Hanya Bayanganmu

Hanya Bayanganmu
Bukan Pelakor


__ADS_3

Suara di belakang Embun tentu saja membuat kaget tidak hanya Embun tapi juga Dewi. Mereka menoleh ke arah suara, dan mendapati Dion tersenyum ke arah mereka. Tapi yang membuat Embun tidak nyaman bukan Dion, tapi Brian yang berdiri di samping Dion. Tatapan tajam Brion seakan sampai ke jantung Embun.


"Eng..Enggak kok. Siapa yang mau jadi pelakor. Ya kan Wi?" Embun menyenggol lengan Dewi.


"Iy..iya. Kamu salah dengar kali." Dewi buru - buru mengambil buku di tas.


Embun juga mengambil buku dan membolak balik halamannya. Dia pura - pura sibuk, padahal saat ini jantungnya berdetak cukup kencang. Apalagi dia merasa ada yang memperhatikannya dari belakang.


Embun mencoba menoleh ke belakang, dan benar saja. Brian menyilangkan tangannya dan menatap Embun dengan sangat tajam. Mendapat tatapan yang mematikan itu, Embun buru - buru menghadap kembali ke depan.


"Serem." Kata Embun bergidik ngeri.


Brian tentu saja memperhatikan tingkah Embun itu. Dalam hati dia bertanya - tanya, apakah Embun begitu menyukai Raka sampai berpikiran untuk merebutnya dari Vania.


Brian tentu saja tidak mau sampai itu terjadi. Selain karena Vania adalah sepupunya, dalam hati Brian juga sudah tertulis nama Embun.


Ketika bel istirahat berbunyi. Embun buru - buru mengajak Dewi keluar kelas dan langsung menuju ke kantin. Selama jam pelajaran berlangsung Embun benar - benar tidak nyaman. Dia merasa Brian terus saja memperhatikannya.


"Kamu kenapa sih buru - buru banget keluar kelas?" Tanya Dewi penasaran.


"Kamu ngerasa nggah sih, kalau dari tadi Brian merhatiin terus?" Tanya Embun.


"Brian merhatiin kita?" Tanya Dewi balik.


Embun mengangguk mengiyakan. Tapi Dewi malah tertawa mendengar perkataan.


"Bukan kita kali Mbun. Brian tuh cuma merhatiin kamu." Dewi mendorong dahi Embun.


"Lha kenapa cuma aku?" Tanya Embun bingung.


Dewi mengangkat bahunya sebagai jawaban atas pertanyaan Embun.


"Jangan bilang dia tadi dengar obrolan kita, terus mikir kalau aku beneran mau jadi pelakor?" Tebak Embun.


"Bisa jadi. Tapi apa hubungannya ma Brian. Apa di cemburu kamu mau dekat sama Raka?"


Embun refleks memukul lengan Dewi. Dia tidak habis pikir dengan jalan pikiran temannya itu.


"Cemburu apaan? Memang kamu gak tahu kalau Brian itu sepupunya Vania?" Embun menjelaskan.


"What! Brian sama Vania sepupuan? Serius kamu?" Dewi memukul balik lengan Embun, dia tidak percaya apa yang barusan dia dengar.

__ADS_1


"Memang aku belum cerita ya? Pas tunangan Raka kemarinkan aku ketemu sama Brian di sana. Aku juga kaget ternyata Brian itu saudara sepupu Vania." Jelas Embun sambil mengusap lengannya.


"Oh pantas kalau gitu. Brian tentu tidak sukalah kalau tunangan sepupunya direbut sama pelakor." Dewi berkata tanpa beban.


"Dewi!!!" Embun berteriak kesal.


Sontak saja semua siswa yang ada di kantin menoleh ke arah Embun dan Dewi. Embun hanya cengar - cengir mendapatkan tatapan dari mereka. Sedangkan Dewi langsung menendang sepatu Embun dengan kesal.


"Ngapain sih teriak segala. Malu - maluin." Sungut Dewi.


"Hehehe maaf - maaf. Kamu juga sih ngapain juga nyebut - nyebut pelakor." Embun membela diri.


"Ya siapa tahukan?" Jawab Dewi santai.


Mata Embun sampai melotot demi mendengar jawaban Dewi. Dia benar - benar kesal dengan temannya ini. Ingin rasanya dia menguncir mulut orang yang ada di sampingnya kini. Nafas Embun terasa sesak menahan kekesalannya. Embun menghela nafasnya beberapa kali untuk menenangkan hatinya.


"Sudah ah jangan bahas itu lagi. Aku lapar, kamu mau makan apa?" Embun bertanya pada Dewi.


"Aku pesen nasi uduk aja, minumannya es teh ya." Kata Dewi.


"Ya udah aku pesenin dulu." Embun beranjak dari duduknya dan antri untuk pesan makanannya dan juga Dewi.


...***********...


"Ikut aku. Aku mau ngomong sama kamu!" Brian membuka kaca helmnya dan menatap Embun.


"Mau kemana? Aku ada acara sama Dewi. Iya kan Wi." Embun menggandeng lengan Dewi meminta menuruti perkataannya.


Namun sayang Dewi tidak bisa diajak kerja sama. Dia malah melepas gandengan Embun.


"Aduh Sorry Mbun. Tiba - tiba aku ada acara mendadak. Kamu pulang bareng Brian saja ya." Kata Dewi.


"Ta.. Tapi."


Belum selesai Embun berkata, Dewi sudah pergi meninggalkannya. Brian menyerahkan helm pada Embun. Karena sudah tidak bisa menghindar lagi, akhirnya Embun pergi bersama Brian.


Selama diperjalanan, Brian dan Embun sama - sama terdiam. Embun sedang menduga - duga apa yang akan Brian tanyakan padanya nanti. Embun tersadar ketika motor terhenti. Ternyata Brian mengajaknya ke sebuah taman.


Brian turun dan berjalan duluan, sedangkan Embun berjalan menundukkan kepalanya mengikuti dari belakang.


Brian tiba - tiba menghentikan langkahnya di pinggir danau buatan. Embun yang berjalan di belakang, akhirnya menabrak punggung Brian karena dia berjalan sambil menunduk. Embun menoleh ke arah Brian dan hanya tersenyum. Brian duduk di pinggir danau, begitu juga dengan Embun.

__ADS_1


Selama beberapa menit mereka hanya diam. Embun yang sudah jengah, menatap Brian dan ingin bertanya.


"Seberapa besar rasa suka kamu sama Raka?" Brian bertanya lebih dulu.


Embun ingin menjawab pertanyaan itu, tapi Brian sudah melanjutkan kata - katanya.


"Apakah kamu akan ngelakuin apapun untuk dapetin Raka?" Tanya Brian dengan tajam.


"Maksud kamu apa?" Tanya Embun. Tapi Brian tidak menjawab dan menatap lurus ke depan.


"Aku memang suka sama Raka, tapi kamu salah kalau mikir aku bakal ngerebut Raka dari Vania. Aku gak sejahat itu Brian. Seandainya dari awal aku tahu kalau Raka sudah dijodohkan, tentu aku akan mengubur perasaan ini dalam - dalam." Embun berkata penuh penekanan.


"Kamu gak usah khawatir, tanpa kamu mintapun aku bakal jauhin Raka."


Setelah berkata seperti itu, Embun berdiri dan berniat untuk pergi. Tapi langkah Embun terhenti karena Brian mencekal tangannya. Embun menatap Brian tajam, dia ingin Brian melepaskan tangannya


"Aku suka sama kamu."


Embun diam mematung. Dia terkejut dan tentu saja tidak menyangka mendengar pernyataan Brian.


"Kamu ngomong apa? Gak usah bercanda." Embun melepaskan tangan Brian.


"Aku gak bercanda. Aku serius." Kata Brian.


Embun terdiam sesaat. Dia menatap mata Brian lekat, seolah mencari kebohongan di sana. Tapi yang dia tangkap adalah keseriusan di dalamnya.


Embun berjalan mendekati Brian dan menepuk pundaknya pelan.


"Kamu gak perlu ngorbanin diri kamu kaya gini agar aku jauhin Raka. Kamu memang saudara yang baik. Beruntung Vania punya saudara kaya kamu." Embun tersenyum, tapi Brian bisa melihat kesedihan di dalam mata Embun.


Embun berbalik dan hendak meninggalkan Brian.


"Ini bukan karena Vania. Tapi aku sudah suka sama kamu jauh sebelum aku tahu kalau dia sudah dijodohkan dengan Raka."


Embun menoleh ke arah Brian. Dia tidak tahu harus bagaimana. Brian berjalan mendekati Embun. Dia berdiri tepat di depan Embun dan menatap wajah Embun lekat.


"Aku akan buat kamu lupain Raka." Tegas Brian.


"Tapi aku.."


"Aku juga akan buat kamu suka sama aku." Lanjut Brian.

__ADS_1


Tanpa menunggu jawaban Embun, Brian menggandeng tangan Embun dan mengajaknya pergi dari tempat itu. Embun benar - benar bingung. Dia belum bisa mencerna apa yang dikatakan oleh Brian.


__ADS_2