mulai jengah dengan keluarga Vania yang selalu menuntut untuk segera menikah. Mereka selalu mengiming – imingi Raka akan meneruskan perusahaan papa Vania jika mereka sudah menikah nanti.


“ Bu.. Bukan gitu Ka. Aku pasti akan nunggu kamu. Tapi kamu tahukan orang tua aku gimana. Apalagi mama aku.” Kata Vania sedikit panik. Dia tidak tahu kalau Raka akan menjawab tegas seperti itu. Tentu dia tidak mau kalau pernikahannya dengan Raka batal, bukan hanya dia yang malu tapi juga seluruh keluarganya.


“ Nanti aku jelaskan sama orang tua kamu.” Jawab Raka mengakhiri pembicaraan karena pelayan yang masuk membawa pesanan mereka. Kemudian mereka segera menyantap makanan dalam diam.

__ADS_1


*****


Brian membukakan pintu mobi luntuk Embun. Dia mengajak Embun makan siang di luar, agar gadis itu melupakan kemarahannya di kantor tadi. Mereka berjalan memasuki restoran dengan Brian yang terus menggeggam tangan Embun. Berkali – kali Embun berusaha melepaskan tangannya, tapi berkali – kali pula Brian kembali menggenggam tangan Embun.


“ Brian.. Kita tuh gak mau nyebrang jalan, ngapain kita pegangan tangan terus?” Sindir Embun.


“ Memangnya kenapa? Bukankah kita akan menyeberangi  masa depan bersama.” Jawab Brian mengulas senyum.


“ Iyuuhh.. Sejak kapan kamu suka menggombal.” Kata Embun sambal bergidik.


“ Sejak aku bertemu kembali dengan bidadari tak bersayap di sampingku ini.” Ucap Brian.


“ Huweekkk.” Embun pura – pura muntah.


Brian tersenyum dan langsung mengacak – acak rambut Embun dengan gemas. Embun kesal lalu memukul lengan Brian sambal mengerucutkan bibirnya. Dia segera merapikan rambutnya yang berantakan, dan segera melangkahkan kakinya memasuki restoran. Tapi langkah Embun terhenti, ketika berhadapan dengan dua orang yang akan keluar dari restoran. Bukan hanya Embun yang diam terpaku, tapi juga Brian yang berjalan dibelakang Embun.


Brian segera tersadar, lalu mendekat dan menggenggam tangan Embun erat. Embun menoleh ke arah Brian, begitu


“ Kamu Embun?” Tanya Vania tidak bisa menyembuyikan keterkejutannya.


“ Iya.. Lama tidak bertemu. Kamu kapan kembali?” Jawab Embun gugup.


“ Aku kembali minggu lalu. Wah akhirnya kamu bisa dapetin Embun, Brian?” Tanya Vania menatap Brian.


“ Hemm.” Jawab Brian datar. Brian menatap tajam pada Raka yang terus menatap Embun. Brian melihat tatapan Raka yang tidak berubah dan sama dengan 5 tahun lalu.


“ Hai Ka.. Apa kabar?” Tanya Embun. Tapi tidak ada jawaban dari Raka, Raka seperti kehilangan kata – kata.


“ Sayang..” Melihat itu, Vania segera merangkul lengan Raka dengan manja.

__ADS_1


Raka tersadar, dan pandangannya segera turun ke bawah. Tangannya terkepal melihat tangan Embun yang digenggam erat Brian, dan itu tentu tak luput dari perhatian Brian.


“ Sepertinya kalian sudah selesai makan. Kalau begitu kami masuk dulu.” Brian segera menarik Embun untuk masuk ke dalam restoran. Embun mengikuti Brian masuk, dia menoleh ke belakang dan melihat Raka masih berdiri di tempatnya.


Brian membawa Embun masuk ke salah satu ruangan. Setelah duduk, Embun masih saja terdiam.


“ Bisakah kamu hanya melihatku saja?” Tanya Brian.


Embun tersentak mendengar pertanyaan Brian. Dia meremas tangannya di bawah meja. Entah kenapa perasaannya jadi tidak menentu setelah bertemu dengan Raka. Brian terus memperhatikan Embun yang ada di depannya. Walau ingin menyangkalnya, tapi Brian memang merasakan cemburu. Karena bagaimanapun Raka adalah orang yang pernah sangat berarti bagi Embun, mungkin juga sampai saat ini.


Sedangkan di tempat lain.


Raka melajukan kendaraannya dalam diam. Vania yang ada disampingnya terus memperhatikan tunangannya itu. Vania mengira waktu 5 tahun bisa mengubah perasaan Raka, tapi sepertinya dia salah. Dari mata Raka, Vania tahu kalau rasa itu masih ada. Tapi tentu bukan Vania namanya, kalau mau menyerah begitu saja. Dia tidak mau usahanya selama ini sia – sia. PrinsipVania, dia akan mendapatkan apapun yang dia inginkan dengan cara apapun.  Dan dia tidak mau melepaskan Raka, dan akan mempertahankannya walau harus dengan cara kotor.


“ Rak..”


“ Aku antar kamu pulang.” Potong Raka.


“ Tapi aku..”


“ Aku banyak pekerjaan Van. Aku antar kamu pulang sekarang. Oke.” Kata Raka yang tidak bisa dibantah.


Vania diam dan tidak bisa membantah perkataan Raka, dia tidak mau bertengkar dengan tunangannya. Raka mengantar Vania sampai gerbang rumah, dan tanpa mengucapkan sepatah katapun langsung menjalankan mobilnya begitu Vania turun. Vania memandang mobil Raka yang menjauh dengan perasaan kecewa dan juga kesal.


“ Kamu akan tetap jadi milikku Ka. Aku tidak akan melepaskanmu pada siapapun.” Janji Vania lalu masuk ke rumahnya.


Raka mengendarai mobilnya menuju perusahaan. Dia masuk ruangannya, dan menghempaskan tubuhnya di sofa. Raka mengendurkan dasinya, dan memandang langit – langit kantor. Pikirannya menerawang saat pertemuannya dengan Embun tadi.


“ Aku rindu kamu Embun.” ucap Raka lirih.

__ADS_1


Selama 5 tahun ini, Raka bukan tidak berusaha untuk mengubur dalam perasaannya pada Embun. Dia berusaha untuk membuka hatinya pada Vania, tapi sepertinya sia – sia saja. Dengan pertemuan tidak terduganya dengan Embun tadi, malah membuat rasa itu tumbuh kembali. Tapi Raka juga tidak bisa menyampingkan fakta bahwa Embun mungkin juga sudah menjalin hubungan dengan orang lain.


__ADS_2